Komplotan Tidak Takut Hantu

Komplotan Tidak Takut Hantu
Bab 44 : Hantu Noni Belanda yang Berjalan Mundur


__ADS_3

“Ri, Pak Riza kan nggak bisa lihat… Kamu yang bisa lihat,


kita yang bisa lihat… Dia nggak ngerti, dia nggak ngerasain” sergah Nara ketika


Ari menceritakan pertemuannya dengan Pak Riza kemarin.


“Bener Ri, takutnya akan banyak kejadian lagi di sekolah


kita,”tambah Wira,”Jangan sampai nanti bisa kejadian juga di kelas kita.”


Ari tercenung. Dia merasakan dilema. Di satu pihak dia harus


menuruti perintah Pak Riza, di lain pihak dia membenarkan kata-kata teman-temannya.


Dari taman, Ari, Toha, Wira dan Nara bisa melihat murid-murid yang baru datang


di sekolah pagi ini. Dan di antara murid-murid itu ada Fatar. Kali ini Fatar


memakai sepatu warna hitam.


“Si Fatar tuh,” kata Toha.


“Anak kelas 10 udah sombong banget sih,” kata Nara menilai


penampilan Fatar.


“Kayaknya kita harus bertindak deh,” kata Wira yang mulai


panas dengan kata-kata Nara.


“Bertindak gimana?” tanya Toha.


“Ya langsung aja kita samperin anaknya, kita tanya-tanyain,”


jawab Wira.


“Lebih baik kita tunggu aja,” kata Ari.


“Maksud lo?” tanya Wira ke Ari.


“Ya kalau ada kejadian, baru cepat-cepat kita datengin


anaknya,” jawab Ari.


Akhirnya mereka sepakat untuk menunggu. Saat jam pelajaran,


Ari jadi tidak bisa konsentrasi. Jam istirahat pertama, Ari, Toha, Wira dan


Nara jadi sering memperhatikan ke arah kelas 10. Mereka juga sering


memperhatikan anak-anak pengurus OSIS yang berpapasan dengan mereka. Tapi


hingga jam pelajaran berlangsung lagi, ternyata tidak terjadi apa-apa. Sampai


jam istirahat kedua, ada kehebohan terlihat dari arah kelas 10. Rombongan murid


sedang membopong anak perempuan yang pingsan. Ari, Toha, Wira dan Nara langsung


berlari ke sana. Saat dekat rombongan itu, Ari baru tahu kalau yang pingsan


adalah Lisa. Ini sudah yang kedua kali anak perempuan itu pingsan. Ari langsung


teringat pertemuannya dengan Lisa kemarin di bus.


“Udah Ri, ini saatnya kita temuin si Fatar,” cetus Wira.


“Iya mumpung sekarang ada buktinya,” tambah Nara.


“Bentar…,” kata Ari. Dia mulai berlari menyusul rombongan yang


membopong Lisa. Ari seperti tidak mempedulikan Wira dan Nara karena


perhatiannya sekarang sedang tertuju ke Lisa.


“Ri, mau kemana?” Wira setengah teriak.


“Bentar!” teriak Ari tanpa memperlambat larinya.


Ari sempat berpikir, pertama Lisa pingsan waktu itu hari


Rabu. Dan hari ini hari Rabu. Ari melihat Lisa sudah dibaringkan di UKS. Rombongan


yang membopong Lisa sudah keluar. Ari pun mendekati salah satu dari mereka.


“Kamu teman sekelas Lisa?” tanya Ari ke salah satu dari


mereka.


“Iya Kak,” jawabnya.


“Tadi Lisa pingsan dimana?” tanya Ari lagi.


“Di lab abis pelajaran komputer,” jawab anak itu.


Ari tahu, lab komputer ada di bekas basement. Dan minggu


lalu, Lisa pingsan di hari dan jam yang sama. Lalu perasaan Ari mulai tidak


enak. Ari merasa ada sesuatu di dalam UKS sana. Tapi murid-murid yang berkerumun


di depan UKS sudah disuruh bubar oleh Bu Mirna. Dan pintu UKS sudah ditutup.


