
Pagi-pagi, Ari, Toha, Wira dan Nara sudah di taman. Di
tangan mereka masing-masing ada setumpuk foto. Foto yang diambil ibu Nara 20
tahun yang lalu. Mereka begitu serius memperhatikan gambar di foto-foto itu.
Kecuali Ari. Ari hanya sekedar membolak-balik foto yang ada di tangannya.
“Kayaknya udah ngga ada lagi deh gambar kayak lorong gitu,”
kata Nara sembari masih membolak-balik foto di tangannya.
“Iya, adanya cuman di gambar basement doang,” kata Wira.
Sepertinya dia sudah mulai berhenti membolak-balik foto.
Sementara Toha masih sibuk mencari gambar lorong, Wira dan
Nara justru heran melihat Ari yang sepertinya tidak serius mencari. Karena
kemarin Ari lah yang mencetuskan kemungkinan ada lorong lain selain di basement.
“Gimana Ri? Ketemu?” tanya Wira. Dia memastikan Ari untuk
membuktikan apa yang sudah dia cetuskan.
“Gue kira memang nggak ada lorong lain,” jawab Ari datar
sembari merapikan foto di tangannya.
“Terus?”tanya Nara. Dia sedikit kesal, karena atas
permintaan Ari, dia sudah bawa semua foto punya ibunya.
“Gue kira anak kecil itu bukan dari lorong,” kata Ari dengan
muka serius.
“Lalu,”kata Nara tidak sabar.
“Ingat nggak Ra? Waktu perempuan pakai bunga itu ngikut lo
ke sini malem-malem? Kenapa dia bisa masuk ke sekolah kita?”tanya Ari.
“Kenapa?”Nara tanya balik.
“Karena dia ngikut ke badan lo,” jawab Ari. “Kemungkinan
anak kecil itu ada yang bawa ke sekolah kita.”
Spontan Nara, Wira dan Toha saling berpandangan.
“Terus siapa yang bawa dia ke sini?” tanya Wira serius.
“Nah itu yang kita nggak tahu,”jawab Ari,”Tapi yang jelas,
orang yang bawa dia itu pulangnya naik bus.”
Lalu bel masuk pun berdering.
Hari ini kelas 11 dan 12 sudah mengikuti kegiatan belajar seperti
biasa. Kelas 10 masih ikut kegiatan pengenalan orientasi sekolah. Pengurus OSIS
mendapatkan ijin tidak mengikuti pelajaran untuk menyelenggarakan kegiatan
tersebut. Saat istirahat jam pertama, tersebar berita heboh. Katanya saat
kegiatan pengenalan orientasi sekolah, seorang pengurus OSIS bertingkah aneh.
Banyak yang bilang tiba-tiba dia berlari-lari tanpa arah, lalu menyeruduk
teman-temannya yang lain. Hingga beberapa temannya ada yang cedera. Sampai dia
sendiri akhirnya pingsan, seperti kehabisan tenaga. Mendengar berita itu, Ari,
Toha dan Wira berlarian menuju UKS. Karena pengurus OSIS yang pingsan itu baru
saja digotong ke sana. Di depan UKS sudah banyak murid berkerumun. Ari, Toha
dan Wira berusaha menyeruak masuk ke kerumunan. Tapi selain petugas PMR dan
guru dilarang masuk ke dalam. Ari masih bisa melihat dari jendela. Ada tiga
anak yang cedera sedang dirawat. Kebanyakan mereka menderita luka memar di
bagian dada, perut dan lengan. Lalu anak yang pingsan masih berbaring di salah
__ADS_1
satu ranjang. Seorang guru dan petugas PMR sedang merawatnya. Tapi samar-samar
Ari lihat, di belakang guru dan petugas PMR itu ada satu orang lagi. Dari tadi
orang itu berdiri mematung di sana. Ari pun kaget dan mundur sejengkal. Karena
setelah dia amati, orang yang berdiri mematung itu tidak memakai baju. Dan
kepalanya bukan kepala manusia. Kepalanya seperti binatang yang bertanduk.
Seperti kijang yang tanduknya bercabang. Ari pun menoleh ke Toha dan Wira.
“Ada apa Ri,” tanya Toha. Sepertinya Toha tahu, Ari sedang
melihat sesuatu.
Dan Ari tahu, Toha dan Wira tidak melihat apa yang dia lihat
di sana. Lalu Ari menoleh ke belakang. Dia lihat Nara sudah menyusul mereka.
Tapi Nara sengaja tidak melangkah lebih dekat lagi. Dia mulai mengencangkan
jaket dan memakai tudungnya. Ari segera mengajak teman-temannya balik ke kelas
mereka. Di meja paling belakang punya Wira, mereka berkumpul. Ari langsung
mengeluarkan buku dan pensilnya. Di depan Toha, Wira dan Nara, Ari mulai
menggambar apa yang dilihatnya tadi. Seseorang dengan dada telanjang. Kepalanya
kijang dengan tanduk yang bercabang.
“Ada lagi selain sosok
anak kecil,” desis Nara sembari masih mengamati gambar Ari.
