Komplotan Tidak Takut Hantu

Komplotan Tidak Takut Hantu
Bab 24 : Suara Perempuan Menangis di Taman


__ADS_3

Keesokan harinya, di taman, Nara memberikan foto yang


diambil ibunya 12 tahun yang lalu ke Ari. Di sana sudah ada Toha dan Wira.


Mereka pun mengamati foto di tangan Ari. Foto sebuah gambar denah salah satu area


bangunan sekolah mereka yang kertasnya sudah terlihat buram dan menguning. Nara


menunjukkan posisi ruangan bawah tanah.


“Ini basement-nya,” Nara menjelaskan. “Kalian lihat, ada gambar


lorong dari sini ke arah sana.”


Ari, Toha dan Wira berusaha melekatkan pandangannya ke foto


itu. Karena gambar denah yang tertangkap di foto begitu kecil. Mereka lihat


denah basement yang ditunjuk Nara. Tapi mereka masih meraba-raba gambar lorong


yang dibilang Nara. Memang ada gambar garis yang terhubungkan dengan gambar basement


tapi tak begitu jelas. Saat mereka sibuk mengamati foto, tiba-tiba terdengar


suara orang menangis. Ari, Toha dan Wira spontan memandang Nara. Karena suara


tadi adalah suara perempuan.


“Kenapa?” tanya Nara bingung dipandangi ketiga teman


cowoknya.


“Kamu nggak denger?” tanya Wira.


“Denger apa?” Nara tanya balik.


Saat masih pada kebingungan, hampir bersamaan mereka


perlahan menengok ke balakang. Karena mereka mendengar lagi suara orang


menangis. Suara itu suara perempuan dari belakang mereka. Di belakang mereka


ada kolam dengan pancuran kecil di tengah taman. Tapi tidak ada siapa-siapa di


sana. Dan Nara sudah mulai menyilangkan tangannya.


“Ayo kita pergi dari sini,” ajak Wira.


Mereka berempat pun melangkah pergi meninggalkan taman. Ari


sempat melihat lagi ke arah kolam. Tapi tetap dia tidak melihat apa-apa.


Sudah seminggu ini Ari masih penasaran dengan kucing bermata


aneh di aula. Diam-diam dia selalu mengecek aula sekolahnya. Tapi selama seminggu


ini pula dia tidak pernah bertemu kucing itu lagi. Toha, Wira dan Nara pun


sudah tidak menyinggungnya lagi. Murid-murid sudah disibukkan dengan persiapan


Ujian Tengah Semester yang sudah dekat. Dan hari ini adalah hari ulang tahun Ari.


Yang berarti juga hari ulang tahun Tata.


“Ayo traktir kita dong Ri,” pinta Nara saat istirahat.


“Siiip, tenang aja. Beli bakwan di kantin ya,” kata Ari


bercanda. Dia tahu temannya juga tidak serius. Mereka tahu Ari bukan anak yang


banyak duit.


“Kita rayain di kafe kakakku aja,” Wira mengusulkan. “Gratis


deh, boleh makan sesukanya.


“Thanks Wir. Nggak usah repot-repot,” kata Ari. Dia merasa


nggak enak.


“Gue serius!” kata Wira.


“Ayo dong Ri. Jangan nolak rejeki,” timpal Toha sambil


nyengir. Dia memang ngebet bisa makan gratis. “Maksud gue, gue juga nggak nolak


rejeki.”


“Iya Ri. Ayo dong,” giliran Nara yang menimpali. “Yang


penting kita bisa seru-seruan.”


Akhirnya Ari mengalah. Mereka pun pergi ke kafe kakaknya


Wira sepulang sekolah. Dan seumur hidup Ari, baru kali ini dia merasakan punya


teman yang benar-benar teman. Bukan hanya karena mereka sama-sama bisa melihat


hantu. Lalu Ari jadi ingat Tata. Hingga saat ngobrol, Ari sampai bilang kalau


Tata tanggal lahirnya sama kayak dia.


“Beneran lo Ri?” tanya Toha sembari mengunyah makanan.


“Beneran,” jawab Ari.


“Kayak anak kembar dong kalian,” timpal Wira.


