Komplotan Tidak Takut Hantu

Komplotan Tidak Takut Hantu
Bab 69 : Bersatunya Kembali Komplotan Tidak Takut Hantu


__ADS_3

Malam ini Ari tidak bisa tidur. Selama belajar tadi, bolak-balik Ari memandang ke arah jendela. Ari berharap malam ini hujan turun. Dan sekarang, di ranjangnya, dengan mata mengantuk, Ari masih berusaha memandangi jendelanya. Langit malam terlihat cerah di jendela. Di ambang tidur dan sadar, Ari mulai samar melihat jendelanya. Lama-lama Ari melihat ada sosok muncul dari sana.


“Belinda…” desis Ari.


Ari berusaha mengamati sosok yang kini mulai mendekatinya. Dia bukan Belinda. Ari melihat kakek-kakek memakai baju adat Jawa. Tapi Ari tidak melihat sosok yang mengerikan. Wajah kakek itu teduh memandangi Ari. Ari melihat ada goresan bekas luka di salah satu matanya.


“Ari, ingat pesan kakek,” sosok kakek itu bicara pada Ari,” Kamu bisa membunuh mereka… Tikam dari belakang dan ambil jantungnya…”


Lalu sontak Ari terbangun. Ari termangu. Ari merasa barusan tadi bermimpi. Kakek itu sudah tidak ada. Tinggal Ari terduduk di atas ranjang memandangi jendela. Di luar terlihat hujan turun deras. Dan Ari mencium bau melati. Ari baru sadar, ada sosok yang dari tadi duduk di sudut ranjang.


“Belinda…” kata Ari lirih sembari berusaha menoleh ke ujung ranjang.


Belinda menatap Ari tajam dengan mata merah birunya. Hantu remaja berambut pirang itu kini tersenyum kecil ke Ari. Dia masih memakai baju balet hitamnya dan duduk dengan posisi rapi.


“Aku senang bisa ketemu kamu lagi…” Pelan Belinda bersuara.


Ari masih termangu memandangi Belinda yang duduk hanya berjarak sejengkal darinya.


“Tadi kakek kamu ke sini…” Kata Belinda datar.


“Kakek aku…?” Tanya Ari. Dia mulai mengingat mimpinya barusan.


“Aku pernah lihat kakek kamu…” Kata Belinda lagi.


“Pernah lihat kakek aku…?” Ari masih bingung dengan perkataan Belinda. Lalu Ari ingat kakek-kakek yang mendatanginya dan mengatakan sesuatu.


“Kakek kamu pernah ke tempatku…” Belinda tak berhenti bercerita.


“Di Gedung Alun-alun?” Ari mencoba bertanya.


“Semua di sana takut sama kakek kamu…” Belinda menerawang seperti mengingat sesuatu,” Kata kakek kamu, aku boleh tinggal di sini, asal aku mau jagain kamu…”


“Belinda… Aku mau tanya yang kamu bilang matanya satu… sama giginya panjang…” Ari mulai memfokuskan pertanyaannya.


“Dia itu suka main api…” Jawab Belinda tanpa ekspresi.


“Main Api…?” Guman Ari,”Terus gimana caranya biar dia nggak gangguin Tata?”


Belinda pun tertawa. Ari mulai agak takut mendengar tawa Belinda.


“Mana aku tahu…” kata Belinda di penghabisan tawanya,” Tanya saja sama kakek kamu.”


Ari masih memandangi Belinda. Dia berharap Belinda tidak tertawa lagi.


“Aku suka sama kamu,” kata Belinda dengan mata tajam,” Soalnya kamu sayang banget sama pacar kamu.”


Belinda tersenyum-senyum kecil. Dan Ari hanya bisa terpaku. Lalu Belinda mulai memandangi hujan yang terlihat di jendela.


“Aku mau main dulu…” Kata Belinda sembari berjingkat menuju jendela. Lalu dia menghilang di sana.


Kini tinggal Ari terduduk di ranjangnya memandangi jendela. Lalu Ari memutuskan untuk lekas-lekas tidur. Ari tahu, sebentar lagi Belinda pasti kembali. Tapi walau matanya terpejam, Ari masih tidak bisa tidur. Dia mulai teringat wajah kakek-kakek yang kata Belinda itu kakeknya. Ari berusaha mengingat kata-kata orang tua itu. Lalu bau melati mulai tercium oleh Ari. Ari sengaja tidak membuka matanya, dia tahu, Belinda pasti sudah menempel di langit-langit tepat di atasnya.


