Komplotan Tidak Takut Hantu

Komplotan Tidak Takut Hantu
Bab 65 : Hantu Bongkok Berwajah Tengkorak


__ADS_3

Hari ini, saat jam istirahat pertama, seperti biasanya, Ari dan Tata bertemu di tempat rahasia mereka. Ari bercerita ke Tata tentang rekaman CCTV yang dia lihat kemarin siang di laptop Wira.


“Kayaknya, masalahnya jadi serius ya Ri…” kata Tata.


“Iya Ta,” Ari memandangi kalung perak yang masih melingkar di leher Tata,” Jangan pernah lepas kalung kamu ya Ta…”


“Iya Ri…” kata Tata sembari memegangi bandul kalungnya yang berbentuk kapsul.


“Lorong sekolah kita masih bermasalah…” Ari berguman.


“Tapi kan udah ada orang padepokan waktu itu Ri…” kata Tata.


“Inget nggak Ta, waktu kejadian di lab komputer…?”


“Iya Ri… Mereka masuk ke sekolah kita, manfaatin anak-anak yang pingsan…”


“Ta, kalau aku pikir-pikir… Semua gara-gara hantu bayangan tinggi itu… Waktu itu, Pak Hud bilang dia nggak keambil sama orang padepokan… Dia bisa menyaru jadi siapa aja… Dan kalau dia nyaru orang… Kakinya nggak kelihatan…”


“Dan dia sekarang menyaru Pak Suman…?” tanya Tata.


“Iya Ta… Aku pikir gitu.”


“Jadi, dia bisa masukin hantu lain ke sini lagi dong…?” tanya Tata lagi.


“Iya… Kayak hantu yang jalannya kayang itu Ta…”


Beberapa saat, Ari dan Tata saling pandang.


“Tapi Ri… Aku pikir… Misalnya nanti ada masalah… Biar orang padepokan yang atasin. Kamu nggak usah ikutan Ri. Terus kamu nggak usah cerita sama Toha, sama Nara, sama Wira…”


“Iya Ta… Aku juga pengennya gitu. Aku cuma khawatir, kalau ada apa-apa terjadi sama kamu.”


Tata menatap Ari dalam-dalam. Lalu dia pegang tangan Ari. Dia tahu, apapun yang terjadi, Ari akan selalu melindunginya.


“Hantu Belinda itu nggak datang lagi kan Ri?”


“Tadi malam sih nggak datang Ta…”


“Aku harap dia nggak nyamperin kamu lagi,” kata Tata


“Katanya aku disuruh nanya sama dia?” Tanya Ari


“Nggak ah… Nggak jadi… Aku nggak mau dia datang lagi ke kamu,” kata Tata dengan muka dibikin cemberut.


“Iya Ta… Mudah-mudahan dia nggak datang lagi,” kata Ari serius.


Tiba-tiba Ari berdiri dan menatap ke arah pintu yang terhubung ke toilet. Lalu Ari cepat-cepat membuang mukanya. Hanya matanya yang masih melirik ke arah sana. Karena di sana, Ari melihat sosok bongkok memakai tongkat dengan muka tengkorak yang menembus pintu. Dia berjalan tertatih ke arah depan rumah pak Min. Tata yang dari tadi melihat Ari, jadi tegang.


“Ada apa Ri?” Tanya Tata setengah berbisik.


Ari masih diam. Dia masih memperhatikan sosok bongkok dengan muka tengkorak tadi. Karena ternyata sosok itu masih terlihat olehnya. Sosok itu berhenti dan duduk di pojokan, di samping rumah Pak Min.


“Ri, ada apa?” Tanya Tata tidak sabar.


Ari memandang Tata sebentar dan sekilas dia lihat kalung Tata.


“Ta, kita musti pergi dari sini deh,” kata Ari sembari melirik ke arah samping rumah Pak Min.


“Ada apa sih Ri?” Tata tambah penasaran.

__ADS_1


“Ntar malam aku gambar ya,” kata Ari dengan muka tegang, “Sekarang kamu balik ke kelas aja. Kemana-mana jangan sendirian ya.”


“Iya Ri…” Tata cepat-cepat beranjak, karena dia lihat muka Ari semakin tegang.


