Komplotan Tidak Takut Hantu

Komplotan Tidak Takut Hantu
Bab 63 : Belinda, Hantu Remaja dari Gedung Alun-alun


__ADS_3

Hari ini Ari kesiangan. Hampir saja dia terlambat. Pintu gerbang sudah mau ditutup saat dia sampai di sekolah. Ari pun tidak bisa melihat Tata seperti biasa pagi-pagi dia lakukan di tempat parkir. Ini gara-gara hantu remaja dari Gedung Alun-alun yang Ari rasa dia sudah masuk ke mimpinya. Dan bunga mawar yang dia berikan ke Tata kini sudah tersimpan dalam tas ranselnya. Dia sudah tidak sabar untuk memberitahukannya ke Tata. Dan dia sudah tidak sabar untuk memberikan bunga itu ke Tata lagi.


Saat bel istirahat berbunyi, Ari langsung mendatangi bangku Nara.


“Ra, gue mau nanya dong…” Kata Ari ke Nara dengan suara sedikit berbisik.


“Kenapa Ri?” Tanya Nara sambil senyum-senyum. Dia tahu Ari kemarin jadian dengan Tata.


“Gini Ra…” kata Ari dengan muka tetap serius,” Lo tahu nggak, sekolah kita ini, dulu waktu jaman Belanda, fungsinya buat apa?”


“Ngapain lo nanya-nanya?” tanya Nara yang jadi serius.


Ari agak kesal dengan sikap Nara. Tapi dia benar-benar butuh jawaban Nara. Ari pun mendekat duduk di sebelah Nara sembari memandang sekitar. Ari tidak ingin ada anak lain mendengar apa yang dia katakan ke Nara. Lalu Ari ceritakan tentang hantu remaja di Gedung Alun-alun yang dia temui kemarin saat jadian dengan Tata. Tentu Ari tidak menceritakan kejadian pada malam harinya.


“Yakin lo dia ngomong gitu?” tanya Nara mencoba meyakinkan.


“Iya dia bilang gitu…” Jawab Ari, “Pokoknya banyak yang datang dari pelabuhan, lewat gedung alun-alun, terus mereka mau ke rumah sakit, nyari orang yang baunya kayak Tata.”


“Seinget gue, menurut yang gue baca di buku kakek gue nih… Sekolah kita dulunya tuh rumah sakit,” kata Nara serius,” Dan itu ada lorong yang nyambung dari pelabuhan ke Gedung Alun-alun, terus ke sekolah kita.”


Mereka pun saling berpandangan. Berarti memang ada sosok-sosok yang sedang menuju ke sekolah mereka dari tempat lain lewat lorong bawah tanah. Dan wajah Ari bertambah tegang. Karena dia tahu, dan hanya dia yang tahu, kalau Tata telah membunuh salah satu mahluk saat ada kejadian di Laboratorium Komputer. Jika yang dikatakan hantu remaja di Gedung Alun-alun itu benar, bisa jadi mereka yang sedang menuju ke sekolah memang sedang mencari Tata. Lalu ada beberapa murid yang lewat di sekitar mereka. Ari dan Nara pun jadi tidak dapat meneruskan pembicaraan mereka.


“Eh, gimana jadian kalian? Sukses?” tanya Nara mengubah topik pembicaraan.


“Iya gitu deh…” kata Ari. Dia masih kepikiran jika ada mahluk yang memang sedang mencari Tata.


“Tapi walau udah jadian, kalian susah buat ketemuan ya?” tanya Nara.


“Iya gitu deh..” kata Ari lagi dengan muka pasrah. Dia jadi ingat bunga yang tiba-tiba muncul di kamarnya tadi pagi. Dan kini dia sadar, dia tidak tahu cara untuk memberikannya lagi ke Tata.


“Gue tahu dimana lo bisa ketemu Tata di sekolah,” kata Nara serius.


“Dimana?” Tanya Ari spontan.


“Di belakang rumah Pak Min,” jawab Nara.


“Ya… Kalau Tata kesana, akan ketahuan…” Sanggah Ari.


“Jangan lewat depan rumah Pak Min…” kata Nara.


“Terus lewat mana?” Tanya Ari.


“Lewat Toilet cewek,” jawab Nara, ”Di belakang toilet cewek tuh ada pintu yang selalu digembok. Pintu itu kalau dibuka, langsung nembus ke belakang rumah Pak Min. Itu gembok, kuncinya yang bawa Pak Min.”


“Terus ngebukanya gimana?” Tanya Ari lagi.


“Gampang lah itu,” kata Nara, ”Ntar aku yang bilang ke Pak Min.”


Saat Jam istirahat mau selesai, Ari bertemu dengan Toha di toilet.

