Komplotan Tidak Takut Hantu

Komplotan Tidak Takut Hantu
Bab 26 : Tragedi di Kolam Renang


__ADS_3

Keesokan harinya, sebelum masuk kelas, Ari mengungkapkan


rencananya ke Toha, Wira dan Nara di taman. Besok sore mereka harus melakukan


sesuatu di kolam renang demi Tata.


“Sori ya Ri, bukannya gue nggak peduli. Tapi gue kok jadi


ngerasa aneh,” Nara menyela. “Gue inget sampai gimana waktu itu lo mati-matian selametin


Tata. Inget nggak lo sampai dicekik si kaki kuda? Lo tahu, sekarang Tata


pacaran sama Jodi. Terus lo masih bela-belain Tata. Kayaknya rencana lo nggak


masuk di logika gue deh.”


Sejenak Ari memandangi Tata. Dia tak menyangka Nara akan


berkata begitu. Begitu Juga Toha dan Wira. Tapi Toha dan Wira berpikir


perkataan Nara ada benarnya juga.


“Tapi ini nggak ada urusannya sama Jodi Ra,” Ari menanggapi.


“Ini demi keselamatan Tata.”


“Iya gue Tahu,” sahut Nara. “Sekarang Tata kan sudah punya


pacar yang gagah dan keren tuh. Nah biar pacarnya aja yang selametin dia. Kita


tinggal bilang aja sama pacarnya. Kenapa kamu susah-susah. Ntar habis kamu


selametin, besok-besok dia masih enak-enakan pacaran sama Jodi?”


“Tapi kita nggak bisa bilang ke Jodi Ra” jawab Ari. “Nggak


ada yang boleh tahu kalau Tata bisa ngelihat hal-hal kayak gitu.”


“Idih! Sebenarnya lo ngerti ngga sih maksud gue Ri,” Nara


mulai kesal.


“Iya Ra,” jawab Ari. “Tapi please, rencana ini jangan


dihubung-hubungkan sama Jodi,”


“Ih, bener-bener ya ini anak!” lalu dengan muka kesal Nara


beranjak pergi dari taman. “Bener-bener nggak bisa dikasih tahu,” Nara masih


mengomel saat meninggalkan ketiga temannya.


“Nara tunggu!,” Wira setengah berlari menyusul Nara.


Tinggal Ari dan Toha yang masih bengong di taman.


“Ri, lo bener-bener cinta ya sama Tata?” Toha bersuara.


“Gue itu care sama dia Ha,” jawab Ari.


“Tapi kan Tata udah punya pacar?” sahut Toha.


“Dia itu cuma pengen hidup normal Ha,” Ari mencoba


menjelaskan.


“Jadi menurut dia, kita ini nggak normal dong?” tanya Toha.


“Udah ah! Gue jadi pusing,” dengan muka bersungut Ari


meninggalkan taman.


Seharian di kelas, Nara benar-benar tidak bicara dengan Ari.


Dia masih kesal. Toha dan Wira pun terkena imbasnya. Mereka berempat tidak


saling bicara. Tapi Ari tetap akan fokus dengan tekadnya. Dia sudah berjanji


pada dirinya sendiri untuk melindungi Tata. Apapun resikonya. Tak terkecuali


tidak berteman lagi dengan Nara, Toha dan Wira.


Malamnya Ari mengirim gambar hantunya yang di kolam renang


ke Tata. Dia kirim pesan agar Tata tidak khawatir, karena besok dia akan ada di


sana. Dia juga ceritakan, teman-temannya yang juga bisa lihat hantu itu, semua


berhasil melompat. Tak berapa lama, terlihat notifikasi pesan Ari sudah terbaca


Tata. Tata pun menghubungi Ari.


“Halo Ri,” suara Tata lirih di ponsel Ari.


“Halo Ta. Udah lihat gambarku?” jawab Ari.


“Udah. Ih, serem banget sih Ri.”


“Iya. Tapi kamu jangan takut. Pikirin hal lain kalau kamu


mau loncat. Waktu nyebur, jangan lihat ke mukanya.”


“Tapi kamu ntar ada di sana kan?”


“Iya, tenang aja. Aku akan lihatin kamu waktu kamu loncat.”


“Beneran ya.”


