Komplotan Tidak Takut Hantu

Komplotan Tidak Takut Hantu
Bab 57 : Perpecahan Komplotan Tidak Takut Hantu


__ADS_3


Bulan Desember, hampir setiap hari hujan turun. Pagi masih


menyisakan dingin. Karena rintik hujan tak berhenti jatuh dari langit. Seperti


di sebuah SMU favorit. Butiran air membasahi rumput di taman depan sekolah.


Taman itu baru-baru ini dipasang pagar. Tidak ada lagi murid yang bisa masuk ke


sana. Ditambah ada tanda : Dilarang


Menginjak Rumput. Di jam seperti ini Ari, Toha, Wira dan Nara memang tidak


akan pernah ada di sana lagi. Tapi Nara mewanti-wanti ketiga temannya bahwa


mereka masih akan berkumpul saat pagi. Dia yang memutuskan untuk berkumpul di


mobilnya saat di parkir di sekolah. Seperti sekarang ini. Nara, Ari dan Wira


sudah ada di dalam mobil. Mereka sedang menunggu Toha yang sepertinya datang


terlambat. Setelah hampir sepuluh menit, Toha muncul dengan badan yang basah


dengan rintik air.


“Sori Gaes, ujan dari tadi nggak berhenti,” kata Toha yang


masuk dari pintu belakang dan langsung duduk di sebelah Ari. Nara yang duduk di


belakang kemudi langsung sewot.


“Ujan sih ujan, tapi jangan jadi kebiasaan,” kata Nara


kesal.


“Untung ada mobil Nara, jadi kita nggak kehujanan, coba


kalau di taman…” Ari berusaha menetralisir suasana.


“Jadi, ada masalah penting apa yang perlu kita bicarakan?”


kata Toha dengan sikap sok buru-buru.


Nara terlihat semakin kesal dengan sikap Toha.


“Gini Ha… Kemarin Nara nemu arsip-arsip lama kakeknya,”kata


Wira mencoba menerangkan. Karena Nara sepertinya tidak akan sabar untuk


menerangkannya. ”Kakek Nara itu kan guru sejarah… Nah Nara nemu salah satu buku


bikinan kakeknya. Itu tuh buku isinya tentang penelitian kakeknya mengenai


lorong bawah tanah jaman Belanda… Termasuk yang ada di sekolah kita.”


Lalu Wira menyuruh Nara menunjukkan buku kakeknya. Nara pun


mengeluarkan sebuah buku dari tasnya. Buku yang terlihat sudah kumal. Dijilid


seadanya, dengan cover seadanya pula. Lalu Nara menyodorkannya ke Ari dan Toha.


Ari langsung mengambil buku itu dan mengamati lama covernya yang bertuliskan :


Study Lorong Bawah Tanah Peninggalan Belanda. Lalu Ari membuka-buka bagian


dalamnya yang kertasnya sudah menguning. Banyak foto bangunan-bangunan tua


jaman Belanda di dalamnya. Toha sekali-sekali memperhatikan buku yang dipegang


Ari.


“Menurut kakek gue, lorong yang ada di sekolah itu terhubung


dengan bangunan tua lainnya,” kata Nara sudah tak sabar untuk menjelaskan apa


yang sudah dia baca dari buku kakeknya. “Tahu nggak? Lorong sekolah kita


terhubung dengan bangunan apa?”


Ari memandang tajam Nara sambil menggelengkan kepala. Toha


pun mulai terlihat serius untuk menyimak.


“Dengan Gedung Alun-alun,” kata Nara dengan muka sangat


serius.


“Gedung Alun-alun….” Ari berguman. Wajahnya tak kalah serius


dengan Nara. Semua orang tahu, Gedung Alun-alun adalah gedung tua peninggalan


Belanda yang banyak cerita aneh-aneh di sana. Bahkan gedung itu sering digunakan


untuk acara uji nyali.


Beberapa saat hening, setelah nama gedung Alun-alun ada di


benak mereka masing-masing.


“Terus maksudnya?” Tanya Toha memecah suasana.


“Kita akan membuktikannya,” Wira langsung menjawab.


“maksud lo membuktikannya?” Toha belum mengerti maksud Wira.


“Ya… Kita akan masuk ke sana,” jawab Wira lagi.


Suasana hening sejenak.


“Untuk apa?” tanya Toha,” Bukannya orang padepokan sudah


memagari lorong itu.”


“Lo lupa ya Ha, waktu kasus Lisa?” spontan Nara menyanggah


Toha,” Waktu itu kita tahunya lorong itu juga udah dipagari orang padepokan.


Ternyata kejadian juga kan? Apalagi sekarang kita tahu mereka datangnya dari


mana.”


“Lo yakin mereka asalnya dari Gedung Alun-alun?” tanya Toha


tidak mau kalah.


“Justru itu yang harus kita buktikan,” jawab Wira mencoba


menengahi. “Gimana menurut lo Ri?”


Ari yang sedari tadi diam, kini wajahnya seperti berpikir


keras.


“Mmm… Sori ya Gaes… “ Hati-hati Ari bicara,”Apa kalian


pikir, ini nggak terlalu jauh.”

