
Pagi-pagi di sekolah, Ari langsung menemui Nara di tempat parkir. Ari bilang ke Nara, sementara dia akan fokus belajar dulu buat Ujian Akhir Semester minggu depan.
“Ah, nggak asik lo Ri. Gue udah semangat-semangat, lo nya begitu,” kata Nara dengan muka kecewa.
“Ra, setelah ujian nanti kita lanjutkan lagi investigasi kita, ok?” Ari mencoba membujuk Nara.
“Lo nggak sayang sama papa lo Ri?” tanya Nara ketus.
Ari hanya memandangi Nara. Pertanyaan Nara sudah tidak relevan buat Ari.
“Ok Ri, kalau gitu terserah lo. Gue akan jalan sendiri. Gue masih peduli sama keluarga gue. Sama om ipar gue.” Lalu Nara pergi begitu saja meninggalkan Ari.
Ari membiarkan saja Nara begitu. Dia sudah tahu tabiat Nara. Bagi Ari sekarang, janjinya pada Tata untuk masuk universitas favorit menjadi yang terpenting. Dan selama sisa minggu ini Ari benar-benar fokus belajar. Dan Tata selalu menelpon Ari di tengah Ari sedang belajar. Semangat Ari pun semakin berlipat setelah ditelpon Tata. Selama Ujian Akhir Semester, Ari tidak begitu kesulitan mengerjakannya. Toha dan Wira kadang mengeluh kesulitan setelah
keluar dari ujian. Sedang Nara, seringkali buru-buru meninggalkan kelas dengan wajah bersungut. Kadang Ari ingin bicara ke Nara, tapi sepertinya Nara sedang sengaja menghindarinya. Tapi Ari tidak terlalu khawatir. Sehabis ujian ini dia akan mendatangi Nara. Karena toh buat Ari, urusan kematian bapaknya masih jauh dari jangkauannya.
Hari terakhir ujian telah selesai. Ari yang pertama keluar dari kelasnya. Ari merasa lega karena sudah melewati ujian selama seminggu ini. Di lubuk hatinya, dia begitu berterimakasih pada Tata yang selalu menyemangatinya. Belum pernah selama dia sekolah disini, bisa melewati ujian dengan begitu lancar. Selintas dia berpikir untuk menemui Nara siang ini juga, tapi dia urungkan. Dia ingin ke kuburan bapaknya dulu. Entah kenapa dia merasa perlu mendatangi kuburan bapaknya.
***
Menjelang sore, terpaan angin makin terasa. Bunyi gesekan dahan kering mulai terdengar. Ari ada di depan kuburan bapaknya. Sudah hampir satu jam dia berdiri di sana. Ari sempat mengingat saat bapaknya meminta maaf
sebelum kematiannya. Bapaknya minta maaf karena sebelumnya tidak percaya pada Ari. Dan Ari tidak pernah percaya bapaknya bunuh diri kalau bukan karena ada sesuatu yang mempengaruhinya. Sesuatu yang gambarnya Ari simpan di dalam tasnya. Hantu perempuan dengan lidah menjulur. Lalu Ari melihat seseorang berjalan tak jauh darinya. Perasaan Ari biasa saja, tanda itu benar-benar orang, bukan hantu. Mungkin penjaga kuburan sini, sangka Ari. Tapi orang itu kini sedang mendekatinya. Dan Ari tak menyangka, orang itu sudah ada di hadapannya.
Seseorang kakek dengan baju adat Jawa. Di sebelah matanya ada bekas luka. Ari ingat, dia kakek-kakek yang pernah ada di mimpinya. Belinda bilang dia kakeknya.
“Jangan takut Ari… Saya ini kakekmu,” orang tua itu bicara dengan suara tenang.
Ari masih menatap orang tua di hadapannya.
