Komplotan Tidak Takut Hantu

Komplotan Tidak Takut Hantu
Bab 16 : Orang-orang Berbaju Putih


__ADS_3

Malam ini Ari rebah di kasur lebih cepat dari biasanya.


Kepalanya masih sedikit pusing. Tapi dia lega. Tadi siang dia sudah menyelamatkan


Tata. Seperti hutang yang telah terbayar. Karena belum lama dia sadari, dia


pernah melupakan Tata. Saat dia kehilangan bapaknya. Lalu ibu Ari masuk ke


kamar. Dia duduk di samping Ari.


“Maafin mama ya Ri, selama ini mama tidak peduli dengan


keadaan kamu,” kata ibu Ari dengan wajah menyesal.


“Nggak apa-apa Ma,” jawab Ari yang iba melihat ibunya. Dia


tahu, situasi bertambah sulit ketika ibunya ditinggal bapaknya.


“Teman-teman kamu yang kemarin, dia juga seperti kamu?


Maksud mama…”


“Iya Ma, makanya kita sengaja datang terlambat.”


“Kakek kamu dulu juga seperti kamu.”


“Papanya mama?”


“Iya.”


“Ari nggak pernah lihat.”


“Dia suka pergi ke gunung-gunung. Lama-lama keseringan.


Nenek kamu nggak suka. Waktu mama merit sama papa kamu, dia nggak dateng. Lalu


dia nggak pernah balik lagi. Orang bilang dia hilang di Gunung Lawu. Tapi waktu


mama hamil kamu, beberapa kali mama lihat dia di rumah ini. Makanya waktu itu


mama minta papa cepat-cepat punya rumah sendiri.”


“Kakek orangnya kayak gimana?”


“Dia sebenarnya baik. Suka nolongin orang. Waktu pacaran,


papa kamu nggak begitu suka sama kakek. Tapi kakek tetap menerima dia. Papa


kamu orangnya kan logis banget. Dia nggak suka mistis-mistis. Dia selalu bangga


jadi guru fisika.”


“Papa meninggalnya bagaimana Ma?”


Seketika itu ibu Ari terdiam. Sesuatu tertahan di


pikirannya. Baru sekali-kalinya Ari menanyakan hal ini ke ibunya. Dan Ari


menyesal. Tapi Ari masih penasaran. Apalagi kalau ingat sosok perempuan lidah


menjulur yang waktu itu keluar masuk kamar orang tuanya.


“Papa sakit apa Ma?”Ari mencoba bertanya lagi.


“Sudahlah Ri, yang sudah ya sudah. Apapun yang sudah terjadi,


kamu harus ikhlasin papa kamu ya,” jawab ibu Ari dengan suara sedikit berat.


Ari mengangguk. Tapi dia tetap belum bisa terima. Sosok


perempuan lidah menjulur tak akan pernah hilang dari ingatannya. Ibu Ari


beranjak dari tempat tidur, mengelus kepala anaknya dan berjalan menuju pintu.


“Yang di sumur itu memang ada?” tanya ibu Ari sebelum keluar


kamar. Tampaknya ada yang masih mengganjal di pikirannya.


“Ada Ma. Tapi mama jangan takut. Mereka nggak jahat. Nggak kayak


yang di sekolahan,” jawab Ari polos.


Ibu Ari mengangguk-angguk, berusaha untuk mengerti. Lalu dia


keluar dan menutup pintu. Tinggal Ari sendiri. Kantuk sudah menggelayuti


matanya. Sampai dia dengar suara notifikasi dari ponselnya di meja. Dengan


malas Ari mengambil ponselnya. Tapi setelah lihat lihat layar ponselnya, mata


Ari terasa terang kembali. Kantuknya seketika hilang. Ada pesan dari Tata di


ponselnya. Cepat-cepat dia buka pesan itu.


‘Ari terimakasih sudah


menyelamatkan aku. Tapi janji ya jangan bilang ke siapa-siapa tentang aku.


Biarkan aku jadi seperti yang sekarang ini. Selamat tidur. Sweet dream.’


Lama Ari memandangi ponselnya. Lalu dia mencoba membalas


pesan Tata.


‘Tata maafin aku ya pernah


melupakan kamu. Waktu itu papaku meninggal. Sampai sekarang aku nggak tahu


meninggalnya kenapa. Jangan khawatir Tata, rahasia kamu aman. Kalau ada apa-apa


hubungi aku. Selamat tidur juga. Sweet dream.’


Lalu Ari meletakkan lagi ponselnya di meja. Tapi saat dia


hendak beranjak ke tempat tidur, ponselnya bunyi. Ternyata dari Nara.


