
Hari ini adalah hari yang menegangkan bagi Ari, Toha, Wira
dan Nara. Sepanjang kegiatan belajar di kelas, mereka jadi tidak bisa
konsentrasi mengikuti pelajaran. Beberapa kali mereka menoleh ke jendela atau memandang
langit-langit kelas, khawatir akan muncul sesuatu. Sampai Toha diperingatkan
seorang guru karena terlalu sering menoleh ke jendela. Tapi sampai bel
istirahat jam pertama, mereka tidak melihat apa-apa. Hingga saat Ari, Toha dan
Wira hendak ke toilet, terjadi suatu kehebohan. Dari arah kelas 10, ada sorang
murid perempuan dibopong ramai-ramai ke UKS karena pingsan. Ari, Toha dan Wira
pun mengurungkan niat mereka ke toilet. Mereka berlari menyusul rombongan yang
membopong murid perempuan pingsan tadi. Petugas PMR pun datang ke UKS. Seorang
guru datang dan menyuruh murid-murid yang ada di depan UKS untuk bubar. Tidak
ada yang boleh masuk ke UKS kecuali petugas PMR. Ari, Toha dan Wira yang sudah meringsek
ke kerumunan pun ikut membubarkan diri. Tapi Ari masih penasaran. Dia menuju ke
jendela UKS. Di sana dia bisa melihat murid perempuan yang pingsan sudah
terbaring. Seorang petugas PMR sedang memeriksanya. Perasaan Ari tidak enak.
Dia merasa sesuatu ada di dalam sana, tapi dia tidak melihatnya. Tahu Ari sedang
melongok dari jendela, bu guru yang ada di dalam cepat-cepat menutup tirai
jendela. Dengan langkah ragu, Ari pun beranjak dari tempatnya berdiri. Toha dan
Wira sudah hendak kembali lagi ke kelas. Mereka sudah bersama Nara yang tadi
menyusul. Dan Nara sedang memakai jaket dengan tudungnya terpasang di kepala.
Perasaan Ari pun semakin tidak enak. Ari sempat menengok ke arah UKS. Dia lihat
tirai jendela UKS sedikit terbuka karena angin. Ari cepat-cepat berlari ke sana
sebelum angin menutup kembali tirai itu. Ari langsung melongok ke celah tirai
yang sedikit terbuka. Ari lihat murid perempuan itu masih terbaring. Petugas
PMR dan bu guru sedang merawatnya. Dan benar dugaan Ari. Ada satu orang lagi
berdiri di sana. Di dekat kaki murid perempuan yang terbaring. Dia hanya diam
menatap murid perempuan itu. Dia wanita setengah baya. Bajunya serba hitam.
Rambutnya panjang. Tapi rambutnya tidak tergerai ke bawah. Rambut panjangnya berdiri
ke atas seperti melayang hingga hampir menggapai langit-langit. Yang menjadikan
Ari tambah kaget, murid perempuan itu sedang pingsan dan tengah ditangani
petugas PMR dan bu guru tapi Ari merasa, dengan kondisi terbaring, kepala murid
perempuan itu sedang menoleh ke arahnya dengan mata tajam menatapnya. Sampai bu
guru tahu, Ari terlihat sedang mengintip di jendela.
“Hei, ngapain kamu ngintip-ngintip!”bu guru berteriak galak
dan melangkah cepat ke jendela,”Ini yang sakit perempuan! Nggak tahu sopan
kamu!”
Spontan Ari langsung berlari meninggalkan UKS. Dia tidak mau
bu guru itu mengenali wajahnya. Dan tanpa berhenti berlari, Ari meminta Toha,
Wira dan Nara untuk cepat kembali ke kelas. Mereka bertiga pun berlari menyusul
Ari. Sampai di kelas, seperti biasa, mereka berkumpul di meja Wira. Ari sudah
siap dengan buku gambar dan pensilnya. Dia mulai menggambar apa yang dilihatnya
tadi. Sosok perempuan setengah baya. Seperti ibu-ibu. Bajunya serba hitam
panjang menerus di bawah. Wajahnya menatap ke pembaringan. Tatapannya seperti
sedang marah. Dan rambutnya yang panjang tidak tergerai ke bawah. Rambut
panjangnya seperti tertarik ke atas. Seperti melayang-layang menggapai
langit-langit.
Bergantian Toha, Wira dan Nara mengamati gambar Ari.
“Tahu nggak, tadi waktu gue ngintip ke dalam?” tanya Ari
datar. Seperti dia juga ingin bertanya pada dirinya sendiri.
“Kenapa?” tanya Nara penasaran,” Hantu itu ngapain?”