Juga tirai jendelanya. Ari ingat permintaan Lisa waktu bertemu di bus kemarin.


Entah kenapa, Ari merasa harus melakukan sesuatu buat Lisa. Lalu dia nekat


mencoba masuk ke UKS. Ari pun mengetuk pintunya.


“Iya, masuk,” terdengar suara Bu Mirna dari dalam.


Ari masuk dengan memasang muka sakit dan memegangi


kepalanya.


“Ada apa?” tanya Bu Mirna.


“Kepala saya pusing Bu,” jawab Ari dengan muka dibikin


meringis.


“Ya udah, coba kamu tiduran di situ,” kata Bu Mirna.


Ari pun berbaring di ranjang sebelah Lisa dibaringkan.


Seorang petugas PMR memeriksa suhu badan dan tekanan darah Ari. Ari sempat


memperhatikan sekeliling. Tapi dia sudah tidak lagi merasakan perasaan yang dia


rasakan tadi. Dan dia tidak melihat apa-apa di situ.


“Ini diminum, biar nggak pusing,” kata Bu Marni menyodorkan


satu butir pil dan segelas air.


Ari sempat ragu karena dia tidak benar-benar pusing. Tapi


dia harus ambil resikonya demi Lisa. Ari pun meminum obat yang diberikan Bu


Mirna. Lalu Bu Mirna dan petugas PMR meninggalkan Ari dan Lisa untuk istirahat.


Sambil berbaring, Ari memperhatikan Lisa di ranjang sebelah. Anak perempuan itu


sedang pulas terlelap. Nafasnya begitu teratur. Sebetulnya Ari ingin


membangunkannya, memastikan Lisa baik-baik saja. Tapi melihat Lisa yang terlihat


tenang dalam pulasnya, Ari mengurungkan niatnya. Justru Ari yang kini merasakan


kantuk. Mungkin obat yang diberikan Bu Mirna tadi membuatnya mengantuk. Mata


Ari mulai berat. Tapi dia berusaha untuk tetap terjaga. Ari mencoba


memperhatikan sekitarnya. Sudut-sudut ruang UKS mulai terlihat kabur. Tapi dia


tidak melihat sesuatu pun muncul di ruangan tempat dia dan Lisa terbaring. Ari


menoleh ke arah Lisa. Matanya makin berat. Pandangannya pun makin kabur. Lalu


dia seperti mendengar suara Lisa.


“Kak Ari,” suara Lisa menyadarkan Ari.


Ari melihat Lisa masih terbaring di ranjang sebelah. Kepalanya


menoleh ke arah Ari.


“Lisa… Kamu nggak apa-apa?” Ari berusaha mengeluarkan


suaranya.


“Kak Ari tolong aku…” kata Lisa. Suaranya lemah dan datar.


“Kamu Kenapa?” tanya Ari dengan suara berat.


“Ada yang mau narik aku…” jawab Lisa pelan.

__ADS_1


“Siapa?” tanya Ari lagi.


Ari melihat Lisa seperti susah menjawab. Lalu Ari seperti melihat


wajah Lisa yang sedang tidur, tapi kemudian Ari melihat Lisa yang sedang


menatapnya lagi. Lama Ari perhatikan, ada yang aneh pada Lisa. Tangan Lisa


terlihat keriput. Seperti tangan nenek-nenek. Ari bertambah tegang, karena kini


wajah Lisa yang sedang menatapnya mulai terlihat keriput. Dan suara bel sekolah


mengagetkan Ari. Ari terbangun. Dia terduduk di ranjangnya. Nafasnya memburu.


Bulir-bulir keringat penuh di wajahnya. Cepat Ari menoleh ke Lisa. Anak itu terlihat


sedang terbaring pulas. Ternyata tadi Ari bermimpi. Ari kini benar-benar ingin


membangunkan Lisa.


“Lisa…” suara Ari keras tertahan.


Lalu mata Lisa pelan terbuka. Dia menoleh pelan ke arah Ari.


Lisa memandangi Ari dengan wajah heran.


“Kok Kak Ari ada di sini?” suara Lisa pelan tapi tenang.


