Komplotan Tidak Takut Hantu

Komplotan Tidak Takut Hantu
Bab 10 : Hantu Yang Tidak Mau Digambar


__ADS_3

Ari berjalan masuk gerbang sekolah. Pagi ini dia berharap


bertemu dengan Rida. Gambar yang dia buat kemarin sudah siap di dalam tasnya. Tapi


sampai di depan gedung sekolah Ari tidak melihat Rida, malah dia ketemu Toha


yang barusan memarkir sepedanya. Mereka pun saling menyapa.


“Ri, katanya kemarin mading udah tayang ya?” Toha membuka


pembicaraan. Dia juga pernah menyerahkan gambarnya untuk naskah majalah


dinding.


“Iya, kata Rida sih begitu,” jawab Ari.


Mereka pun sepakat untuk mampir dulu ke papan majalah


dinding di sekitar kelas 10. Sampai di sana, banyak murid-murid yang sedang


berkerumun di depan majalah dinding. Gambar Toha ada di bagian bawah. Lukisan


gedung sekolah pakai cat air. Gambar Ari ada di bagian atas. Sketsa anak


perempuan berkaki hancur di pinggir jendela. Ari hampir tak bisa melihat gambarnya


sendiri karena kerumunan anak  yang


ternyata sedang melihat gambarnya. Tapi saat Toha melihat gambar Ari, dia


tampak terpaku. Lama dia perhatikan gambar Ari itu.


“Itu gambar kamu Ri?” tanya Toha pelan dengan wajah penuh


selidik.


“Iya,” jawab Ari seadanya. Dia masih tak menduga gambarnya


banyak yang melihat. Ada yang bilang serem. Ada yang bilang kayak di jendela


kelas. Ada yang bilang ini hantu beneran apa bukan.


Sampai di kelas pun sepertinya beberapa anak sedang


membicarakan gambar Ari. Sampai Kocik sang ketua kelas seolah ingin turun


tangan mewakili warganya.


“Ari, itu gambar hantu yang di mading, gambar lo ya?”Dengan


tubuh dempalnya, Kocik menghadang Ari sebelum sampai ke bangkunya.


“Iya, itu gambarku,” jawab Ari polos.


“Anak-anak jadi banyak yang takut lho!” Boncel sang wakil


ketua kelas menambahi dari belakang sambil menyruput minuman jusnya.


“Yang jelas itu bukan arwah gentayangan, kata Pak Riza kalau


orang mati langsung masuk alam kubur,” Profesor pun ikut nyeletuk dari


bangkunya. Yang lain pun jadi tertawa dan mulai mengolok-oloknya.


Sesampai di bangkunya, Ari sudah disambut Haki.


“Selamat ya, banyak yang antusias sama gambar lo. Jadi


gimana nih. Lanjut dong kita nge-vlog?” Tanya Haki tanpa basa-basi.


“Tahu Ki. Yakin lo nggak bikin tambah heboh?” Ari balas


tanya.


“Justru itu Ri. Kita memang akan bikin heboh. Lo nggak mau


tenar? Rida aja udah mulai deket sama lo. Apalagi nanti setelah kita nge-vlog.


Dia bakalan nggak mau jauh-jauh dari lo deh.”


“Ada-ada aja lo Ki.”


“Beneran. Gue jamin deh. Kan gue selalu rekomendasiin lo ke


Rida.”


Bel masuk pun berbunyi. Murid-murid mulai menempati


bangkunya masing-masing. Tapi waktu Ari mau menaruh tasnya di laci bawah meja,


dia menemukan secarik kertas di situ. Di kertas itu ada tulisan : Kalau ke toilet jangan ambil yang pojok.


Ari pun clingak-clinguk. Lalu dia memandangi Nara yang duduk di depan


bangkunya. Dan guru yang mengisi pelajaran jam pertama pun datang.


Saat istirahat di kantin, Haki masih saja membujuk Ari


mengenai rencana nge-vlog-nya. Tapi Ari masih belum yakin. Lalu tanpa sengaja


Ari lihat kantin yang di seberang. Di sana ada Tata dan teman-temannya. Lalu


ada gerombolan anak basket di sana. Mereka anak-anak senior. Lalu seseorang


dari mereka sengaja mengajak bicara Tata. Ari tahu namanya Jodi. Karena dia


bintang basket andalan sekolah yang sudah bikin timnya juara berkali-kali.


Semua murid di sini tahu siapa dia. Tata terlihat agak risih dideketin Jodi.


Tapi teman-teman Tata malah terlihat antusias dan  ketawa-ketiwi. Mereka mulai mendorong-dorong


Tata yang mulai salah tingkah. Memang di antara teman-temannya, Tata yang

__ADS_1


paling cantik. Dan Jodi adalah mahluk ganteng yang jadi idola semua murid.


