
Hari ini kelas Ari ada jadwal ujian berenang sebagai salah
satu penilaian mata pelajaran olah raga. Murid-murid berkumpul jam 3 sore di
depan kolam renang langganan sekolah mereka. Penilaian pertama, murid-murid
disuruh berenang sejauh 100 meter di kolam kedalaman 1 meter dengan gaya yang
ditentukan oleh pak guru olah raga. Penilaian kedua, murid-murid disuruh loncat
dari papan pantul di kolam kedalaman 5 meter. Saat menunggu giliran di pinggir
kolam 1 meter, berkali-kali Ari memandangi kolam 5 meter. Kolam itu posisisnya
paling pojok. Dari tadi perasaan Ari tidak enak. Di sana tidak ada yang
berenang. Airnya begitu tenang. Air dalam kolam itu tampak gelap karena
kedalamannya.
“Ri?” Toha melirik Ari.
“Iya,” Ari sudah tahu mereka merasakan hal yang sama. “Lo
kerasa nggak?” tanya Ari ke Wira,” Di dalam kolam sana.”
Wira mengangguk. Lalu Wira memperhatikan Nara di barisan
cewek yang agak jauh dari mereka. Tapi sepertinya Nara baik-baik saja.
Setelah semua murid mendapatkan penilaian di kolam 1 meter,
mereka berpindah ke kolam 5 meter untuk penilaian berikutnya. Murid-murid akan
melompat dari papan pantul untuk terjun ke air. Beberapa murid terlihat
antusias. Beberapa lagi masih takut-takut. Beberapa kali Ari berusaha melirik
ke dalam kolam. Semakin dekat dengan kolam, semakin Ari bisa melihat ke dasar
kolam dan perasaan Ari semakin tidak enak. Beberapa murid sudah mulai
menceburkan diri dari papan pantul ke air secara bergiliran. Ari mulai
perhatikan, di dasar kolam, tepat di atas murid-murid menceburkan diri, ada
semacam benda, atau sampah, atau semacam tanaman yang jatuh di dasar kolam, Ari
tidak begitu jelas karena deburan air ketika murid-murid terjun ke kolam. Tapi
semakin lama Ari perhatikan, benda itu terlihat seperti rambut. Seonggok rambut
yang menempel di dasar kolam. Rambut yang melambai di balutan air kolam. Ari
menoleh ke Toha dan Wira. Sepertinya Toha dan Wira melihat hal yang sama. Lalu
mereka bertiga menoleh ke arah Nara di kerumunan murid cewek yang masih
menunggu giliran. Kerumunan murid cewek itu agak jauh dari kolam. Nara masih
baik-baik saja. Malah Nara jadi bingung, ketiga teman cowoknya memandanginya
dari pinggir kolam. Dan sesuai absen, dia antara mereka berempat, Ari yang
pertama yang akan melompat dari papan
pantul.
“Ri, yakin kita akan nyebur ke situ?” bisik Toha di dekat
Ari.
“Kayaknya…” jawab Ari agak ragu,” Dari pada kita nggak dapat
nilai.”
“Iya, nekat aja!” bisik Wira,” Dari pada ngarepin nilai dari
matematika, susah.”
Lalu giliran Ari tiba. Saat sudah naik ke papan pantul, Ari
sempat melihat Toha dan Wira yang was-was memandanginya. Ari pun sudah di ujung
papan. Dia bisa leluasa memandang air yang tenang di bawahnya. Dasar kolam
terlihat dalam. Rambut itu masih di sana. Melambai-lambai di dasar kolam. Tapi
lama-lama Ari perhatikan, tidak hanya rambut yang dia lihat. Di sana ada
kepalanya, lalu badan, tangan dan kaki. Ari melihat sosok perempuan menempel di
dasar kolam dengan rambut yang masih melambai di air. Matanya hitam, mukanya
aneh. Dan badan, tangan dan kaki perempuan itu seperti patah-patah, seperti
orang yang habis jatuh dari ketinggian. Ari sempat berpikir untuk tidak
melakukannya. Bisa saja dia bilang ke pak guru sedang sakit. Lalu Ari memandangi
lagi Toha dan Wira. Lalu dia memandangi Nara. Dia berpikir, kalau dia bisa
melakukannya, teman-temannya akan melakukannya. Mereka harus dapat nilai.
“Jangan lama-lama! Ayo loncat!” kata pak guru olah raga.
“Takut? Ini bukan penilaian gimana kalian loncat! Cuma keberanian kalian! Ayo,
kamu laki-laki! Jangan jadi banci!”
