Komplotan Tidak Takut Hantu

Komplotan Tidak Takut Hantu
Bab 34 : Burung Besar Menabrak Pak Riza


__ADS_3

Ari berjalan di trotoar setelah turun dari bus. Pagi ini dia


bangun agak kesiangan. Karena kebetulan ibunya sedang tidak enak badan dan ijin


tidak masuk kerja. Ari pun mempercepat langkahnya menuju gerbang sekolah.


Murid-murid lain juga sudah berdatangan. Tapi sebelum masuk gerbang, di antara


murid-murid berseragam yang berjalan di trotoar ada satu yang tidak berseragam.


Setelah Ari perhatikan, ternyata dia bukan salah satu murid di sekolah. Langkah


Ari sempat tertahan. Karena yang  Ari


lihat adalah perempuan berbaju putih, memakai bunga di selipan telinganya. Dia


adalah perempuan yang pernah mengikuti Tata. Perempuan itu bergerak bolak-balik


di depan pagar sekolah. Wajahnya selalu menatap ke halaman sekolah. Ari pun


cepat-cepat masuk gerbang. Di taman, Toha, Wira dan Nara sudah menunggunya.


Sepertinya mereka juga melihat apa yang Ari lihat tadi.


“Ri, lo lihat perempuan yang memakai bunga?” tanya Toha


begitu Ari sampai di taman.


“Iya, kalian sekarang lihat kan?” tanya Ari.


“Iya, kayak gambar lo waktu itu?” kata Wira.


“Kayaknya dia mau masuk ke sekolah kita tapi nggak bisa.


Bener apa kata Pak Hudi” kata Ari. “Eh, anak yang hilang dari toilet kemarin


gimana?”


“Kemarin Pak Min yang nemuin di aula pada pingsan,” kata


Toha,” Terus waktu sadar mereka bilang setelah masuk toilet mereka nggak inget


apa-apa. Mereka cuma inget seperti dibawa masuk ke lorong. Katanya lorongnya


panjang dan gelap. Abis itu mereka nggak inget lagi.”


“Sekarang cewek-cewek pada takut kalau ke toilet,” kata Wira.


Mereka berempat pun bertambah tegang.


“O, iya. Lo udah nanya kontak orang-orang baju putih Ra?”


tanya Ari ke Nara.


“Aku udah call kakek, katanya nanti mau dia kirim di WA,”


kata Nara.


“Lo sakit ya Ra?” tanya Ari melihat wajah Nara yang pucat.


“Iya nih kayaknya flunya tambah parah,” jawab Nara. Lalu dia


mulai memakai tudung jaketnya.


“Emang lagi musim sih. Nyokap juga lagi flu di rumah,” Ari


menambahkan.


“Mending ntar lo ijin pulang deh Ra,” kata Wira.


“Aku dah minum obat sih,” kata Nara.


Ari dan Wira sempat berpandangan sebentar. Mereka punya


kecurigaan yang sama. Bisa kemungkinan Nara sakit bukan hanya karena flu. Lalu


suara kepak burung itu terdengar. Mereka berempat sempat melihat ke atas tapi


tidak terlihat apa-apa.


“Suaranya ke sana. Ke depan sekolah,” kata Ari.


Badan Nara pun terlihat makin menggigil. Akhirnya mereka berempat


cepat-cepat meninggalkan taman. Saat berjalan menuju ke kelas, Toha mendekat ke


Ari dan membisikkan sesuatu.


“Ri, tadi Astri cerita, katanya Jodi udah putusin Tata,”


bisik Toha.


“Oh ya?” kata Ari datar. Dari dulu Ari memang tidak terlalu


peduli dengan hubungan Tata dengan Jodi.


“Katanya barusan Jodi jadian sama Gaby. Itu lho, temen


sekelas Tata yang sering bareng sama Tata,” bisik Toha Lagi.

__ADS_1


“Iya tahu,” kata Ari.


“Terus katanya lagi tersebar gosip, katanya Jodi putusin


Tata karena Tatanya terlalu lugu,” suara Toha pelan tapi serius.


