Komplotan Tidak Takut Hantu

Komplotan Tidak Takut Hantu
Bab 41 : Hantu Perempuan Rambut Melayang


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang menegangkan bagi Ari, Toha, Wira


dan Nara. Sepanjang kegiatan belajar di kelas, mereka jadi tidak bisa


konsentrasi mengikuti pelajaran. Beberapa kali mereka menoleh ke jendela atau memandang


langit-langit kelas, khawatir akan muncul sesuatu. Sampai Toha diperingatkan


seorang guru karena terlalu sering menoleh ke jendela. Tapi sampai bel


istirahat jam pertama, mereka tidak melihat apa-apa. Hingga saat Ari, Toha dan


Wira hendak ke toilet, terjadi suatu kehebohan. Dari arah kelas 10, ada sorang


murid perempuan dibopong ramai-ramai ke UKS karena pingsan. Ari, Toha dan Wira


pun mengurungkan niat mereka ke toilet. Mereka berlari menyusul rombongan yang


membopong murid perempuan pingsan tadi. Petugas PMR pun datang ke UKS. Seorang


guru datang dan menyuruh murid-murid yang ada di depan UKS untuk bubar. Tidak


ada yang boleh masuk ke UKS kecuali petugas PMR. Ari, Toha dan Wira yang sudah meringsek


ke kerumunan pun ikut membubarkan diri. Tapi Ari masih penasaran. Dia menuju ke


jendela UKS. Di sana dia bisa melihat murid perempuan yang pingsan sudah


terbaring. Seorang petugas PMR sedang memeriksanya. Perasaan Ari tidak enak.


Dia merasa sesuatu ada di dalam sana, tapi dia tidak melihatnya. Tahu Ari sedang


melongok dari jendela, bu guru yang ada di dalam cepat-cepat menutup tirai


jendela. Dengan langkah ragu, Ari pun beranjak dari tempatnya berdiri. Toha dan


Wira sudah hendak kembali lagi ke kelas. Mereka sudah bersama Nara yang tadi


menyusul. Dan Nara sedang memakai jaket dengan tudungnya terpasang di kepala.


Perasaan Ari pun semakin tidak enak. Ari sempat menengok ke arah UKS. Dia lihat


tirai jendela UKS sedikit terbuka karena angin. Ari cepat-cepat berlari ke sana


sebelum angin menutup kembali tirai itu. Ari langsung melongok ke celah tirai


yang sedikit terbuka. Ari lihat murid perempuan itu masih terbaring. Petugas


PMR dan bu guru sedang merawatnya. Dan benar dugaan Ari. Ada satu orang lagi


berdiri di sana. Di dekat kaki murid perempuan yang terbaring. Dia hanya diam


menatap murid perempuan itu. Dia wanita setengah baya. Bajunya serba hitam.


Rambutnya panjang. Tapi rambutnya tidak tergerai ke bawah. Rambut panjangnya berdiri


ke atas seperti melayang hingga hampir menggapai langit-langit. Yang menjadikan


Ari tambah kaget, murid perempuan itu sedang pingsan dan tengah ditangani


petugas PMR dan bu guru tapi Ari merasa, dengan kondisi terbaring, kepala murid


perempuan itu sedang menoleh ke arahnya dengan mata tajam menatapnya. Sampai bu


guru tahu, Ari terlihat sedang mengintip di jendela.


“Hei, ngapain kamu ngintip-ngintip!”bu guru berteriak galak


dan melangkah cepat ke jendela,”Ini yang sakit perempuan! Nggak tahu sopan


kamu!”


Spontan Ari langsung berlari meninggalkan UKS. Dia tidak mau


bu guru itu mengenali wajahnya. Dan tanpa berhenti berlari, Ari meminta Toha,


Wira dan Nara untuk cepat kembali ke kelas. Mereka bertiga pun berlari menyusul


Ari. Sampai di kelas, seperti biasa, mereka berkumpul di meja Wira. Ari sudah


siap dengan buku gambar dan pensilnya. Dia mulai menggambar apa yang dilihatnya


tadi. Sosok perempuan setengah baya. Seperti ibu-ibu. Bajunya serba hitam


panjang menerus di bawah. Wajahnya menatap ke pembaringan. Tatapannya seperti


sedang marah. Dan rambutnya yang panjang tidak tergerai ke bawah. Rambut


panjangnya seperti tertarik ke atas. Seperti melayang-layang menggapai


langit-langit.



Bergantian Toha, Wira dan Nara mengamati gambar Ari.


“Tahu nggak, tadi waktu gue ngintip ke dalam?” tanya Ari


datar. Seperti dia juga ingin bertanya pada dirinya sendiri.