Ari pun mengantar Tata sampai ke pintu. Ari tahu, sosok itu masih di pojokan sana. Ari wanti-wanti ke Tata untuk langsung ke kelas. Kekhawatiran Ari begitu besar saat ini, bukan karena hantu bongkok bermuka tengkorak yang duduk di pojokan saja, Ari merasakan ada sesuatu yang lain selain hantu itu. Ari pun keluar dari rumah Pak Min dari sisi lain. Dia tidak mau berpapasan dengan sosok bongkok bermuka tengkorak tadi. Tapi begitu Ari ada di depan rumah Pak Min, tiba-tiba di depannya lewat sosok hitam besar berbulu. Ari tidak begitu memperhatikan lagi sosok itu, karena dia sudah mengambil langkah cepat-cepat untuk segera kembali ke kelasnya. Saat berjalan di lorong kelas, Ari berpapasan dengan murid-murid lain. Tapi Ari bisa merasakan sesuatu di sana. Di antara rombongan murid yang berpapasan dengannya, sekilas Ari melihat perempuan berbaju suster yang ikut berjalan bersama mereka. Ari sempat melihat ke wajah suster itu. Dia bisa melihat darah keluar mengalir dari matanya. Ari pun berusaha mempercepat langkahnya.


Sampai di kelas, Ari berpapasan dengan Toha. Ari melihat wajah Toha juga tegang. Sesaat mereka saling pandang. Tapi sesuatu tak bisa terucap dari mulut mereka. Begitu duduk di bangkunya, Ari sempat menoleh ke Nara dan Wira. Sama seperti Toha. Ari melihat wajah Nara dan Wira begitu tegang. Dan Nara sudah memakai tudung jaketnya. Ketika pelajaran berlangsung, perasaan Ari semakin tidak enak. Dan dari jendela kelas, terlihat lorong yang lengang. Tak berapa lama, Ari melihat ada perempuan lewat di sana. Dia memakai baju suster. Sekilas Ari lihat ada darah keluar dari matanya. Ari pun melirik ke Toha. Lalu Nara dan juga Wira. Wajah mereka tegang dan terlihat tidak konsentrasi pada pelajaran yang sedang diajarkan pak guru di depan. Ari tahu, mereka juga melihat hal yang sama di lorong kelas. Dan sebelumnya, mungkin mereka juga sudah melihat sesuatu. Masalahnya saat ini, Toha, Nara dan Wira sedang tidak saling bicara. Dan mereka tahu, Ari enggan membicarakan hal-hal seperti itu lagi. Walau sebenarnya, secara rahasia, Ari masih bicara dengan Tata. Sampai bel pulang berbunyi, di antara murid-murid yang keluar kelas, Ari, Toha, Nara dan Wira sempat saling pandang. Tapi hanya sebentar. Ada sesuatu


yang semestinya mereka bicarakan seperti sebelum-sebelumnya. Tapi kini, seperti ada jarak yang memisahkan mereka. Mereka hanya saling diam dan berjalan pulang dengan arah masing-masing.


Malamnya, saat belajar, Ari tidak bisa konsentrasi. Walau Ari sudah berniat tidak menggubrisnya lagi tapi tetap apa-apa yang dilihatnya hari ini, selalu ada dalam pikirannya. Apalagi kalau dia sudah memikirkan keselamatan Tata. Dan Ari sudah tidak sabar untuk menggambar sesuatu buat Tata. Hingga Ari memutuskan untuk tidak meneruskan belajarnya. Dia ambil kertas gambar dan pensilnya. Dia mulai menggambar sosok yang berjalan bongkok dengan menggunakan tongkat. Wajahnya tengkorak dengan rambut panjang yang jarang dan awut-awutan. Lalu dia kirimkan gambar itu ke  Tata dengan pesan : Aku akan selalu ada untukmu.



Tak berapa lama Ari meletakkan ponselnya, dia mencium bau itu lagi. Dua hari tidak muncul, kini bau melati tercium lagi. Dan Ari tahu, dia di sana, duduk di atas ranjangnya. Ari berusaha mengumpulkan keberaniannya.


“Belinda…” Ari berhasil mengeluarkan suaranya walau terdengar parau.


Tapi tidak ada jawaban dari arah ranjang. Pelan Ari mengarahkan posisi duduknya ke arah sana. Dan Ari melihat sosok remaja berkulit pucat dan berambut pirang itu ada di sana. Dia memakai baju balet, duduk dengan rapi di pinggir ranjang. Matanya yang biru dan merah tajam menatap Ari. Bibirnya yang mungil mulai tersenyum kecil.


“Aku suka melihat orang yang sedang menggambar…” Belinda bersuara.


Ari jadi berpikir, Belinda sudah ada di sana sejak dia mulai menggambar.


“Kamu udah lama tinggal di Gedung Alun-alun…?” Ari mencoba menanyakan sesuatu.


“Dulu aku tinggal di bawah waktu banyak orang berambut pirang,” kata Belinda, “Waktu orang bermata sipit datang, aku pindah ke atas. Sekarang aku suka di atas. Soalnya di bawah berisik.”


“Berisik?” Tanya Ari,”Emang kenapa berisik?”


“Sekarang banyak yang datang dari pelabuhan,” kata Belinda.


“Lewat lorong bawah tanah?” tanya Ari.


“Jalan Raya?” Ari masih bingung, “Jalan raya itu sampai ke rumah sakit?” Ari mencoba memancing dengan pertanyaan.