“Maafkan kakekmu ini. Kakek baru bisa menemui kamu sekarang. Setelah hari dimana kamu lahir, baru sekarang kakek bisa menemui kamu. Tapi memang sudah saatnya kakek harus ketemu kamu.”
Ari belum bisa berkata apa-apa. Ari memang sering mendengar cerita tentang kakeknya dari ibunya. Tapi melihat orang tua itu kini ada di hadapannya, membuat Ari sedikit tidak percaya.
“Iya Ari. Waktu kamu lahir, kakek ada di sana. Memastikan kamu hidup… Kakek tahu, keajaban akan terjadi malam itu… Malam itu, takdir menentukan kamu tetap hidup.”
Ari hanya memandangi kakek-kakek di depannya yang seperti sedang mengingat sesuatu yang telah lalu.
“Kakek mengerti, kalau ibu kamu tidak suka sama kakek… Itu salah kakek… Kakek telah menyia-nyiakan hidupnya. Kakek telah menyakiti nenek kamu dengan mengikuti takdir kakek sendiri… Tapi kakek bersyukur, ibu kamu dapat laki-laki penyayang dan bertanggung jawab. Sampai sesuatu telah terjadi…”
Kakek-kakek di depan Ari wajahnya tertunduk. Ari bisa melihat kesedihan di sana.
__ADS_1
“Maafkan kakek, Ari… Waktu itu kakek tidak bisa turun ke sini… Kakek tidak bisa mencegah kematian bapak kamu…”
Ari pun mulai serius. Karena kakek itu sudah mulai bicara tentang kematian bapaknya.
“Ari tidak percaya papa bunuh diri. Ada sesuatu yang mempengaruhinya…” Ari sudah tidak sabar untuk mengatakan sesuatu.
Kakek Ari memandangi cucunya dalam-dalam.
“Kakek tahu, ada sesuatu di dalam diri kamu. Lebih dari apa yang ada pada kakek. Tapi ingat pesan kakek Ri… Apapun takdir yang harus kamu jalani, jangan pernah kamu sia-siakan orang-orang yang kamu cintai…”
Sepertinya Ari tidak terlalu memperhatikan kata-kata kakeknya barusan. Ari cepat-cepat merogoh tasnya. Dia keluarkan buku coretannya. Di sana ada gambar hantu perempuan lidah menjulur. Dia serahkan ke kakeknya. Kakek Ari memandang gambar Ari. Tapi pandangannya tetap tenang. Kakek Ari malah tersenyum sembari mengembalikan buku Ari.
“Kamu memang anak yang berbakat Ari…” hanya itu yang keluar dari mulut kakek Ari.
“Ari ingin mencari hantu itu…” kata Ari spontan.
Kakek Ari menghela nafas. Wajahnya kini serius memikirkan sesuatu.
“Dulu kakek pernah bertemu hantu semacam itu…” Kakek Ari memulai ceritanya,” Kakek punya sahabat yang meninggal karena hantu ini. Seperti bapak kamu. Hantu ini bukan hantu seperti yang kamu sering lihat. Hantu ini tidak punya ambisi untuk berkuasa… Dia hanya ingin bersekutu…”
“Bersekutu dengan siapa?” tanya Ari tidak sabar.
Kakek Ari menatap cucunya sebentar.
Ari tidak mengerti. Tatapannya tajam ke kakeknya meminta penjelasan.
“Hantu semacam ini hanya ingin mengalahkan manusia…” kata kakek Ari. Suaranya masih pelan,”Dulu kakek pernah terlibat insiden dengan hantu seperti ini… Waktu itu kakek sampai terlempar ke alam yang kakek tidak tahu. Hampir tiga hari kakek tersesat. Kakek hampir mati… Sampai akhirnya kakek berhasil juga keluar ke dunia nyata…”
Ari makin tidak mengerti. Tapi sedikitnya, cerita kakeknya membuat nyalinya menciut.
“Kamu belum siap, Ari…”
“Lalu kapan Ari siapnya, Kek…?”