Berpikir tentang ketenaran, Ari ingat kata-kata Haki tadi. Lalu di kepalanya


ada Rida, anak perempuan yang lincah, ramah dan tidak sombong. Ari pun berniat


menanyakan rencana vlog Haki.


“Ki, rencana kamu nge-vlog jadi kan?”tanya Ari ke Haki yang


sedang makan gorengan di sebelahnya.


“Jadilah! Nah gitu dong! Itu baru namanya semangat,” jawab


Haki antusias.


“Kapan kita akan mulai?”


“E… Ntar malem! Soalnya ntar malem pas malam Jum’at.”


Lalu mereka berdua mulai membahas detil rencana mereka.


Sembari berjalan ke kelas, mereka masih membicarakannya. Sesampai di tikungan,


langkah mereka sempat terhenti. Tak jauh dari situ, kepala sekolah tampak


sedang berdiskusi serius dengan tamu-tamunya. Lalu ada pak satpam yang mulai


menutup akses ke arah sana. Di antara kerumunan anak-anak yang ada di situ ada


yang membicarakan tentang rencana pemugaran basement yang ada di sekolah. Tak


jauh dari bapak kepala sekolah dan tamu-tamunya berdiri, ada ruang bawah tanah


yang selama ini memang ditutup. Konon ruang bawah tanah itu ada sejak gedung


ini ada di jaman penjajahan Belanda. Sejak Belanda tidak ada di sini, ruang


bawah tanah itu lama tidak dipakai lagi. Lalu bel berbunyi, tanda istirahat


sudah habis. Ari dan Haki pun cepat-cepat menuju ke kelas mereka.


Setelah bel pulang, Ari dan Haki sempat membicarakan lagi


rencana nanti malam. Lokasinya adalah pohon beringin depan sekolah. Mereka akan


diam-diam masuk ke halaman sekolah dengan melompat pagar. Lalu setelah


menuntaskan persiapan-persiapan lainnya, Ari dan Haki pun berpisah. Haki pulang


naik motor. Ari berjalan ke arah gerbang sekolah. Dia pulang naik bus. Masih


ada beberapa murid yang berjalan menuju gerbang. Lalu Ari merasa ada sorang


murid berjalan di sebelahnya. Sekilas, dilihat rambutnya sepertinya dia anak


perempuan. Dan Ari baru sadar saat melihat ke bawah. Anak itu tidak menginjak


tanah. Ari baru tahu siapa dia karena dia lihat kedua kakinya hancur. Saat Ari


hitam itu melotot ke Ari. Lalu dia berteriak, KENAPA KAMU GAMBAR AKU! Suara itu terdengar sangat keras di telinga


Ari. Saking kagetnya, Ari sampai terjerembab ke tanah. Ari ingin cepat bangun,


tapi anak itu sudah tidak ada. Tinggal Ari yang tengok sana tengok sini. Ari


masih terduduk di tanah. Badannya serasa lemas. Dia masih syok. Tapi dia musti


cepat bangun. Karena anak-anak yang berjalan di sekitar situ pada memandangi


Ari dengan tatapan heran.


Ari duduk dibangku bus kota. Dia masih terngiang kejadian di


halaman sekolah tadi. Tadi itu Awuk bicara kepadanya. Ya, bicara padanya. Baru


kali ini Ari diajak bicara. Ari tak tahan untuk mengeluarkan pensil dan buku


kecilnya. Cepat-cepat dia gambar muka Awuk yang merapat ke arahnya. Lalu dia


tulis besar-besar kata-kata yang diteriakkan Awuk : KENAPA KAMU GAMBAR AKU.



Malam ini cerah.  Langit bersih bertabur bintang. Dua anak


tampak mengendap di depan pagar sekolah. Di bawah bayang-bayang pohon yang


berjajar di trotoar, mereka seperti tak terlihat saat memanjat pagar sekolah.


Ari dan Haki sengaja mencari jalur yang jauh dari penerangan. Mereka pun sudah


melewati pagar, menyusuri sudut-sudut gelap halaman sekolah. Sampai di depan


pohon beringin, Haki mengeluarkan smart phone-nya. Lalu dia mulai dengan gaya


pembukaannya.