“Halo,” Ari menjawab ponselnya.


“Halo Ri, belom tidur lo,” jawab Nara di ponsel Ari.


“Belom, kenapa Ra?”


“Ri, barusan mama aku telpon dari Amerika. Dia dapat kabar


dari kakek aku, kalau Pak Suman minta tolong ke kakek untuk mendatangkan


orang-orang yang dulu pernah membersihkan sekolah.”


“Orang-orang berbaju putih?”


“Iya, katanya besok mereka akan datang ke sekolahan.”


Lalu Ari teringat Awuk.


“Besok gue mau ke sekolahan,” kata Ari.


“Besok kan libur,” jawab Nara.


“Gue bisa lompat pagar.”


“Gue ikut. Ntar gue kabarin Toha sama Wira.”


“Nggak usah. Gue aja yang ke sana.”


“Ri, kita ini satu komplotan, gimana kalau lo pingsan lagi dan


nggak ada yang nemuin lo?”


“Ok, kalau gitu besok pagi kita ketemu di pagar.”


“Ok.”


Esok pagi Ari sudah ada di depan pagar sekolah. Tak berapa


lama, Nara sampai di sana juga. Sudah 5 menit menunggu Toha dan Wira, mereka


belum datang juga. Nara pun mencoba menghubungi mereka dari ponselnya.


Sementara di gerbang, 3 mobil minibus terlihat masuk ke halaman sekolah. Sampai


di tempat parkir, beberapa orang keluar dari mobil-mobil itu. Mereka semua


berbaju putih.


“Mereka sudah datang,” desis Ari.


Nara merapat ke pagar. Dia keluarkan kamera dari tasnya.


Nara pun  mulai sibuk dengan kameranya.

__ADS_1


Dia ambil gambar-gambar di tempat parkir.


“Toha sama Wira gimana?” tanya Ari.


“Nggak bisa dihubungi,” jawab Nara. Dia masih sibuk dengan


kameranya.


“Pasti masih pada molor,”kata Ari kesal.


Sementara orang-orang berbaju putih sudah sampai di depan


gedung. Mereka disambut Pak Suman. Di sana juga ada Pak Solidin dan Pak Riza.


Pak Suman mengantar mereka masuk. Sepertinya mereka sedang menuju ke area


basement. Ari pikir Ini saatnya dia masuk. Dia pun sudah bersiap-siap memanjat


pagar.


“Ari, tunggu Toha sama Wira!” kata Nara.


“Kelamaan, aku harus ketemu Awuk sekarang,” kata Ari. Dia


sudah memanjat pagar.


“Ari tunggu…” Pekik Nara. Tapi Ari sudah melompat ke dalam.


Nara coba menghubungi Toha dan Wira lagi. Tapi sepertinya


tidak terhubung juga. Sementara Ari sudah berlari menyisir pinggir lapangan basket.


Ari sempat melihat perempuan berambut panjang di pohon beringin. Tapi kini


rambutnya tidak sampai ke tanah. Dan dia bertengger di dahan paling pucuk.


Wajahnya seperti ketakutan. Ari tidak menghiraukannya. Entah apa yang ada di


pikirannya, tapi dia ingin menyelamatkan Awuk. Ari pun sampai di lahan kosong.


Setelah lewat belakang kantin dia harus melewati tempat tinggal Pak Min si


penjaga sekolah. Saat sampai sana, Ari kepergok.


“Hei, mau apa kamu ke sini? Ini sekolah libur!” kata Pak Min


galak.


Ari menghentikan larinya. Beberapa saat dia tidak punya


jawaban. Dan dia tidak bersama Toha.


“Saya akan laporin kamu ke Pak Suman!” Pak Min mengancam.


“Saya mau menyelamatkan Sinta Pak,” jawab Ari ngasal. Hanya


itu yang terlintas di pikirannya.


“Sinta?”


“Iya Pak.”


“Kamu bisa melihat arwahnya?”


“Bisa.”


“Dulu Sinta itu anak yang cantik. Baik lagi. Dia suka kasih


bapak uang. Kasihan, meninggalnya seperti itu. Pasti arwahnya masih penasaran.”


“Iya Pak, makanya mau saya selametin.”


“Iya sana cepat. Saya nggak akan bilang ke Pak Suman.”


Ari pun melanjutkan larinya. Dia lega cerita dadakannya bisa


membuat Pak Min berpihak padanya. Saat melewati lorong kelas, Ari harus


berjalan mengendap. Tak seberapa jauh darinya, orang-orang berbaju putih sedang


melakukan kegiatan di sekitar area basement. Dia sudah tak jauh dari tangga


menuju ruang-ruang penyimpanan di lantai 3. Tapi sejenak langkah Ari terhenti.