“Iya, beneran.”

__ADS_1


“Dia nggak ngapa-ngapain kan?”


“Nggak. Nggak akan kenapa-kenapa,” sebenarnya Ari tidak


yakin akan hal itu. Tapi dia tidak mau membuat Tata khawatir.


“Eh Ri, mamaku ntar lagi ke sini. Besok aku tunggu ya di


kolam renang.”


“Iya. Bye.”


“Bye.”


Besoknya Ari datang ke kolam renang lebih awal. Dia mencari


tempat dekat dengan kolam 5 meter yang tidak terlihat orang. Dia menemukan


tempat di belakang pot besar. Dari sana Ari masih bisa melihat seonggok rambut


di dasar kolam. Tak lama kemudian murid-murid kelas Tata sudah berdatangan. Ari


tahu, Tata ada di antara mereka, sudah memakai baju renang. Dan Ari tahu, dari


tadi Tata sedang mencarinya. Sesekali Tata memutar pandangannya mencarinya


sembari mengobrol dengan dua anak perempuan teman dekat di kelasnya. Ari ingin


sekali memberitahu tahu Tata dia ada di situ. Tapi dia tidak ingin orang lain


tahu. Lalu penilaian berlanjut di kolam 5 meter. Giliran murid laki-laki dulu


yang melompat dari papan pantul. Di bawah deburan air, Ari mulai melihat sosok


perempuan di dasar kolam memperhatikan setiap murid yang terjun ke air. Ari


melihat wajah Tata cemas. Ari tahu, Tata sudah melihat sesuatu di dasar kolam.


Dan Tata belum melihat Ari. Tata semakin sering memutar pandangannya mencari


Ari. Ari pun merasa kasihan, mungkin dikira Tata, Ari tidak datang. Ari menggeser


sedikit posisinya, berharap Tata akan melhatnya. Giliran murid laki-laki sudah


selesai, kini gantian murid perempuan. Anak-anak perempuan pun maju ke dekat


papan pantul. Dan di saat itu Tata melihat Ari di seberang kolam, di belakang


pot besar. Senyumnya langsung merekah. Kecemasannya hilang. Wajahnya kembali


ceria sembari mengobrol dengan dua temannya. Sesekali Tata melirik Ari sambil


senyum-senyum sendiri. Tapi di saat itu dua teman Tata jadi tahu keberadaan


Ari.


“Eh, bukannya itu si penggambar hantu yang di sekolah kita,”


“Iya bener,” kata teman Tata satunya lagi. “Ngapain dia ke


sini?”


“Pasti dia lagi nguntit Tata,” cetus teman Tata.


“Ta, kamu ati-ati Ta,” teman Tata satu lagi cemas memegangi


lengan Tata. “Dia buntutin kamu sampai ke sini.”


“Kita bilang ke pak guru aja,” usul teman Tata.


Lalu mereka berdua mendekati pak guru dan memberitahukan apa


yang terjadi. Pak guru pun melihat Ari yang sembunyi di belakang pot besar.


“Lho itu kan anak yang waktu itu kurang ajar nyebur ke


kolam,” kata pak guru.


Lalu pak guru memanggil Ari.


“Ngapain kamu di sini!” tanya pak guru galak.


“Mau nonton aja Pak,” jawab Ari polos karena dia sudah


terlanjur ketahuan.


“Dia itu psiko Pak, suka mbuntutin Tata,” kata teman Tata ke


pak guru.


“Udah, kamu jangan di sini,”perintah pak guru.


“Saya di hukum saja Pak. Di sini, di pinggir kolam,” kata


Ari ngasal. Yang penting dia tetap di sini sampai Tata melompat dari papan


pantul.


“Aneh-aneh aja kamu!” bentak pak guru,” Oh saya inget, kamu ini


anak yang suka nyebarin tahayul ya! Ayo pergi dari sini! Pulang kamu!”


Lalu pak guru menyeret Ari untuk keluar dari area kolam


renang. Ari pun meronta. Ari masih melihat Tata yang berdiri terpaku menatapnya.


Ari tidak mau sesuatu terjadi pada Tata. Pak guru sampai meminta bantuan dua


penjaga kolam karena Ari berontak seperti orang gila.

