Komplotan Tidak Takut Hantu

Komplotan Tidak Takut Hantu
Bab 4 : Sepasang Hantu di Warung Bakso


__ADS_3

Ari berjalan menyusuri lorong klinik psikiatri. Terapi


pertamanya sudah selesai, dia hanya berharap apa yang dilakukannya kini bisa


menenangkan hati orang tuanya. Saat memasuki lobby, Ari melambatkan langkahnya.


Bukan karena dia bisa lihat apa yang ada di kolam kecil di bawah tangga.


Perhatiannya justru tertuju pada bangku panjang yang seminggu lalu seorang anak


perempuan duduk di sana. Ari masih ingat namanya Tata. Bangku itu kosong.


Sampai Ari di depan pintu keluar, dia masih membayangkan anak perempuan itu ada


di bangku itu lagi. Dan harapan Ari melihat anak perempuan itu tampaknya


terwujud. Dia ada di luar sedang menuju lobby. Masih memakai kemeja dan rok.


Kali ini warnanya maroon. Rambutnya yang waktu itu dikepang dua kini dibiarkan


tergerai dengan poni di dahi. Anak itu berjalan bersama ibunya. Ari sengaja


berhenti berjarak dari pintu keluar. Dia ingin membiarkan anak itu masuk


duluan. Saat anak itu masuk, dia terlihat kaget melihat Ari. Ari dan dia sempat


berpandangan sebentar. Tapi anak itu cepat membuang pandangannya dan bergegas


menuju ke bangku panjang. Dan Ari baru sadar kalau ibu anak itu sedang


memperhatikannya. Ari tersenyum kaku dan mengangguk, berusaha menyapa duluan.


Ibu itu mengangguk, tetapi pandangannya tetap datar. Lalu dia menuju ke


informasi. Ari bergegas keluar lobby. Dia merasa ibu itu tidak menyukainya. Sebelum


melangkah jauh, Ari sempatkan menoleh ke belakang. Lobby itu masih terlihat.


Dan anak perempuan itu sedang menatap Ari dari tempat duduknya. Ari berhenti.


Sepertinya anak perempuan itu ingin menyampaikan sesuatu. Lalu anak itu menaruh


secarik kertas di meja dan bergegas berdiri menyambut ibunya yang datang ke


arahnya. Lalu mereka berdua berjalan ke arah lorong. Pelan Ari berbalik arah.


Kertas itu masih di atas meja. Setelah di dalam Ari mengambilnya. Isinya sebuah


nomor handphone.


Dari tadi Ari masih memegangi ponselnya. Dia ada di halte


bus. Nomor dari anak itu sudah dia masukkan. Di aplikasi chat, foto profilnya


gambar langit senja. Statusnya : hari-hari yang melelahkan. Sudah lima bus


lewat di depan Ari. Tapi Ari tak beranjak. Dia masih memikirkan untuk mengirim


pesan pada anak perempuan itu.


hai, tata ya, Ari


memberanikan menulis pesan.


Beberapa saat Ari menunggu, belum ada jawaban. Satu bus lagi


lewat di depan Ari. Saat Ari mau beranjak, hp Ari bunyi. Anak itu sudah


menjawab.


Hi, ini siapa?


aku ari yang kasih


gambar ke kamu, Ari cepat-cepat membalas.


Hi Ari, terimakasih ya


waktu itu udah nemenin di lobby


iya, kamu bisa lihat


ya?


Iya, yang di lobby


serem banget


kirain cuma aku yang


bisa lihat


Iya kadang ngeganggu


banget, sebel jadinya


aku lama2 udah biasa


Maaf ya tadi aku


begitu, soalnya mamaku ngga mau aku ketemu kamu


ngga apa2 kok


eh dokterku udah


datang, ntar lanjut lagi ya


ok


Malam ini hujan rintik di luar. Ari sudah selesai dengan


belajarnya. Suara TV masih terdengar di ruang tengah. Ibu bapaknya masih di


sana. Ari terbujur di kasur. Ponselnya tergeletak di sebelahnya. Dari tadi dia

__ADS_1


bolak-balik pegang hp-nya. Profil chat bertuliskan Tata ada di layar. Saat mau


mengirim pesan selalu ia urungkan. Sampai hp-nya bunyi. Tata mengirim pesan.


