Komplotan Tidak Takut Hantu

Komplotan Tidak Takut Hantu
Bab 7 : Hantu Anak Perempuan Kaki Hancur


__ADS_3

Hari berlalu. Ari sudah lulus SMP. Dia masuk ke SMU favorit


karena dulu bapaknya guru senior di situ. Ari bukan anak yang pintar. Memang


ada jatah buat anak-anak guru untuk masuk ke sana. Pagi ini hari pertama dia


masuk sekolah. Dia berangkat membonceng Ibunya naik motor. Setelah bapak Ari


meninggal, ibu Ari dapat pekerjaan di sekolah itu sebagai staf tata usaha.


Sampai depan pagar sekolah, Ari minta turun. Dia malu dilihat anak lain


berangkat sekolah membonceng ibunya.


“Udah Ma, Ari turun sini aja,” pinta Ari di belakang ibunya.


“Kenapa ngga sekalian di dalem aja sih,” tanya ibunya


melambatkan motor.


“Ih, udah ah, sini aja,” paksa Ari.


Ibu Ari menghentikan motor, membiarkan anaknya berjalan


bergabung dengan anak-anak lainnya di hari pertama. Ari sudah masuk gerbang


sekolah, menatap gedung sekolah barunya. Bangunan yang dibangun pada jaman


penjajahan Belanda. Gedungnya tua, dengan tembok tebal dan jendela yang


tinggi-tinggi. Tapi beberapa kali pernah direnovasi hingga tampak bersih dan


cerah. Ari melirik ke anak-anak yang berjalan di sekitarnya. Mereka pasti


anak-anak yang pintar. Untuk masuk sekolah ini harus punya nilai di atas


rata-rata. Tapi sesaat mata Ari tertambat pada sekumpulan anak perempuan yang


keluar dari parkiran mobil. Mereka berjalan begitu ceria. Dan salah satu dari


mereka membuat Ari harus menahan nafasnya. Itu Tata. Penampilannya berbeda.


Tapi Ari yakin itu Tata. Sekarang dia lebih cantik dan modis. Ari mulai


berjalan cepat tidak mau pandangannya terhalang. Berkali-kali dia berusaha


meyakinkan dirinya kalau itu Tata. Sampai dia dengar suara memanggil namanya.


“Ari!” seorang anak berseragam SMU mendekatinya.


“Haki!” Ari mengenalnya. Dia temen SMP. Dan Ari tidak heran


kalau dia masuk sekolah ini juga. Ibunya guru Bahasa Indonesia di sini.


“Eh lo di kelas 10-13 kan? Gue lihat nama lo di pengumuman,”


tanya Haki.


“Iye. Lo?” Ari balik tanya.


“Iye, satu kelas kita. Kita sebangku ya?” pinta Haki.


“Iye,” jawab Ari singkat. Ari sudah tahu mereka akan


ditempatkan di kelas itu. Kelas terakhir dari kelas 10 yang jumlahnya ada 13


kelas. Tempat murid-murid titipan guru-guru. Juga titipan pejabat atau orang


kaya yang kemampuan akademis anaknya di bawah standar.


“Eh, nge-vlog dulu kita!” Haki mengeluarkan smart phone dari


tasnya.

__ADS_1


“Eh, klo ketahuan guru disita lo,” Ari agak khawatir


temannya mengeluarkan ponsel di keramaian halaman sekolah.


“Tenang cuman di sini doang,” kata Haki berseloroh sambil


mengutak-atik pengaturan ponselnya. “Ok Gaes, ini kita di sekolah favorit.


Sekolah paling favorit di kota ini. Dan ini hari pertama kita masuk sekolah.


Hari ini kemungkinan belum ada pelajaran Gaes. Dan ini teman saya Ari. Dia ini


akan sebangku sama gue Gaes. Kita ini sohib Bro. Ayo dong Ari, smile?”


Senyum Ari tersungging sedikit. Dari tadi dia waspada kalau


ada guru yang melihat kelakuan temannya. Tapi Haki masih saja mengarahkan


kameranya ke sekitar. Sampai mereka tiba di teras gedung, Haki cepat-cepat


memasukkan ponselnya karena ada beberapa guru lewat situ. Mereka pun menuju ke


kelas. Dan Ari masih kepikiran dengan Tata.


Kelas Ari ada di ujung gedung paling belakang. Dekat dengan


tempat penyimpanan barang bekas dan bangku-bangku rusak. Kelas itu memang


dianaktirikan. Posisinya di lorong yang kurang penerangan dan kadang bau dari


septitank di luar masuk ke kelas. Hari pertama belum ada pelajaran. Wali kelas


sedang memperkenalkan dirinya pada murid-murid. Dia guru agama baru yang belum


berpengalaman. Bicaranya kadang masih canggung. Namanya Pak Riza. Kemudian ada


acara pemilihan ketua kelas. Dua orang murid bernama Kocik dan Boncel maju ke


depan sebagai kandidat. Kocik, anak laki-laki berbadan gede, sedikit gemuk.


seorang pengacara terkenal. Boncel, anak perempuan berbadan gede, sedikit gemuk


juga. Kulitnya hitam, rambutnya kribo. Dia dipilih karena anak pejabat polisi.