“Nanti pasti kakek kasih tahu… Kecuali…”
“Kecuali apa, Kek?”
“Dulu, kata guru kakek, untuk menghadapi hantu itu, perlu satu orang lagi. Guru kakek menyuruh kakek mencari seseorang yang sama seperti kakek… Tapi kakek tidak pernah menemukannya… Karena orang itu, kelahirannya harus sama dengan kakek…”
Spontan Ari langsung teringat Tata. Tapi sesuatu begitu besar tiba-tiba mengganjal hatinya. Dia yang selalu berjanji akan melindungi Tata sampai kapan pun, bagaimana mungkin dia akan menghubung-hubungkan Tata untuk sesuatu yang telah diceritakan kakeknya. Sesuatu di luar jangkauannya yang membuat nyalinya ciut. Bahkan untuk cerita tentang Tata pada kakeknya pun sangat tidak mungkin dan tidak bisa dia lakukan.
__ADS_1
“Kamu harus sabar, Ari,” kata kakek Ari dengan suara bijaksana,” Suatu saat, waktumu pasti akan tiba… Untuk sekarang ini, jaga ibu kamu.”
Ari memandang kuburan bapaknya. Seperti kata kakeknya, sepertinya dia harus bersabar. Lalu dia ingat ibunya yang mulai sering sakit. Dan dia akan selalu menepati janjinya untuk melindungi Tata. Bukannya malah melibatkan Tata pada hal-hal yang masih di luar jangkauannya.
“Tapi sebelumnya… Kakek ingin mengajak kamu jalan-jalan,” pinta kakek Ari,” Itu kalau kamu mau… Kakek tidak akan memaksa… Keputusannya ada di kamu…”
Ari memandangi kakeknya. Dia percaya sepenuhnya pada orang tua di depannya. Ari pun mengangguk pelan.
“Ingat kata-kata kakek,” kata kakek Ari. Kini nadanya serius,” Nanti, jangan pernah lepas tangan kakek. Di perjalanan, apapun yang kamu lihat, jangan pernah berkata apapun. Jika kamu memang tidak tahan, risih atau takut, segera bilang ke kakek… Ngerti Ari?”
Ari mengangguk. Kakek Ari mengulurkan tangannya. Ari menyambutnya. Mereka berdua pun berjalan keluar kuburan melewati batu-batu nisan. Angin sore makin terasa menerpa wajah Ari. Dia berusaha mengingat kata-kata kakeknya. Dia eratkan genggamannya ke tangan kakeknya. Ari merasa mereka sudah dekat dengan gerbang keluar. Tapi setelah melewatinya, Ari melihat sekitar bukan lagi jalan yang biasanya Ari lewati saat menuju makam. Di sana-sini Ari lihat gubug-gubug yang dibangun di atas tanah tandus berpasir. Ari sempat melirik kakeknya. Orang tua itu begitu tenang menggandeng Ari untuk tetap berjalan. Dan Ari tidak akan bicara satu katapun.
Ari berusaha mengikuti langkah kakeknya. Saat melewati gubug-gubug, Ari melihat ada penduduk di sana. Ari melihat beberapa orang lalu lalang. Beberapa orang duduk-duduk di depan gubug. Ada orang tua. Ada anak-anak. Tetapi mereka hanya memakai kain untuk menutup tubuh. Dan baru Ari sadari, mereka semua kulitnya hitam dan wajah-wajah mereka lebih mirip monyet dari pada manusia.
Setelah melewati gubug-gubug, Ari mulai memasuki satu desa dengan rumah-rumah kayu yang rapat. Di satu tempat terlihat banyak kerumunan. Ternyata ada pasar di sana. Banyak buah dan sayuran dijajakan. Ari mulai memperhatikan kerumunan itu. Mereka seperti orang biasa. Yang perempuan memakai baju kebaya. Yang laki-laki memakai sarung. Tapi semua perempuan dan laki-laki itu daun telinganya runcing ke atas.