Hi Ari, udah tidur?


belum, Ari cepat


membalas


Aku barusan lihat


sesuatu


apaan


kunti, bajunya merah


kuntinya ngapain?


cuma berdiri aja di


depan kasur


kuntinya masih disitu?


udah ngga, dia yang


tadi siang aku lihat di pohon deket parkir mobil di sekolahku


kamu ngga apa2 kan


Ngga apa-apa


beneran


Iya


kalau dia datang lagi


kasih tahu aku


Iya, makasih ya udah


dengerin aku


iya


Aku mau minum obat


dulu, abis itu mau bobo


ok


Bye


bye


Satu hari lagi Ari dan Tata akan bertemu. Besok jadwal


terapi mereka sama. Dan mulai besok Tata sudah tidak diantar mamanya. Tapi kata


untuk mengawasinya. Besoknya Ari datang lebih awal. Dia menunggu Tata di dekat


parkir mobil, duduk di belakang genset supaya tidak terlihat sopir Tata. Beberapa


menit kemudian Tata datang. Dia naik mobil mercy hitam. Saat turun Tata


langsung ke arah genset. Dia tahu Ari ada di sana. Di belakang genset mereka


bertemu. Suasana kikuk sempat terjadi.


“Ari kan?” spontan Tata bersuara.


“Iya, Tata kan?” jawab Ari tak kalah kikuk.


“Ayo kita langsung ke klinik,” kata Tata menutupi perasaan


kikuknya.


“Ayo,” jawab Ari singkat.


Ari dan Tata memang harus lekas pergi dari situ sebelum


sopir Tata tahu. Mereka berjalan cepat agak merunduk meninggalkan area parkir. Tapi


ketika hampir sampai di klinik mereka heran. Di depan klinik sudah banyak


kerumunan. Ari dan Tata mempercepat langkahnya. Mereka mencoba meringsek ke


kerumunan. Ada bapak-bapak yang ingin masuk klinik tapi ditahan satpam.


“Maaf Pak nggak ada yang boleh masuk,”kata Satpam.


“Ada apa di dalam Pak,” tanya bapak itu.


“Ada yang kesurupan Pak,”


“Kesurupan?”


“Iya, suster-suster pada kesurupan, ada office boy juga.”


“Berapa orang yang kesurupan?”


“Banyak Pak, gara-gara tadi pagi kolamnya mau dikuras


airnya.”


Ari dan Tata saling berpandangan. Mereka mulai meringsek


lebih dalam lagi. Dari jendela lobby mereka bisa lihat beberapa suster sedang


tengkurap di lantai. Termasuk suster yang biasa menangani Ari. Mereka melakukan


gerakan melata seperti ular. Lidah mereka menjulur-julur. Salah seorang sedang

__ADS_1


ditangani satu bapak-bapak memakai pecis. Tampaknya bapak itu kewalahan. Dan


selain suster-suster yang kesurupan, Ari dan Tata bisa melihat banyak ular


hitam yang bergerak memenuhi lantai sampai memanjat ke dinding-dinding. Lalu di


belakang sana berdiri seorang perempuan berpakaian seperti ratu jawa. Matanya


melotot marah. Tampaknya dia tahu Ari dan Tata sedang memperhatikannya. Kini


matanya melotot ke arah Ari dan Tata. Tata tersentak. Dia melangkah mundur.


“Ayo kita pergi dari sini,” spontan Ari menggandeng tangan


Tata dan mengajaknya pergi dari situ.


