Komplotan Tidak Takut Hantu

Komplotan Tidak Takut Hantu
Bab 90 : Bangku yang Jalan Sendiri


__ADS_3

Malam ini Ari ada di depan meja belajarnya. Dia sedang memegang buku pelajaran, tapi pikirannya tidak kesana. Dari tadi dia selalu memikirkan apa yang Kak Karin katakan tadi siang. Dan jika saja dia bisa menghubungi Tata, memastikan gadis pujaannya itu baik-baik saja. Ari melirik jendela kamarnya. Rintik hujan mulai terlihat disana. Ari tahu siapa yang akan muncul di ranjangnya. Sementara dia terus berusaha untuk konsentrasi ke buku pelajarannya. Dia sudah berjanji pada Tata untuk masuk universitas favorit. Tapi aroma khas melati sudah tercium di hidungnya.


“Belinda…” desis Ari tanpa menengok ke belakang.


“Sudah tidak ada lagi yang teriak-teriak…” suara Belinda lirih.


“Iya, karena mereka nggak bisa masuk ke sekolah… Eh maksudku ke rumah sakit, ya kan?” Ari membalikkan badannya, mendapati Belinda duduk rapi di tepi ranjang. Belinda hanya mengangguk, masih dengan tatapan matanya yang tajam ke Ari. “Ada yang Tata lihat sampai hidung Tata berdarah… Kamu tahu nggak?” tanya Ari tak sabar.


“Ada yang bisa terbang…” suara Belinda datar.


“Jadi yang bisa terbang ini, dia bisa masuk ke rumah sakit?” tanya Ari lagi.


Belinda mengangguk. Lalu dia melirik ke jendela dan mulai beranjak.


“Apa dia seperti bola api?” tanya Ari. Kali ini suaranya lebih keras.


“Aku tidak tahu…” jawab Belinda sambil cekikikan.


Ari ingin bertanya lebih lanjut tapi Belinda sudah berjalan ke arah jendela. Ari pun pasrah. Mungkin memang Belinda hanya tahu sebatas itu. Dan ponsel Ari bunyi. Ada panggilan dari Nara.


“Halo Ra…” Jawab Ari.


“Halo Ri… Ri gue lagi browsing nih di komputer…” kata Nara di ponsel Ari,”Tahu ngga Ri… Bangunan tua yang di pelabuhan itu, dulu kan fungsinya sebagai kantor gubernur, gue baca di salah satu artikel… Ternyata di situ dulu sering dipakai untuk upacara sekte-sekte gitu… Kayak pemujaan setan gitu Ri…”


“Beneran lo Ra?” suara Ari penuh tanya,”Setahu gue, tuh bangunan sekarang udah pada ancur.”


Lalu Nara membacakan beberapa artikel berbahasa Inggris yang Ari sebenarnya sulit untuk mengerti. Juga nama nama sekte yang Ari mengucapkannya saja susah.


“Mungkin karena itu banyak hantu suka datang ke sana…” Nara menebak-nebak.


Mungkin Nara hanya menebak, tapi apa yang Ari dengar dari Nara makin membuatnya khawatir. Apalagi mengingat pernyataan Kak Karin tentang sesuatu yang membahayakan keselamatan mereka. Lalu dengan kejadian yang menimpa Tata tadi siang, Ari ingin segera bicara dengan Kak Karin. Baru dua hari lagi mereka ada pertemuan rutin di sekolah.


Pagi-pagi seperti biasa di sekolah, Ari bertemu Toha di parkir sepeda.


“Ha… Kamu lihat lagi?” Ari langsung bertanya ke Toha.


Toha menggeleng ragu sembari memutar pandangannya ke sekitar parkir sepeda, begitu juga Ari. Tapi tak berapa lama muncul Pak Min berjalan tergopoh.


“Toha!... Ari!...”suara Pak Min setengah teriak.


“Ada apa Pak Min?” Toha melihat wajah Pak Min yang ketakutan.


“Ha… Tadi malam saya lihat di lorong…” agak susah Pak Min meneruskan ceritanya.


“Lihat apa Pak Min?” tanya Toha lagi.”


“Itu… Ada bangku jalan sendiri…” suara Pak Min gagap,” saya kira ada orang yang mau ngambil bangku… Tapi tuh ternyata bangku jalan sendiri.”


“Kejadiannya dimana Pak Min,” tanya Ari spontan.


Lalu Pak Min mengajak Ari dan Toha menuju kelas 10.

__ADS_1


“Di sini nih saya ngelihatnya,” jari Pak Min sedikit gemetar menunjuk lorong yang masih sepi.


“Terus bangkunya jalan kemana?” tanya Ari penuh selidik.