Diam-diam Ari jadi panas. Dia tidak terima Tata mendapatkan


perlakuan seperti itu.


“Kalau menurut gue, mending Tata bergaul sama Astri aja,”


kata Toha,”Mereka berdua kan sama-sama anak pinter.”


“Iye, bener Ha,” baru kali ini Ari benar-benar setuju apa


kata Toha.


Saat jam istirahat pertama, Nara ijin pulang. Sepertinya dia


sudah tidak tahan lagi karena demamnya makin tinggi. Wira mengantarnya sampai


ke mobil. Sebelumnya Ari sempat mengingatkan Nara tentang kontak orang


padepokan. Sementara toilet cewek terlihat sepi, walau para guru sudah


menenangkan murid-muridnya atas kejadian kemarin. Hanya beberapa murid


perempuan yang berani ke toilet. Itu juga dengan pergi bergerombol. Ari, Toha


dan Wira sengaja memantau situasi di toilet. Kadang mereka melihat ke atas.


Tetapi sepertinya situasi terlihat biasa-biasa saja. Suara kepak sayap itu juga


tidak terdengar. Hingga bel pulang sekolah berbunyi, tidak terjadi apa-apa di


sekolah. Semuanya baik-baik saja. Murid-murid pulang dengan tenang. Sebagian


sudah melupakan peristiwa kemarin. Tapi tidak dengan Ari. Dia merasa sesuatu


akan terjadi. Tapi tidak dengan Tata. Ari yakin dengan kalung yang dipakai


Tata. Tata akan baik-baik saja. Ari berjalan sendiri menuju gerbang sekolah.


Wira sudah duluan keluar dengan vespanya. Toha seperti biasa akan bersepeda ria


dengan Astri. Dari tadi ari menunggu info dari Tata. Sebelum sampai gerbang,


notifikasi di ponsel Ari bunyi. Ternyata pesan dari Nara yang Ari


tunggu-tunggu. Ada nomor kontak yang Ari minta di pesan pertama. Tapi di


Ri kayaknya di mobil


akuahudaj  djd mkkkk o skshu


Ari jadi bingung. Mungkin karena Nara sedang sakit, jadi


menulis pesannya kacau. Atau ponsel Nara sedang error. Tapi yang ada di pikiran


Ari sekarang adalah Pak Riza. Dia harus segera bertemu Pak Riza. Dia harus


ketemu langsung Pak Riza karena sekalian memberitahu tentang lorong yang


menembus ke aula. Ari sudah membawa foto yang diambil ibu Nara yang gambarnya


denah lama sekolah. Sekilas Ari sempat melihat keluar pagar sekolah. Beberapa


gelintir murid masih ada yang berjalan di trotoar. Tapi perempuan yang memakai


bunga sudah tidak ada di sana lagi. Ari pun bergegas ke ruang guru. Tapi sampai


di sana, ruang itu sudah kosong, hanya ada satu guru yang baru saja


meninggalkan mejanya. Ari langsung berlari menuju parkir motor. Dia berharap


Pak Riza masih di sana. Dan benar, sampai di parkir motor, terlihat Pak Riza


sedang mengeluarkan motornya.


“Ada apa Ri?” tanya Pak Riza heran melihat Ari tergopoh


menghampirinya.


“Pak, saya sudah dapat kontaknya orang-orang baju putih,”


kata Ari sambil mengatur nafasnya.


“Orang padepokan?” tanya Pak Riza.


“Iya pak,” jawab Ari. Nafasnya belum teratur.


“Kirim ke saya sekarang Ri,”kata Pak Riza.


Ari pun mengeluarkan ponselnya dan mulai mengirim pesan Nara


tadi ke Pak Riza. Lalu Ari juga menyerahkan foto yang diambil ibu Nara ke Pak


Riza. Ari ceritakan semua tentang denah lama sekolah mereka. Juga tentang

__ADS_1


temuannya mengenai lorong yang bercabang dan menembus ke aula. Pak Riza pun


lama mengamati foto itu. Dia terlihat sedang berpikir keras.