__ADS_1


“Ngobrol apa lo tadi sama Nara?” Tanya Toha ke Ari dengan muka curiga.


“Enggak… Aku kan tanya gimana cara ketemuan sama Tata,” kata Ari menenangkan,” Nara bilang di belakang rumah Pak Min aja. Nanti dia bilang Pak Min buat buka pintu yang nembus ke toilet cewek,” Ari sengaja tidak bilang perkataannya ke Nara tentang hantu remaja di Gedung Alun-alun.


“O… Iya tu Ri. Di belakang rumah Pak Min nggak bakalan ada orang tahu,” kata Toha memberikan dukungan.


Malamnya, Ari memberitahu Tata tentang ide Nara agar mereka bisa bertemu di sekolah. Tata pun antusias dengan ide itu. Mereka berencana untuk melakukannya besok. Ari sengaja tidak memberitahukan dulu tentang hantu remaja dari alun-alun yang datang ke mimpinya. Juga tentang bunga mawar yang tiba-tiba ada di kamarnya.


Besoknya, saat istirahat jam pertama, Tata pergi ke toilet bersama Astri. Tata sudah bilang rencananya ke Astri. Dari toilet, Tata menyelinap ke belakang. Di sana, Tata lihat pintu yang biasanya digembok, kini sudah tidak


ada gemboknya lagi. Tata pun masuk ke sana. Dan di balik pintu, Ari sudah berdiri menunggu. Mereka pun saling senyum. Ini pertemuan pertama mereka sejak jadian di Gedung Alun-alun. Serasa menunggu lama untuk pertemuan kali ini setelah mereka jadian. Ari mengajak Tata duduk di bangku yang sengaja sudah disediakan di situ. Lalu Ari mengambil setangkai bunga mawar dari tasnya. Bunga itu dia serahkan ke Tata.


“Kamu beli lagi ya Ri…?” Tanya Tata.


“Enggak… Ini bunga yang waktu itu aku kasih ke kamu di Gedung Alun-alun,” jawab Ari.


Tata menatap Ari dengan muka bingung. Ari pun menjelaskan kejadian malam harinya setelah mereka jadian.


“Jadi hantu itu yang kasih bunga ini ke kamu?” Tanya Tata.


Ari mengangguk.


“Berarti dia baik ya Ri,” kata Tata.


Ari mengangguk tapi pelan. Karena dia masih belum tahu maksud hantu itu dengan mengembalikan bunga yang kini sudah di tangan Tata. Tapi Tata seperti tidak peduli mengenai hantu itu. Bunga tanda jadian mereka kini ada padanya. Wajahnya Tata makin ceria. Dia hirup bunga mawar yang sudah setengah layu itu di hidungnya dengan tak berhenti menatap Ari. Ari sebenarnya ingin membahas apa yang dikatakan hantu di Gedung Alun-alun tentang sosok-sosok yang sedang menuju sekolah mereka. Tapi Ari ragu, karena sepertinya Tata sedang begitu menikmati keceriaannya menemukan bunganya lagi.


“Apa…?” Tanya Tata sembari masih mencium bunga di tangannya.


“Rumah sakit…” Jawab Ari.


“O, gitu…” Jawab Tata seadanya.


“Iya… Inget nggak Ta, waktu hantu itu bilang ada yang sedang menuju ke rumah sakit, dari pelabuhan lewat Gedung Alun-alun.”


“Iya…”


“Inget nggak Ta…?”


“Iya Ri, aku inget…”


Ari agak kesal karena Tata tidak terlalu serius menanggapi. Tata pun melihat perubahan di wajah Ari. Tata mulai menjauhkan bunga mawar dari hidungnya.


“Ri… Belum tentu juga yang dikatakan hantu itu bener kan,” kata Tata pelan,” Lagian, bukannya lorong di sekolah kita sudah dipagari sama orang-orang padepokan.”


“Iya sih Ta…” Ari kini merasa mungkin dia tertalu berlebihan. Mungkin karena dia terlalu khawatir dengan keselamatan Tata. Dan Ari merasa, setelah mereka jadian, Tata terlihat lebih tenang.


“Ntar aku tanyain juga deh ke Astri, sekolah kita ini dulunya apa?” kata Tata.


“Iya Ta, tanyain ke Astri juga,” kata Ari.

__ADS_1


“Eh, Ri tahu nggak, kemarin Jodi dateng ke rumah,”


“Ngapain dia ke rumah kamu Ta?”


“Iya… Dia itu  pengen ngajak aku jadian lagi,” jawab Tata,”Tapi aku selalu bilang, aku nggak mau jadian sama siapa-siapa dulu.”


“Kan kita udah jadian?” kata Ari.


