Komplotan Tidak Takut Hantu

Komplotan Tidak Takut Hantu
Bab 47 : Masih Ada Hantu di Sekolah


__ADS_3

Hari ini hari Selasa. Dari pagi sampai bel pulang sekolah


berdering, Ari selalu memikirkan Lisa. Dia harus bicara dengan Lisa. Sebab


tidak seperti yang dia ungkapkan ke Lisa waktu itu di bus, ternyata sekolah


mereka masih berhantu. Tapi hari ini dia ada ekstrakurikuler melukis bersama


Toha. Dan Nara ada ekstrakurikuler fotografi. Ari pun bilang ke Toha, hari ini


dia tidak ikut ekstrakurikuler dulu, dia akan mencari Lisa di halte bus.


“Wah nggak asyik dong. Emang lo mikirin banget sih sama


Lisa,” kata Toha sebelum Ari meninggalkannya, “Terus Tata gimana?”


“Lisa itu nganggep gue seperti kakaknya, “ kata Ari bicara


buru-buru, “kakak laki-lakinya sudah meninggal dan dia itu sangat mengidolakan


kakaknya itu.”


Tetapi sebelum Ari beranjak pergi, ada suara memanggil Ari.


“Kak Ari!,” Lisa terlihat datang mendekat ke Ari dan Toha,


“Kak Ari belum pulang?”


“Belum…” jawab Ari terbata.


“Kita ada ekskul melukis,” kata Toha menyela.


“O gitu,” kata Lisa, “Boleh dong kak, aku mau lihat


lukisannya Kak Ari?”


“Boleh, boleh,” kata Ari.


Lalu mereka berjalan menuju ke ruang ekstrakurikuler


melukis. Toha yang berjalan di belakang Ari, masih heran dengan besarnya


perhatian Ari ke Lisa. Di ruang ekstrakurikuler melukis, Lisa begitu mengagumi


lukisan-lukisan Ari, juga lukisan-lukisan lain yang ada di ruang itu.


“E… Kak Ari nanti pulang jam berapa?” tanya Lisa setelah dia


melihat semua lukisan di ruangan itu.


“E…,” Ari masih bingung menjawabnya. Karena rencananya tadi


dia akan mencari Lisa dan Lisa sekarang sudah ada di depannya.


“Kak Ari naik bus kan pulangnya?” tanya Lisa.


“Iya…” jawab Ari.


“Ntar kita bareng ya… Kalau gitu nanti aku tunggu di


kantin,” kata Lisa. Dia sudah melihat pak guru pembina ekstrakurikuler melukis


masuk ruangan.


“Ok, nanti aku susul kamu ke kantin,”kata Ari.


Ari pun melihat Lisa sampai keluar ruangan.


“Kayaknya si Lisa suka sama lo deh Ri,” bisik Toha di dekat


Ari.


“Udah gue bilang, dia itu nganggep gue kayak kakaknya,”


jawab Ari.


Lalu kegiatan ekstrakurikuler melukis berjalan seperti


biasanya. Hingga satu jam kemudian, saat pak guru pembina tidak ada, pintu


ruangan diketuk. Nara terlihat di depan pintu. Kepalanya melongok-longok


mencari Ari dan Toha. Ari dan Toha pun beranjak menuju pintu.


“Ada apa Ra?” tanya Ari. Ari melihat Nara sudah memakai


jaket dan tudung kepalanya. Dan di tangannya dia bawa kamera.


Lalu Nara mengajak Ari dan Toha ke tempat sepi di samping


ruang ekstrakurikuler melukis.


“Ri tadi pas gue foto-foto makanan di kantin, gue nangkep


gambar anak kecil itu lagi,” kata Nara. Suaranya bergetar.


Ari dan Toha pun buru-buru memeriksa kamera Nara. Mereka


mulai menggeser display di kamera Nara. Ada beberapa foto makanan yang


disajikan di atas meja. Kalau diperhatikan, di belakang meja di semua foto itu


ada bayangan putih yang kabur. Bayangan itu membentuk kepala anak perempuan


berambut panjang. Dan tangannya yang hitam seperti sedang memegangi ujung meja.


“Anak kecil itu ada di kantin Ri,” desis Toha.