“Selamat tidur Ari…” Suara Belinda terdengar lirih dari atas.


Ari tetap tidak membuka matanya. Tapi lama-lama dia jadi terbiasa. Ari terbiasa dengan bau melati Belinda. Dan Ari pun mulai tertidur. Saat menjelang pagi, Ari terjaga. Belinda sudah tidak di sana. Ari pun memutuskan untuk bangun. Hari ini dia sengaja akan datang pagi-pagi ke sekolah.


Setelah siap berangkat, seperti biasa Ari mencari ibunya. Ternyata


ibunya masih ada di kamar, terbaring di tempat tidur memakai selimut.


“Mama sakit?” tanya Ari khawatir.


“Kayaknya hari ini mama nggak kerja dulu,” kata ibu Ari dengan suara lemah,” Mama mau istirahat… Badan mama capek.”


“Mama sih, njahit mulu,” kata Ari.


“Iya kan kita butuh tabungan buat kuliah kamu nanti Ri,” kata ibu Ari.


Sementara Ari hanya bisa memandangi ibunya yang terlihat lemah. Sebenarnya Ari ingin bertanya tentang kakeknya. Tapi melihat kondisi ibunya, niat itu dia urungkan.


“Tadi malam mama mimpi kakek kamu…” kata ibu Ari.


“Mimpi kakek…?” Tanya Ari. Kini malah ibunya yang mulai bicara tentang kakeknya.


“Iya… Kakekmu bilang, mama nggak boleh terlalu khawatir tentang kamu…” kata ibu Ari sembari memandangi anaknya.


Ari manggut-manggut. Dia mulai mengingat-ingat sosok kakek-kakek yang mendatanginya tadi malam.


“Kakek sekarang dimana Ma?” tanya Ari.


“Nggak tahulah…Dia suka menghilang entah ke mana,”jawab ibu Ari,” Nggak tahu ke gunung, nggak tahu ke laut. Itu yang bikin nenek kamu menderita…”

__ADS_1


“Ma, kakek Ari itu, di salah satu matanya ada bekas lukanya?” tanya Ari.


“Iya,waktu mama kecil, kakekmu pernah cerita, katanya itu bekas dicakar harimau,” jawab ibu Ari,” Kok kamu tahu?”


“Mmm, mungkin dulu Ari pernah lihat fotonya..” jawab Ari seadanya. Ari tidak mau membebani pikiran ibunya dengan kejadian tadi malam.


Ibu Ari terlihat memikirkan sesuatu. Karena setahu dia, dia pernah menyimpan foto kakek Ari. Tapi kemudian Ari sudah berpamitan untuk berangkat ke sekolah.


Sampai di sekolah, Ari langsung menuju ruang guru. Dia punya rencana nekat untuk masuk ke ruang kepala sekolah yang ada di ruang guru. Halaman sekolah terlihat sepi. Sepertinya belum ada satu murid pun yang datang. Tapi belum sampai di ruang guru, terlihat Pak Min berlari tergopoh mendatanginya sembari masih memegang sapu lidi.


“Ri… Tadi malam… Waktu saya ngecek gerbang… Saya lihat di jendela kepala sekolah ada api nyala…” kata Pak Min dengan nafas terengah,” Saya kira kebakaran… Saya langsung lari ke sana… Waktu saya buka pintunya… Eee, ternyata nggak ada apa-apa…”


“O, gitu ya Pak Min…” Ari jadi teringat cerita Belinda tadi malam,” Makanya ini aku mau lihat ke sana Pak Min…” kata Ari buru-buru.


Lalu Ari berlari meninggalkan Pak Min. Dia tidak mau kedahuluan ada guru datang. Ruang guru masih lengang waktu Ari sampai di sana. Lalu dengan perasaan was-was, Ari melewati meja-meja guru menuju ruang kepala sekolah. Ari pun semakin dekat dengan pintu ruang kepala sekolah. Dia mulai memelankan langkahnya. Tapi tiba-tiba ada yang mendekatinya.


“Mau apa kamu?” Suara kepala sekolah mengagetkan Ari.


Ari melihat Pak Suman sudah berdiri di sampingnya. Ari berusaha untuk menutupi kekagetannya.


“Eee, saya mau ketemu Pak Riza, Pak,” kata Ari mencari alasan sekenanya.


