Komplotan Tidak Takut Hantu

Komplotan Tidak Takut Hantu
Bab 46 : Bercak Hitam di Dinding Laboratorium Komputer


__ADS_3

Ini adalah hari kedua, Ari, Toha dan Nara, pagi-pagi di


taman tanpa keberadaan Wira. Wira sedang menjalani hukuman skorsing karena


kasusnya dengan Fatar. Buat Ari, Toha dan Nara, suasana jadi terasa lain.


Mereka tidak banyak bicara. Bahkan sebelum bel masuk berdering, mereka sudah menuju


ke kelas.


Kegiatan belajar pun berjalan seperti biasa. Tidak ada


sesuatu yang terjadi. Mereka tidak merasakan ataupun melihat sesuatu. Besar


kemungkinan karena masalah Fatar sudah dibereskan sendiri oleh orang-orang


padepokan. Ada perasaan lega yang mereka rasakan. Tetapi sesuatu jadi terasa biasa-biasa


saja saat mereka menjakani jam demi jam di sekolah. Sampai bel pulang sekolah


berdering, Nara mengungkapkan rencananya mengunjungi Wira di rumahnya.


Sepertinya Nara sudah tidak tahan dua hari tidak bertemu Wira. Dan seperti


biasa, siang ini Toha akan bersepeda ria bersama Astri. Tinggal Ari yang


berjalan sendiri ke arah gerbang. Dia ingin menelpon Tata, tapi di jam segini,


Tata masih ada di jalan, di mobilnya. Sopirnya akan tahu Ari sedang menghubungi


Tata. Lalu Ari ingat Lisa. Dia berharap siang ini bisa bertemu Lisa.


Ari sampai di halte. Dia sempat memperhatikan orang-orang di


sekitarnya. Barangkali Lisa ada di sana. Ari juga memperhatikan bus yang


berhenti di depan. Dia amati orang-orang di dalam bus. Kalau ada Lisa di sana,


dia akan langsung naik bus itu. Sampai Ari mendengar suara memanggilnya dari


belakang.


“Kak Ari!” suara Lisa kencang memanggil Ari.


“Lisa… Kamu belum pulang?” kata Ari. Dia melihat Lisa


menghampirinya dengan wajah ceria.


“Belum…” Jawab Lisa, “Kak Ari pulang naik bus?”


“Iya…” jawab Ari,” Kamu juga naik bus kan?”


“Iya… Jurusan kita kan sama,” jawab Lisa.


Mereka berdua pun naik bus yang lewat berikutnya. Seperti


biasa, di jam segini bus penuh sesak. Ari dan Lisa jadi berdiri saling


berdekatan.


“Kamu nanti ada audisi lagi kan?” tanya Ari membuka


pembicaraan.


“Iya kak, hari Rabu depan,” jawab Lisa,”kemarin kan ketunda,


tinggal aku doang yang belum audisi.”


“Tenang... Masalah yang waktu itu sudah diselesaikan kok,”


kata Ari mencoba menyemangati Lisa, “Sekolah kita sekarang aman.”


“Iya… mudah-mudahan…” jawab Lisa pendek. Tatapan matanya


keluar jendela bus. Dia seperti ragu dengan pernyataan Ari.


“Yang penting kamu nggak usah pikirin yang lain-lain,” Ari


melihat keraguan Lisa. Walau sebersit masih ada keraguan juga di benak Ari,


tapi dia tetap menyemangati Lisa, “Fokus aja ke audisi, kamu pasti bisa.”


“Iya Kak… Tapi aku harus bisa lebih baik dari Kak Gaby,


vokalis senior sebelumnya…” kata Lisa.


Ari tahu, Gaby dulu satu kelompok dengan Tata. Mereka


termasuk murid-murid perempuan dari kalangan berada di kelas Tata. Dan Gaby


kini sedang jadian sama Jodi.


“Kalau aku bilang sih, kamu bisa lebih baik dari Gaby,” kata


Ari, “Menurut aku, Gaby itu biasa-biasa aja. Selama ini kan dia belum pernah


dapat penghargaan. Asal kamu fokus aja, kamu pasti bisa lebih baik dari Gaby.”


Sejenak Lisa menatap Ari dengan mata berbinar.


“Kak Ari seperti almarhum kakak aku. Selalu bisa menyemangati


aku,” kata Lisa.


“O ya…” Ari jadi penasaran.