__ADS_1


“Tata jangan takut!” teriak Ari ke Tata, “Jangan lihat


mukanya!”


Tata hanya bisa menatap Ari dari jauh. Wajahnya cemas. Tata


seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Dia kehilangan Ari. Dan Ari terus


berteriak. Orang-orang di kolam renang menganggap Ari sudah gila. Sampai Ari


dikeluarkan di halaman kolam renang. Dia sudah membawa ranselnya. Tapi dia cuma


memakai celana renang. Ari segera memakai baju di bawah pohon. Berkali-kali dia


berpikir bagaimana dia bisa masuk lagi. Penjaga itu masih ada di depan pintu.


Ari sampai berpikir andai dia bisa menaiki gedung di depannya dan melompat ke


dalam. Dia cemas sekali dengan nasib Tata di dalam sana. Dia hanya bisa mondar-mandir


di depan halaman. Sementara penjaga masih memperhatikannya dari jauh. Takut


anak gila ini akan masuk lagi. Tak berapa lama terdengar suara ambulan mendekat.


Dan satu mobil ambulan berhenti di halaman. Ari tersentak. Sesuatu pasti telah


terjadi di dalam. Dua Petugas ambulan buru-buru masuk mendorong satu pembaringan.


“Tata!” Ari langsung berlari ke pintu masuk.


Sebelum sampai ke dalam, Ari melihat pembaringan tadi sudah


didorong dua petugas dan beberapa orang menuju keluar. Seorang anak perempuan terbaring


di atasnya. Badannya tertutup selimut.


“Tata!” Ari berlari menghampiri kerumunan orang yang


mendorong pembaringan.


Petugas ambulan menyuruh Ari minggir. Tapi Ari tetap memaksa


menyeruak ke kerumunan. Dia harus tahu kondisi Tata. Tapi Ari terkejut. Yang di


pembaringan itu bukan Tata. Tapi seorang anak perempuan, salah satu murid kelas


Tata juga. Ari menghentikan langkahnya. Dia cuma memandangi anak itu dimasukkan


ke ambulan. Lalu Ari mulai berusaha mencari Tata. Beberapa murid dari kelas


Tata berdatangan menyaksikan temannya diangkut ambulan. Ari melihat dua anak


perempuan teman Tata. Dan Tata ada di sana. Tapi sepertinya Tata baik-baik


saja.


“Tata!” Ari memanggil Tata.


Tata berada di antara kerumunan murid-murid kelasnya. Dia


memberi kode dengan tangannya ke Ari bahwa dia baik-baik saja. Lalu dia memberi


kode nanti dia akan menelpon Ari.


Ari ada di bus menuju pulang, duduk di salah satu bangku


sembari memikirkan kejadian di kolam renang. Dia masih lega, yang dibawa


ambulan tadi bukan Tata. Lalu ponselnya bunyi. Ada panggilan dari Tata. Ini


panggilan yang dia nanti-nanti.


“Halo Ri,” suara Tata agak keras. Sepertinya dia sedang ada


di luar.


“Halo Ta. Kamu di mana?” tanya Ari.


“Aku masih di supermarket. Belanja titipan mama.”


“Kamu ngga apa-apa kan?”


“Nggak apa-apa. Itu tadi Klara yang dibawa ambulan. Dia


nyebur duluan.”


“Kenapa dia Ta?”


“Serem Ri. Perempuan itu narik kaki Klara waktu Klara


nyebur. Jadi Klara nggak bisa berenang ke atas.”


“Emang Klara bisa lihat?”


“Nggak tahu. Kayaknya sih begitu.”


“Terus?”


“Ya gitu. Pak guru berusaha nolongin. Tapi kayaknya Klara


susah diangkat. Perempuan itu narik terus kaki Klara ke bawah. Lalu dibantu


penjaga kolam juga, tapi belum bisa keangkat juga. Trus ada satu lagi penjaga


yang bantuin, baru bisa diangkat. Ih, aku masih shock nih Ri.”


“Ya udah, yang penting kamu nggak apa-apa.”


“Iya. Makasih ya Ri, kamu tadi udah ada di sana.”

__ADS_1


“Tapi aku nggak bisa berbuat apa-apa.”


“Aku tahu, kamu udah berbuat yang terbaik buat aku Ri.”


__ADS_2