“Kenapa?” tanya Nara penasaran,” Hantu itu ngapain?”


“Bukan hantu itu,” kata Ari,” Justru anak yang pingsan itu.


Gue lihat dia menoleh ke gue. Terus natap gue.”


“Bukannya dia lagi pingsan?” tanya Nara.


“Nah itu yang bikin gue bingung,” kata Ari.


“Ini berarti hantu ke tiga yang kita tahu,” kata Wira. Dia


masih memandangi gambar Ari.


“Kalau menurut bapak Toha, berarti masih ada dua lagi yang

__ADS_1


kita nggak tahu,” kata Ari mencoba berteori.


“Nanti lo mau laporin ke Pak Riza?” tanya Toha ke Ari.


“Iya, pasti. Soalnya hari Sabtu ini kan kita ada


Persami,”kata Ari serius.


“O iya,” kata Nara sambil berpandangan dengan Wira dan Toha.


Mereka bisa membayangkan malam-malam yang akan sangat


mengerikan buat murid kelas 11 satu sekolah.


Selama sisa kegiatan belajar hari ini, ketegangan meliputi


Ari, Toha, Wira dan Nara. Tapi sampai bel pulang berbunyi, mereka tidak melihat


apa-apa. Dan selama itu pula tidak terjadi apa-apa setelah kejadian murid pingsan


waktu istirahat jam pertama tadi. Ari sudah berjalan menuju ke ruang guru. Dan


seperti biasa, di ruang guru, Ari duduk menunggu ruangan sepi. Setelah tinggal


Pak Riza yang ada di situ, Ari menyerahkan gambar yang dibuatnya tadi.


“Ini yang tadi ada anak kelas 10 pingsan ya?” tanya Pak Riza


sembari masih mengamati gambar Ari.


“Iya Pak,” jawab Ari,”Emang dia anak kelas 10 ya Pak?” Ari


balik tanya.


“Iya… Namanya Lisa… Mmm… Lisa Lavina, anak kelas 10-1,” jawab


Pak Riza.


Ari mangut-manggut berusaha mengingat nama itu. Dia jadi


ingat, kelas 10-1 dulu kelasnya Tata.


“Jadi kamu tadi yang kata Bu Marni ngintip di UKS ya?” tanya


Pak Riza.


“Iya Pak. Maaf… Kalau nggak begitu, kita nggak akan tahu


kejadiannya Pak,” kata Ari polos.


Pak Riza cuma tersenyum kecil sambil melipat gambar Ari dan


memasukkan ke tasnya.


“Terakhir saya dengar anak itu belum sadar,” kata Pak


Riza,”Sudah ada yang hubungi rumahnya. Tapi sampai sekarang kayaknya belum ada


yang jemput.”


percaya.


“Iya… Tapi kata Bu Marni, anak itu seperti tidur aja, cuma


dibanguninnya susah…”Pak Riza menjelaskan.


Ari masih ingat bagaimana anak itu menatapnya.


“Kayaknya hari ini juga saya harus menghubungi orang


padepokan,” kata Pak Riza sembari mengemasi barang-barangnya,” Kamu terus


laporin ke saya ya, kalau kalian lihat sesuatu.”


“Baik Pak,” jawab Ari.


Ari balik ke kelasnya. Hari ini jam 3 dia ada ekstrakurikuler


melukis bersama Toha. Mereka berdua sengaja tidak pulang dulu untuk mengirit


ongkos. Kebetulan Nara juga ada ekstrakurikuler fotografi. Tapi Nara


menyempatkan untuk pulang dulu. Ketika bertemu Toha, Ari menceritakan informasi


yang dia dapatkan dari Pak Riza ke Toha.


“Kalau nggak salah, tadi ada orang ke UKS,” kata


Toha,”Kayaknya dia mau jemput anak itu deh.”


“Orangtuanya yang datang jemput?” tanya Ari.


“Kayaknya bukan,”jawab Toha,”Bapak-bapak udah tua gitu.


Kayaknya sopirnya deh,”jawab Toha.


Lalu Ari mengajak Toha ke UKS. Sampai di sana mereka melihat


anak perempuan itu sudah siuman. Bu Marni ada di sana. Seorang bapak-bapak tua


memakai baju safari membawakan tas anak itu. Melihat tampangnya, Ari mengira


bapak-bapak itu sopirnya. Tapi yang Ari heran, anak itu terlihat baik-baik


saja. Tidak ada tanda-tanda sama sekali dia habis pingsan atau habis sakit. Dan


saat berjalan meninggalkan UKS, pelan anak itu menoleh dan menatap Ari yang


berdiri bersama Toha tak jauh di seberang. Tatapan itu tidak seperti tatapan


yang Ari lihat sebelumnya. Tatapan itu tatapan memelas. Seperti meminta


pertolongan. Tapi hanya sebentar. Anak itu melanjutkan jalannya lagi bersama


bapak-bapak tua yang membawa tasnya. Dia tetap berjalan seperti tidak terjadi

__ADS_1


apa-apa sebelumnya.