“Yang ini cuma Ari yang lihat,” kata Toha menunjuk ke gambar
Ari.
“Tapi yang ini udah bikin onar,” Wira menambahkan.
“Ha, tanyain ke bokap lo dong,” kata Nara ke Toha.
Lalu Ari mengambil gambarnya dan memasukkan ke saku, karena
beberapa murid sedang lewat di dekat mereka.
“Nanti gue mau laporkan ke Pak Riza,” kata Ari.
Setelah bel pulang sekolah Ari berniat menemui Pak Riza.
Tapi sebelumnya ada sesuatu yang harus dia sampaikan ke Toha. Di depan tempat
parkir sepeda, Ari mengajak bicara Toha. Kebetulan sepeda Toha masih di
bengkel. Lalu Ari menyerahkan sejumlah uang ke Toha. Uang yang kemarin Tata
transfer ke rekening ibu Ari. Tata pesan ke Ari, jangan bilang uang itu dari
Tata, bilang saja dari tabungan Ari.
“Ini beneran Ri?” tanya Toha tidak percaya. Berkali-kali dia
memandang sejumlah uang di tangannya lalu memandang Ari lagi.
“Iya beneran, itu dari tabungan gue,”kata Ari sesuai pesan
Tata,”tapi lo musti beliin sepeda, bukan yang lain.”
“Iye, iye,” kata Toha yang tak bisa menahan untuk memeluk
Ari sampai Ari terdorong ke belakang.
“Ntar kalau gue udah kaya pasti gue balikin Ri,” kata Toha
dengan mata berkaca-kaca.
“Iye, santai aja. Ntar balikinnya dua kali lipat ya,” kata
Ari bercanda.
Lalu Toha berlari ke parkir sepeda. Di sana sudah ada Astri.
Ari yakin, Toha pasti akan cerita ke Astri tentang uang itu. Ari pun segera
__ADS_1
meninggalkan tempat itu sebelum Astri melihatnya. Ari langsung menuju ke ruang
guru. Kebetulan tinggal Pak Riza yang ada di ruang itu. Ari langsung
menyerahkan dua gambarnya ke Pak Riza. Gambar anak kecil bertangan hitam dan
gambar sosok berkepala kijang. Lama Pak Riza mengamati gambar Ari.
“Kamu yakin Ri?”Pak Riza serius memandangi Ari.
“Iya Pak. Yang anak kecil bisa kita lihat berempat,” kata
Ari.
“Anak OSIS yang pingsan itu, waktu ditanya, nggak inget
apa-apa,” kata Pak Riza.
“Iya Pak, takutnya nanti ada kejadian lagi,” kata Ari. Ari
sengaja tidak mengatakan tentang kemungkinan ada yang membawa mereka ke
sekolah. Karena hal itu masih dugaannya saja.
“Iya…”Pak Riza terlihat sedang berpikir,”Saya khawatir
karena sebentar lagi di sekolah kita ada kegiatan Persami…”
“Minggu depan ya Pak?” tanya Ari. Persami adalah kegiatan
Perkemahan Sabtu Minggu. Di sekolah Ari kegiatan tersebut dilakukan setahun
sekali, khusus diperuntukkan anak kelas 11.
“Iya, kalian anak kelas 11 akan menginap di sekolah,” Pak
Riza masih terlihat berpikir,” Malam-malam semua anak kelas 8 akan ada di sini
dan saya nggak mungkin mengundurkan jadwalnya.”
“Bapak masih punya kontak orang baju putih… Eh maksud saya
orang yang di padepokan?” tanya Ari.
“Masih… masih,” kata Pak Riza,” Beberapa kali saya pernah
kontak sama mereka mendiskusikan beberapa hal… Coba nanti saya akan kontak lagi
sama mereka… Saya akan coba diskusikan dengan mereka.”
***
Keesokan harinya, Ari, Wira dan Nara sudah ada di taman.
Pagi ini, Toha menjadi orang yang paling mereka tunggu. Mereka menunggu info
yang dibawa Toha dari bapaknya. Dan akhirnya yang ditunggu-tunggu pun datang.
Wajah Toha ceria karena pagi ini dia berangkat sekolah naik sepeda baru. Tapi
tampaknyanya tidak ada yang tertarik dengan topik sepeda baru Toha.
“Ha, udah nanya bokap lo?” Nara langsung tanya ke Toha.
“Udah…” kata Toha santai.
“Terus gimana?” Nara sudah tidak sabar.
“Iya gitu, memang ada yang masuk ke sekolah kita,” jawab
Toha.
“Terus?” tanya Nara.
“Kata bokap yang masuk ke sekolah kita ada lima,” jawab
Toha.
“Hah, ada lima?” kata Nara, Ari dan Wira hampir bersamaan.
“Waktu itu kita lihat ada anak kecil. Terus ada kepala
kijang yang digambar Ari. Berarti masih ada tiga lagi dong,” kata Wira.
Ari langsung ingat pembicaraannya dengan Pak Riza kemarin mengenai
Persami. Dia pikir keadaan akan semakin gawat.
__ADS_1