Dia mendengar langkah kaki kuda. Tapi kali ini pelan. Seperti sedang berjalan,


sosok kaki kuda lagi. Sampai di lantai 3, Ari langsung masuk ke ruang bekas


ekstrakulikuler drama. Beberapa kali Ari mengerjapkan mata, menyusur


pandangannya ke sekitar. Ruangan itu benar-benar gelap. Lalu Ari mendengar


suara perempuan menangis dari sudut ruangan. Dan Awuk ada di sana. Berdiri di


sudut. Kepalanya menunduk. Perlahan Ari mendekat. Ari lega, kaki Awuk tidak


hancur.


“Mereka akan mengambilku,” suara Awuk lirih. Kepalanya masih


menunduk.


“Kamu harus pergi dari sini secepatnya,” kata Ari.


“Nggak bisa.”


“Kenapa?”


“Aku takut.”


“Jangan takut.”


“Aku ingin ikut kamu.”


Sejenak Ari terdiam. Dia sedikit khawatir. Tapi dia iba pada


Awuk. Terlintas di pikirannya, mungkin Awuk bisa tinggal di dalam sumur samping


rumahnya. Tapi bagaimana kalau Awuk berwujud perempuan kaki hancur?


“Tolong aku. Aku ingin ikut kamu,” Awuk menatap Ari. Dia


mengulurkan tangan ke Ari.


Ragu-ragu Ari mengulurkan tangan ke Awuk. Tapi tiba-tiba


Awuk terseret mundur ke tembok.


“Tolong! Mereka mau mengambilku!” teriakan Awuk begitu keras


di telinga Ari. Tangannya mencoba menggapai Ari.


“Tolong! Tolong! Tolong!” Awuk melolong keras berkali-kali.


Ari pun mundur sejengkal. Karena mata Awuk mulai menghitam. Dan kakinya mulai


hancur. Tangannya masih terulur ke arah Ari. Badan Awuk seperti terhisap ke


tembok. Lama-lama Ari melihat badan Awuk menghitam. Matanya merah dan rambutnya


acak-acakan. Dia tak berhenti melolong. Tangannya ingin menggapai Ari. Tapi


tubuhnya seperti tersedot menembus tembok. Lama-lama wujudnya hilang dari


pandangan Ari. Dan lolongannya pun berhenti. Tinggal Ari sendiri di ruangan


gelap itu.


Ari sudah menuruni tangga. Dia tidak bisa menyelamatkan


Awuk. Tapi setelah tadi melihat wujud Awuk yang terakhir, Ari jadi berpikir


lain tentang Awuk. Saat sampai di bawah, Ari melihat lorong ke toilet tak jauh


dari situ. Dia teringat sosok bungkusan putih yang menempel di langit-langit. Ari


penasaran. Dia pun menuju ke sana. Sampai di depan pintu toilet, Ari berhenti


sejenak. Karena sosok yang ada di toilet itu pernah membuat Ari lari tunggang


langgang. Tapi rasa penasarannya memaksa kakinya melangkah masuk. Ari pun masuk


toilet yang paling pojok. Di dalam, Ari hanya berdiri dan menatap ubin. Dia


masih ragu untuk melihat ke atas. Dia menunggu ada serpihan tanah jatuh dari


atas. Atau tetesan darah. Tapi lantai itu tetap bersih. Perlahan Ari mendongak


ke atas. Dan ternyata memang tidak apa-apa di langit-langit. Sosok bungkusan

__ADS_1


putih sudah tidak ada di sana. Ari pun bergegas keluar toilet.


Ari berjalan mengendap di sepanjang teras kelas. Dia masih


melihat orang-orang berbaju putih sedang sibuk di sekitar area basement sana.


Ari mempercepat langkahnya. Dia harus kembali ke tempat Nara. Tapi tak sengaja


Ari melihat kelas yang ada di seberang. Dari jendela kelas itu, Ari melihat


sosok kaki kuda. Dia ada di sana. Di dalam kelas yang kosong. Itu kelas 9-1.


Kelasnya Tata. Sosok itu hanya berdiri diam di sebelah bangku dekat jendela. Bangku


tiga baris dari depan. Tapi Ari melihat dia tidak memakai mahkota. Dan semua


perhiasan di tubuhnya tidak ada. Bahkan dia tidak memakai penutup di bawah


tubuhnya.


“Hoi! Ngapain kamu di situ!” Seorang berbaju putih berjalan


menuju ke Ari.


Ari kaget. Sepertinya dia ketahuan.


“Siapa kamu! Nggak boleh di sini, bahaya!” Orang berbaju


putih itu mendekat ke Ari. Dua orang lagi datang di belakangnya.


