Komplotan Tidak Takut Hantu

Komplotan Tidak Takut Hantu
Bab 25 : Hantu Badan Patah-patah di Dalam Kolam Renang


__ADS_3

Hari ini kelas Ari ada jadwal ujian berenang sebagai salah


satu penilaian mata pelajaran olah raga. Murid-murid berkumpul jam 3 sore di


depan kolam renang langganan sekolah mereka. Penilaian pertama, murid-murid


disuruh berenang sejauh 100 meter di kolam kedalaman 1 meter dengan gaya yang


ditentukan oleh pak guru olah raga. Penilaian kedua, murid-murid disuruh loncat


dari papan pantul di kolam kedalaman 5 meter. Saat menunggu giliran di pinggir


kolam 1 meter, berkali-kali Ari memandangi kolam 5 meter. Kolam itu posisisnya


paling pojok. Dari tadi perasaan Ari tidak enak. Di sana tidak ada yang


berenang. Airnya begitu tenang. Air dalam kolam itu tampak gelap karena


kedalamannya.


“Ri?” Toha melirik Ari.


“Iya,” Ari sudah tahu mereka merasakan hal yang sama. “Lo


kerasa nggak?” tanya Ari ke Wira,” Di dalam kolam sana.”


Wira mengangguk. Lalu Wira memperhatikan Nara di barisan


cewek yang agak jauh dari mereka. Tapi sepertinya Nara baik-baik saja.


Setelah semua murid mendapatkan penilaian di kolam 1 meter,


mereka berpindah ke kolam 5 meter untuk penilaian berikutnya. Murid-murid akan


melompat dari papan pantul untuk terjun ke air. Beberapa murid terlihat


antusias. Beberapa lagi masih takut-takut. Beberapa kali Ari berusaha melirik


ke dalam kolam. Semakin dekat dengan kolam, semakin Ari bisa melihat ke dasar


kolam dan perasaan Ari semakin tidak enak. Beberapa murid sudah mulai


menceburkan diri dari papan pantul ke air secara bergiliran. Ari mulai


perhatikan, di dasar kolam, tepat di atas murid-murid menceburkan diri, ada


semacam benda, atau sampah, atau semacam tanaman yang jatuh di dasar kolam, Ari


tidak begitu jelas karena deburan air ketika murid-murid terjun ke kolam. Tapi


semakin lama Ari perhatikan, benda itu terlihat seperti rambut. Seonggok rambut


yang menempel di dasar kolam. Rambut yang melambai di balutan air kolam. Ari


menoleh ke Toha dan Wira. Sepertinya Toha dan Wira melihat hal yang sama. Lalu


mereka bertiga menoleh ke arah Nara di kerumunan murid cewek yang masih


menunggu giliran. Kerumunan murid cewek itu agak jauh dari kolam. Nara masih


baik-baik saja. Malah Nara jadi bingung, ketiga teman cowoknya memandanginya


dari pinggir kolam. Dan sesuai absen, dia antara mereka berempat, Ari yang


pertama  yang akan melompat dari papan


pantul.


“Ri, yakin kita akan nyebur ke situ?” bisik Toha di dekat


Ari.


“Kayaknya…” jawab Ari agak ragu,” Dari pada kita nggak dapat


nilai.”


“Iya, nekat aja!” bisik Wira,” Dari pada ngarepin nilai dari


matematika, susah.”


Lalu giliran Ari tiba. Saat sudah naik ke papan pantul, Ari


sempat melihat Toha dan Wira yang was-was memandanginya. Ari pun sudah di ujung


papan. Dia bisa leluasa memandang air yang tenang di bawahnya. Dasar kolam


terlihat dalam. Rambut itu masih di sana. Melambai-lambai di dasar kolam. Tapi


lama-lama Ari perhatikan, tidak hanya rambut yang dia lihat. Di sana ada


kepalanya, lalu badan, tangan dan kaki. Ari melihat sosok perempuan menempel di


dasar kolam dengan rambut yang masih melambai di air. Matanya hitam, mukanya


aneh. Dan badan, tangan dan kaki perempuan itu seperti patah-patah, seperti


orang yang habis jatuh dari ketinggian. Ari sempat berpikir untuk tidak


melakukannya. Bisa saja dia bilang ke pak guru sedang sakit. Lalu Ari memandangi


lagi Toha dan Wira. Lalu dia memandangi Nara. Dia berpikir, kalau dia bisa


melakukannya, teman-temannya akan melakukannya. Mereka harus dapat nilai.


“Jangan lama-lama! Ayo loncat!” kata pak guru olah raga.


“Takut? Ini bukan penilaian gimana kalian loncat! Cuma keberanian kalian! Ayo,


kamu laki-laki! Jangan jadi banci!”