“Bukan hantu itu,” kata Ari,” Justru anak yang pingsan itu.
Gue lihat dia menoleh ke gue. Terus natap gue.”
“Bukannya dia lagi pingsan?” tanya Nara.
“Nah itu yang bikin gue bingung,” kata Ari.
“Ini berarti hantu ke tiga yang kita tahu,” kata Wira. Dia
masih memandangi gambar Ari.
“Kalau menurut bapak Toha, berarti masih ada dua lagi yang
__ADS_1
kita nggak tahu,” kata Ari mencoba berteori.
“Nanti lo mau laporin ke Pak Riza?” tanya Toha ke Ari.
“Iya, pasti. Soalnya hari Sabtu ini kan kita ada
Persami,”kata Ari serius.
“O iya,” kata Nara sambil berpandangan dengan Wira dan Toha.
Mereka bisa membayangkan malam-malam yang akan sangat
mengerikan buat murid kelas 11 satu sekolah.
Selama sisa kegiatan belajar hari ini, ketegangan meliputi
Ari, Toha, Wira dan Nara. Tapi sampai bel pulang berbunyi, mereka tidak melihat
apa-apa. Dan selama itu pula tidak terjadi apa-apa setelah kejadian murid pingsan
waktu istirahat jam pertama tadi. Ari sudah berjalan menuju ke ruang guru. Dan
seperti biasa, di ruang guru, Ari duduk menunggu ruangan sepi. Setelah tinggal
Pak Riza yang ada di situ, Ari menyerahkan gambar yang dibuatnya tadi.
“Ini yang tadi ada anak kelas 10 pingsan ya?” tanya Pak Riza
sembari masih mengamati gambar Ari.
“Iya Pak,” jawab Ari,”Emang dia anak kelas 10 ya Pak?” Ari
balik tanya.
“Iya… Namanya Lisa… Mmm… Lisa Lavina, anak kelas 10-1,” jawab
Pak Riza.
Ari mangut-manggut berusaha mengingat nama itu. Dia jadi
ingat, kelas 10-1 dulu kelasnya Tata.
“Jadi kamu tadi yang kata Bu Marni ngintip di UKS ya?” tanya
Pak Riza.
“Iya Pak. Maaf… Kalau nggak begitu, kita nggak akan tahu
kejadiannya Pak,” kata Ari polos.
Pak Riza cuma tersenyum kecil sambil melipat gambar Ari dan
memasukkan ke tasnya.
“Terakhir saya dengar anak itu belum sadar,” kata Pak
Riza,”Sudah ada yang hubungi rumahnya. Tapi sampai sekarang kayaknya belum ada
yang jemput.”
percaya.
“Iya… Tapi kata Bu Marni, anak itu seperti tidur aja, cuma
dibanguninnya susah…”Pak Riza menjelaskan.
Ari masih ingat bagaimana anak itu menatapnya.
“Kayaknya hari ini juga saya harus menghubungi orang
padepokan,” kata Pak Riza sembari mengemasi barang-barangnya,” Kamu terus
laporin ke saya ya, kalau kalian lihat sesuatu.”
“Baik Pak,” jawab Ari.
Ari balik ke kelasnya. Hari ini jam 3 dia ada ekstrakurikuler
melukis bersama Toha. Mereka berdua sengaja tidak pulang dulu untuk mengirit
ongkos. Kebetulan Nara juga ada ekstrakurikuler fotografi. Tapi Nara
menyempatkan untuk pulang dulu. Ketika bertemu Toha, Ari menceritakan informasi
yang dia dapatkan dari Pak Riza ke Toha.
“Kalau nggak salah, tadi ada orang ke UKS,” kata
Toha,”Kayaknya dia mau jemput anak itu deh.”
“Orangtuanya yang datang jemput?” tanya Ari.
“Kayaknya bukan,”jawab Toha,”Bapak-bapak udah tua gitu.
Kayaknya sopirnya deh,”jawab Toha.
Lalu Ari mengajak Toha ke UKS. Sampai di sana mereka melihat
anak perempuan itu sudah siuman. Bu Marni ada di sana. Seorang bapak-bapak tua
memakai baju safari membawakan tas anak itu. Melihat tampangnya, Ari mengira
bapak-bapak itu sopirnya. Tapi yang Ari heran, anak itu terlihat baik-baik
saja. Tidak ada tanda-tanda sama sekali dia habis pingsan atau habis sakit. Dan
saat berjalan meninggalkan UKS, pelan anak itu menoleh dan menatap Ari yang
berdiri bersama Toha tak jauh di seberang. Tatapan itu tidak seperti tatapan
yang Ari lihat sebelumnya. Tatapan itu tatapan memelas. Seperti meminta
pertolongan. Tapi hanya sebentar. Anak itu melanjutkan jalannya lagi bersama
bapak-bapak tua yang membawa tasnya. Dia tetap berjalan seperti tidak terjadi
__ADS_1
apa-apa sebelumnya.