Ari merasa sebel dengan gurunya. Coba saja dia bisa lihat
apa yang ada di dasar kolam. Tapi Ari pikir gurunya ada benarnya. Dia tidak mau
jadi banci. Dan dia akan melakukan untuk teman-temannya. Dia mencoba untuk
memikirkan hal lain. Lalu ada bapaknya dalam pikirannya. Ada dendam yang
mendalam pada hantu perempuan lidah menjulur. Kini yang Ari rasakan adalah
amarah. Tekadnya sudah bulat untuk terjun ke air. Ari pun melompat ke Air. Dia
__ADS_1
berusaha tidak memandang ke dasar kolam saat saat deburan air sudah melingkupinya.
Cepat-cepat dia berenang ke permukaan menuju pinggir kolam. Begitu keluar dari
kolam, Ari langsung menghampiri Toha dan Wira.
“Ada perempuan di sana,” kata Ari berbisik. “Badannya
patah-patah.”
“Lo nggak apa-apa?” tanya Wira dengan berbisik juga.
“Nggak apa-apa,” jawab Ari,”Waktu nyebur jangan lihat
mukanya, langsung berenang ke atas.”
“Waktu mau nyebur, lo nggak takut?” tanya Toha pelan.
“Tadinya takut,” jawab Ari. “Aku pikirin hal lain, jadi
nggak takut.”
“Pikirin apa?” tanya Toha.
“Pikirin cewek lo lah,” kata Wira sebel dengan pertanyaan
Toha. Wira kira, Ari pasti sedang pikirin Tata.
“Gue nggak punya cewek,” kata Toha.
“Itu masalah lo,” cetus Wira.
Lalu giliran Wira tiba. Dari sebelum naik ke papan, Wira
sudah mempersiapkan dirinya. Saat berjalan di atas papan, Wira menoleh sebentar
ke arah Nara. Dan Nara melihatnya. Lalu tanpa ba-bi-bu Wira langsung terjun ke
kolam walau pak guru belum memberi aba-aba. Wira langsung berenang naik ke
permukaan dan menuju ke pinggir kolam. Ari dan Toha lega menyaksikan temannya
sudah beranjak dari kolam. Setelah beberapa anak, giliran Toha tiba. Sampai di
ujung papan pantul, lama Toha memejamkan matanya. Dia berusaha mencari murid
cewek di sekolah yang bisa dipikirkan.
“Ayo! Jangan lama-lama!” kata pak guru, dia sudah meniupkan
peluitnya tiga kali.
Tapi Toha masih memejamkan matanya.
“Ayo lompat!” bentak pak guru.
Toha pun terjun ke Air. Lalu cepat-cepat dia berenang ke
atas dan menuju ke pinggir. Ari dan Wira membantu Toha naik dari kolam karena
badan Toha terlihat gemetaran.
“Sumpah! Serem banget yang di bawah sana,” umpat Toha.
“Kayaknya tangannya mau megang gue,” kata Toha.
“Waktu terjun lo lihat wajahnya?” tanya Ari.
“Dikit,” jawab Toha agak menyesal.
Lalu bertiga mereka beringsut mendekati kerumunan murid
cewek. Dengan suara pelan Wira memanggil Nara untuk mendekat. Lalu Ari
menceritakan apa yang barusan terjadi. Nara pun tampak ciut.
“Tenang Ra. Kamu pasti bisa,” kata Wira menyemangati.
“Yang penting waktu nyebur jangan lihat ke mukanya,” Ari
mewanti-wanti.
Lalu pak guru memanggil murid-murid perempuan untuk
bergiliran melompat. Murid-murid laki-laki sudah boleh bebas di kolam 1 meter.
Tetapi Ari, Toha dan Wira masih berdiri di pinggir kolam 5 meter. Mereka sengaja
menunggu sampai Nara mendapat giliran melompat. Bertiga, mereka masih melihat perempuan badan patah-patah menempel di
dasar kolam. Perempuan itu seperti sedang memperhatikan setiap murid yang
mencebur ke air. Hingga giliran Nara pun tiba. Ari, Toha dan Wira mulai was-was
saat Nara sudah naik ke papan pantul. Saat di ujung papan, wajah Nara mulai
terlihat cemas. Dia sudah lihat perempuan badan patah-patah di dasar kolam.
Sebentar Nara menoleh ke arah ketiga teman cowoknya di pinggir kolam. Ari
memberi isyarat dengan tangannya agar Nara segera melompat. Wira mengacungkan
jempolnya menyemangati Nara. Tapi wajah Nara malah tambah pucat. Lalu seperti
yang sudah-sudah, Nara merasa kedinginan. Dia mulai menyilangkan tangan ke
badannya.
“Kenapa Nara? Kamu sakit?” tanya pak guru.