Ari merasa sebel dengan gurunya. Coba saja dia bisa lihat


apa yang ada di dasar kolam. Tapi Ari pikir gurunya ada benarnya. Dia tidak mau


jadi banci. Dan dia akan melakukan untuk teman-temannya. Dia mencoba untuk


memikirkan hal lain. Lalu ada bapaknya dalam pikirannya. Ada dendam yang


mendalam pada hantu perempuan lidah menjulur. Kini yang Ari rasakan adalah


amarah. Tekadnya sudah bulat untuk terjun ke air. Ari pun melompat ke Air. Dia

__ADS_1


berusaha tidak memandang ke dasar kolam saat saat deburan air sudah melingkupinya.


Cepat-cepat dia berenang ke permukaan menuju pinggir kolam. Begitu keluar dari


kolam, Ari langsung menghampiri Toha dan Wira.


“Ada perempuan di sana,” kata Ari berbisik. “Badannya


patah-patah.”


“Lo nggak apa-apa?” tanya Wira dengan berbisik juga.


“Nggak apa-apa,” jawab Ari,”Waktu nyebur jangan lihat


mukanya, langsung berenang ke atas.”


“Waktu mau nyebur, lo nggak takut?” tanya Toha pelan.


“Tadinya takut,” jawab Ari. “Aku pikirin hal lain, jadi


nggak takut.”


“Pikirin apa?” tanya Toha.


“Pikirin cewek lo lah,” kata Wira sebel dengan pertanyaan


Toha. Wira kira, Ari pasti sedang pikirin Tata.


“Gue nggak punya cewek,” kata Toha.


“Itu masalah lo,” cetus Wira.


Lalu giliran Wira tiba. Dari sebelum naik ke papan, Wira


sudah mempersiapkan dirinya. Saat berjalan di atas papan, Wira menoleh sebentar


ke arah Nara. Dan Nara melihatnya. Lalu tanpa ba-bi-bu Wira langsung terjun ke


kolam walau pak guru belum memberi aba-aba. Wira langsung berenang naik ke


permukaan dan menuju ke pinggir kolam. Ari dan Toha lega menyaksikan temannya


sudah beranjak dari kolam. Setelah beberapa anak, giliran Toha tiba. Sampai di


ujung papan pantul, lama Toha memejamkan matanya. Dia berusaha mencari murid


cewek di sekolah yang bisa dipikirkan.


“Ayo! Jangan lama-lama!” kata pak guru, dia sudah meniupkan


peluitnya tiga kali.


Tapi Toha masih memejamkan matanya.


“Ayo lompat!” bentak pak guru.


Toha pun terjun ke Air. Lalu cepat-cepat dia berenang ke


atas dan menuju ke pinggir. Ari dan Wira membantu Toha naik dari kolam karena


badan Toha terlihat gemetaran.


“Sumpah! Serem banget yang di bawah sana,” umpat Toha.


“Kayaknya tangannya mau megang gue,” kata Toha.


“Waktu terjun lo lihat wajahnya?” tanya Ari.


“Dikit,” jawab Toha agak menyesal.


Lalu bertiga mereka beringsut mendekati kerumunan murid


cewek. Dengan suara pelan Wira memanggil Nara untuk mendekat. Lalu Ari


menceritakan apa yang barusan terjadi. Nara pun tampak ciut.


“Tenang Ra. Kamu pasti bisa,” kata Wira menyemangati.


“Yang penting waktu nyebur jangan lihat ke mukanya,” Ari


mewanti-wanti.


Lalu pak guru memanggil murid-murid perempuan untuk


bergiliran melompat. Murid-murid laki-laki sudah boleh bebas di kolam 1 meter.


Tetapi Ari, Toha dan Wira masih berdiri di pinggir kolam 5 meter. Mereka sengaja


menunggu sampai Nara mendapat giliran melompat.  Bertiga, mereka masih melihat perempuan badan patah-patah menempel di


dasar kolam. Perempuan itu seperti sedang memperhatikan setiap murid yang


mencebur ke air. Hingga giliran Nara pun tiba. Ari, Toha dan Wira mulai was-was


saat Nara sudah naik ke papan pantul. Saat di ujung papan, wajah Nara mulai


terlihat cemas. Dia sudah lihat perempuan badan patah-patah di dasar kolam.


Sebentar Nara menoleh ke arah ketiga teman cowoknya di pinggir kolam. Ari


memberi isyarat dengan tangannya agar Nara segera melompat. Wira mengacungkan


jempolnya menyemangati Nara. Tapi wajah Nara malah tambah pucat. Lalu seperti


yang sudah-sudah, Nara merasa kedinginan. Dia mulai menyilangkan tangan ke


badannya.


“Kenapa Nara? Kamu sakit?” tanya pak guru.