Di ekstrakurikuler melukis, sekarang Ari dan Toha jadi
senior. Hari ini mereka sibuk membimbing anak-anak kelas 10 yang baru bergabung.
Di tengah kesibukan mereka melukis, ada seorang anak kelas 10 yang iseng
bertanya ke Ari.
“Kak, katanya sekolah ini angker ya?” tanya anak itu.
“Kata siapa?” Ari balik tanya karena dia enggan menjawab.
“Kakak saya kan di kelas 11. Katanya pernah ada kesurupan
masal?” tanya anak itu lagi.
“Itu dulu,” jawab Ari sekenanya,” Sekarang sekolah kita udah
aman,” Ari cuma berusaha membuat suasana tenang karena dia lihat anak yang lain
mulai menyimak dan terlihat resah. Walau sebenarnya keresahan juga melanda Ari
kalau dia ingat acara Persami sebentar lagi.
“Katanya, kakak julukannya Si Penggambar Hantu ya?” Anak itu
bertanya lagi.
Ari melotot ke anak itu. Tapi selebihnya dia jadi heran.Ternyata
julukan itu sampai sekarang masih diingat orang.
“Hei, ini mau melukis apa ngrumpi?”Toha mulai kesal dengan
anak itu,”Kalau ngrumpiin hantu ntar hantunya pada ngikut, baru tahu rasa lo.”
Lalu terdengar pintu workshop diketuk. Ternyata Nara ada di
depan pintu dengan kepala celingak-celinguk. Sepertinya dia sedang mencari Ari
dan Toha.
“Ada apa Ra?” tanya Ari yang langsung beranjak menghampiri
Nara. Ari jadi curiga karena Nara terlihat memakai jaket dengan tudungnya
terpasang di kepala.
“Ri, sini deh,” Nara mengajak Ari keluar dari workshop.
Ari mengikuti Nara. Toha pun menyusul. Sampai di tempat
sepi, Nara berhenti dan mulai mengeluarkan kameranya.
“Kenapa Ra?” tanya Ari penasaran.
“Ri, gue kan tadi lagi ngajak anak baru foto-foto gedung
sekolah. Lo lihat deh foto-foto yang gue ambil,” Nara memperlihatkan display di
kameranya ke Ari dan Toha.
“Ini barusan kamu ambil fotonya?” tanya Ari sambil
menggeser-geser hasil bidikan Nara.
“Iya barusan. Dari awal gue ambil foto, badan gue udah ngerasa
dingin,”kata Nara.
Ari masih menggeser-geser display di kamera Nara. Banyak foto
sudut-sudut sekolah yang memperlihatkan bagian gedung tua.
“Lo lihat deh foto yang ini,” Nara mulai tidak sabar, karena
Ari dari tadi hanya menggeser-geser gambar hasil jepretannya. “Lihat bagian
pinggirnya,” Nara menunjuk ke gambar salah satu lorong kelas, di bagian
pinggirnya ada bayangan putih agak kabur. Tetapi kalau dilihat seksama terlihat
seperti sosok anak kecil, dengan badan dan kepalanya, rambutnya panjang,
bajunya putih dan kedua tangannya hitam.
“Itu kayak anak kecil yang kita lihat,” ujar Toha.
“Lihat foto yang lain deh,”Nara menggeser display kameranya.
Terlihat gambar lain di sekitar kantin. Dan di bagian
pinggirnya ada lagi bayangan yang membentuk sosok anak kecil tadi. Lalu Nara
menunjukkan foto-fotonya yang lain. Di semua foto hasil bidikannya, di bagian
pinggirnya selalu ada bayangan yang membentuk sosok anak kecil.
“Anak itu ada dimana-mana,”guman Toha.
“Waktu aku ambil gambarnya, gue ngerasa badan gue
dingin,”kata Nara,”Tapi gue nggak ngeh kalau si anak itu ada di foto gue.”
“Kayaknya si anak kecil itu udah mulai meneror kamu deh Ra,”
kata Toha berlagak serius.
“Enggak, anak itu enggak meneror Nara,” kata Ari datar.
“Terus ngapain dia?” tanya Nara.
“Mungkin dia ingin menyempaikan sesuatu ke lo Ra,” kata Ari.
__ADS_1