Setelah itu Ari dan kakeknya mulai menyusuri pinggir sungai yang begitu besar. Dan Ari melihat di tengah sungai ada rumah besar. Tepatnya seperti istana. Bangunan itu seperti mengapung di atas air yang melaju deras. Yang membuat Ari kaget, dia melihat benda besar dan panjang di air. Setelah Ari perhatikan benda itu besisik. Ari baru sadar, itu adalah ular yang sangat besar. Dan di ujung dekat istana, Ari bisa melihat kepala ular itu seperti naga yang Ari sering lihat di cerita komik.
Lalu di pinggir sungai, mereka sampai di sebuah tebing. Di tebing curam itu ada lubang gua yang menganga sangat besar. Ari dan kakeknya masuk ke gua itu. Awalnya gelap di dalam gua. Lalu Ari melihat cahaya di dalam sana. Setelah berjalan makin dalam, Ari tahu cahaya itu berasal dari api yang menyembur dari tanah. Di sana-sini banyak api menyala. Dan Ari mulai melihat sosok-sosok di antara nyala api. Mereka seperti manusia tapi bagian tubuhnya tidak lengkap. Ada yang tidak bertangan, ada yang tidak berkaki dan ada yang kepalanya tinggal separuh. Kakek Ari sempat melirik ke Ari, tapi Ari berusaha untuk tetap tenang. Hingga ada satu mulut gua di depan mereka. Tampaknya itu jalan keluar. Setelah sampai di luar, Ari bisa melihat luasnya langit. Di ujung, cakrawala terlihat memerah. Ari kini ada di padang rumput yang luas. Kakek Ari melepas tangan Ari.
“Kamu aman di sini…” kata kakek Ari sembari tersenyum kecil melihat cucunya.
Ari mengamati sekitar. Ujung rumput sampai sebatas lututnya. Bulir-bulir air berjatuhan dari langit, lembut menerpa Ari. Tak jauh dari situ, di tanah yang landai, ada sebuah pohon rindang. Di bawah pohon ada sebuah
dipan. Dan ada tiga sosok yang duduk di atas dipan. Ari tahu betul mereka. Mereka adalah keluarga hantu yang tinggal di sumur samping rumah Ari.
“Ari jika kamu ingin keluar dari sini, tinggal bayangkan saja kamu sedang tidur, dan kamu ingin bangun,” kata kakek Ari,” sekarang bangunlah Ari!”
Lalu Ari terbangun. Matanya terbuka lebar mengamati sekitar. Posisinya masih berdiri. Kakeknya sudah tidak ada. Ari kini berada di dalam kamarnya. Sedikit tak percaya, Ari berusaha memegang-megang sprei tempat tidurnya. Lalu dia mulai memeriksa buku-buku yang ada di rak belajarnya. Dia benar-benar sudah ada di kamarnya. Lalu Ari keluar kamar. Ibunya yang sedang menjahit kaget melihat Ari yang masih memakai seragam sekolah.
“Ari!” seru ibu Ari,“Mama kok nggak lihat kamu masuk?”
“Mmmm… Ari tadi lewat samping Ma,” kata Ari. Dia tidak ingin ibunya khawatir.
“Pulangnya sore amat?” tanya ibu Ari.
“Mmmm… Ada urusan ekstrakurikuler di sekolah Ma.”
“Ya, udah… Cepetan sana mandi gih.”
“Iya Ma.”
__ADS_1
Lalu Ari masuk ke kamarnya lagi. Dia mulai mengingat lagi peristiwa yang dia alami bersama kakeknya. Lalu Ari mendekat ke jendela. Dari sana dia bisa melihat sumur di samping rumahnya. Ari tadi melihat keluarga itu. Dan rintik air terlihat berjatuhan dari langit yang mulai gelap.