Tidak seperti yang lain, Ari tidak begitu antusias mengikuti


pemilihan ketua kelas. Karena yang menjadi perhatiannya kini anak perempuan


yang duduk di depannya. Anak itu memakai jaket. Beberapa menit yang lalu


tudungnya dia kenakan di kepalanya. Ari mengira dia sakit. Beberapa kali dia


silangkan tangannya di dada seperti kedinginan. Lalu anak itu mulai melihat


jendela. Dari sini Ari merasa ada yang tidak beres. Anak itu melihat ke jendela


lagi beberapa kali. Perasaan Ari mulai tidak enak seperti yang sudah-sudah.


Lalu anak itu mengacungkan jari, minta ijin ke Pak Riza untuk pindah bangku.


Dia mengaku kedinginan duduk di sebelah jendela. Pak Riza mengira dia sakit dan


mengijinkan pindah ke bangku lain yang jauh dari jendela. Ari perhatikan


jendela di sebelahnya. Taman kelas terlihat di luar. Di kelas, suara


murid-murid makin ramai saat pengambilan voting. Perhatian Ari mulai ke atas


jendela. Ada seonggok daging di sudut jendela atas. Ari mengira ada tikus mati.


Atau kucing mati. Tapi setelah Ari perhatikan lagi, itu adalah bentuk kaki. Itu


sepasang kaki manusia. Yang satu masih kelihatan bentuknya, yang satu sudah

__ADS_1


hancur. Ari perhatikan ke atas lagi. Kaki itu milik seorang anak yang memakai


rok seragam SMU dan dia sedang melayang di depan jendela. Badannya terlihat di


jendela. Kepalanya terlihat di lubang ventilasi di atas jendela. Wajahnya pucat


dan kelopak matanya gelap. Dia sedang melotot ke dalam kelas. Spontan Ari


keluarkan buku kecil dan pensilnya. Tangannya cepat menggerak-gerakkan pensil.


Dia gambar seorang anak perempuan berseragam SMU yang kakinya hancur, melayang


di luar jendela, melongok ke dalam kelas melalui lubang ventilasi.



“Gambar apaan tuh?” suara Haki mengagetkan Ari. Sepertinya


Haki sempat lihat apa yang digambar Ari.


“Nggak kok, ini iseng,” Ari cepat-cepat menutup bukunya.


“Coba lihat dong, serem banget deh,” Pinta Haki agak


memaksa.


“Bukan apa-apa kok, cuman iseng doang,” Ari masih tidak mau


kasih lihat.


“Ayolah, gua kan mau lihat gambar seorang maestro. Ari sang


maestro!” Haki coba membujuk.


“Ok… Tapi jangan bilang yang lain ya. Cuma lo doang yang gua


kasih tau,” Ari sedikit berbisik. Lalu dia menyobek kertas yang ada gambarnya


tadi. Dia kasih ke Haki.


“Nah gitu dong, kita kan sohib,” Haki antusias memelototi


gambar Ari. “Wow serem banget… Gambar lo emang keren Ri.”


Tidak berapa lama, Ari harus ambil kertas itu dari tangan


Haki. Karena dia lihat Pak Riza beberapa kali memperhatikan mereka. Sementara


hasil voting pun diumumkan. Kocik jadi ketua kelas, Boncel jadi wakilnya.


Saat pulang sekolah, Ari tidak mau diajak bareng ibunya. Dia


memilih naik bus. Tapi dia tidak langsung ke halte. Dia ada di depan parkir


mobil. Berkali-kali dia mengumpulkan keberanian untuk melakukan niatnya. Dia


harus membuktikan anak perempuan yang dia lihat tadi pagi adalah Tata. Dan yang


ditunggunya datang. Empat anak perempuan sedang berjalan ke arahnya sambil


bercanda. Tapi yang menjadi perhatian Ari adalah anak yang paling pojok. Anak-anak


perempuan itu sudah mendekati pintu parkir. Ari berusaha mendekat.


“Tata!” Ari berhasil meneriakkan suaranya.


Yang dipanggil pun menoleh. Dia kaget melihat Ari. Sesaat


dia berdiri mematung. Hanya sesaat. Lalu cepat dia kembali bergabung dengan


teman-temannya tadi. Salah satu temannya ada yang bertanya, siapa tadi yang


memanggilnya. Tapi anak perempuan itu justru mempercepat langkahnya. Dia

__ADS_1


seperti mengajak teman-temannya untuk cepat pergi dari situ. Kini tinggal Ari


sendirian di situ.


__ADS_2