Ari pun langsung berlari menuju kantin. Karena dia tahu,


Lisa sedang menunggunya di sana. Sampai di kantin, Ari melihat Lisa sedang


duduk sendiri di sebuah bangku. Lisa sedang memakai headset-nya, mendengarkan


lagu dari ponselnya.


“Lisa! Kamu nggak apa-apa?” kata Ari tergopoh setelah ada di


depan Lisa.


Justru Lisa yang terheran-heran melihat Ari yang begitu


cemas memandanginya.


“Aku nggak apa-apa Kak,” kata Lisa sembari melepaskan


headset-nya.


“Ok… ok kalau begitu,” kata Ari lega sambil memandang


sekeliling.


“Ada apa Kak?” Lisa masih bingung.


“Enggak… enggak apa-apa,” kata Ari,” Tapi nanti kalau ada


apa-apa, aku ada di ekskul melukis ya,”


“Iya Kak,” kata Lisa senang karena dapat perhatian Ari.


Ari pun meninggalkan Lisa walau masih ada sedikit


kekhawatiran. Setelah ekstrakurikuler selesai, Ari cepat-cepat menuju ke

__ADS_1


kantin, sampai dia lupa berpamitan dengan Toha. Di kantin Lisa masih menunggu


di bangku yang sama. Wajah Lisa begitu ceria begitu melihat Ari. Mereka berdua


pun langsung menuju ke halte bus. Saat sore, bus agak sepi. Ari dan Lisa dapat


duduk di satu bangku.


“Lisa, ada yang harus aku sampaiin ke kamu,” kata Ari.


“Ada apa Kak,” tanya Lisa penasaran.


“Mungkin sekolah kita belum aman bener…” suara Ari pelan.


“Emang kenapa Kak?” tanya Lisa lagi.


“Maksud aku kamu nggak usah takut,” kata Ari serius,”Besok


fokus aja ke audisi kamu. Terus… Boleh nggak aku temenin kamu pas audisi.


Audisinya boleh dilihat umun kan?”


“Beneran Kak Ari?” mata Lisa berbinar-binar, ”Audisinya


boleh dilihat umum kok.”


“Ok, kalau gitu,” Ari lega, dia punya kesempatan untuk


menjaga Lisa,” Sama satu lagi… Besok kan kamu ada pelajaran komputer. Kalau pas


pelajaran komputer, kamu ke UKS aja, pura-pura sakit,”Ari benar-benar berharap


Lisa tidak mengikuti pelajaran komputer, mengingat temuan Ari kemarin tentang


dinding yang menghitam di ruang komputer.


“Emang kenapa Kak?” tanya Lisa.


“Aku takut kamu pingsan lagi,” jawab Ari.


“Aku janji nggak akan pingsan deh,” kata Lisa sambil


senyum-senyum.


“Aku serius,” kata Ari. Dia melihat Lisa tidak serius


menanggapi perkataannya.


“Beneran Kak. Demi Kak Ari, aku nggak akan pingsan besok,”


kali ini Lisa serius.


“Ok kalau gitu,” kata Ari. Dia sedikit heran, Lisa tidak


begitu khawatir dengan apa yang dia khawatirkan, “Tapi kalau ngerasa ada


sesuatu di ruang komputer, janji kamu cepat-cepat ke UKS ya. Aku juga akan


ngecek kamu.”


“Ok, aku janji Kak Ari, “kata Lisa. Walau wajahnya dibikin


serius, tetapi dia tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya atas perhatian Ari


yang diberikan kepadanya.


Dan sore itu di bus, Lisa mulai lagi bercerita tentang


kakaknya ke Ari. Dan Ari pun mendengarkannya dengan antusias. Sebab Ari


berharap Lisa tak pernah selesai bercerita dan dia ingin sore ini tidak akan


pernah ada habisnya.


***


gelisah memikirkan Lisa. Sebelum masuk ke kelas tadi, di taman, Ari sudah


menceritakan semua tentang Lisa ke Toha dan Nara. Dan jam pelajaran komputer


Lisa, ada di jam sebelum istirahat pertama. Begitu bel istirahat pertama


berdering, Ari langsung berlari keluar kelas menuju ke UKS. Karena dia berharap


Lisa menuruti kata-katanya untuk tidak ikut pelajaran komputer dan pura-pura


sakit ke UKS. Tapi saat sampai UKS, Ari tidak menemukan Lisa. Ruang UKS kosong,


tidak ada murid yang sakit di sana. Ari bergegas menuju Laboratorium Komputer.