“Lisa kamu nggak apa-apa?” Ari balik tanya.


Tapi sebelum Lisa menjawab, pintu UKS terbuka. Bu Marni


masuk ke ruangan.


“Kalian sudah bangun,” kata Bu Marni sembari membuka tirai


jendela.


“Kamu siapa namanya?” tanya Bu Marni ke Ari.


“Ari Bu,” jawab Ari.


“Kelas Berapa?” Tanya Bu Marni lagi.


“Kelas 11-13 Bu,” jawab Ari.


“O… Kamu yang suka bikin gambar aneh-aneh ya… Kamu boleh


pulang sekarang,” kata Bu Marni.


Ari pun beranjak dari ranjangnya. Lalu Bu Marni mulai


memeriksa Lisa. Sebelum keluar, Ari sempat mendengar Bu Marni menasehati Lisa


untuk segera periksa ke dokter karena ini sudah kejadian yang kedua kali. Ari


sengaja tidak langsung pulang. Dia masih mengkhawatirkan Lisa. Ari menunggu di


tempat sepi tak jauh dari UKS. Dia bisa lihat Lisa keluar dari UKS. Lisa


terlihat baik-baik saja dan tidak ada tanda-tanda habis sakit. Setelah dekat,


Ari pun menghampiri Lisa.


“Lisa…” Ari memanggil Lisa.


“E… Kak Ari. Kok belum pulang?” tanya Lisa. Senyumnya


tersungging. Sepertinya dia senang bisa melihat Ari lagi.


“Kamu nggak apa-apa kan?” Tanya Ari memastikan.


“Nggak apa-apa kok Kak,” jawab Lisa.


Ari memang melihat, dari wajah dan badan Lisa tidak terlihat


sama sekali tanda-tanda dia habis sakit atau pingsan.


“Kamu mau pulang?” tanya Ari.


“Nanggung Kak, hari ini ada ekstrakurikuler band, aku ikut


audisi untuk vokalisnya,” kata Lisa.


“O… Gitu ya,” kata Ari manggut-manggut.


“Iya, aku udah bawa bekal. Takut telat kalau pulang dulu


Kak,” kata Lisa.


kantin. Saat berjalan di halaman sekolah yang sudah sepi, Ari masih memikirkan


Lisa. Di UKS tadi, Ari memang tidak melihat apa-apa. Tapi mimpi yang menyeramkan


tentang Lisa masih menghantui pikirannya. Lalu Ari menghentikan langkahnya


sejenak. Karena barusan dia mendengar seperti ada suara anak kecil. Seperti


anak kecil yang sedang tertawa-tertawa kecil. Dan perasaan Ari mulai tidak


enak. Ari mulai melihat sekitar. Dan benar saja. Ari melihat anak perempuan


yang sedang berlarian di taman. Anak yang tangannya hitam. Lalu anak itu


berlari menuju lorong kelas. Ari penasaran. Dia berlari menuju kemana tadi anak


itu pergi. Ari menyusuri lorong-lorong kelas yang sudah sepi. Sampai di


persimpangan lorong Ari berhenti. Dia tidak melihat anak kecil itu lagi. Sampai


dia dengar lagi suara tertawa anak itu. Dia ada di lorong sebelah kiri, berlari


menjauhi Ari. Ari pun mengejarnya. Sampai di depan ruang ekstrakurikuler


karawitan, Ari melihat anak itu menghilang di depan pintu. Ari pun sudah di


depan pintu. Tapi pintu itu masih dikunci. Di ujung lorong terlihat pak guru pembina


ekstrakurikuler karawitan sedang berjalan ke arah Ari sambil membawa kunci.


“Ada apa ya? Kamu ikut karawitan?” tanya pak guru itu. Dia tadi


sempat melihat Ari bengong berdiri di depan pintu.


“Nggak apa-apa Pak,” jawab Ari sembari cepat-cepat pergi


dari situ.


“Dasar anak aneh,” pak guru itu sempat berguman.


Ari balik lagi berjalan di lorong menuju ke arah gerbang.