“Hai Gaes, welcome to my channel. Saat ini gue ada di


halaman sekolah gue. Kali ini gue nggak sendirian. Gue ditemani sama Ari. Temen


sebangku gue, temen seperjuangan gue,” lalu Haki mengarahkan smartphone-nya ke


Ari. Ari hanya berdiri kaku, senyumnya dipaksakan. “Nah ceritanya nih, gue sama


Ari mau membuktikan adanya keberadaan hantu di sini, khusunya di pohon beringin


ini Gaes,” Haki pun melanjutkan cuap-cuapnya mengenai betapa pohon beringin itu


tampak begitu angker. Lalu Haki menceritakan latar belakang Ari. “Ari ini dari


kecil bisa melihat hantu Gaes. So gimana Ri, apa udah ada tanda-tanda

__ADS_1


penampakan di pohon ini?” tanya Haki. Ari masih diam. Dia sedang berusaha konsentrasi,


menebar pandangannya ke pohon besar nan gelap di depannya. “Ri, ngomong dong,


ini kita lagi live,” suara Haki sedikit berbisik. Dia agak kesal karena dari


tadi Ari cuma diam.


“E.. Belum. Belum ada tanda-tanda penampakan,” Ari berusaha


bersuara.


“Tapi lo pernah bilang, lo pernah lihat ada hantu yang


bertengger di pohon ini,” tanya Haki.


“Iya.”


“Dimana?”


Ari menunjuk ke salah satu bagian dahan di pohon itu. Tapi


Ari tidak melihat apa-apa. Haki pun menyalakan senternya ke arah sana dan


merekam dengan smartphone-nya. Lama Ari berdiri di depan pohon, dia belum lihat


apa yang pernah lihat di sana. Sementara Haki terus bicara untuk menambah


suasana angker sembari terus merekam pohon itu. Sampai Ari mundur sejengkal.


“Ada apa Ri? Kamu lihat sesuatu?” tanya Haki.


 “Iya, dia di sana. Di


dahan yang paling ujung,” Ari menunjuk bagian paling atas rimbunan pohon itu.


Perempuan berbaju putih itu ada di sana. Haki pun mengarahkan senter dan


smartphone-nya ke sana. Tapi dia tidak melihat apa-apa. Dan dia hanya merekam rimbunan


pohon kosong.


“Yakin dia ada di situ Ri?” tanya Haki lagi.


“Iya, dia di situ,” jawab Ari sembari masih melihat ke atas


pohon.


“Kayak gimana wujudnya?”


“Dia itu perempuan, bajunya putih, mukanya pucat. Rambutnya


panjang banget sampai menyentuh tanah,” Ari menunjuk ke tanah dengan akar pohon


yang saling tindih. Walau kini perempuan itu berada di dahan yang paling


tinggi, tapi ujung rambutnya tetap menyentuh tanah. Haki pun mengarahkan senter


dan smartphone-nya ke tanah, tapi tetap dia tidak melihat apa-apa. Dia juga


hanya merekam akar-akar pohon yang terkena nyala senternya.


“Ki, kayaknya kita musti pergi dari sini deh,” kata Ari


terbata.


“Kenapa Ri?” Tanya Haki.


“Kayaknya dia marah,” Ari melihat mata perempuan itu melotot


ke arahnya.


“Mana dia, kalau marah suruh tunjukin dirinya,” Haki justru


tambah penasaran, dia maju selangkah sambil mengarah-arahkan nyala senternya ke


bagian atas pohon.


“Jangan bercanda kamu Ki,” Ari memperingatkan Haki.


Tapi sebelum Haki melangkah lagi, terdengar suara pintu besi


berderit dari arah halaman dalam sekolah. Ternyata penjaga sekolah. Dia keluar


dari pos jaganya, membawa senter dan dia arahkan ke tempat Ari dan Haki berada.


“Siapa di situ!” suara pak penjaga itu lantang dan keras


memecah sunyi malam.


Ari dan Haki pun langsung kabur, berlari sekencangnya menuju


pagar . Sampai akhirnya mereka berhasil melompat pagar. Haki cepat-cepat


menyalakan motornya yang disembunyikannya di sekitar situ. Lalu mereka berdua


melesat di atas motor meninggalkan tempat itu.


Keesokan harinya di sekolah, Ari merasa aneh dengan suasana


sekolah. Sejak datang pagi, dia melihat beberapa murid memandanginya dengan


tatapan yang tidak biasa. Juga beberapa temannya di kelas. Lalu Haki datang


tidak sepagi seperti biasanya. Dia langsung duduk di sebelah Ari. Menyalakan


smartphone-nya di bawah meja. Menunjukkan ke Ari rekaman tadi malam. Dan betapa


bangganya dia waktu tunjukkan ke Ari berapa viewer yang sudah melihat video


itu. Ari pun mulai sadar, banyak orang sudah melihat video itu, termasuk


murid-murid sekolah ini. Kekhawatiran pun mulai muncul di benak Ari. Mulai saat

__ADS_1


ini, akan banyak orang tahu kalau dia bisa melihat hantu.


__ADS_2