Komplotan Tidak Takut Hantu

Komplotan Tidak Takut Hantu
Bab 36 : Insiden di Aula Sekolah


__ADS_3

Sosok yang menggantung terbalik di langit-langit aula itu


menatap Ari dan Wira. Walau seluruh matanya putih, Ari bisa merasakan


tatapannya yang menghuncam. Tapi lama-lama Ari sadar, sosok itu lebih menatap ke


arah Wira. Dan Wira sudah tidak di sebelah Ari. Saat Ari tengok ke belakang,


Wira berada tak jauh dari Ari beberapa langkah. Tapi dia tidak sedang berdiri.


Posisinya tubuhnya merangkak seperti binatang berkaki empat. Ari melihat tubuh


Wira kaku, terutama tangan dan jari-jarinya. Dan tatapan matanya seperti bukan


Wira yang Ari kenal. Tatapannya tajam mengarah ke sosok yang menggantung di


atas. Sesekali dari mulut Wira keluar geraman seperti binatang buas. Ari jadi


semakin ngeri melihat apa yang terjadi dengan temannya. Dan geraman dari mulut


Wira semakin keras terdengar oleh Ari. Lalu ada bayangan hitam besar melesat


dari tubuh Wira ke arah sosok di langit-langit. Ari mendengar suara benturan


keras yang memekak. Lalu lampu di aula padam. Lalu nyala. Kemudian padam lagi.


Begitu seterusnya seperti listrik di aula tidak kuat untuk menyalakan lampu.


Dan di situasi lampu aula yang nyala padam Ari masih bisa melihat tak jauh dari


tempatnya berdiri, dua mahluk yang saling menyerang bergulingan di lantai aula.


Ari melihat sosok bersayap dan satu lagi mahluk berkaki empat seperti macan


berbulu hitam saling tindih dan saling gigit. Di kegaduhan yang ada di


depannya, Ari sempat melihat ke arah ruang penyimpanan matras. Nara sudah tidak


ada di depan pintu ruang itu lagi. Ari semakin cemas. Di depannya mahluk macan sudah


menguasai sosok bersayap. Tapi sepertinya sosok bersayap berhasil mengelak dan


mengepakkan sayapnya melesat masuk ke ruang penyimpanan matras. Mahluk seperti


macan melompat cepat, melesat masuk ke ruang itu juga. Tak berapa lama lampu


aula menyala normal kembali. Di belakang, Ari melihat Wira terkapar di lantai


aula. Wira terbatuk-batuk dan memegangi dadanya. Ari pun mendatangi Wira.


“Wir, lo nggak apa-apa?” tanya Ari cemas.


“Enggak… Enggak apa-apa,” jawab Wira di sela batuknya.


“Tadi gue lihat macan…” kata Ari.


“Iya… Itu cincin yang dikasih kakekku…” kata Wira. Susah


payah dia berusaha untuk duduk. Ari pun membantunya.


Ri… Tolongin Nara… Dia ada di ruang matras…” kata Wira


sambil menunjuk ruangan penyimpanan matras.


Ari langsung berlari menuju ruang penyimpanan matras. Pintunya


sudah terbuka. Dalamnya tampak gelap karena lampu belum dinyalakan. Ari


menyalakan saklar di dekat pintu. Lampu pun menyala. Dan Ari bisa melihat di


dalam ruangan, lantainya sudah runtuh ke bawah. Ada lubang besar di seluruh


ruang itu. Bongkahan-bongkahan lantai yang runtuh bertumpukan di bawah. Dan di


atas bongkahan-bongkahan itu Ari melihat Nara tergeletak tak sadarkan diri. Ari


langsung melompat ke bawah dan memeriksa keadaan Nara. Ari masih bisa merasakan

__ADS_1


nafas Nara. Tapi Nara tidak bisa dibangunkan. Sekilas Ari melihat ke samping.


Di sana ada lorong panjang yang gelap yang terhubung dengan ruang dimana Ari


berada. Ari melihat lorong itu seperti tidak berujung. Dia merasakan sesuatu di


balik kegelapan jauh di sana. Cepat-cepat Ari berusaha mengangkat Nara. Tapi


tubuh Nara terlalu berat untuk diangkat ke atas. Ari pun berteriak memanggil


Wira meminta bantuan.


“Wir, tolongin, angkat Nara dari sini!” teriak Nara.


Wira pun datang dengan langkah sedikit terseok.


“Nara!” teriak Wira begitu melihat kondisi Nara. Dia


langsung melompat ke bawah dan membantu Ari mengangkat tubuh Nara.


Mereka berdua pun berhasil mengangkat Nara dan


membaringkannya di lantai aula. Sementara Wira berusaha menyadarkan Nara, Ari


merasakan ada sesuatu di ruang penyimpanan matras. Ari membalikkan badan dan


melihat ruangan yang lampunya masih menyala itu. Perasaan ari semakin kuat.


Sesuatu itu berasal dari lorong panjang di bawah sana. Tiba-tiba dari ruang


penyimpanan matras muncul bayangan hitam melesat ke badan Wira. Wira pun


seperti terdorong ke belakang. Dia jatuh telentang di lantai.


“Wir, lo nggak apa-apa?” Ari langsung mendatangi Wira.


