Komplotan Tidak Takut Hantu

Komplotan Tidak Takut Hantu
Bab 18 : Menyelamatkan Tata


__ADS_3

Pagi-pagi Ari sudah datang ke sekolah. Penjaga sekolah baru


saja membuka gerbang. Wira pun muncul dengan vespanya. Sesuai rencana, Ari yang


akan berurusan dengan sosok kaki kuda. Karena hanya dia yang bisa melihat sosok


itu. Wira akan berjaga-jaga di dekat parkir. Bila Ari belum muncul, berarti dia


belum selesai dengan urusannya. Saat itu kalau Tata sudah datang, Wira harus


cari akal untuk mengulur waktu agar Tata tidak sampai ke kelasnya dulu. Ari


sengaja tidak memberi tahu Tata. Dia tidak ingin Tata khawatir. Sementara Nara


dan Toha secepatnya harus menemukan alamat sesepuh orang berbaju putih bernama


Mbah Soma yang diberikan kakek Nara. Nara dan Toha terpaksa harus terlambat


datang ke sekolah. Saat Nara nanti bisa bertemu Mbah Soma, Toha akan memberi


Ari miss call, tanda agar Ari bisa bertindak.


Sudah berkali-kali Nara melirik jam tangannya. Dia ada di


belakang kemudi. Mobilnya terparkir di pinggir jalan. Di tempat itu dia janjian


sama Toha. Tak berapa lama, Toha muncul dengan tergopoh.


“Sori Ra, tadi angkotnya ngetem lama banget,” kata Toha


setelah masuk mobil di sebelah Nara.


“Kita harus cepat menemukan alamat Mbah Soma,” kata Nara


agak kesal. Dia sudah menginjak keras gas mobilnya.


Alamat Mbah Soma agak jauh di pinggir kota. Mobil Nara


kencang masuk tol. Toha mulai khawatir dengan cara Nara mengendarai mobil. Dia


pun segera memakai sabuk pengaman.


Sementara Ari sudah berdiri tak jauh dari kelas Tata. Tapi


tidak seperti kemarin, di bangku Tata dia tidak melihat sosok kaki kuda. Ari


sempat mendekat ke jendela kelas. Kelas itu masih kosong. Ari tidak melihat


tanda-tanda adanya sosok itu. Lalu ada murid kelas 9-1 yang datang pagi


memandangi Ari seperti orang linglung melongok-longok jendela di kelas kosong.


Ari pun agak menjauh. Dia pura-pura sedang membaca majalah dinding tapi


pandangannya tetap mengarah ke kelas Tata. Dia sempat melirik ke saku bajunya.


Bungkusan merah kecil masih ada di sana. Satu tangannya ada di saku celana.


Ponselnya ada di sana. Dia akan menunggu satu getaran tanda miss call dari


Toha. Tapi sampai sekarang dia tidak melihat sosok kaki kuda.


Mobil Nara sudah keluar tol. Toha memegangi ponsel Nara yang


ada GPS-nya. Tapi sudah berputar-putar di area itu, mereka tidak menemukan


alamat yang dimaksud. Nara dan Toha pun mulai khawatir. Ini hampir jam 6 pagi.


1 menit lagi mereka harus sampai di alamat itu. Toha mulai bertanya ke


orang-orang yang ditemui di jalan, tetapi tidak ada yang tahu keberadaan alamat


itu. Saat Toha sedang bertanya pada satu orang di jalan, dia melihat satu mobil


minibus melintas. Toha melihat beberapa orang ada di dalam, semua memakai baju


putih. Toha pun berlari masuk ke mobil Nara. Dia meminta Nara untuk mengejar


mobil yang dilihatnya tadi.


Ari melihat jam tangannya. Ini sudah jam 6 lebih. Ponsel Ari


belum bergetar. Sementara dia belum juga melihat sosok kaki kuda. Ari mulai


cemas. Beberapa kali dia menoleh ke arah Tata biasa jalan menuju ke kelasnya.


Satu dua murid sedang lewat situ. Ari berharap Tata masih lama lewat situ. Tapi


di sana Ari justru melihat Wira lari terbirit ke arahnya.


“Ri! Si Tata Ri! Si Tata…!” teriak Wira saat dia sudah dekat


dengan Ari.


“Tata kenapa?” Spontan Ari berlari ke arah Wira.


“Si Tata Ri,” kata Wira terengah. “Dia diseret di tempat


parkir.”


“Sama kaki kuda?” tanya Ari tegang.


“Gue nggak tahu. Pokoknya dia diseret. Sebelumnya gue denger


suara kaki kuda,” kata Wira lagi.