Pak Min berjalan menyusuri lorong, diikuti Ari dan Toha. Sementara baru beberapa siswa yang lalu-lalang disana. Di ujung lorong, Pak Min berhenti. Di samping ada lorong buntu untuk menyimpan bangku-bangku rusak. Ari dan Toha saling pandang. Tapi mereka tidak melihat apa-apa di lorong buntu yang remang itu. Hanya ada tumpukan bangku bangku rusak yang berantakan di sana. Dan perasaan Ari biasa-biasa saja.


“Ya udah Pak Min, nanti kalau lihat sesuatu lagi bilang ke kita ya,” kata Ari, karena sudah banyak murid yang lalu lalang di sekitar mereka.


Ari dan Toha mempercepat langkahnya menuju kelas 12 karena bel masuk sudah berbunyi. Tapi saat di ujung lorong kelas 10, perasaan Ari tidak enak. Ari sempat melirik ke samping. Jendela di sekolah Ari memang besar-besar. Ari bisa melihat salah satu ruang kelas 10. Beberapa saat langkah Ari tertahan. Ari melihat salah satu murid di ruang kelas yang sedang duduk di antara teman-temannya. Anak itu memang posisinya duduk, tapi Ari tidak melihat kursi yang didudukinya. Dan tiba-tiba Ari merasa mual.


“Ri, kamu nggak apa-apa?” Toha melihat Ari yang memegangi perutnya.


“Ha, cepetan kita pergi dari sini,” suara Ari gemetar seperti menahan sesuatu.


Sesampai di kelas Ari sudah tidak memegangi perutnya lagi. Ari cepat-cepat duduk di bangkunya karena badannya terasa lemas. Wira dan Nara yang melihat situasi ini langsung menghampiri Ari.


“Ri, kamu kenapa?” tanya Toha cemas.


Ari berusaha mengumpulkan tenaganya dulu, lalu dia cerita apa yang dia lihat di kelas 10 tadi pada Toha, Wira dan Nara. Ketiga teman Ari itu jadi saling pandang. Tapi pak guru sudah masuk kelas. Pelajaran pertama akan segera dimulai. Di tengah pelajaran, Ari berusaha fokus. Ari tidak mau lagi terganggu dengan apa yang terjadi di sekolahnya. Saat istirahat pertama, Ari, Toha dan Nara berkumpul di bangku Wira di bagian paling belakang.


“Kita musti ke tempat bangku-bangku bekas lagi,”cetus Wira tak sabar.


“Kalian nggak lihat anak yang item itu lagi?” tanya Nara ke Ari dan Toha.


Ari dan Toha hanya menggeleng.


“Tapi kayaknya hantu itu musti kita cari?” ungkap Toha.


“Terus?” tanya Ari spontan.


diri.


“Minta tolong sama orang padepokan?” tanya Ari spontan.


“Kita tangkep saja sendiri… Iya kan Ra?” Toha minta dukungan Nara.


Nara mengangguk mengiyakan tapi raut wajahnya menyiratkan keraguan. Meski pernah belajar dengan Bang Yudha, Nara masih tidak yakin bisa sejauh itu.


“Setuju Bro…” sela Wira,” kita ini Komplotan Tidak Takut Hantu… Kita nggak boleh takut sama hantu… Iya kan Ri…”


“Iya…,” jawab Ari berusaha mendukung teman-temannya.


Tapi Ari merasa teman-temannya sudah berpikir terlalu jauh. Mereka bahkan tidak membicarakan apa yang dilihat Pak Min tadi malam atau apa yang dilihat Ari tadi pagi di kelas 10. Lalu ada Kocik yang muncul dari pintu mendatangi mereka.


“Gaes! Ada anak pingsan lagi tuh di kelas 10!” Kocik setengah teriak ke Ari dan ketiga temannya.


Spontan Toha, Wira dan Nara berlarian keluar kelas. Ari hanya berlari pelan mengikuti dari belakang, Setelah apa yang terjadi pada Tata, terlebih apa yang dia alami tadi pagi, Ari jadi merasa was-was. Ari melambatkan larinya setelah sampai kelas 10. Di salah satu kelas terlihat kerumunan. Dan itu kelas yang tadi pagi Ari lihat ada anak yang dalam posisi duduk dimana Ari tidak melihat bangku yang didudukinya. Lalu dari kerumunan ada anak yang dibopong untuk dibawa ke UKS. Ari masih ingat betul, itu anak yang dilihatnya tadi pagi. Toha, Wira dan Nara terlihat mengikuti rombongan yang menuju UKS. Ari pun menuju kesana. Tapi Ari tetap menjaga jarak. Dia hanya mengawasi Toha, Wira dan Nara yang berusaha masuk kerumunan di UKS. Lalu terdengar teriakan histeris dari dalam UKS dan kerumunan di luar jadi tambah heboh. Tapi tak berapa lama bel berbunyi. Bu guru yang menjaga UKS terlihat berusaha membubarkan kerumunan di depan UKS dan menyuruh anak-anak masuk ke kelas masing-masing.