“Iya,” jawab Belinda sambil mengangguk.


Ari menduga, mungkin yang dimaksud Belinda, jalan raya adalah lorong bawah tanah yang menghubungkan pelabuhan, Gedung Alun-alun dan sekolah Ari.


“Sudah ada yang masuk ke rumah sakit…” kata Belinda datar.


Ari memandang muka pucat Belinda. Pasti yang dimaksud Belinda dengan rumah sakit adalah sekolahnya.


“Bagaimana mereka bisa masuk ke sekolah… Emm… Maksudku ke rumah sakit?” tanya Ari terbata-bata.


“Ada yang anterin mereka di rumah sakit…” Jawab Belinda.


“Siapa?” tanya Ari penuh kekhawatiran.


“Ngga tahu… Mereka bilang  begitu,” jawab Belinda sekenanya.


“Mereka siapa?” Ari makin khawatir.


“Iya mereka… Mereka yang ingin masuk ke rumah sakit,” jawab Belinda polos.


“Mereka itu juga mencari Tata?” tanya Ari.


“Tata?”

__ADS_1


“Iya… Temen aku…”


“Pacar kamu?”


“Iya… Pacar aku…”


“Pacar kamu suka banget sama bunga yang kamu kasih…”


“Iya, dia suka bunga…”


“Aku juga suka bunga…”


“Jadi ada yang cari Tata nggak?”


“Di sini enak kalau lagi hujan…” kata Belinda.


Ari pun melirik jendela kamarnya. Kaca jendelanya terlihat basah dengan tetesan hujan dan petir tampak menyambar-nyambar di langit.


“Boleh aku tinggal di sini malam ini?” tanya Belinda.


“Belinda… Please… Ada yang cari Tata nggak?” tanya Ari dengan muka memohon.


Belinda menatap Ari sambil tersenyum kecil.


“Jadi… Boleh nggak aku tinggal di sini malam ini?”


“Mmm… Iya… Boleh…” kata Ari pasrah.


Belinda makin dalam menatap Ari. Kini senyumnya lebar.


“Jadi… Ada yang cari Tata nggak?” Ari memberanikan bertanya lagi.


Senyum belinda makin lebar. Lalu dia menatap jendela, seolah sedang menikmati kucuran hujan yang terlihat di sana.


“Banyak yang cari pacar kamu…” kata Belinda datar sembari masih memandang ke jendela.


Ari pun menelan ludahnya. Kekhawatirannya makin menjadi.


“Tapi yang bisa masuk rumah sakit cuma satu…” kata Belinda lagi.


“Kayak gimana bentuknya?” tanya Ari tidak sabar,” Dia bongkok, wajahnya tengkorak?”


Belinda hanya diam. Wajahnya seperti memikirkan sesuatu.


“Dia besar berbulu… Atau pakai baju suster, terus matanya keluar darah? Tanya Ari lagi.


“Dia matanya satu,” kata Belinda.


“Terus…” tanya Ari yang merasa tidak cukup dengan jawaban Belinda.


“Giginya panjang,” kata Belinda.


“Terus…” Ari masih bertanya.


“Aku mau main dulu ah…” kata Belinda,” Ntar aku balik lagi ya…”


Lalu Belinda beranjak dari tempat tidur Ari. Dan seperti anak kecil yang kegirangan ingin main hujan-hujanan, Belinda berjingkat-jingkat menuju jendela. Lalu dia menghilang di sana. Menembus kaca jendela yang sudah penuh dengan kucuran hujan.


Ari masih memandangi jendelanya. Bukan Belinda yang dia pikirkan, tapi Tata. Dia masih berharap, apa yang dikatakan Belinda tidak benar. Dan dia masih ragu, apakah dia harus menceritakannya ke Tata. Dia tidak ingin Tata jadi khawatir. Bunyi hujan masih terdengar jelas di luar sana. Dan kantuk Ari mulai datang. Ari pun rebah di kasurnya. Lalu ada pesan masuk dari Tata di ponselnya. Di antara kantuk, Ari masih membaca pesan Tata : Aku selalu tahu, kamu pasti akan ada di sana untukku. Selamat tidur Ari.

__ADS_1


“Selamat tidur Ari,” Tiba-tiba suara Belinda terdengar dari atas Ari.


Mata Ari terbuka lebar. Kantuknya seketika hilang. Karena dia lihat, Belinda sedang membujur menghadap ke arahnya, menempel di langit-langit tepat di atasnya. Senyum kecilnya masih di sana. Lama-lama mata Belinda terkatup. Dan Ari tidak bisa tidak untuk memandangi Belinda di atasnya. Wajah pucat Belinda kini terlihat tenang seperti sedang tertidur. Dan Ari tampaknya tidak akan bisa tidur malam ini.


__ADS_2