
Sudah tiga kali, Ari, Toha, Wira dan Nara, bolak-balik keluar masuk ke dalam sekolah. Tapi semakin siang, makin bertambah saja murid yang kesurupan. Sementara banyak murid yang ketakutan ingin cepat-cepat pulang. Tapi pengumuman resmi dari kepala sekolah, tidak boleh ada yang keluar dari sekolah sebelum jam sekolah berakhir seperti biasanya. Akhirnya, Ari dan teman-temannya memutuskan untuk menunggu di mobil Nara saja. Mereka merasa hantu bayangan sudah membuat semua ini terjadi. Banyak murid-murid yang jadi bulan-bulanan hantu-hantu yang sekarang sedang bersliweran di dalam sekolah. Hantu bayangan sepertinya sudah menguasai sekolah mereka. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi dengan Pak Suman, kecuali Ari dan teman-temannya. Tapi Ari lega, teman-teman sekelas mereka sudah keluar dari sekolah. Untung mereka punya ketua kelas seperti Kocik yang berani mengajak teman-teman sekelasnya nekat keluar sekolah.
Dan akhirnya, tepat jam satu, murid-murid diperbolehkan pulang. Mereka pun berlarian menuju gerbang. Banyak murid menelpon orang tua mereka minta dijemput. Beberapa murid masih ada di dalam sekolah karena harus dirawat akibat kesurupan. Di halaman, terlihat Jodi dijemput kedua orang tuanya. Jodi dibantu berjalan oleh kedua orang tuanya menuju mobil mereka.Wajah Jodi tampak pucat. Beberapa kali dia muntah-muntah. Banyak orang tua murid yang datang menjemput anaknya melayangkan protes pada guru-guru karena situasi sekolah yang membuat anak-anak mereka ketakutan. Bukan tak mungkin anak-anak mereka akan trauma untuk belajar lagi di sekolah ini.
Ari dan teman-temannya merasa harus cepat-cepat menyusun rencana. Karena hanya mereka berempat yang tahu situasinya.
“Coba call Lisa lagi Ri,”cetus Wira.
Ari langsung menghubungi nomor Lisa. Dan tak lama Lisa mengangkatnya.
“Halo Kak Ari,” Lisa langsung menjawab di ponsel Ari.
“Halo Lisa,” jawab Ari,” ganggu nggak?”
“Nggak kok,” jawab Lisa dengan suara ceria.
“Kamu lagi di mana?”
“Ini udah di rumah,” jawab Lisa,” Baru pulang sekolah.”
“Aku mau tanya-tanya dong Lisa…”
“Tanya apa Kak Ari…? Hantu yang bayangan itu ya?”
“Iya Lisa… Di sekolah situasinya lagi genting.”
“Eh, Kak Ari… Ini kebetulan lagi ada Bi Tumi… Dia tahu banyak tentang hantu yang dimaksud Kak Ari. Kak Ari mau bicara sama dia?”
“Mmm, boleh deh Lisa.”
Lalu beberapa saat terdengar pembicaraan Lisa dan Bi Tumi. Dan Bi Tumi kini yang memegang ponsel Lisa.
“Halo… Ini Mas Ari ya?” suara Bi Tumi terdengar masih kaku di ponsel Ari.
“Iya Bi Tumi… Maaf ganggu… Mau tanya hantu yang katanya dulu nangkepnya pakai daun kelor…”
“Iya tuh Mas Ari, dulu hantu itu susah banget ditangkepnya sama neneknya Mbak Lisa. Dia bisa nyaru jadi siapa aja. Tapi kalau orang yang punya kesaktian, meskipun lagi nyaru, tapi bisa dilihat kakinya nggak ada. Itu
hantu pinter banget… Maksud saya culas banget… Dia bisa ngajak hantu-hantu yang lain untuk ngikutin dia. Kata neneknya Mbak Lisa, itu hantu kalau pengikutnya makin banyak, dia makin kuat, badannya bisa jadi tinggi banget. Kalau dikasih daun kelor, dia nggak bisa nyaru lagi, nggak bisa ngapa-ngapain lagi, gampang diambil sama neneknya Mbak Lisa.”
“Terus cara pakai daun kelornya gimana Bi Tumi?”
“Ya neneknya Mbak Lisa dulu tinggal disabetin aja ke hantunya…”
“Lha terus, nyarinya hantunya gimana Bi Tumi?”