“Pak Riza mejanya di situ,” Kata Pak Suman menunjuk meja Pak Riza yang Ari sebenarnya sudah tahu.


Ari manggut-manggut, pura-pura tadinya tidak tahu.


“Kamu anaknya Pak Ridwan, guru fisika kan?” tanya Pak Suman


“Iya Pak,” jawab Ari.


“Bagus kamu datang pagi jam segini,” kata Pak Suman,” Saya lihat, kamu sama teman-temanmu sudah tidak ngumpul lagi di taman. Kamu coba ajak teman-temanmu itu untuk datang pagi juga seperti kamu.”


“Iya Pak,” jawab Ari lagi. Dia lega, pagi-pagi menyelinap ke ruang guru, justru dapat pujian.


Lalu Ari meminta diri dan bilang akan kembali lagi nanti kalau Pak Riza sudah datang. Saat meninggalkan Pak Suman, Ari merasa janggal. Dia melihat Pak Suman sehat-sehat saja. Tidak ada tanda-tanda Pak Suman pernah


kritis di rumah sakit. Lalu Ari mulai mencium bau bangkai. Makin lama bau itu makin menyengat. Ari tengok kanan kiri mencari arah bau. Ari sempat menengok ke belakang. Dia lihat Pak Suman masuk ke ruangannya. Lalu beberapa guru terlihat masuk ke ruang guru dan langsung melihat ke arah Ari. Ari pun cepat-cepat keluar dari sana.


Jam pelajaran pertama baru dimulai, tapi perasaan Ari sudah tidak enak. Beberapa kali tadi Ari melihat ke jendela, ada sosok-sosok yang lewat di lorong depan kelasnya. Ari sempat melirik ke Toha, Wira dan Nara. Dari gerak-gerik mereka, Ari tahu, mereka juga melihat apa yang Ari lihat. Lalu di tengah pelajaran, datang Pak Suman masuk kelas. Pak Suman pun disambut pak guru yang sedang mengajar. Pak guru mengucapkan selamat datang kembali karena Pak Suman sudah sembuh dan sehat seperti sedia kala. Di depan kelas Pak Suman memberikan sedikit pengarahan agar murid-murid tetap fokus belajar dan selalu menjaga ketertiban. Lalu Pak Suman berjalan di antara bangku murid-murid dan memeriksa kelengkapan seragam sekolah. Beberapa murid menerima teguran karena atribut seragam yang tidak lengkap, termasuk Toha dan Wira. Sebersit, Ari merasa aneh. Tidak biasanya Pak Suman memeriksa murid-murid sampai ke bangku-bangku. Setelah itu Pak Suman keluar kelas, dan masuk ke kelas sebelah.


Jam istirahat pertama, Ari langsung menemui Pak Riza. Tapi sampai di ruang guru, Ari tidak melihat Pak Riza di tempatnya. Bahkan meja Pak Riza bersih, tidak ada perkakas yang biasanya ada di sana.


“Nyari Pak Riza?” tanya salah satu guru yang ada di situ.


“Hari ini Pak Riza terakhir,” kata guru itu.


Ari bengong. Dia masih belum mengerti.


“Barusan kok, Pak Riza beres-beres,” kata guru satu lagi,” Mungkin dia masih di parkiran.”


Ari pun langsung berpamitan dan berlari menuju parkir motor. Di tempat parkir Ari melihat Pak Riza sedang memanasi motornya. Di sebelah motor ada tas ransel besar milik Pak Riza.


“Pak Riza!” Teriakan Ari tertahan.


“Ada apa Ri?” tanya Pak Riza datar saat Ari mendekatinya.


Ari tidak berkata apa-apa. Hanya tatapan matanya saja yang meminta penjelasan.


“Iya Ri, mulai minggu depan saya akan dipindah tugaskan,” kata Pak Riza,” Suratnya sudah ditanda tangani kepala sekolah.”


“Kepala sekolah?” guman Ari,” Bukannya ini aneh Pak?”


“Iya memang aneh,” kata Pak Riza pasrah,” Yah, tapi inilah nasib saya…”


“Tapi sekolah kita sekarang sedang gawat Pak,” kata Ari.


“Sori Ri, saya tidak bisa bantu kamu lagi,” Pak Riza memandangi Ari dengan iba,” Saran saya, biarlah orang lain yang mengurus masalah ini Ri.”