Tapi tiba-tiba perasaan tidak enak itu muncul lagi. Ari pun berusaha mengamati


sekitar. Dia berusaha menajamkan pendengarannya, barangkali dia akan mendengar


tawa anak kecil itu lagi. Dan di lorong seberang, Ari melihat sesuatu. Tapi dia


tidak melihat anak kecil. Dia melihat sosok perempuan. Kulitnya pucat,


rambutnya pirang, memakai gaun ala jaman Belanda dan membawa payung. Yang bikin


Ari bergidik, di sepanjang lorong, perempuan itu berjalan mundur. Jantung Ari berdegup


kencang. Tapi dia teringat Lisa. Walau masih ragu, Ari tetap melangkahkan


kakinya menyusuri lorong yang tadi dilewati perempuan berambut pirang. Tapi di


lorong itu Ari tidak melihat perempuan itu. Lama Ari bolak-balik di lorong itu,


tapi dia tetap tidak melihatnya lagi. Lalu ada suara memanggil Ari. Ari tahu


itu suara Tata.


“Ari… Kamu belum pulang?” tanya Tata sembari berjalan


mendekati Ari.


Ari agak gugup melihat Tata datang. Tata bersama Astri di


sebelahnya.


“Kamu ada ekskul Ta?” Ari balik tanya.


“Iya, hari ini kan kita ada ekskul KIR,” jawab Tata,” Kamu


ada ekskul?”


“Enggak… Enggak ada,” jawab Ari gugup.


“Kok belum pulang?” tanya Tata polos. Sebenarnya Tata senang


bisa bertemu Ari siang ini. Tapi melihat wajah Ari yang terlihat cemas, membuat


Tata bertanya-tanya.

__ADS_1


“Ada sesuatu ya Ri?” tanya Tata. Kali ini suaranya pelan


tapi serius.


Ari masih bingung menjelaskan ke Tata. Dia tidak mungkin


serta merta bercerita tentang Lisa ke Tata. Tapi di depan Tata, dia tidak bisa


bohong.


“Iya, ada sesuatu Ta,” jawab Ari. Suaranya patah-patah,” Kamu


pakai kalung itu kan Ta?” tanya Ari.


“Iya, aku pakai,” kata Tata sambil memegang bandul kalung


yang melingkar di lehernya.


Lalu perasaan itu datang lagi ke Ari. Ari berusaha mengamati


sekitar. Kekhawatirannya bertambah karena di situ ada Tata. Sesaat Ari tidak


melihat apa-apa. Tapi begitu Ari melihat agak ke atas, dia melihat perempuan


itu. Perempuan berambut pirang itu sedang berjalan mundur di lorong lantai 2.


Dan Ari tahu, di ujung lorong lantai 2 itu ada ruang ekstrakurikuler band, yang


Lisa sedang ikut audisi di sana.


“Ta, ingat ya! Jangan pernah lepas kalung kamu ya!” kata Ari


ke Tata.


“Iya! Ada apa sih Ri?”Tata jadi ikut cemas.


“Nanti kapan-kapan aku jelasin,” kata Ari sembari berlari


meninggalkan Tata.


Tata hanya bisa memandangi Ari yang sudah berlari menyusuri


lorong kelas. Dan Astri yang dari tadi di sebelah Tata, jadi ikut cemas. Sementara


Ari sudah menaiki tangga menuju lantai 2. Ari pun mempercepat larinya di lorong


lantai 2. Saat Ari sudah dekat dengan ruang ekstrakuriluler band, dia melihat


beberapa murid berhamburan keluar dari ruang ekstrakurikuler. Beberapa murid


perempuan ada yang berteriak-teriak. Ari bertanya pada murid laki-laki yang


lewat di depannya.


“Ada apa?” tanya Ari.


“Tadi mick-nya bunyi sendiri,” kata anak itu dengan suara


ketakutan.


“Maksudnya?” tanya Ari lagi.


“Iya, ada yang nyanyi tapi nggak ada orangnya,” kata anak


itu sembari berlari meninggalkan Ari.