“Jadi benar ada lorong di sekolah kita…” Guman Pak Riza.


“Iya Pak, dan yang nembus di aula itu memang belum dipagari


sama orang baju, eh… orang padepokan,” kata Ari menambahkan.


“Iya… Karena selama ini kita nggak tahu,” kata Pak Riza.


“Memang sengaja nggak dikasih tahu Pak,” kata Ari.


“Ok Ri, nanti secepatnya aku hubungi nomor ini,”kata Pak


Riza,”Sepertinya kita harus bertindak sendiri, sebelum terjadi sesuatu yang


lebih buruk lagi. Semoga mereka, orang-orang padepokan itu mau membantu kita.


Mudah-mudahan dia bisa datang hari Minggu. Pas tidak ada orang di sini.”


Ari mengangguk-angguk, mulai mengerti rencana Pak Riza. Pak


Riza pun berpamitan dengan Ari. Dia sudah menghidupkan motornya. Tapi tiba-tiba


Ari mendengar suara kepak burung. Juga gesekan ranting dan dedaunan. Ari


memandang ke atas mencari asal bunyi. Tetapi dia tidak melihat apa-apa. Hanya


ranting yang bergoyang dan daun yang berguguran dari pohon besar di sebelahnya.


“Ada apa Ri?” tanya Pak Riza.


“Saya dengan suara sayap Pak,” kata Ari. Pandangannya masih


mencari-cari ke atas.


Pak Riza juga berusaha mencari. Tapi dia tidak melihat


apa-apa. Hanya dedaunan yang berjatuhan di sekitarnya. Akhirnya Pak Riza menjalankan


motornya meninggalkan Ari. Dan Ari mulai mengeluarkan ponselnya. Dia masih


penasaran dengan pesan Nara dengan tulisan yang kacau tadi. Dia kirim pesan


Nara itu ke Toha dan Wira. Setelah selesai mengirim pesan, tiba-tiba Ari


mendengar suara benturan yang sangat keras. Ari pun berusaha mencari asal suara


itu. Sepertinya suara itu berasal dari gerbang sekolah. Dan Ari melihat Pak Min


berlari tergopoh menuju gerbang. Ari pun berlari ke sana. Di dekat gerbang


terlihat Pak Riza sudah tergeletak di jalan. Motornya juga tergeletak tak jauh


darinya. Pak Min sudah di sana memeriksa kondisi Piza. Ternyata Pak Riza masih


pingsan. Ari segera membantu Pak Min mengangkat tubuh Pak Riza ke tempat lebih


teduh. Sebagian kepala Pak Riza dan tangan bagian kanan bersimpah daran.


Beberapa bagian tubuhnya lecet.


“Pak Riza kenapa Pak Min?” tanya Ari ke Pak Min dengan suara


tegang


“Nggak tahu tadi dia sudah mau keluar, tapi motornya malah


ngegas nabrak gerbang,” tanya Pak Min dengan muka bingung.


Beberapa murid yang tadi masih ada di halaman sekolah pada


berdatangan. Satu orang guru yang mau pulang berhenti dari motornya. Dia


cepat-cepat menelpon ambulan. Tak berapa lama ambulan datang. 2 orang petugas


ambulan segera memberikan pertolongan pertama. Saat diangkat ke pembaringan,


Pak Riza sepertinya mulai sadar. Ari pun lega. Saat mau dimasukkan ke ambulan,


Pak Riza menggerakkan tangannya, memberikan kode ke Ari untuk mendekat. Ari pun


mendekat. Lalu Pak Riza membisikkan sesuatu ke telinga Ari.


“Saya … tadi ditabrak… burung besar,” suara Pak Riza pelan


dan patah-patah.


“Sudah Pak, nanti saja, bapak harus cepat dibawa ke rumah


sakit,” kata seorang petugas ambulan.


Dan ambulan pun tancap gas dengan bunyi sirine yang meraung


meninggalkan sekolah Ari. Tinggal Ari masih mematung di tempatnya berdiri.


Untuk saat ini dia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.

__ADS_1


__ADS_2