“Nggak usah dicari Mas Ari… Dia akan nyari daun kelor itu sendiri… Makanya, maaf, sebelumnya daunnya musti dikasih pipis dulu sama perempuan yang masih perawan… Dulu yang disuruh pipis Mbak Lisa, waktu Mbak Lisa masih kecil.”
Ari merasa dia sudah cukup mendapatkan info. Lalu dia berterimakasih pada Bi Tumi dan berpamitan dengan Lisa. Ari pun menceritakannya ke Toha, Wira dan Nara.
“Jadi pertama kita harus cari daun kelor dulu,” cetus Ari.
“Tapi kan tetep kita butuh orang padepokan,” potong Toha,” Terus kalau memang dia udah dikasih daun kelor, terus nanti siapa yang akan narik dia?”
“Iya bener juga lo Ha…” kata Ari.
“Kita datangin aja dah ke padepokan,” kata Toha,” Kita ceritaiin aja situasi sekolah kita.”
Beberapa saat mereka berempat terdiam. Memang tidak semudah itu untuk minta tolong orang padepokan. Belum tentu kata-kata mereka akan dipercaya oleh orang padepokan. Kalaupun mereka percaya, mestinya harus ada perintah resmi dari pihak sekolah. Dan Pak Riza sudah dikeluarkan dari sekolah.
“Kita nekat aja ke sana,” kata Wira,” Itu satu-satunya yang bisa kita lakukan.”
“Terus, mengenai yang daun kelor yang dikasih pipis gimana?” tanya Toha sembari menatap Ari.
Ari tahu tatapan Toha. Dia segera menghubungi nomor Tata. Lalu dia ceritakan ke Tata tentang rencana mereka.
“Maaf ya Ta, kita minta tolong buat pipis… Eh maksud aku, kamu nanti pipis di daun kelornya ya,” kata Ari dengan nada gugup.
__ADS_1
“Emang harus gitu ya Ri?” tanya Tata. Bukannya dia tidak percaya. Tata cuma minta kepastian ke Ari.
“Iya sih Ta…” kata Ari takut-takut,” Tapi kalau kamunya ngga mau ya ngga apa-apa sih…”
“Aku sih nggak apa-apa, kalau kamunya yang minta,” kata Tata.
“Iya Ta, kita yang minta… Eh, maksud aku… Aku yang minta…” kata Ari terbata.
“Iya Ri…” kata Tata yang terdengar sedikit geli mendengar kegugupan Ari.
Lalu Ari berpamitan dengan Tata setelah berkali-kali mengucapkan terimakasih. Dan semuanya pun merasa lega. Satu masalah sudah teratasi.
“Terus yang antar daun kelornya ke Tata siapa?” tanya Ari baru sadar. Dia tidak mungkin bisa masuk ke rumah Tata.
“Kita antar ramai-ramai,” kata Nara,” Tapi ntar gue yang masuk ke rumah Tata. Kalau ditanya mamanya, ntar gue bilang, gue teman ekstrakurikuler KIR.”
“Ok, kalau begitu, kita cari daun kelor dulu, terus ke rumah Tata, terus ke padepokan,” kata Wira.
Yang lain langsung mengangguk. Tanpa buang waktu, mereka pun berangkat dengan mobil Nara. Kali ini Wira yang nyetir. Nara ada di depan. Ari dan Toha di belakang. Nara mencari di google tempat beli daun kelor. Mereka temukan tempat yang tak jauh dari sekolah. Setelah mendapatkan daun kelor, mereka langsung menuju rumah Tata. Toha, Wira dan Nara belum pernah ke rumah Tata. Sesampai di sana, mereka takjub dengan besarnya rumah Tata dan halamannya. Rumah Nara saja sudah besar, ini lebih besar lagi. Wira pun memarkirkan mobil di dekat gerbang. Lalu Nara keluar membawa daun kelor. Dia diantar satpam ke dalam. Di dalam, Nara diantar pembantu Tata ke ruang tamu. Tata terlihat turun di tangga dari lantai dua.
“Eh, kamu Ra?” tanya Tata.
“Iya Ta,”kata Nara santai duduk di sofa besar.
“Mana Ari?” tanya Tata pelan.
“Dia sama anak-anak di mobil,” jawab Nara, juga dengan suara pelan.
