Komplotan Tidak Takut Hantu

Komplotan Tidak Takut Hantu
Bab 40 : Hantu Kepala Kijang


__ADS_3

Pagi-pagi, Ari, Toha, Wira dan Nara sudah di taman. Di


tangan mereka masing-masing ada setumpuk foto. Foto yang diambil ibu Nara 20


tahun yang lalu. Mereka begitu serius memperhatikan gambar di foto-foto itu.


Kecuali Ari. Ari hanya sekedar membolak-balik foto yang ada di tangannya.


“Kayaknya udah ngga ada lagi deh gambar kayak lorong gitu,”


kata Nara sembari masih membolak-balik foto di tangannya.


“Iya, adanya cuman di gambar basement doang,” kata Wira.


Sepertinya dia sudah mulai berhenti membolak-balik foto.


Sementara Toha masih sibuk mencari gambar lorong, Wira dan


Nara justru heran melihat Ari yang sepertinya tidak serius mencari. Karena


kemarin Ari lah yang mencetuskan kemungkinan ada lorong lain selain di basement.


“Gimana Ri? Ketemu?” tanya Wira. Dia memastikan Ari untuk


membuktikan apa yang sudah dia cetuskan.


“Gue kira memang nggak ada lorong lain,” jawab Ari datar


sembari merapikan foto di tangannya.


“Terus?”tanya Nara. Dia sedikit kesal, karena atas


permintaan Ari, dia sudah bawa semua foto punya ibunya.


“Gue kira anak kecil itu bukan dari lorong,” kata Ari dengan


muka serius.


“Lalu,”kata Nara tidak sabar.


“Ingat nggak Ra? Waktu perempuan pakai bunga itu ngikut lo


ke sini malem-malem? Kenapa dia bisa masuk ke sekolah kita?”tanya Ari.


“Kenapa?”Nara tanya balik.


“Karena dia ngikut ke badan lo,” jawab Ari. “Kemungkinan


anak kecil itu ada yang bawa ke sekolah kita.”


Spontan Nara, Wira dan Toha saling berpandangan.


“Terus siapa yang bawa dia ke sini?” tanya Wira serius.


“Nah itu yang kita nggak tahu,”jawab Ari,”Tapi yang jelas,


orang yang bawa dia itu pulangnya naik bus.”


Lalu bel masuk pun berdering.


Hari ini kelas 11 dan 12 sudah mengikuti kegiatan belajar seperti


biasa. Kelas 10 masih ikut kegiatan pengenalan orientasi sekolah. Pengurus OSIS


mendapatkan ijin tidak mengikuti pelajaran untuk menyelenggarakan kegiatan


tersebut. Saat istirahat jam pertama, tersebar berita heboh. Katanya saat


kegiatan pengenalan orientasi sekolah, seorang pengurus OSIS bertingkah aneh.


Banyak yang bilang tiba-tiba dia berlari-lari tanpa arah, lalu menyeruduk


teman-temannya yang lain. Hingga beberapa temannya ada yang cedera. Sampai dia


sendiri akhirnya pingsan, seperti kehabisan tenaga. Mendengar berita itu, Ari,


Toha dan Wira berlarian menuju UKS. Karena pengurus OSIS yang pingsan itu baru


saja digotong ke sana. Di depan UKS sudah banyak murid berkerumun. Ari, Toha


dan Wira berusaha menyeruak masuk ke kerumunan. Tapi selain petugas PMR dan


guru dilarang masuk ke dalam. Ari masih bisa melihat dari jendela. Ada tiga


anak yang cedera sedang dirawat. Kebanyakan mereka menderita luka memar di


bagian dada, perut dan lengan. Lalu anak yang pingsan masih berbaring di salah

__ADS_1


satu ranjang. Seorang guru dan petugas PMR sedang merawatnya. Tapi samar-samar


Ari lihat, di belakang guru dan petugas PMR itu ada satu orang lagi. Dari tadi


orang itu berdiri mematung di sana. Ari pun kaget dan mundur sejengkal. Karena


setelah dia amati, orang yang berdiri mematung itu tidak memakai baju. Dan


kepalanya bukan kepala manusia. Kepalanya seperti binatang yang bertanduk.


Seperti kijang yang tanduknya bercabang. Ari pun menoleh ke Toha dan Wira.


“Ada apa Ri,” tanya Toha. Sepertinya Toha tahu, Ari sedang


melihat sesuatu.


Dan Ari tahu, Toha dan Wira tidak melihat apa yang dia lihat


di sana. Lalu Ari menoleh ke belakang. Dia lihat Nara sudah menyusul mereka.


Tapi Nara sengaja tidak melangkah lebih dekat lagi. Dia mulai mengencangkan


jaket dan memakai tudungnya. Ari segera mengajak teman-temannya balik ke kelas


mereka. Di meja paling belakang punya Wira, mereka berkumpul. Ari langsung


mengeluarkan buku dan pensilnya. Di depan Toha, Wira dan Nara, Ari mulai


menggambar apa yang dilihatnya tadi. Seseorang dengan dada telanjang. Kepalanya


kijang dengan tanduk yang bercabang.