“Anak yang pingsan itu histeris ya Ha?” tanya Ari ketika Toha, Wira dan Nara sudah bergabung menuju kelas mereka.


“Iya Ri, kayak yang anak kemaren,” jawab Toha.

__ADS_1


“Tapi kita nggak lihat hantu yang badannya item itu…” kata Nara.


“Ntar pas istirahat kedua, kita coba periksa di tempat bangku-bangku bekas,” cetus Wira.


Toha dan Wira mengangguk antusias. Tapi tidak dengan Ari. Jam istirahat kedua dia ada janji dengan Tata di kantin. Sudah saatnya Ari lebih mementingkan Tata dan menjauhi apa yang teman-temannya sedang ingin kuak. Saat


pelajaran, sekilas Ari melihat Toha, Wira dan Nara seperti tidak konsentrasi mengikuti pelajaran. Ari pikir mereka sudah tidak sabar mendatangi tempat penyimpanan bangku rusak. Bel istirahat pun berbunyi. Toha langsung menghampiri Ari.


“Ayo Ri, kita ke tempat bangku rusak lagi,” ajak Toha.


“Mmm… Sori Ha, gue ada janji sama Tata di kantin,” kata Ari,”Kali ini gue belum bisa ikut.”


“Udah lah Ha,” Nara menimpali,” Jangan ganggu orang yang mau pacaran,” suara Nara sinis.


“Ayo gaes, ntar keburu masuk lagi,” Wira mengajak yang lain untuk buru-buru.


Ari hanya melihat ketiga temannya bergegas keluar kelas. Dia sudah maklum dengan sifat Nara dan tidak mengambil hati apa yang dikatakannya. Lalu Ari cepat-cepat menuju ke kantin. Seperti biasa Tata sudah menunggu di tempat paling pojok dengan senyum rekah dan mata berbinar.


“Hai Ri,” Tata menyapa duluan.


“Hai Ta…” Jawab Ari sembari mengambil duduk di depan Tata.


“Ada yang pingsan lagi ya Ri?” tanya Tata.


“Iya…” Jawab Ari singkat karena dia tidak ingin membicarakannya dengan Tata tentang hal itu dan Tata justru senang Ari begitu.


“Ri, ntar kuliah kamu rencana mau ambil jurusan apa?” tanya Tata.


“Mmm… Belum tahu sih Ta,” jawab Ari.


“Kamu ambil jurusan arsitektur aja Ri, kamu kan pinter gambar.”


“Aku sih pengennya bisa jadi ahli komputer, kayak kakaknya Wira yang kerja di perusahaan CCTV Ta, biar bisa ngawasin orang-orang.”


“Wah ntar biar bisa ngawasin aku juga ya Ri,” kata Tata sembari tertawa lepas dengan kepolosan Ari.


Lalu mereka berdua memesan bakso hingga bel masuk pun berbunyi. Saat masuk ke kelas lagi, Ari melihat Toha, Wira dan Nara sedang berkumpul di bangku belakang.


“Ri, kita tahu hantu yang selama ini bikin onar,” kata Toha.


“Hantu anak yang badannya hitam?” Ari mencoba menebak apa yang Toha, Wira dan Nara temukan.


“Iya, tadi kita lihat dia keluar dari tempat bangku-bangku rusak,” kata Toha antusias,” Tahu nggak, ternyata dia ada yang bawa.”


“Siapa?” tanya Ari tak sabar.


“Anak perempuan kelas 10,” jawab Toha.


“Dari mana lo tahu,” tanya Ari lagi.


“Karena hantunya ngikutin anak itu,” kata Nara sedikit ketus, karena menganggap Ari cuma tanya-tanya saja,” postur sama wajahnya mirip sama si anak itu”.

__ADS_1


“Ntar pas pulang sekolah kita cegat anak itu,” cetus Wira.


Belum sempat Ari berpendapat, bu guru sudah masuk kelas. Ari pikir teman-temannya terlalu berlebihan. Tapi seperti kata Pak Riza, dia akan mengawasi teman-temannya saja. Ari merasa apa yang ada di sekolah mereka, lebih dari apa yang teman-temannya temukan. Sesuatu yang mungkin bisa membahayakan keselamatan mereka semua.


__ADS_2