“Mau minum apa Ra?” tanya Tata
“Nggak usah repot-repot Ta,” jawab Nara. Lalu Nara menyerahkan kantung plastik yang isinya satu batang daun kelor ke Tata,” Ini daun kelornya Ta. Dari Ari,” yang terakhir Nara tambah-tambahin sendiri.
Tata pun menerimanya. Dia pandangi sebentar sebatang dedaunan yang ada di dalam plastik. Lalu Tata menatap ke Nara. Nara mengangguk pelan. Tata pun harus ke ruangannya di atas. Tapi sebelum itu, terlihat Ibunya Tata datang ke ruang tamu.
“Eh, ada tamu to?” kata Ibu Tata.
“Iya ini eeee….,” Tata bingung memperkenalkan Nara. Takutnya nanti terhubung-hubung ke Ari. Di sekolah, semua sudah tahu kalau Nara satu komplotan dengan Ari.
“O, Nana ya,” kata ibu Tata menyambut tangan Nara,” berarti temennya Astri juga dong?”
“Iya tante,” jawab Nara santai,” kalau Tata sama Astri kan udah dari kelas 10 ikut KIR. Kalau saya baru di kelas 11.”
Diam-diam Tata takjub juga dengan sandiwara Nara.
“O, gitu ya,” kata ibu Tata,” Kalau gitu nanti ikut makan siang sama-sama, sama Tata juga.”
“Terimakasih Tante,” jawab Nara,” Ini saya cuma mau antar sampel buat bahan penelitian besok,” kata Nara sambil menunjuk plastik yang dibawa Tata,” Biar dicek sama Tata dulu, nanti mau saya bawa lagi.”
“O, iya… Aku cek di atas dulu ya,” kata Tata patah-patah. Dia mencoba mengikuti sandiwara Nara tapi masih kaku.
“Cek di atas, maksudnya mau diapain,” tanya ibu Tata.
“Mmm…” Tata bingung untuk menjawabnya,” Mau Tata kasih air dulu Ma, gimana reaksinya,” kata Tata cepat-cepat.
Lalu Tata naik ke atas. Dan ibu Tata minta diri ke Nara mau siapin makan siang. Tak berapa lama Tata turun. Plastik yang dibawanya sudah basah di dalam. Tata lega, ibunya sudah masuk ke dalam. Dia bingung kalau nanti ditanya-tanya ibunya lagi. Lalu Tata serahkan plastik itu ke Nara.
“Nih Ra. Awas masih basah,” kata Tata.
“Ok Ta. Ntar aku sampein ke Ari ya,” kata Nara sembari mengerdipkan matanya.
Lalu Tata mengantar Nara keluar pagar. Di sana Tata bisa melihat Ari bersama teman-temannya di dalam mobil. Mereka melambaikan tangan ke Tata, saat mobil Nara mulai melaju. Dan Wira pun melarikan mobil Nara menuju padepokan.
“Nih Ri, oleh-oleh dari Tata,” kata Nara cengar-cengir sambil menyerahkan plastik yang dalamnya masih basah.
Ari langsung mengambilnya dan memasukkan ke dalam tasnya. Toha yang di samping Ari, dari tadi juga cengar-cengir.
“Ngapain lo Ha ketawa-ketawa,” kata Ari yang merasa digodain teman-temannya.
__ADS_1
“Tenang Ri,” kata Wira,” bentar lagi orang padepokan akan bisa tangkap tuh hantu bayangan.”
Mobil Nara pun melaju kencang di jalan tol. Lalu setelah melewati jalan-jalan pedesaan, mereka sampai di padepokan. Tapi saat keluar dari mobil, mereka lihat padepokan itu terlihat sepi. Waktu Toha dan Nara pernah ke sini, pondok-pondok di sana terlihat ramai dan banyak pengunjung yang datang. Sekarang suasana begitu lengang, tidak ada satupun orang terlihat di sana. Kecuali satu orang yang kebetulan melintas di halaman. Orang itu kakek-kakek tua, membawa sapu lidi. Ari dan teman-temannya pun mendatanginya. Lalu Nara menanyakan keberadaan Mbah Soma.
“Mbah Soma nggak ada,” kata kakek itu ketus,” Lagi pada ke Kalimantan.”
Lalu tanpa permisi, kakek itu pergi begitu saja. Ari dan teman-temannya jadi bengong.
“Mungkin lo bisa tanya sama kakek lo Ra?” tanya Ari ke Nara.