“Iya… Kakak aku itu yang bikin aku semangat untuk nyanyi,


untuk belajar vokal,” kata Lisa penuh semangat, “Dia yang kenalin aku sama

__ADS_1


musik-musiknya. Musik-musik itu buat aku jadi terobsesi.”


Ari pun mengangguk-anggukan kepalanya.


“Ini benda yang tersisa dari kakak aku,” Lisa menunjukkan


cincin bermotif bintang yang melingkar di jarinya, “Cincin ini aku ambil waktu


dia meninggal.”


“Kakak kamu meninggalnya kenapa?” tanya Ari mencoba menunjukkan


perhatiannya.


“Kecelakaan…” jawab Lisa pelan, “satu mobil sama ibu aku


sama nenek aku…”


“Aku turut berduka ya Lisa…” kata Ari canggung.


“Iya… Terimakasih Kak,” jawab Lisa.


Sepertinya Lisa tidak terbawa suasana dengan pembicaraan


mereka barusan. Justru dia semakin antusias bercerita ke Ari tentang kakaknya. Dan


Ari berharap perjalanannya naik bus bersama Lisa siang ini bisa diperpanjang


sampai batas yang tidak ditentukan.


***


Hari ini hari Senin. Wira masih menjalani hukuman


skorsingnya. Tersebar berita kalau Fatar hari ini resmi keluar dari sekolah. Dan


pagi ini upacara berjalan khidmat. Setelah pengibaran bendera, pembina upacara


memimpin peserta upacara untuk mengheningkan cipta. Saat detik-detik lagu


mengheningkan cipta mulai dinyanyikan regu paduan suara, perasaan Ari mulai


tidak enak. Ari merasakan perasaan yang pernah dirasakannya di tempat dan waktu


yang sama. Di barisan dia berdiri dan saat-saat lagu mengheningkan cipta


dinyanyikan. Dan dia lihat di barisan depan, Nara terlhat gelisah. Seperti yang


pernah terjadi sebelumnya. Nara menyilangkan tangannya seperti kedinginan. Dan


Nara tidak memakai jaketnya. Ari melirik Toha di barisan belakang. Toha seperti


sedang memusatkan perhatiannya ke arah barisan regu paduan suara. Dan Ari tahu


apa yang akan dilihatnya jika dia tengok ke arah barisan regu paduan suara. Karena


sekarang dia sudah mendengar suara anak kecil yang sedang berusaha mengikuti


berusaha menarik perhatian Ari. Ari yakin Toha dan Nara sudah melihat sosok


anak kecil. Ari kini melihatnya. Sosok anak kecil yang sama yang beberapa kali


dia lihat. Anak perempuan berambut panjang, memakai baju putih berenda dan


tangannya hitam seperti bekas terbakar. Dia sedang berdiri di antara barisan


regu paduan suara. Dan tidak ada murid paduan suara di sana yang melihat


kehadiran anak itu. Setelah mengheningkan cipta selesai, anak kecil itu


menghilang di antara barisan regu paduan suara.


Selesai upacara, Ari, Toha dan Nara, tidak langsung menuju


kelas. Mereka berhenti di depan parkir sepeda. Bukan karena ini sudah yang


kedua kali mereka melihat sosok anak kecil saat upacara. Tapi setelah masalah


Fatar selesai, mereka beranggapan tidak akan melihat sosok itu lagi.


“Berarti bukan Fatar yang bawa anak kecil itu!” kata Nara


serius.


“Berarti ada anak lain lagi yang bawa dia…” tambah Toha


berteori.


“Atau… mungkin ada masalah dengan lorong bawah tanah…” suara


Ari pelan seperti tidak pasti.


“Nggak mungkin lah!” sanggah Toha, “Lorong itu kan sudah


diamankan orang-orang padepokan. Mereka kan orang-orang hebat.”


“Inget nggak waktu Lisa dua kali pingsan?” tanya Ari serius,


“Dua kali dia pingsan itu di hari Rabu. Kata temen sekelasnya, Lisa pingsan setelah


pelajaran komputer. Lab komputer kan dulunya ruang bawah tanah.”


“Bisa jadi sih Ri…” kata Nara, “Lagian ntar kita kan ada


pelajaran komputer.”


“O, iya,” kata Ari dan Toha hampir bersamaan.


Pelajaran komputer ada di jam sebelum istirahat kedua.