Setelah berpamitan, Pak Riza menjalankan motornya meninggalkan Ari. Ari hanya bisa memandangi Pak Riza dengan motornya menghilang di balik gerbang. Entah kenapa kini Ari merasa sendirian. Sudah lama dia tidak bicara dengan teman-temannya. Dan julukan freak yang disematkan buat dia dan teman-temannya terngiang-ngiang di kepala. Pak Riza bilang, biar orang lain yang mengurus masalah ini. Lalu siapa yang akan melindungi Tata? Ari pun mulai bertanya-tanya, sampai sejauh mana dia bisa melindungi Tata. Kini dia tidak yakin bisa memenuhi janji ibunya untuk melindungi Tata.


Dengan langkah gontai, Ari pun kembali kelasnya. Tapi saat berjalan di lorong kelas, ada beberapa kerumunan murid yang sepertinya telah terjadi sesuatu di sana. Dan di antara kerumunan, Ari melihat Tata yang berusaha menarik perhatiannya dari jauh. Saat Ari perhatikan, Tata memberi kode dengan tangannya. Ari tahu, itu kode Tata untuk bertemu di tempat rahasia. Walau ragu, Ari pun mengiyakan dengan mengangguk pendek. Karena memang ada yang Ari ingin sampaikan ke Tata saat ini. Tata pun mulai berjalan menuju toilet perempuan. Dan seperti biasa, Ari akan lewat depan rumah Pak Min.


Sampai di belakang rumah Pak Min, Ari melihat Tata sudah berdiri menunggunya di sana. Ari sempat memperhatikan samping rumah Pak Min. Dan Ari tidak melihat hantu berwajah tengkorak yang biasa menunggu di sana.


“Ada apa Ri? Tanya Tata yang melihat Ari sedang memperhatikan samping rumah Pak Min.


“Hantu yang wajahnya tengkorak nggak ada di sana,” kata Ari.


“Mungkin mereka sedang masuk ke kelas-kelas,” kata Tata.


Ari hanya memandangi Tata. Di saat tadi ada kejadian yang membuat banyak kerumunan, Tata masih terlihat tenang.

__ADS_1


“Tadi di kelas ada kejadian,” kata Tata,” Gaby tiba-tiba pingsan dan salah satu matanya mengeluarkan darah. Dia langsung di bawa ke UKS.”


Ari mengangguk. Sepertinya Ari tahu siapa pelakunya.


“Jangan marah ya Ri,” kata Tata merajuk,”Aku tahu apa penyebabnya.”


Ari menatap tajam Tata. Tapi hanya sebentar. Lalu Ari mulai memegangi bandul kalung yang melingkar di leher Tata. Ari tahu, walau cuma sebentar, Tata pasti telah melepas kalungnya. Kali ini Ari tidak marah. Karena dia tahu, ada satu titik dimana dia tidak akan bisa melindungi Tata lagi, walau Tata masih memakai kalungnya.


“Iya, penyebabnya suster yang matanya berdarah kan?” tanya Ari datar.


Tata mengangguk pelan.


“Ri, aku harus tahu apa yang terjadi,” kata Tata,” Sudah saatnya kamu berhenti mengkhawatirkan aku.”


Ari mengangguk pasrah. Lalu dia cerita ke Tata tentang Belinda tadi malam dan orang tua yang katanya kakeknya. Juga tentang Pak Riza yang mulai hari ini tidak akan berada di sekolah mereka lagi. Dan tanpa teman-temannya, Ari merasa harus sendiri menghadapi semua ini.


“Ri, kamu nggak perlu jadi superhero,” kata Tata menasehati,” Kamu nggak perlu melindungi aku, nggak perlu melindungi siapapun…”


“Tapi aku sudah janji…” Guman Ari.


“Janji sama siapa?” Tanya Tata.


“Sama mama.”


“Janji apaan?”


“Janji buat ngelindungi kamu.”


Tata menatap Ari dalam-dalam. Dia meraih tangan Ari dan menggenggamnya erat.


“Aku tahu Ri, kamu akan selalu melindungiku.”


Lalu ada seorang mendatangi mereka. Tata pun cepat-cepat melepas genggamannya ke Ari. Ternyata Wira yang datang. Meski Wira yang datang, Tata dan Ari tampak malu ketahuan pegangan tangan.


“Eee, sori guys, ganggu kalian…” kata Wira terbata.