__ADS_1


“Maksud lo terlalu jauh?” Wira balik tanya.


“Menurut gue ini terlalu berbahaya,” jawab Ari.


“Lo takut Ri?” Nara langsung tanya ke Ari,”Gue pikir, selama


ini, lo yang paling pemberani di antara kita?”


“Bukan begitu Ra…” Ari sewot juga dengan pertanyaan Nara,


tapi dia belum dapat kata-kata yang pas buat menyanggah Nara.


“Lo masih mikirin Tata?” tanya Nara lagi,”Dia udah aman kan


sama kalungnya? Lagian, dia kan bukan komplotan kita.”


Ari diam. Dia mencoba menyimpan kekesalannya karena Nara


sudah bawa-bawa nama Tata.


“Cmon Gaes… Kita ini satu komplotan kan?” Wira mencoba


menengahi lagi.


“Gini aja deh…”kata Nara. Sepertinya dia sudah tidak sabar, “Kalian


pikir-pikir deh, soalnya ini dah mau masuk juga… Kalau masih merasa satu


komplotan, besok datang ke sini lagi, kita bicarakan detil rencana, ok?”


Gerimis mulai berhenti saat Ari, Toha, Wira dan Nara keluar


dari mobil. Tapi sejenak Nara mengamati sekitar. Pandangannya mengarah ke ujung


parkir.


“Ada apa Ra?” tanya Wira.


“Tadi kayaknya ada orang di sana…” Nara menunjuk ujung


parkir dekat papan majalah dinding.


Wira, Ari dan Toha spontan melihat ke sana. Tapi tidak ada


apa-apa di sana.


“Ya mungkin tadi ada orang…” guman Ari. Ari yakin tidak ada


apa-apa di sana. Dia tidak merasakan apa-apa dan Nara pun tidak memakai tudung


jaketnya.


Lalu mereka melangkah melewati genangan-genangan air di area


parkir menuju ke kelas. Ari dan Toha berjalan duluan. Sedang Wira dan Nara agak


jauh di belakang. Sampai di lorong kelas, perasaan Ari tiba-tiba tidak enak.


Lalu dia mencium bau bangkai yang menusuk. Ari melirik Toha. Melihat gelagat


Toha, Ari tahu, Toha mencium bau itu juga. Lalu Ari mulai memperhatikan


kerumunan murid yang baru berdatangan di depannya. Dia lihat satu anak


perempuan. Dia terlihat berjalan di antara murid-murid lain. Dia tidak berbeda


dengan murid-murid yang lain. Memakai seragam, membawa tas ransel, kecuali Ari tidak


bisa melihat kedua kakinya. Dia bergerak diantara murid lain tanpa kaki. Dia melayang


di atas lantai. Dan saat Ari mulai dekat dengan kerumunan itu, bau bangkai


“Lo lihat sesuatu?” tanya Toha.


Ari mengagguk.


“Lo?” giliran Ari tanya ke Toha.


Toha menggeleng.


“Yang bau bangkai?” suara Toha sedikit berbisik.


Ari mengangguk lagi.


“Lo nggak akan gambar kan?” tanya Toha serius.


“Enggak,” jawab Ari spontan. Lalu dia berusaha mengalihkan


perhatiannya ke arah lain karena mereka hampir sampai ke kelas.


Setelah pertemuan di mobil Nara tadi pagi, selama di kelas, hubungan


Ari, Toha, Wira dan Nara jadi canggung. Kadang mereka hanya saling lihat. Dan


Ari tak pernah berhenti memikirkan rencana Nara dan Wira. Sejauh apa yang


pernah mereka alami, rencana untuk masuk ke lorong bawah tanah adalah ide gila.


Hingga malam hari, setelah mengerjakan PR, Ari masih


memikirkan rencana Nara dan Wira. Karena besok pagi, mereka akan berkumpul lagi


di mobil Nara. Ari masih bingung menentukan sikapnya. Lalu ponsel Ari bunyi.


Ternyata dari Tata. Ari cepat-cepat mengangkatnya.


“Halo Ta,” Ari langsung menjawabnya.


“Halo Ri, belom tidur?” suara Tata terdengar lembut di


ponsel Ari.


“Belum, abis ngerjain PR Bahasa Inggris,” jawab Ari polos.


“Rajin banget sih,” kata Tata sembari tertawa kecil.


“Nyindir ya?”Ari memang selalu merasa tidak sepandai Tata.


“Enggak lah,” suara Tata jadi serius.


“Eh, tumben kamu nelpon Ta?”


“Iya Ri, mama aku lagi nginep di rumah bude.”


“O, gitu…”


“Eh Ri, mau ketemuan nggak?”


“Dimana? Eh maksudku… Gimana caranya.”


“Nah, gini Ri… Aku kan lagi ada projek karya ilmiah sama


Astri. Besok abis pulang sekolah, rencananya kita mau bahas sambil makan di


kafe donat. Kamu mau ikut nggak?


“Ntar Astri gimana?”

__ADS_1


“Nah, ntar kamu ajak Toha aja. Aku sih udah bilang sama Asri


rencananya. Kira-kira Toha mau nggak ya?”