__ADS_1


Murid-murid di kelas Ari sudah ada di depan komputer masing-masing. Karena


pembicaraan tadi pagi, Ari, Toha dan Nara jadi tidak konsentrasi. Beberapa kali


Toha tengak-tengok, was-was ada yang akan dia lihat. Nara juga sudah siap


dengan jaketnya, tapi tudung kepalanya belum dia pakai. Sedang Ari, dari tadi


dia selalu perhatikan papan tulis yang menempel di dinding. Papan tulis itu


tidak dipakai, karena murid-murid langsung praktek di komputer. Tapi bukan


papan tulis itu yang ada di pikiran Ari. Dari tadi Ari mencoba mengingat-ingat


foto-foto ibu Nara yang memuat gambar denah ruang bawah tanah. Ari mencoba


membayangkan posisi denah itu. Dan menurut perhitungannya, posisi lorong yang


sekarang ditutup, ada di balik dinding yang ada papan tulisnya itu. Tapi hingga


pelajaran komputer selesai, tidak ada sesuatu yang terjadi. Ari, Toha dan Nara


tidak melihat sesuatu di ruang laborarium komputer itu. Sementara murid yang


lain sudah mulai keluar untuk istirahat, Ari, Toha dan Nara masih berjalan


lambat sambil masih mengamati ruang laboratorium. Tapi saat Toha dan Nara sudah


di depan pintu, Ari malah berdiri mematung di depan papan tulis.


“Ri! Ngapain lo?” tanya Nara.


“Aku kira lorong itu ada di balik dinding ini,” kata Ari.


Pandangannya masih ke papan tulis.


Nara pun mendekat ke arah Ari.


“Gaes, ntar keburu ada guru masuk,” kata Toha memperingatkan


Ari dan Nara.


“Lo yakin Ri?” tanya Nara saat sudah di sebelah Ari.


“Iya, aku ingat betul foto-foto mama lo,” jawab Ari.


Lalu Ari mencoba menarik-narik papan tulis besar yang


menempel di dinding di depannya. Tapi tampaknya papan tulis itu terpaku kokoh


ke dinding. Lalu Ari mencoba mengangkat bagian bawah papan tulis. Ternyata


bagian bawah papan tulis tidak terpaku ke dinding, hanya bagian atasnya. Tapi


papan tulis itu terlalu berat. Nara pun mencoba membantu Ari.


“Ha, bantuin dong!” pinta Ari ke Toha.


Walau ragu, Toha ikut membantu juga. Dan bertiga, mereka


bisa mengangkat bagian bawah papan tulis cukup tinggi, hingga mereka sedikit


bisa melihat permukaan dinding yang tertutup papan tulis. Mereka memang hanya


melihat permukaan dinding. Tapi di tengah-tengah dinding, ada bercak hitam yang


cukup luas. Dan di bagian bercak itu, dindingnya terlihat basah dan lembab dan


tercium sedikit bau yang tidak sedap.


“Hei, sedang apa kalian di sini!” seorang guru masuk ke


laboratorium dan melihat tingkah aneh Ari, Toha dan Nara.


Ari, Toha dan Nara sempat kaget. Mereka tidak sempat


memikirkan jawaban pak guru itu.


“Ayo keluar! Ini kan sudah jam istirahat!” kata pak guru itu


galak.


Ari, Toha dan Nara pun cepat-cepat keluar dari situ.


“Menurut lo, item-item di dinding itu apa?” tanya Nara ke


Ari setelah mereka keluar dari laboratorium.


“Aku nggak tahu,” jawab Ari, “Tapi inget nggak kejadian


waktu lantai ruang penyimpanan matras ambrol?”


“Wah, kalo dinding laboratorium ambrol, lorongnya terbuka


dong,” kata Nara.


“Tapi bisa jadi itu cuma lembab dindingnya,” kata Toha.


“Bisa jadi juga…” Ari tidak menampik pendapat Toha.


“Gimana kalau memang ada anak lain yang bawa hantu juga?”


tanya Toha.


Ari dan Nara hanya saling berpandangan. Saat ini mereka


memang tidak bisa menemukan jawabannya. Tapi bagi Ari, hari Rabu sudah dekat.


Lisa ada audisi vokal di hari itu. Dan sebelumnya, Lisa ada pelajaran komputer.

__ADS_1


Dan ada hantu yang masih tersisa di sekolah mereka.


__ADS_2