Ari dan Tata masih diam memandangi Wira.


“Gini Ri… Gue perlu bicara,” kata Wira,” Kayaknya kita nggak bisa diam-diaman begini terus, sementara banyak yang kita lihat di sekitar kita…”


“Iya Wir, situasinya memang tambah gawat,” Ari bersuara.


“Maksud gue… Mungkin kita nggak perlu melakukan apa-apa,” kata Wira,”Tapi minimal, kita harus selalu saling bicara… Seperti dulu lagi.”


Ari manggut-manggut memandangi Wira. Tapi kemudian seseorang terlihat datang dari samping rumah Pak Min. Ternyata Toha datang dengan langkah hati-hati. Toha memandangi Ari dan Tata. Lalu Wira. Sepertinya Toha tidak menyangka Wira ada di situ.


“Ada apa Ha?” tanya Ari memecah situasi kaku yang barusan terjadi.


“Ri… Gue mau minta maaf sama lo,” suara Toha serak,” Gue minta maaf atas kata-kata gue waktu lo ke rumah gue.”


“Udahlah Ha. Lupain aja,” kata Ari,” Gue juga udah lupa.”


“Nggak gitu juga sih Ri,” kata Toha,” Lama-lama gue jadi malu sendiri. Terutama sama Tata. Tata kan sudah banyak bantu gue.”


“Nggak usah dipikirin Ha,” kata Tata yang merasa sudah dilibatkan.


“Beneran Ta, gue minta maaf,” kata Toha lagi,”Lagian bokap udah cerita banyak ke gue. Dulu dia juga punya pertemanan kaya kita. Gara-gara kesalahpahaman kayak gini, mereka nggak berteman lagi. Sekarang malah saling musuhan. Gue nggak mau kita seperti itu. Gue mau kita berteman sampai kapan pun.”


Sesaat hening. Kata-kata Toha membuat semua jadi terdiam.


“Gue juga mau minta maaf sama lo Wir,” kata Toha sembari mengulurkan tangan ke Wira.


Wira tidak menyambut tangan Toha. Dia langsung memeluk erat Toha dan menepuk-nepuk punggungnya. Ari pun maju bergabung memeluk Toha dan Wira. Sementara Tata memandangi mereka bertiga. Sebenarnya Tata ingin tertawa geli melihat anak-anak laki yang saling berpelukan tetapi dia tahan. Lalu pintu yang terhubung dengan toilet perempuan terbuka dan Nara terlihat muncul dari sana. Ari, Toha dan Wira pun lekas-lekas melepas pelukan mereka. Bertiga mereka memandangi Nara yang sudah ada di depan memakai jaket dengan tudung kepalanya. Dan Nara tak menyangka ada Wira dan Toha. Karena setahu dia, ini tempat rahasia buat pertemuan Ari dan Tata.


“Ada apa Ra?” tanya Ari memecah keheningan.


“Ri, barusan tadi di toilet cewek ada murid yang kesurupan berjalan kayang,” kata Nara.


Sejenak hening. Sepertinya mereka semua sudah bisa membayangkan apa yang sebenarnya terjadi. Bahkan Tata pun pernah melihat gambar Ari tentang hantu yang berjalan kayang.


“Ra, sebelumnya gue mau minta maaf dulu sama lo,” kata Toha sembari mengulurkan tangannya ke Nara.


Agak lama Nara membalas uluran tangan Toha. Tapi itulah Nara.


”Gue juga minta maaf ya Ha,” kata Nara pada akhirnya.


Lalu Nara dan Wira hanya saling pandang, tak lebih dari itu.


“Ngomong-ngomong, kenapa pada ngumpul di sini semua?” tanya Nara.


“Kita mau berteman seperti dulu lagi Ra,” jawab Wira,” Yang sudah berlalu, ya biarlah berlalu. Apapun yang terjadi, kita harus selalu berteman…”

__ADS_1


Nara menatap Wira. Lalu dia pandangi temannya satu persatu. Mulai dari Toha, Ari, lalu ada Tata di sana. Tata pun tersenyum. Dia mendekati Nara dan menggandeng tangan Nara. Dan Ari merasa lega. Sebelumnya dia begitu gundah. Dia begitu merasa sendiri. Kini, di tempat ini, Ari melihat teman-temannya telah kembali. Toha, Wira, Nara. Dan sekarang, ada Tata di sana.


__ADS_2