“Mau lah dia.”


Lalu Tata membeberkan rencananya


besok ke Ari. Dan setelah menutup ponselnya, Ari seakan lupa dengan rencana


Nara dan Wira. Yang dia pikirkan sekarang adalah rencana Tata. Karena besok,


setelah pulang sekolah dia akan bertemu Tata, bagaimanapun caranya.


 ***


Pagi berikutnya, gerimis masih turun seperti hari-hari kemarin.


Ari turun dari bus di halte dekat sekolah. Begitu sampai di sekolah, dia


langsung menuju parkir sepeda. Pagi ini, sengaja dia mau bertemu Toha dulu.


Setelah menunggu hampir lima menit, Toha terlihat datang dengan sepedanya. Ari


langsung menghampirinya.


“Ha, ntar kita ke mobil Nara kan?” Ari langsung tanya ke


Toha.


“Nggak Ri, gue nggak mau ikut rencana mereka,” kata Toha


cuek sembari memarkir sepedanya.


“Kenapa?” tanya Ari.


“Lo tahu sendiri kan Ri? Gimana waktu itu Astri, waktu


kejadian di lab komputer?” jawab Toha.


“Iye gue tahu,” kata Ari.


“Gue nggak mau kejadian lagi sama Astri,” kali ini wajah


Toha begitu serius.


“Paling nggak, kita omongin dulu sama-sama Ha. Kita ini kan


temen.”


“Ri, temen itu nggak bakal nyelakain temen! Dia nggak bakal


ngajak-ajak buat ngejerumusin temennya!”


Kali ini Ari diam. Dia tidak menemukan kata-kata lagi karena


dia pikir Toha ada benarnya juga.


“Sekarang terserah lo deh Ri,” kata Toha,”Gue tetep nggak


mau ikut rencana mereka. Nggak temenan lagi, gue nggak apa-apa.”


Toha memandang Ari sebentar. Lalu dia berjalan meninggalkan


Ari menuju ke kelas. Ari hanya berdiri memandangi Toha yang berbaur dengan


murid-murid lain yang mulai berdatangan. Kini Ari merasa ada di persimpangan.


Bisa saja dia menyusul Toha dan tak pernah lagi datang ke mobil Nara. Tapi Ari


putuskan untuk bersikap bijak. Minimal dia akan bicarakan baik-baik dengan Nara


dan Wira dulu. Lalu Ari berjalan menuju ke parkir mobil.


“Mana Toha?” tanya Wira, begitu Ari masuk ke mobil Nara dari


pintu belakang.


“Dia nggak mau ikut Wir,” jawab Ari.


“Biarin aja dia,” kata Nara,” Padahal kan bapaknya paranormal


terkenal. Berarti dia nggak menghormati profesi bapaknya.”


“Nih gue udah siapin peralatannya Ri,”kata Wira memotong


pembicaraan Nara. Karena dia pikir apa yang barusan Nara katakan sudah mulai


tidak relevan.


Lalu Wira menunjukkan kardus yang isinya senter yang diikat


di kepala, lalu ada senter yang besar-besar dan ada beberapa kamera cctv.


“Ini kamera dari kakak gue,” Toha menunjukkan salah satu


kamera yang ada di kardus,” Ini wireless, keluaran paling canggih, baterainya


bisa kuat tiga hari, nanti kita bisa pantau dari sana.”


“Terus gimana caranya kalian bisa masuk?” tanya Ari.


“Aku sudah bicara sama Pak Min,” kata Nara,” Dia udah aku


kasih tips. Nanti malam dia akan bantu kita. Malam ini kita harus masuk ke


sana, karena besok lorongnya udah mulai ditutup.”


“Gimana Ri, kamu ikut kan?” tanya Wira dengan muka penuh


harap.


“Ikut lah!” kata Nara sok pasti.


Ari diam. Dia masih susah untuk memutuskan. Lalu tanpa


sengaja Ari melirik keluar jendela mobil. Dia lihat ada mobil yang mulai parkir


tak jauh dari mobil Nara. Ari tahu, itu mobil Tata. Lalu dia lihat Tata keluar


dari pintu belakang. Tata membuka payungnya dan mulai berjalan agak buru-buru


di tengah gerimis. Dan Ari ingat rencana Tata tentang pertemuan mereka nanti


siang. Dan sekarang apa yang Ari pikirkan adalah keselamatan Tata.


“Sori Gaes…Ini gue sori banget…” Ari buka suara dengan


terbata-bata,”Kayaknya gue nggak bisa ikut rencana kalian.”


Gerimis di luar semakin lebat. Sepertinya hujan akan turun


deras hari ini. Murid-murid yang berdatangan pun mulai berlarian. Ari terlihat


keluar dari mobil Nara. Tapi dia tidak berlari seperti murid yang lain. Karena


barusan dia telah mengambil keputusan yang sangat berat dia rasakan. Tapi kini

__ADS_1


dia sudah pasrah. Dalam pikirannya sekarang cuma ada Tata. Mungkin Komplotan


Tidak Takut Hantu sudah tidak akan ada lagi.


__ADS_2