Tanpa pikir panjang Ari berlari sekencangnya ke arah parkir.


Wira mengikutinya dari belakang.

__ADS_1


Nara sudah menjalankan mobilnya di atas 70 km/jam. Beberapa


pengendara di jalan itu terlihat marah melihat mobil Nara yang melaju kencang.


Mobil yang dimaksud Toha pun sudah terlihat di depan. Mobil itu berbelok ke


jalan sempit. Mobil Nara pun sudah memasuki jalan itu. Jalan tak beraspal dan


berbatu. Di kanan kiri jalan hanya ada kebun jagung. Nara masih mengemudikan


mobilnya kencang. Nara dan Toha pun jadi terguncang-guncang di dalam mobil.


Tapi Nara harus mengejar mobil yang ada di depannya.


Ari menghentikan larinya. Dia sudah sampai di tempat parkir.


Belum banyak mobil yang parkir di sana. Tapi dia tidak melihat Tata.


“Tadi dia di sini!”kata Wira menunjuk tempat di depan


mereka.


Lalu di tengah parkir terlihat sopir Tata sedang kebingungan


mencari sesuatu. Di sana juga ada dua murid perempuan yang biasa bersama Tata.


Mereka sedang memanggil-manggil nama Tata. Ari teringat pohon paling besar yang


ada di ujung parkir. Ari pun segera lari ke sana. Dan benar juga, di sana dia


melihat Tata di dekat pohon sedang meronta-ronta. Di belakangnya ada sosok besar,


hitam, berbulu dan berkaki kuda. Ari pun berlari kencang ke arah Tata yang


sudah terseret sampai bawah pohon. Di rindang pohon, sosok kaki kuda itu


terlihat mulai memudar. Ari mengencangkan larinya. Setelah dekat, sekuat tenaga


dia lompat ke arah sosok itu. Ari pun terpental. Dia terjatuh tak jauh dari


situ. Ari sempat mendengar suara berdebum keras di tempat lain. Dan dalam


pandangan yang kabur, Ari melihat Tata sudah berlari menjauh dari tempat itu.


Dan pandangan Ari bertambah kabur.


Nara menghentikan mobilnya. Karena mobil yang diikutinya


sudah berhenti di depan semacam padepokan yang berhalaman luas. Beberapa mobil


juga terparkir di situ. Nara dan Toha cepat-cepat keluar dari mobil.


“Kamu udah bawa bungkusan merahnya?” tanya Toha.


Nara mengangguk,”ntar kamu cepet-cepet miss call ke Ari,”


kata Nara.


padepokan. Di depan padepokan banyak orang berkumpul. Semuanya berbaju putih.


Ari berusaha membuka matanya. Kepalanya pusing. Dan dia


merasa perutnya sakit seperti ditekan. Saat pandangannya mulai jelas, Ari


melihat sosok kaki kuda begitu dekat di depannya. Matanya merah melotot ke


arahnya. Mulutnya menyeringai marah hingga terlihat gigi-gigi taringnya yang


panjang. Sosok besar itu sedang menindih perut Ari. Ari merasa susah bernafas. Dan


jari-jari dengan kuku-kuku panjang sudah melingkar di leher Ari. Ari makin


susah bernafas. Antara sadar dan tidak sadar, Ari masih mendengar teriakan Tata


memanggil namanya. Lalu ia teringat bungkusan kain merah di saku bajunya.


Sekuat tenaga dia gerakkan tangannya untuk mengambil benda itu. Dengan sisa


tenaganya, Ari menghuncamkan benda itu ke sosok yang menindihnya. Ari merasa


benda itu hilang dari tangannya. Dia tak tahu apakah dia sudah melakukan dengan


benar. Tapi kesadarannya mulai menipis. Seringai sosok di depannya makin lama


makin dekat. Bau bangkai makin menusuk. Dan Ari sudah tidak kuat lagi.


Nara dan Toha sudah di depan padepokan. Orang-orang baju


putih yang ada di sana heran melihat kedatangan dua orang anak berseragam SMU.


“Ada apa?” tanya salah satu orang berbaju putih galak.


“Maaf Pak, saya ini cucunya Pak Sahlan,” Nara berusaha sopan


menjelaskan,”Pak Sahlan temannya Mbah Soma. Saya disuruh ketemu sama Mbah


Soma.”


“Mbah Soma masih ada tamu dari Subuh tadi!”kata orang tadi.


“Maaf Pak, tapi ini penting Pak,” kata Nara memohon.