Nara mengangguk dan mengeluarkan ponselnya. Lalu dia menghubungi kakeknya. Agak lama Nara bicara dengan kakeknya. Setelah selesai, Nara terlihat tercenung beberapa saat.
“Gimana Ra?” tanya Ari.
“Iya bener Ri, memang orang padepokan lagi pada ada acara di Kalimantan,”jawab Nara,” Kata kakekku, ntar balik ke sini kira-kira dua minggu lagi.”
“Dua minggu…?” tanya Ari terperangah.
Ari memandangi teman-temannya. Sepertinya tidak mungkin mereka harus menunggu dua minggu lagi. Dan tampaknya mereka akan pulang dengan tangan hampa. Lalu di depan pagar terlihat mobil minibus datang dan parkir di sana. Tiga orang keluar dari mobil. Mereka memakai baju serba putih. Dari wajah mereka, terlihat mereka masih muda, beberapa tahun di atas Ari dan teman-temannya. Dan tampaknya, Ari, Toha dan Wira mengenali salah satu dari mereka. Tiga orang itu pun heran ketika melihat ada empat orang berseragam SMU ada di padepokan.
“Bang Yudha!” Toha memanggil salah satu dari mereka.
“Siapa kalian?” tanya orang yang dipanggil Toha.
“Masih ingat aku Bang? Tanya Toha,” Waktu di SMU favorit? Acara Persami?”
“O iya,” kata orang yang dipanggil Toha Bang Yudha,” Kamu kan anak yang pernah ke sini manggil-manggil Mbah Soma.”
“Iya benar Bang,” jawab Toha senang karena dikenali Bang Yudha.
Bang Yudha pun mulai mengingat-ingat Ari dan Wira.
“Kamu dulu yang cincinnya aku sita ya?” tanya Bang Yudha sambil menunjuk Wira.
“Iya Bang,” jawab Wira.
“Ada apa kalian ke sini?” Tanya Bang Yudha.
Lalu Ari maju, menjelaskan semuanya ke Bang Yudha.
“Wah sekolah kalian nggak pernah selesai masalahnya ya…” Guman Bang Yudha.
“Iya, semua gara-gara lorong bawah tanah,” sahut Nara.
Sebentar Bang Yudha memandangi Nara.
“Kamu namanya siapa?” tanya Bang Yudha ke Nara.
“Nara Bang,” jawab Nara.
“Dia cucunya Pak Suryo, dulu kepala sekolah SMU favorit,” Ari menjelaskan ke Bang Yudha,” Pak Suryo itu temannya Mbah Soma.”
“Iya, saya tahu,” kata Bang Yudha,”Saya sering ke rumah Pak Suryo, dulu kamu masih kecil,” Bang Yudha menunjuk Nara,” Saya keponakannya Mbah Soma.”
Lalu Ari meminta tolong Bang Yudha dan menunjukkan daun kelor yang dia bawa. Bang Yudha hanya memandang sekilas daun di dalam plastik yang dibawa Ari.
“Gini ya… Sekarang lagi ada hajatan besar di Kalimantan,” kata Bang Yudha,” Mungkin kalian bisa menunggu sampai semua kembali ke sini.”
“Bang Yudha, please, aku kira Bang Yudha bisa menolong kami,” kata Nara memohon.
Bang Yudha menatap Nara lama.
“Ok, nanti aku coba bicarakan sama temen-temen yang masih ada di sini,” kata Bang Yudha,” Aku minta nomor kamu dong Nara. Nanti secepatnya aku hubungi kamu.”
Nara pun memberikan nomor ponselnya ke Bang Yudha. Lalu Ari, Toha, Wira dan Nara berpamitan. Mereka berharap Bang Yudha segera membuat keputusan untuk membantu mereka. Di jalan, Wira tidak lagi melajukan kencang mobil Nara.
“Kira-kira Bang Yudha mau bantuin nggak ya?” Nara bertanya-tanya sendiri.
__ADS_1
“Kayaknya sih dia mau,” jawab Toha di belakang,” Soalnya kayaknya dia naksir lo Ra.”
Ari pun langsung menonjok lengan Toha. Walau Nara dan Wira sudah putus. Tapi pasti masih ada sisa-sisa perasaan di antara mereka. Wira hanya diam. Dia memaksakan matanya untuk konsentrasi di jalanan. Sementara Nara masih selalu memegang ponselnya. Nara berharap Bang Yudha segera menghubunginya.