Dengan sedikit berlari mereka menuju ke belakang gedung.


Karena kalau ke depan, sopir Tata akan memergoki mereka. Di bagian paling


belakang mereka berhenti.


“Kamu ngga apa-apa kan?” wajah Ari serius memeriksa Tata.


“Nggak pa pa. Aku nggak apa-apa,” suara Tata masih menyisakan


gelisah. Tapi sedikitnya dia merasa aman karena sudah jauh dari lobby.


Ari mulai memeriksa sekitar. Ada yang membuat dia penasaran.


Tak jauh dari situ ada sungai yang lumayan besar. Airnya mengalir tetapi tidak


deras. Lalu dia perhatikan gedung rumah sakit itu ada dua. Satu di sebelah kiri


sungai, satu di sebelah kanan. Lalu ada satu gedung yang menyatukannya yang


dibangun di atas sungai.


“Ta, lihat. Sungai ini mengalir di bawah gedung itu. Itu kan


klinik psikiatri,” Ari bicara ke Tata tapi pandangannya mengarah ke sungai yang


mengalir di bawah sebuah gedung.


“Iya, itu kan lobby yang di klinik itu,” seru Tata.


Dengan wajah serius, mereka berdua mendekat ke sungai. Agak


lama mereka berdiri di sana. Lalu Ari memperhatikan tembok belakang di dekat


sungai. Ada bagian yang runtuh yang tampaknya masih dalam perbaikan. Ari


mengajak Tata ke sana. Karena mereka bisa keluar dari rumah sakit lewat situ.


Ari tersenyum, juga Tata. Mereka seperti telah menemukan jalan keluar, setelah selama


ini merasa akan terkurung di dalam klinik. Lalu mereka lihat di seberang jalan ada


warung bertuliskan : Bakso Urat.


“Kamu laper nggak,” tanya Tata malu-malu ke Ari.


“Kamu?” Ari bertanya balik.


“Suka bakso kan?” tanya Tata lagi.


“Suka lah,” jawab Ari. Kini senyumnya tersungging.


Mereka berdua masuk ke warung itu. Cukup bersih dan lumayan


enak untuk nongkrong. Pengunjungnya ramai juga. Setelah memesan, mereka duduk


di bangku yang paling pojok. Tapi belum lama duduk, Ari dan Tata merasakan


sesuatu yang sama. Di bangku sebelah mereka ada anak laki-laki dan perempuan


memakai baju SMU. Mereka diam seperti patung di antara ramainya pengunjung


warung. Setelah diperhatikan, baju kedua anak itu robek-robek dan berbercak


darah. Wajah mereka datar, tidak ada hidung, tidak ada mata, tidak ada mulut.


Ari melirik Tata. Tangan perempuan itu mulai tegang menempel di permukaan meja.


Ari cepat mengeluarkan buku kecil dan pensil dari tasnya. Dia mulai menggambar


apa yang ada di bangku sebelah. Perlahan Tata memperhatikan jari Ari yang mulai


lincah mencorat-coret bukunya. Tata mulai merapatkan duduknya ke Ari. Hingga


gambar itu jadi. Tata tersenyum. Dia sudah lupa dengan rasa takutnya.



Pesanan mereka pun datang. Tata antusias dengan mangkok yang


diterimanya.


“Coba aku bisa gambar seperti kamu,” Tata bersuara sambil


mulai menggerakkan sendoknya.


“Kamu bisa menulisnya kalau kamu mau,” timpal Ari.


“Kadang aku tulis di diary sih.”


“Bagus itu. Tulis aja, ntar aku baca.”


“Beneran?”


“Beneran.”


“Besok-besok aku bawa ya.”


Ari mengangguk serius sambil mengunyah. Mereka berdua sudah

__ADS_1


asyik dengan mangkok masing-masing. Sudah tidak peduli dengan sepasang remaja


berbaju SMU yang bermuka rata.


__ADS_2