Ari pun memperhatikan sisa murid yang meninggalkan lorong


lantai 2. Tapi Ari tidak melihat Lisa. Ari langsung berlari masuk ruang


ekstrakurikuler. Di dalam Ari melihat Lisa sendirian. Dia sedang berdiri di


atas panggung di depan mick.


“Lisa kamu nggak apa-apa?” tanya Ari sembari mendekat ke


panggung.


Sejenak Lisa memandangi Ari,” Aku nggak apa-apa,” kata Lisa


pelan.


“Katanya mick-nya bunyi sendiri?” tanya Ari.


Lisa hanya mengangguk dan melirik mick yang ada di sebelahnya.


Ari memang melihat di sebelah Lisa ada mick satu lagi. Tapi dia tidak melihat


sesuatu di sana. Lalu Ari memperhatikan sekeliling. Tapi tetap Ari tidak


melihat sesuatu. Dia tidak melihat perempuan berambut pirang itu lagi.


“Lisa, ayo kita pergi dari sini,” seru Ari ke Lisa.


Mereka berdua pun keluar dari situ. Saat sudah menuruni


tangga, Ari melihat murid-murid yang ikut ekstrakurikuler band masih berkumpul


di dekat tangga. Guru Pembina ekstrakurikuler band yang baru datang mencoba


menenangkan mereka. Ari sempat mendengar beberapa pembicaraan mereka. Ada yang


bilang dengar suara perempuan melengking. Ada yang bilang dengar lagu seriosa.


Ada yang bilang dengar lagu berbahasa Belanda. Lalu Ari melihat ke Lisa. Bagi


dia yang penting Lisa tidak kenapa-kenapa. Sebelum Ari dan Lisa sempat bicara,


di ujung lorong lain ada kehebohan segerombolan murid. Beberapa murid


perempuannya ada yang berteriak-teriak. Ari tahu itu murid-murid yang ikut


ekstrakurikuler karawitan. Dan di sana ada Wira. Wira memang ikut ekstrakrikuler


karawitan. Wira terlihat cemas. Tapi begitu melihat Ari, Wira langsung berlari


menghampiri Ari.


“Ri lo masih di sini?” tanya Wira.


“Iya, emang ada apa Wir, di sana,” tanya Ari penasaran.


Lalu Wira mengajak Ari ke tempat sepi. Ari pun berpamitan


dengan Lisa. Di dekat parkir motor, Ari dan Wira mulai bicara.


“Ri gue tadi lihat anak kecil yang tangannya item itu,” kata


Wira.


“Iya gue juga lihat di taman, terus dia lari ke lorong,”


kata Ari.


“Nah, dia tadi itu main-mainin gong di ruang karawitan,”


kata Wira.


“Maksud lo?” tanya Ari.


“Iya, gue lihat dia mukul-mukulin gong pakai tangannya,”


jawab Wira,” Yang lain kan pada ketakutan, soalnya gongnya bunyi sendiri.”


“Kalau gue tadi lihat perempuan rambutnya pirang, pakai baju


Belanda, pakai payung, terus jalannya mundur” kata Ari.


“Wah, baru lagi tuh Ri,” kata Wira.


“Iya, terus dia masuk ke ruang ekskul band,” kata Ari,”


Katanya di sana mick-nya bunyi sendiri, ada yang bilang denger orang nyanyi


tapi nggak ada orangnya.”


“Tuh wujudnya kayak noni-noni Belanda gitu Ri?” tanya Wira.


“Iya,” jawab Ari.


Lalu Ari mengeluarkan buku dan pensilnya. Dia mulai


menggambar Noni Belanda, memakai baju jaman Belanda dan membawa payung. Dia


ingin tunjukkan ke Wira. Juga ke Toha dan Nara besok. Setelah jadi, Wira lama


mengamati gambar Ari.



“Ini berarti hantu yang ke empat,” desis Wira,” Emang dia


ini jalannya mundur ya Ri,” tanya Wira sembari masih mengamati gambar Ari.


“Iya, dia jalannya mundur,” jawab Ari,” Tapi dia begitu

__ADS_1


karena memang posisi kepalanya terbalik ke belakang.”


__ADS_2