“Kamu bisa sopan nggak sih! Tunggu seperti yang lain!” Orang


tadi tambah galak.


Nara jadi diam. Dia tidak tahu harus berbuat apa.


“Nara mana bungkusan merahnya,” Toha berbisik ke Nara.

__ADS_1


Tangannya meminta ke Nara.


Nara mengambil bungkusan merah dari sakunya. Dia berikan ke


Toha.


“Habis ini kamu miss call ke Ari ya,” bisik Toha lagi.


Nara mengangguk walau belum mengerti maksud Toha. Tapi Toha


sudah berlari menuju pintu masuk padepokan. Beberapa orang berbaju putih kaget


dan mulai mengejar Toha. Toha pun sudah masuk ruangan. Di ruang yang besar itu


banyak orang berbaju putih yang duduk bersila. Tapi Toha pun terus berlari


melewati kerumunan orang yang bersila.


“Mbah Soma! Mbah Soma! Mbah Soma maafkan saya!” Toha


berteriak-teriak seperti orang gila sembari masih berlari.


Tapi dari sana Toha tahu siapa yang bernama Mbah Soma. Di


tengah kerumunan ada seorang berbaju putih dengan jenggot panjang yang sudah


memutih. Dia yang paling terkejut melihat ke arah Toha. Toha pun berlari ke


arahnya. Setelah dekat, dia bersungkur di depan orang itu.


“Mbah Soma maafin saya! Maafin saya mbah!” suara Toha


menyayat.


Lalu Toha meraih tangan orang itu dan mulai menciuminya.


Orang-orang yang mengejar Ari pun berhenti melihat tingkah Toha seperti itu. Di


saat itulah Toha menyelipkan bungkusan merah ke tangan orang yang diyakini Toha


sebagai Mbah Soma. Orang itu pun terkejut. Dia langsung berdiri dan menggenggam


erat benda di tangannya. Lalu dia seperti menerawang ke satu arah. Dia pun


mulai melakukan gerakan seperti menarik sesuatu. Orang-orang yang ada di situ


pun terkejut dan heran. Kecuali beberapa orang yang tahu yang mulai membantu.


Toha menoleh ke belakang. Dia melihat Nara berdiri di depan pintu. Nara pun


sadar. Dia segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi nomor Ari.


Ari membuka matanya lagi. Bau bangkai masih menusuk


hidungnya. Kesadarannya mulai kembali, karena dia merasakan getaran ponsel di


sakunya. Dan lama-lama dia sadar, cengkraman di lehernya makin mengendur. Tapi


kini sosok yang menindihnya mulai berteriak kencang. Teriakannya yang menyayat


begitu memekak. Sosok itu mulai terangkat ke atas. Beban yang menindih Ari


perlahan hilang. Ari pun mulai terbatuk-batuk. Badannya jadi begitu lemas. Di


sisa kesadarannya Ari melihat sosok hitam di depannya begitu kurus dengan mata


merah yang makin lebar. Sosok itu lama-lama memudar seiring teriakannya yang


menghilang. Dan mata Ari pun semakin berat.


Untuk kesekian kali Ari membuka matanya. Bukan karena bau


bangkai sosok yang mengerikan. Tapi kini yang diciumnya bau wangi anak


perempuan yang dia kenal. Sayup Ari mendengar suara yang begitu familiar di


telinganya,


“Ari, bangun Ari,” suara Tata sayup terdengar di telinga


Ari.


Ari pun sadar. Dia sedang terbaring. Kepalanya ada di


pangkuan Tata. Wajah Tata begitu dekat. Tatapan mata itu, seperti tatapan yang


dulu pernah Ari kenal.


“Ari bangun. Kamu nggak kenapa-napa kan?” suara Tata kini


terdengar jelas. Wajahnya begitu khawatir.


Ari masih lemas. Dia berusaha menggerakkan bibirnya.


“Kamu jangan takut Tata,”suara Ari patah-patah, “mahluk itu


sudah nggak ada.”


Lalu terdengar bel masuk berbunyi. Wira pun muncul


menghampiri Ari.


“Ri, sebaiknya gue bawa lo ke UKS,” kata Wira.


Lalu Wira membatu Ari berdiri. Dia pun mulai membantu Ari


berjalan. Sementara dua teman Tata muncul. Mereka menghampiri Tata dengan wajah


khawatir. Saat Ari menuju ke UKS, dia masih melihat Tata yang berjalan bersama

__ADS_1


dua temannya. Dari jauh Tata masih melihat Ari. Dia tak pernah memalingkan


wajahnya dari Ari.


__ADS_2