Perasaannya semakin was-was ketika dia sampai di sana. Beberapa murid kelas


Lisa sudah bergerombol keluar laboratorium komputer. Ari pun mencari Lisa di


antara murid-murid itu, tapi dia tidak menemukannya. Lalu Ari menyeruak masuk


ke laboratorium komputer, di antara murid-murid yang masih tertinggal di dalam,


ada Lisa di sana. Lisa sedang membereskan barang-barangnya.


“Lisa! Kamu nggak apa-apa?” suara Ari terpekik pelan, takut


murid lain mendengarnya.


“Kak Ari…” Lisa agak kaget melihat Ari sampai menemuinya di


laboratorium komputer. Tapi wajahnya segera berubah ceria.


“Nggak ada apa-apa kan?” tanya Ari lagi sembari memandang


sekeliling. Dia masih merasa cemas.


“Nggak ada apa-apa Kak Ari,” kata Lisa tenang,”Aku kan udah


bilang ke Kak Ari, aku nggak akan pingsan,” bisik Lisa di dekat Ari.


Ari pun lega. Tapi dia jadi heran. Sebelumnya Lisa sudah


pernah pingsan dua kali. Membuat situasi jadi heboh saat itu. Dan kini di depan


Ari, Lisa tampak baik-baik saja. Sebelum keluar ruangan, Ari sempat


memperhatikan papan tulis yang ada di dinding.


“Kak Ari jadi kan nanti temenin aku audisi?” tanya Lisa saat


mereka sudah di luar laboratorium komputer.


“Iya jadi, kamu nggak usah khawatir,” kata Ari meyakinkan.


Lisa pun meninggalkan Ari dengan wajah ceria. Lisa terlihat


begitu bersemangat. Ari pun memperhatikannya sampai Lisa masuk ke lorong kelas


10. Hingga Bel pulang sekolah berdering. Ari sudah bersiap untuk menemui Lisa.


“Ri, kita juga mau ikut lihat audisi dong,” kata Nara


tiba-tiba menghampiri Ari.


“Iya Ri, kita kan satu komplotan,” kata Toha di belakang


Nara.

__ADS_1


“Wah, thanks gaes. Justru gue terimakasih sama kalian mau


bantuin,” jawab Ari yang gembira ditemani teman-temannya, “Tapi audisi baru


dimulai satu jam lagi.”


“Nggak apa-apa, nanti kita tunggu di kantin dulu,” kata


Nara.


Lalu mereka berpisah karena Ari akan mencari Lisa dulu. Ari


bertemu Lisa di lorong kelas 10 yang sudah sepi. Wajah Lisa bertambah ceria


begitu bertemu Ari. Selama bersama Lisa, Ari selalu siaga, beberapa kali dia


tengok kanan kiri mengamati sekitar. Sementara Lisa semakin bersemangat karena


ada Ari di dekatnya. Mereka sempat berhenti di tempat sepi, di sana Lisa


membuka bekal roti sandwich-nya. Dia berikan ke Ari satu, yang memang sudah dia


siapkan untuk Ari. Setelah perut mereka terisi, Ari dan Lisa langsung menuju ke


ruang ekstrakulikuler band di lantai 2. Tapi sebelum masuk ruangan, Lisa minta


ijin Ari untuk ke toilet. Ari pun menunggunya tak jauh dari ruangan


ekstrakurikuler. Sudah hampir 15 menit Ari menunggu, beberapa murid yang ikut


ekstrakurikuler band sudah berdatangan, termasuk beberapa murid yang ingin


menonton. Juga Toha dan Nara, mereka datang menemui Ari.


“Mana Lisa?” tanya Toha ke Ari.


“Lagi ke toilet. Sudah 15 menit sih, tapi belum keluar


juga,” Ari jadi merasa was-was.


“Ya mungkin lagi dandan,” kata Nara, “Dia kan mau audisi,”


Nara sudah siap dengan jaketnya. Dan kamera siap di tangannya.