Di ekstrakurikuler melukis, sekarang Ari dan Toha jadi


senior. Hari ini mereka sibuk membimbing anak-anak kelas 10 yang baru bergabung.


Di tengah kesibukan mereka melukis, ada seorang anak kelas 10 yang iseng


bertanya ke Ari.


“Kak, katanya sekolah ini angker ya?” tanya anak itu.


“Kata siapa?” Ari balik tanya karena dia enggan menjawab.


“Kakak saya kan di kelas 11. Katanya pernah ada kesurupan


masal?” tanya anak itu lagi.


“Itu dulu,” jawab Ari sekenanya,” Sekarang sekolah kita udah


aman,” Ari cuma berusaha membuat suasana tenang karena dia lihat anak yang lain


mulai menyimak dan terlihat resah. Walau sebenarnya keresahan juga melanda Ari


kalau dia ingat acara Persami sebentar lagi.


“Katanya, kakak julukannya Si Penggambar Hantu ya?” Anak itu


bertanya lagi.


Ari melotot ke anak itu. Tapi selebihnya dia jadi heran.Ternyata


julukan itu sampai sekarang masih diingat orang.


“Hei, ini mau melukis apa ngrumpi?”Toha mulai kesal dengan


anak itu,”Kalau ngrumpiin hantu ntar hantunya pada ngikut, baru tahu rasa lo.”


Lalu terdengar pintu workshop diketuk. Ternyata Nara ada di


depan pintu dengan kepala celingak-celinguk. Sepertinya dia sedang mencari Ari


dan Toha.


“Ada apa Ra?” tanya Ari yang langsung beranjak menghampiri


Nara. Ari jadi curiga karena Nara terlihat memakai jaket dengan tudungnya


terpasang di kepala.


“Ri, sini deh,” Nara mengajak Ari keluar dari workshop.


Ari mengikuti Nara. Toha pun menyusul. Sampai di tempat


sepi, Nara berhenti dan mulai mengeluarkan kameranya.


“Kenapa Ra?” tanya Ari penasaran.


“Ri, gue kan tadi lagi ngajak anak baru foto-foto gedung


sekolah. Lo lihat deh foto-foto yang gue ambil,” Nara memperlihatkan display di


kameranya ke Ari dan Toha.


“Ini barusan kamu ambil fotonya?” tanya Ari sambil


menggeser-geser hasil bidikan Nara.


“Iya barusan. Dari awal gue ambil foto, badan gue udah ngerasa


dingin,”kata Nara.


Ari masih menggeser-geser display di kamera Nara. Banyak foto


sudut-sudut sekolah yang memperlihatkan bagian gedung tua.


“Lo lihat deh foto yang ini,” Nara mulai tidak sabar, karena


Ari dari tadi hanya menggeser-geser gambar hasil jepretannya. “Lihat bagian


pinggirnya,” Nara menunjuk ke gambar salah satu lorong kelas, di bagian


pinggirnya ada bayangan putih agak kabur. Tetapi kalau dilihat seksama terlihat


seperti sosok anak kecil, dengan badan dan kepalanya, rambutnya panjang,


bajunya putih dan kedua tangannya hitam.


“Itu kayak anak kecil yang kita lihat,” ujar Toha.


“Lihat foto yang lain deh,”Nara menggeser display kameranya.


Terlihat gambar lain di sekitar kantin. Dan di bagian


pinggirnya ada lagi bayangan yang membentuk sosok anak kecil tadi. Lalu Nara


menunjukkan foto-fotonya yang lain. Di semua foto hasil bidikannya, di bagian


pinggirnya selalu ada bayangan yang membentuk sosok anak kecil.


“Anak itu ada dimana-mana,”guman Toha.


“Waktu aku ambil gambarnya, gue ngerasa badan gue


dingin,”kata Nara,”Tapi gue nggak ngeh kalau si anak itu ada di foto gue.”


“Kayaknya si anak kecil itu udah mulai meneror kamu deh Ra,”


kata Toha berlagak serius.


“Enggak, anak itu enggak meneror Nara,” kata Ari datar.


“Terus ngapain dia?” tanya Nara.


“Mungkin dia ingin menyempaikan sesuatu ke lo Ra,” kata Ari.

__ADS_1


__ADS_2