“Suruh dia pergi dari sini!” kata seorang yang di belakang.


Seorang lagi yang tampak tua dan berjenggot putih memandangi


Ari seksama.


“Itu murid sekolah sini Pak,” Pak Riza datang tergopoh.


“O, murid sekolah sini,” kata orang berbaju putih.


“Tolong suruh keluar dari sini Pak. Nggak boleh ada yang di


sekitar sini,” kata yang seorang lagi.


Pak Riza pun menuntun Ari meninggalkan tempat itu. Orang


baju putih yang tua masih memandangi Ari. Dan Ari masih melihat sosok kaki kuda


itu berdiri di dalam kelas. Ari pikir ketiga orang berbaju putih itu tidak


melihat sosok kaki kuda itu.


“Pak Riza, ada satu lagi di dalam kelas,” Ari berusaha


menjelaskan ke Pak Riza saat mereka berjalan keluar lewat ruang guru.


Pak Riza mempercepat jalannya sambil menengok ke kanan dan


ke kiri.


“Ari kamu tidak mendengarkan kata-kata saya!” kata Pak Riza


tanpa memperlambat langkahnya. “Yang di dalam sana bukan urusan kamu! Kalau Pak


Suman sampai tahu kamu di sini, bisa saja kamu dikeluarkan dari sekolah. Saya


sudah berjanji sama ibu kamu untuk menjaga kamu.”


Ari pun tidak bisa berkata lagi. Dia hanya diam mengikuti


langkah Pak Riza. Ari diantar sampai keluar gerbang sekolah.


“Ingat Ri! Saat ini saya masih bisa bantu kamu. Jangan


sampai kejadian, yang nanti saya tidak bisa bantu kamu lagi!” Lalu Pak Riza


mengunci gerbang dan berjalan meninggalkan Ari.


Ari berjalan cepat di trotoar. Dia mendapati Nara, Toha dan


Wira ada di belakang pohon. Tampaknya mereka tadi bersembunyi karena ada Pak


Riza.


“Ri, perempuan yang di pohon beringin, tadi ketarik ke


dalem,” kata Toha sembari keluar dari persembunyiannya.


“Awuk juga,” timpal Ari.


“Jadi lo ngga bisa selametin dia?” tanya Nara.


Ari menggeleng.


“Tapi si kaki kuda masih ada. Dia sembunyi di kelas.


Kayaknya orang-orang baju putih nggak bisa menemukan dia,” kata Ari. Dia


sengaja tidak bilang, itu kelas Tata.


“Lo nggak bilang ke mereka?” tanya Wira.


“Percuma. Gue malah diusir. Bilang ke Pak Riza juga dia


nggak nanggepin,” jawab Ari.


“Kamu yakin si kaki kuda nggak ditemuin?” tanya Toha.


“Seharusnya pas gue di sana, mereka harusnya lihat juga,”


kata Ari. Tapi sebenarnya dia tidak yakin juga.


“Kalau gitu kita coba tanya aja ke bapaknya Toha?” kata


Wira.


“Apaan sih!” sergah Toha. Bapak Toha memang paranormal yang


cukup terkenal. Tapi Toha paling risih kalau bapaknya dihubung-hubungkan dengan


profesinya.


“Iya, kita harus minta penjelasan ke ahlinya,” Nara


menimpali.


Sementera mereka masih berdebat tentang bapak Toha, Ponsel


Ari bunyi notifikasinya. Ari mengeluarkannya dari saku celana. Ada pesan dari


Tata. Cepat-cepat Ari buka.


‘Terimakasih ya Ari mau ngertiin kondisi aku. Maafin sikap


aku juga. Aku nggak tahu kalau bapak kamu meninggal. Kamu mau maafin aku kan?’


Ari pun cepat membalasnya.


‘Iya Tata. aku yang minta maaf. harusnya aku tetep nemuin


kamu waktu itu. Ta, bangku kamu di kelas ada di baris ke berapa?’


Tak lama kemudian ada jawaban dari Tata.


‘baris ke 3’


Ari menjawab.


‘deket jendela?’


Tata menjawab.


‘iya, samping jendela, kenapa?’


Ari menjawab.


‘ngga papa’


Wajah Ari tegang. Sosok kaki kuda itu sepertinya benar-benar


mengincar Tata.


“Ada apa Ri? Siapa yang WA?” Tanya Nara.


“Nggak, nggak apa-apa,” jawab Ari. Dia harus merahasiakan


kondisi Tata. “Kita harus menemui bapaknya Toha sekarang juga,” kini wajah Ari


begitu serius.

__ADS_1


__ADS_2