Nara tidak menjawab. Badannya semakin menggigil. Tapi dia


tetap memajukan langkahnya. Dia berusaha mempersiapkan dirinya untuk melompat. Tapi


justru dia menggigil makin hebat. Wira sudah berniat teriak agar Nara tidak


melompat. Tapi Ari mendapat akal. Dia sengaja tertawa sekencang-kencangnya dan


mendorong Wira ke kolam. Wira pun tercebur ke air. Lalu dengan masih tertawa


seperti orang gila, Ari menceburkan dirinya menyusul Wira. Ari masih tertawa

__ADS_1


waktu di permukaan air, sambil menyuruh Toha terjun juga. Tampaknya Toha


mengerti maksud Ari. Lalu dia mulai tertawa kayak orang gila seperti Ari dan


terjun ke air. Nara pun melihat gelagat ketiga teman cowoknya. Takutnya mulai


hilang. Badannya mulai menghangat. Dia tidak menyia-nyiakan kesempatan ini


untuk terjun ke air. Lalu Nara berenang ke permukaan menuju pinggir kolam. Pak


guru pun memberikan nilai untuk Nara. Tapi setelah itu pak guru dengan muka


garang mendatangi Ari, Toha dan Wira yang masih di air.


“Kalian bertiga, cepat keluar dari situ!” teriak pak guru


galak.


Ari, Toha dan Wira keluar dari air dengan bersungut. Lalu


pak guru menjewer mereka bertiga dan menyuruh mereka berdiri di taman sampai


waktu yang akan ditentukan oleh pak guru. Ari berpikir masih mendingan mereka


dihukum di taman, tidak di pinggir kolam 5 meter.


Hampir 1 jam berlalu. Murid-murid sudah pada berbilas dan


berbaju rapi. Beberapa sudah pulang meninggalkan kolam renang. Kaki Ari sudah


mulai pegal. Demikian juga Toha dan Wira. Badan mereka kedinginan. Tapi dari


tadi Nara setia menunggu duduk di bangku tidak jauh dari mereka bertiga


berdiri. Nara sudah berbilas dan berbaju rapi. Dia melihat ketiga temannya


dengan rasa bangga, bercampur kasihan dan bercampur geli. Lalu Nara menelpon


sopirnya untuk menunggu, dia agak telat keluar kolam renang.


“Lo, tahu? Gue tadi mikirin siapa waktu mau terjun ke


kolam?” bisik Wira ke Ari dan Toha.


“Siapa?” tanya Ari tidak mau lama mikir.


“Nara,” jawab Wira.


Ari dan Toha serius memandangi Wira.


“Lo naksir Nara?” tanya Ari.


“Iya,” jawab Wira sembari masih memandangi Nara yang baru


selesai dengan ponselnya.


“Ada apa sih?” tanya Nara memandangi wajah-wajah aneh ketiga


temannya.


“Nggak ada apa-apa kok,” jawab Ari polos.


“Ini lho, kasihan Toha kelaperan,” kata Wira mengalihkan


pembicaraan.


“Tenang aja, habis ini kita makan-makan ya, aku yang


traktir,” jawab Nara ceria.


Lalu pak guru datang mengijinkan Ari, Toha dan Wira bubar. Setelah


berbilas dan berbaju rapi, mereka bertiga ikut mobil Nara menuju rumah makan


terdekat. Mereka bertiga berjanji pada Nara akan makan sepuas-puasnya. Nara pun


tertawa terbahak-bahak.


Malam ini, selesai belajar di meja belajarnya, lama Ari


terdiam di kursi. Hantu di kolam renang tadi siang masih mengusik pikirannya. Lalu


dia teringat Tata. Sebenarnya dia ingin menelepon Tata, tapi dia takut mamanya


Tata ada di sana. Lalu dia mengirim pesan ke Tata.


Ta, jadwal berenang


kamu kapan?


Tak lama kemudian ada jawaban dari Tata.


Hari Kamis, kenapa?


Nggak apa-apa, kamu


hati2 berenangnya, Ari membalas


Ok, aku akan hati2,


makasih ya, balas Tata


Ok, bye, balas Ari


bye, balas Tata


Ari mulai menghitung hari. Hari Kamis berarti 2 hari lagi


dari sekarang. Ari pun mengeluarkan buku gambarnya. Dia mulai menggambar hantu


yang ada di kolam renang tadi siang. Sosok perempuan dengan rambut terurai


melambai di dalam air. Sosok itu menempel di dasar kolam. Wajahnya panjang agak


bengkok, matanya hitam. Badan, tangan dan kakinya seperti patah-patah.



Ari mengamati gambarnya lagi. Tadinya dia ingin memotret dan


mengirim gambarnya ke Tata tapi dia urungkan. Dia tak ingin membuat Tata

__ADS_1


khawatir. Besok pagi dia akan bicarakan dulu dengan Toha, Wira dan Nara. Dia


ingin menyelamatkan Tata lagi.


__ADS_2