“Iya… Tenang Ri,” kata Tata yang justru geli melihat Ari yang mulai terlihat emosi,” Kita nggak akan terpisahkan kan Ri?”


“Iya Ta… Kita nggak akan terpisahkan,” kata Ari lebih tenang.


“Sebenarnya bukan itu yang aku mau bilang ke kamu Ri…”


“Terus…?”


“Inget nggak Ri, yang kejadian mobil Nara dicoret orang…? Kemarin Jodi bilang, kayaknya dia keceplosan… Waktu itu, dia sama anak basket lagi ada acara sampai malem, mereka lihat mobil Nara parkir di depan sekolah. Terus mereka ramai-ramai beli pilox…”


“Serius Ta…?”


“Iya… Tapi kamu jangan bilang ke Nara sama Wira ya Ri… Takutnya nanti situasinya malah tambah buruk.”


Ari hanya mengangguk. Mungkin dia tidak akan cerita ke Nara atau Wira. Tapi entah kenapa dia merasa tidak terima.


“Tapi kenapa kamu bilang ke aku?” tanya Ari.


“Ya… Aku kan nggak mau ada rahasia di antara kita Ri,” jawab Tata.


Ari mengangguk, menatap dalam mata Tata yang berbinar. Lalu Ari melihat jam tangannya. Begitu juga Tata. Jam istirahat pertama hampir habis. Mereka pun segera beranjak dari tempat itu. Sebelum keluar pintu, Tata melambaikan tangannya ke Ari. Dan di tangan Tata yang satunya, setangkai bunga mawar masih digenggamnya erat.


Malam harinya, saat ada di meja belajarnya, Ari masih tidak bisa berhenti memikirkan apa yang dilakukan Jodi dan teman-temannya pada Nara. Bisa jadi, saat kejadian jaket Nara digantung di atas pohon, juga merupakan perbuatan mereka. Lalu Ari merasa ada orang yang duduk di atas ranjangnya. Ari pikir, tidak mungkin itu ibunya, karena baru saja ibunya keluar rumah untuk pergi ke dokter. Dan bau bunga melati mulai tercium. Ari pun tahu siapa yang ada di sana. Tapi Ari sengaja tidak menoleh ke arah ranjang. Ari berusaha tak menghiraukannya. Dia paksa terus untuk membaca buku yang ada di mejanya. Walau bau melati masih tercium, Ari tetap konsentrasi ke buku-buku pelajarannya. Sampai terdengar ibu Ari pulang dari dokter. Dan Ari merasa, lama-lama dia tidak mencium bau melati lagi.


“Kamu masih belajar Ri?” ibu Ari melongok di pintu kamar. Dia agak heran dan juga bangga, karena sudah beberapa minggu ini Ari selalu belajar sampai larut malam.


“Sebentar lagi selesai Ma,” jawab Ari.


Ari melihat wajah ibunya masih sedikit pucat.


“Apa kata dokter Ma?” tanya Ari ke ibunya.


“Nggak apa-apa, cuma kecapekan aja,” kata ibu Ari sembari membereskan meja makan.


Ari masih memandangi ibunya dari kamar. Dia jadi merasa kasihan. Sejak bapak Ari, meninggal, Ari tidak pernah melihat wajah ibunya tersenyum. Kini ibunya harus banting tulang bekerja sendiri. Selain bekerja sebagai staf tata usaha di sekolah Ari, ibu Ari juga menerima pesanan jahitan. Dan Ari merasa, ada sesuatu yang disembumyikan ibunya mengenai kesehatannya.


Malam ini hujan turun lebat lagi. Ari sudah telentang di atas ranjangnya. Dia pakai selimutnya sampai sebatas leher. Kali ini lampu kamar sudah dia matikan. Walau sudah mengantuk, tapi Ari masih was-was. Sedikit-sedikit dia coba hirup udara, tapi dia tidak mencium bau melati. Kantuknya pun semakin menjadi. Di antara tidur dan sadar Ari merasa ada sesuatu melayang di atas badannya. Lalu Ari melihat sosok yang membujur telungkup tepat di atas tubuhnya terlentang. Lalu tatapan mata itu begitu dekat. Sepasang mata berwarna biru dan berwarna merah. Mata itu semakin besar mendekat ke wajahnya. Dan sosok itu sepertinya sudah menempel ke badan Ari. Ari pun berusaha berontak.


“Namaku Belinda,” kata sosok remaja perempuan berambut pirang itu di dekat telinga Ari.


Sekuat tenaga Ari berusaha bangun. Dan akhirnya dia bisa duduk di atas ranjangnya. Nafasnya terengah. Peluh memenuhi wajahnya. Sosok itu sudah tidak ada. Dari jendela kamar terlihat  petir menyambar-nyambar di luar sana.

__ADS_1


__ADS_2