Nara tidak menjawab. Badannya semakin menggigil. Tapi dia
tetap memajukan langkahnya. Dia berusaha mempersiapkan dirinya untuk melompat. Tapi
justru dia menggigil makin hebat. Wira sudah berniat teriak agar Nara tidak
melompat. Tapi Ari mendapat akal. Dia sengaja tertawa sekencang-kencangnya dan
mendorong Wira ke kolam. Wira pun tercebur ke air. Lalu dengan masih tertawa
seperti orang gila, Ari menceburkan dirinya menyusul Wira. Ari masih tertawa
__ADS_1
waktu di permukaan air, sambil menyuruh Toha terjun juga. Tampaknya Toha
mengerti maksud Ari. Lalu dia mulai tertawa kayak orang gila seperti Ari dan
terjun ke air. Nara pun melihat gelagat ketiga teman cowoknya. Takutnya mulai
hilang. Badannya mulai menghangat. Dia tidak menyia-nyiakan kesempatan ini
untuk terjun ke air. Lalu Nara berenang ke permukaan menuju pinggir kolam. Pak
guru pun memberikan nilai untuk Nara. Tapi setelah itu pak guru dengan muka
garang mendatangi Ari, Toha dan Wira yang masih di air.
“Kalian bertiga, cepat keluar dari situ!” teriak pak guru
galak.
Ari, Toha dan Wira keluar dari air dengan bersungut. Lalu
pak guru menjewer mereka bertiga dan menyuruh mereka berdiri di taman sampai
waktu yang akan ditentukan oleh pak guru. Ari berpikir masih mendingan mereka
dihukum di taman, tidak di pinggir kolam 5 meter.
Hampir 1 jam berlalu. Murid-murid sudah pada berbilas dan
berbaju rapi. Beberapa sudah pulang meninggalkan kolam renang. Kaki Ari sudah
mulai pegal. Demikian juga Toha dan Wira. Badan mereka kedinginan. Tapi dari
tadi Nara setia menunggu duduk di bangku tidak jauh dari mereka bertiga
berdiri. Nara sudah berbilas dan berbaju rapi. Dia melihat ketiga temannya
dengan rasa bangga, bercampur kasihan dan bercampur geli. Lalu Nara menelpon
sopirnya untuk menunggu, dia agak telat keluar kolam renang.
“Lo, tahu? Gue tadi mikirin siapa waktu mau terjun ke
kolam?” bisik Wira ke Ari dan Toha.
“Siapa?” tanya Ari tidak mau lama mikir.
“Nara,” jawab Wira.
Ari dan Toha serius memandangi Wira.
“Lo naksir Nara?” tanya Ari.
“Iya,” jawab Wira sembari masih memandangi Nara yang baru
selesai dengan ponselnya.
“Ada apa sih?” tanya Nara memandangi wajah-wajah aneh ketiga
temannya.
“Nggak ada apa-apa kok,” jawab Ari polos.
“Ini lho, kasihan Toha kelaperan,” kata Wira mengalihkan
pembicaraan.
“Tenang aja, habis ini kita makan-makan ya, aku yang
traktir,” jawab Nara ceria.
Lalu pak guru datang mengijinkan Ari, Toha dan Wira bubar. Setelah
berbilas dan berbaju rapi, mereka bertiga ikut mobil Nara menuju rumah makan
terdekat. Mereka bertiga berjanji pada Nara akan makan sepuas-puasnya. Nara pun
tertawa terbahak-bahak.
Malam ini, selesai belajar di meja belajarnya, lama Ari
terdiam di kursi. Hantu di kolam renang tadi siang masih mengusik pikirannya. Lalu
dia teringat Tata. Sebenarnya dia ingin menelepon Tata, tapi dia takut mamanya
Tata ada di sana. Lalu dia mengirim pesan ke Tata.
Ta, jadwal berenang
kamu kapan?
Tak lama kemudian ada jawaban dari Tata.
Hari Kamis, kenapa?
Nggak apa-apa, kamu
hati2 berenangnya, Ari membalas
Ok, aku akan hati2,
makasih ya, balas Tata
Ok, bye, balas Ari
bye, balas Tata
Ari mulai menghitung hari. Hari Kamis berarti 2 hari lagi
dari sekarang. Ari pun mengeluarkan buku gambarnya. Dia mulai menggambar hantu
yang ada di kolam renang tadi siang. Sosok perempuan dengan rambut terurai
melambai di dalam air. Sosok itu menempel di dasar kolam. Wajahnya panjang agak
bengkok, matanya hitam. Badan, tangan dan kakinya seperti patah-patah.
Ari mengamati gambarnya lagi. Tadinya dia ingin memotret dan
mengirim gambarnya ke Tata tapi dia urungkan. Dia tak ingin membuat Tata
__ADS_1
khawatir. Besok pagi dia akan bicarakan dulu dengan Toha, Wira dan Nara. Dia
ingin menyelamatkan Tata lagi.