“Tahu nih… Badan gue sesek,” kata Wira memegangi dadanya,”Yang


ada di cincin gue… Barusan dia balik...”


Ari kini yang bingung. Nara belum sadar. Wira kini terkapar.


terbelalak menatap sudut aula. Ari pun berbalik. Dan di sana, di ruang


penyimpanan matras, banyak bayangan hitam muncul. Semakin lama, bayangan itu


semakin banyak keluar dari ruang itu. Ari pun mundur sejengkal, karena


lama-lama Ari bisa melihat jelas wujud mereka. Mereka sosok-sosok berbadan


besar, hitam dan berbulu. Di antara mereka ada yang bertanduk, ada yang


bertaring panjang. Mereka bersamaan bergerak mendekat ke Ari. Saking takutnya,


langkah Ari tidak terkontrol. Dia pun terjengkang ke belakang. Satu sosok hitam


mendekat ke Ari yang sudah terkapar di lantai. Sosok itu mulai menindih badan


Ari. Wajahnya sudah dekat dengan Ari. Matanya merah, nanar menatap Ari.


“Jangan ganggu raja kami!” sosok itu bersuara.


Suara berat itu menggema di pendengaran Ari. Dan Ari sudah


tidak bisa apa-apa lagi. Badannya serasa tertimpa beban yang sangat berat. Di


saat kritis itu Ari masih memikirkan Wira, terutama Nara. Dia tidak tahu


bagaimana nasib mereka. Tiba-tiba sosok yang menindihnya mengeluarkan suara


melengking. Matanya melebar jadi hitam dan badannya mulai menyusut. Lalu dia melayang


seperti terbawa angin. Ari pun bisa leluasa bernafas lagi. Lalu banyak suara


lengkingan yang lain saling susul menyusul. Ari melihat sosok-sosok hitam lain


juga melayang seperti terbawa angin. Dengan pandangan yang masih berkunang, Ari

__ADS_1


berusaha memandang ke arah pintu aula. Di sana sudah ada beberapa orang berbaju


putih. Mereka sedang melakukan gerakan-gerakan seperti menarik sesuatu. Dan Ari


lihat Pak Min ada di antara mereka. Lalu Ari melihat Nara. Seorang berbaju


putih sedang memeriksa Nara. Sepertinya Nara sudah siuman. Dan Ari melihat


Wira, di sana seorang berbaju putih juga sedang memeriksa Wira. Orang berbaju


putih itu mengambil cincin yang ada di jari Wira. Beberapa orang berbaju putih


lainnya sudah mulai masuk ke ruang penyimpanan matras. Susah payah Ari berusaha


untuk bangun.


“Siapa yang namanya Ari?” seorang berbaju putih dengan jenggotnya


yang panjang mendekat.


“Saya Pak…” jawab Ari spontan dengan suara masih lemah.


“Kamu muridnya Pak Riza?” tanya orang berbaju putih itu


sembari mengamati Ari.


“Iya Pak, Pak Riza wali kelas sama guru agama kami,” jawab


Ari.


Orang baju putih itu masih mengamati Ari.


“Guru kamu tadi telpon ke kita,” kata orang berbaju putih,”Waktu


telpon, dia masih di rumah sakit. Siang tadi dia diganggu sama mahluk yang


keluar dari lorong itu. Dia cerita semua di telpon. Apapun yang kamu lihat, apapun


yang kamu alami, nggak usah cerita-cerita. Lorong itu sudah diamankan.”


Lalu ada orang berbaju putih yang lebih muda mendatangi Ari.


“Bilang sama temen kamu, nggak sembarang orang bisa pakai


ginian” kata orang itu sambil menunjukkan cincin Wira.”Ini bukan barang


mainan,” lalu dia menyerahkan cincin itu ke Ari.


“Kamu ajak temen kamu pulang sekarang,” kata orang berbaju


putih yang berjenggot.


Lalu Ari pun meminta diri. Sementara beberapa orang berbaju


putih masih sibuk di ruang penyimpanan matras. Wira menuntun Nara berjalan


keluar halaman sekolah. Nara masih sangat lemah. Beberapa kali dia harus


berpegangan erat ke badan Wira saat mau jatuh. Rencananya Wira akan bawa mobil


Nara dan mengantar Nara ke rumahnya. Ari akan bawa vespa Wira mengikuti di


belakang. Tapi ternyata Nara minta Ari dan Wira menginap di rumahnya malam ini.


Tidak ada siapa-siapa di rumah Nara kecuali pembantu. Dan Nara masih trauma


karena kejadian malam ini. Ari dan Wira tidak keberatan. Mereka berdua rencana


akan pulang pagi-pagi. Dan Wira bilang, malam ini dia dan Ari tidak akan tidur.


Mereka akan jagain Nara sampai pagi. Sebelum berangkat, Ari menghunbungi Toha


dulu. Dia bilang ke Toha Nara baik-baik saja, besok dia akan ceritakan semuanya


di sekolah. Lalu mobil Nara meninggalkan trotoar depan sekolah. Dan Ari


menyusul di belakang dengan vespa Wira, meninggalkan jalanan yang sudah

__ADS_1


lengang.


__ADS_2