“Sebaiknya gue cek deh,” sepertinya Ari tidak mau ambil


resiko.


Sebelum Ari beranjak ke toilet, Lisa sudah terlihat di ujung


lorong lantai 2. Tapi penampilan Lisa kini terlihat begitu berbeda. Ari, Toha


dan Nara sampai tidak percaya yang mereka lihat itu Lisa. Lisa mengenakan jaket


hitam, memakai sepatu boot hitam setinggi lutut, baju sekolahnya dikeluarin.


Dan make up di wajahnya tebal, terutama di bagian matanya. Maskaranya begitu


tebal di sekeliling matanya.


“Kak Ari, doain aku ya,” kata Lisa penuh semangat di depan


Ari.


“Iya Lisa…” kata Ari terbata. Ari masih terkesima dengan


penampilan Lisa,”Kamu fokus aja ya ke audisi… Jangan pikirkan yang lain.”


“Iya, pasti Kak,” kata Lisa.


Lalu dengan percaya diri, Lisa masuk ke ruangan


ekstrakurikuler. Ari, Toha dan Nara mengikutinya dari belakang. Semua orang yang


sudah ada di ruangan memandang ke arah Lisa. Dan saat Lisa naik panggung,


ruangan jadi hening. Lalu musik pun mulai dimainkan. Lisa langsung menggebrak


dengan suaranya. Dia benar-benar mengekspresikan dirinya saat menyanyikan


lagunya sampai Ari hampir-hampir tak percaya kalau yang dilihatnya adalah Lisa


yang dia kenal. Sampai Ari lupa dengan kekhawatirannya tentang sesuatu yang


akan mengganggu Lisa. Nara pun tak menyia-nyiakannya untuk mengambil foto Lisa


dengan kameranya. Sampai lagu selesai, semua yang menonton di ruangan riuh bertepuk


tangan. Lisa masih berdiri di panggung memegang mick-nya. Nafasnya masih


terengah karena gerakan-gerakannya tadi di panggung. Dia seperti tak percaya


dengan sambutan penonton semeriah ini. Lalu dia memandang Ari. Senyumnya melebar.


Lalu Lisa berlari menuruni panggung dan langsung memeluk Ari.


“Kak Ari aku berhasil melakukannya,” kata Lisa tanpa


mengendurkan dekapannya ke Ari.


“Iya Lisa…” kata Ari canggung. Dia tak tahu berbuat apa saat


Lisa masih mendekapnya.


Lalu Lisa mulai sadar. Dia terlalu antusias dan spontan


memeluk Ari. Orang-orang yang hadir di situ pun melihat kejadian barusan. Dan


Nara sempat mengambil foto Lisa yang memeluk Ari. Lalu cepat-cepat Lisa


melepaskan pelukannya.


“Maaf Kak Ari, aku terlalu antusias,” kata Lisa yang jadi


berubah canggung.


“Nggak apa-apa…” kata Ari yang tak kalah canggung,”


Penampilan kamu bagus sekali…”


Sementara ponsel Nara berbunyi. Nara cepat-cepat menerimanya


dan keluar dari ruangan karena itu panggilan dari Wira. Nara menerimanya agak


jauh, karena ruangan ekstrakurikuler band masih bising. Wajahnya semakin serius


saat bicara di ponselnya. Saat selesai dengan ponselnya, Nara langsung mencari


Ari dan Toha. Buru-buru dia mengajak Ari dan Toha mencari tempat sepi untuk


bicara.


“Ada apa Ra?” tanya Ari penasaran.


“Barusan Wira telpon,” kata Nara,” Kakaknya kan waktu itu yang


ikut masang cctv di sekolahan. Nah kakaknya itu ngirimin rekaman cctv ke Wira.


Dari kemarin Wira iseng ngelihatin rekaman itu. Tahu nggak? Hantu yang pernah


kamu gambar itu, tertangkap kamera.”


“Beneran,” kata Ari setengah tak percaya, “Hantu yang mana?”

__ADS_1


“Kata Wira, yang perempuan rambutnya ke atas,”Nara


menjelaskan,”Terus ada juga yang Noni-noni Belanda.”


__ADS_2