“Ada lagi selain sosok


anak kecil,” desis Nara sembari masih mengamati gambar Ari.


“Yang ini cuma Ari yang lihat,” kata Toha menunjuk ke gambar


Ari.


“Tapi yang ini udah bikin onar,” Wira menambahkan.


“Ha, tanyain ke bokap lo dong,” kata Nara ke Toha.


Lalu Ari mengambil gambarnya dan memasukkan ke saku, karena


beberapa murid sedang lewat di dekat mereka.


“Nanti gue mau laporkan ke Pak Riza,” kata Ari.


Setelah bel pulang sekolah Ari berniat menemui Pak Riza.


Tapi sebelumnya ada sesuatu yang harus dia sampaikan ke Toha. Di depan tempat


parkir sepeda, Ari mengajak bicara Toha. Kebetulan sepeda Toha masih di


bengkel. Lalu Ari menyerahkan sejumlah uang ke Toha. Uang yang kemarin Tata


transfer ke rekening ibu Ari. Tata pesan ke Ari, jangan bilang uang itu dari


Tata, bilang saja dari tabungan Ari.


“Ini beneran Ri?” tanya Toha tidak percaya. Berkali-kali dia


memandang sejumlah uang di tangannya lalu memandang Ari lagi.


“Iya beneran, itu dari tabungan gue,”kata Ari sesuai pesan


Tata,”tapi lo musti beliin sepeda, bukan yang lain.”


“Iye, iye,” kata Toha yang tak bisa menahan untuk memeluk


Ari sampai Ari terdorong ke belakang.


“Ntar kalau gue udah kaya pasti gue balikin Ri,” kata Toha


dengan mata berkaca-kaca.


“Iye, santai aja. Ntar balikinnya dua kali lipat ya,” kata


Ari bercanda.


Lalu Toha berlari ke parkir sepeda. Di sana sudah ada Astri.


Ari yakin, Toha pasti akan cerita ke Astri tentang uang itu. Ari pun segera

__ADS_1


meninggalkan tempat itu sebelum Astri melihatnya. Ari langsung menuju ke ruang


guru. Kebetulan tinggal Pak Riza yang ada di ruang itu. Ari langsung


menyerahkan dua gambarnya ke Pak Riza. Gambar anak kecil bertangan hitam dan


gambar sosok berkepala kijang. Lama Pak Riza mengamati gambar Ari.


“Kamu yakin Ri?”Pak Riza serius memandangi Ari.


“Iya Pak. Yang anak kecil bisa kita lihat berempat,” kata


Ari.


“Anak OSIS yang pingsan itu, waktu ditanya, nggak inget


apa-apa,” kata Pak Riza.


“Iya Pak, takutnya nanti ada kejadian lagi,” kata Ari. Ari


sengaja tidak mengatakan tentang kemungkinan ada yang membawa mereka ke


sekolah. Karena hal itu masih dugaannya saja.


“Iya…”Pak Riza terlihat sedang berpikir,”Saya khawatir


karena sebentar lagi di sekolah kita ada kegiatan Persami…”


“Minggu depan ya Pak?” tanya Ari. Persami adalah kegiatan


Perkemahan Sabtu Minggu. Di sekolah Ari kegiatan tersebut dilakukan setahun


sekali, khusus diperuntukkan anak kelas 11.


“Iya, kalian anak kelas 11 akan menginap di sekolah,” Pak


Riza masih terlihat berpikir,” Malam-malam semua anak kelas 8 akan ada di sini


dan saya nggak mungkin mengundurkan jadwalnya.”


“Bapak masih punya kontak orang baju putih… Eh maksud saya


orang yang di padepokan?” tanya Ari.


“Masih… masih,” kata Pak Riza,” Beberapa kali saya pernah


kontak sama mereka mendiskusikan beberapa hal… Coba nanti saya akan kontak lagi


sama mereka… Saya akan coba diskusikan dengan mereka.”


***


Keesokan harinya, Ari, Wira dan Nara sudah ada di taman.


Pagi ini, Toha menjadi orang yang paling mereka tunggu. Mereka menunggu info


yang dibawa Toha dari bapaknya. Dan akhirnya yang ditunggu-tunggu pun datang.


Wajah Toha ceria karena pagi ini dia berangkat sekolah naik sepeda baru. Tapi


tampaknyanya tidak ada yang tertarik dengan topik sepeda baru Toha.


“Ha, udah nanya bokap lo?” Nara langsung tanya ke Toha.


“Udah…” kata Toha santai.


“Terus gimana?” Nara sudah tidak sabar.


“Iya gitu, memang ada yang masuk ke sekolah kita,” jawab


Toha.


“Terus?” tanya Nara.


“Kata bokap yang masuk ke sekolah kita ada lima,” jawab


Toha.


“Hah, ada lima?” kata Nara, Ari dan Wira hampir bersamaan.


“Waktu itu kita lihat ada anak kecil. Terus ada kepala


kijang yang digambar Ari. Berarti masih ada tiga lagi dong,” kata Wira.


Ari langsung ingat pembicaraannya dengan Pak Riza kemarin mengenai


Persami. Dia pikir keadaan akan semakin gawat.

__ADS_1


__ADS_2