“Eh, ngomong-ngomong tentang Tata, aku jadi ingat tadi pagi

__ADS_1


aku lewat di depan mobilnya,” kata Nara dengan nada serius. “Dia punya saudara


perempuan nggak sih Ri? Kayaknya ada cewek di dalam mobilnya. Nggak mungkin


mamanya, soalnya tampangnya masih muda.”


“Tata nggak punya saudara,” jawab Ari. “Dia anak tunggal.”


“Iya, aku lihat dia lagi sendiri di dalam mobil. Kayaknya tuh


dia lagi nyiumin parfum di dashboard,”kata Nara lagi.


Ari jadi penasaran. Suasana jadi serius.


“Eh, kalian mau kopi kan?” kata Wira memecah suasana.


“Gue soda aja dong Wir,” pinta Nara.


“Ok, kopi tiga, soda satu,” Wira pun memesan untuk mereka


berempat.


Dan Ari masih memikirkan cerita Nara. Tapi lama-lama dia


jadi berpikir bagaimana cara mengucapkan selamat  ulang tahun ke Tata.


Malam ini Ari hanya duduk di kamarnya. Sudah satu jam lebih dia


begitu sambil memegang ponselnya. Dia masih memikirkan kata-kata selamat ulang


tahun untuk diucapkan ke Tata. Hingga keberaniannya terkumpul untuk menghubungi


nomor Tata. Tapi lama ponsel Tata tidak diangkat. Hingga saat Ari mau mematikan


panggilannya, Tata mengangkat ponselnya.


“Halo Ta…” kata Ari masih ragu.


“Halo Ri, sori, aku lagi di luar,” jawab Tata di ponsel.


“Ntar aku call back ya.”


“O, ok…” jawab Ari.


Ari mematikan panggilannya. Sekilas tadi ada suara cowok


saat Tata bicara. Mungin bapaknya atau saudaranya, pikir Ari. Tata orang kaya.


Mereka pasti sedang mengadakan pesta sekarang. Tetapi tetap saja Ari kecewa.


Saat ini dia cuma habiskan waktunya berbaring di ranjang. Sampai ibunya membuka


pintu kamarnya. Ari heran, ibunya cuma senyum-senyum berdiri di pintu.


“Ada Tata tuh di depan,” kata ibunya.


Ari tambah heran. Ada Tata di depan?


Ari cepat-cepat beranjak dari ranjangnya. Di ruang tamu, Ari


lihat Tata duduk di salah satu bangku. Tata langsung berdiri begitu Ari ada di


depannya. Senyum Tata merekah. Matanya berbinar.


“Selamat ulang tahun ya Ri,” Tata mengulurkan tangannya.


“Iya… Selamat ulang tahun juga ya Ta,” kata Ari gugup


menyambut tangan Tata.


Lalu Tata mengambil sesuatu dari tas kecilnya. Sebuah kotak


berbungkus merah dia kasih ke Ari.


“Ini buat kamu Ri,” kata Tata.


Ari pun menerima kotak itu.


“Tapi aku nggak punya kado buat kamu,” kata Ari terbata.


Tata malah tertawa lepas.


“Nggak apa-apa Ri. Ini tanda terimakasih aku. Karena selama


ini kamu udah jagain aku,” kata Tata.


Ari masih merasa nggak enak. Tapi lama-lama Ari sadar, ada


sesuatu yang berbeda dari Tata. Baju yang dipakainya seperi gaun yang sering


dipakai wanita dewasa. Lalu Tata memapai make up di wajahnya.


“Kenapa?” tanya Tata sambil senyum-senyum. “Nggak bagus ya


make up-nya?”


“Enggak, bagus kok,” kata Ari. Dia tidak tahu menahu tentang


make up.


“Kamu nggak suka ya?” tanya Tata.


“Suka kok… Emm, tapi bagusan kalau nggak pakai make up,”


jawab Ari polos.


Lalu Tata mengambil tisu dan mulai menghapus lipstick yang


ada di bibirnya.

__ADS_1


“Kalau gini gimana,” tanya Tata.


“Iya, mendingan,” jawab Ari.


Lalu mereka berdua pun tertawa.


“Eh, Ri. Aku nggak bisa lama-lama,” kata Tata. “Taxi aku


nungguin.”


Ari lihat ada taxi berhenti di depan rumahnya. Ari pun


maklum. Orang tua Tata pasti tidak tahu kalau Tata datang ke sini. Lalu tata


berpamitan dengan ibu Ari. Ibu Ari sempat menahan Tata, karena dia mau bikini


minum buat Tata. Tapi sepertinya Tata memang sedang buru-buru. Di taxi Tata


melambaikan tangannya ke Ari. Wajahnya masih ceria. Belum pernah Ari lihat Tata


seceria itu. Ari memandangi Taxi Tata sampai menghilang di ujung gang.


Di kamar, Ari membuka bungkusan pemberian Tata. Isinya


sebuah jam tangan anti air, masih lengkap dengan boxnya. Ibu Ari masuk ke


kamar, menyemprot anti nyamuk. Lalu dia ikut melihat kotak di tangan Ari.


“Bagus banget jamnya,” kata ibu Ari. “Dari mana?”


“Tadi barusan Tata yang ngasih,” jawab Ari.


“Itu jam mahal lho. Harganya bisa 400 sampai 500 ribuan,”


ibu Ari masih memandangi kotak di tangan Ari.


Lalu Ari memasukkan kotak itu ke laci.


“Lho kok dimasukkan ke laci?” tanya ibu Ari. “Dipakai dong


Ri!”


“Iya Ma, gampang,” kata Ari sembari menuju ke ranjangnya.


“Besok kamu harus pakai,” kata ibu Ari lagi. “Minimal kamu


itu menghargai sama yang ngasih.”


“Iya Ma, tenang aja,” jawab Ari. Dia sudah rebah di


kasurnya.


Lalu ibu Ari keluar kamar. Ari justru sedang berpikir kalau


dia tadi lupa, sesuatu musti dia tanyakan ke Tata. Tentang cerita Nara yang


melihat cewek di dalam mobil Tata di parkiran tadi pagi.


Keesokan harinya, Ari memakai jam tangan barunya ke sekolah.


Seperti biasa, Ari, Toha, Wira dan Nara berkumpul dulu di taman.


“Eh, tahu nggak berita paling menggemparkan hari ini?” tanya


Nara antusias. “Yang bikin cewek-cewek lebay pada patah hati?”


Ketiga cowok di depan Nara justru heran dengan pertanyaan


Nara. Emang sih Nara paling nggak suka sama cewek lebay. Lalu Nara mengambil


ponselnya sembari tengok kanan kiri memastikan tidak ada guru. Dia buka instagram


dan membuka satu akun.


“Nih, udah lihat instragram Jodi?” Nara menyodorkan


ponselnya. “Jodi resmi jadian sama Tata tadi malam.”


Ari, Toha dan Wira memandangi ponsel Nara. Di sana ada foto


selfie Jodi yang merangkul Tata di sebuah kafe. Mereka berdua tersenyum ceria


menghadap kamera. Captionnya : Hari ini


untuk sehidup semati, Jodi dan Tata. Tata memakai make up. Dan Ari tahu


baju Tata di foto itu adalah baju yang dipakai Tata waktu datang ke rumahnya. Toha


dan Wira sedikit banyak tahu perasaan Ari. Mereka berusaha sok nggak


memperdulikan foto itu.


“Eh, jam baru tuh,” tanya Toha ke Ari, berusaha mengalihkan


pembicaraan,”Hadiah ulang tahun nih ye.”


“Iya… hadiah dari nyokap…” jawab Ari dengan suara serak.


“Sebaiknya kita langsung ke kelas yuk,” seru Wira. Dia


menyadari suasananya jadi tidak enak.


Mereka berempat pun beranjak meninggalkan taman. Tapi


sebelum jauh, Ari mendengar suara itu lagi. Suara perempuan menangis dari


taman. Kali ini suara itu begitu jelas. Ari menengok ke belakang. Dia tidak


melihat siapa-siapa. Tapi Ari yakin, suara tadi berasal dari kolam kecil di

__ADS_1


tengah taman itu. Lalu terdengar suara Toha memanggil Ari. Ari pun menyusul


teman-temannya menuju ke kelasnya.


__ADS_2