
Di jalan tol, tidak ada yang bicara di dalam mobil. Ari, Toha, Wira dan Nara harap-harap cemas, Bang Yudha mau membantu mereka. Baru saja mobil keluar jalan tol, ponsel Nara berdering. Ada panggilan dari Bang Yudha. Nara langsung mengangkatnya.
“Halo Bang Yudha” kata Nara,”Gimana Bang? Bisa kan nanti datang ke sekolah?”
“Halo Nara, tadi sih aku udah diskusi sama temen-temen yang masih ada disini…” kata Bang Yudha di ponsel Nara,” Kita sih sepakat untuk bantu kalian.”
“Waduh terimakasih Bang Yudha…” kata Nara lega,” Terus kapan bisanya Bang Yudha datang ke sekolah? Kalau bisa sih malam ini. Kalau malam kan nggak ada siapa-siapa di sekolah.”
“Gini Nara…” kata Bang Yudha,” Kalau malam, takutnya, bahaya buat kalian. Soalnya nanti kita cuma bertiga… Takutnya kalau ada apa-apa, kita nggak sempet ngelindungin kalian. Kalau besok gimana?”
“Kalau besok paling bisanya setelah jam satu Bang Yudha, nunggu pintu gerbang dibuka,” kata Nara.
“Ok Nara, kalau gitu besok jam satu aku datang ke sekolah kamu.”
“Tapi gini Bang Yudha… Biar nggak pada curiga, nanti Bang Yuda ngakunya dari komunitas fotografi, pura-pura mau kasih tutorial ke ekstrakurikuler fotografi. Kebetulan besok aku ada jadwal ekstrakurikuler fotografi. Bang Yudha ada kan alat-alat fotografi? Nanti bisa dibawa Bang.”
“Waduh, mana ada kita alat-alat fotografi Nara…”
“Mmm… Kalau nggak, bisa nggak nanti malan Bang Yudha datang ke rumah ambil alat-alat yang Nara punya?”
“Boleh kalau begitu Nara. Nanti malam aku akan ke rumah kamu, sekalian nanti kita bicarakan detil rencananya ya.”
“Ok Bang, terimakasih.”
Lalu Nara menutup ponselnya.
“Bang Yudha mau ke rumah lo ntar malam Ra?” Tanya Wira sembari terus nyetir memperhatikan jalanan.
“Iya, nanti dia mau ambil alat fotografi, sekalian ngomongin rencananya besok,” jawab Nara.
“O, gitu. Jangan sampai kemaleman aja Bang Yudha-nya di rumah lo,” kata Wira datar.
“Lah, emang kenapa?” kata Nara sewot,” Sudah bagus dia mau bantuin kita…”
Nara dan Wira pun saling diam. Ari dan Toha yang di belakang jadi ikut diam. Mereka berdua tahu, hubungan Nara dan Wira masih belum pulih benar. Tapi Ari lega, walau dengan situasi yang seperti ini, yang penting ada orang padepokan yang mau membantu mereka.
Malamnya, setelah selesai belajar, Ari memandangi ponselnya di meja. Dia menunggu kabar dari Nara. Tak berapa lama ada panggilan dari Nara. Ari langsung mengangkatnya.
“Gimana Ra?” Ari langsung tanya.
“Ri, besok konfirm ya, Bang Yudha datang ke sekolah jam satu,” kata Nara di ponsel Ari,” Pokoknya begitu gerbang dibuka, mereka langsung masuk. Aku nanti akan tungguin di depan.”
__ADS_1
“Ok,” jawab Ari serius,” berarti kita cari hantu bayangan pagi-pagi waktu masih sepi. Pagi-pagi kita coba masuk ke ruang kepala sekolah.”
“Ri, kalau kata Bang Yudha, kita cari hantu bayangannya sebelum jam satu,” kata Nara,” jangan jauh-jauh dari jam satu.”
“O, gitu ya Ra,” kata Ari, “Berarti jam istirahat kedua paling…”
“Iya Ri, jam istirahat kedua,” Nara memastikan, “Daun kelornya masih sama kamu kan?”
“Masih Ra,” jawab Ari.
“Kalau gitu lo kabarin ke Wira ya Ri. Gue kabarin ke Toha.”
“Lah, bukannya lo yang musti kabarin ke Wira?”
“Udah deh Ri, nggak usah berdebat masalah ginian. Males gue…”
“Iye, iye Ra.”
Lalu Ari pun menghubungi Wira dan menerangkan rencana besok. Setelah itu Ari memastikan daun kelor masih ada di tasnya. Melihat daun kelor di dalam plastik, Ari jadi ingat Tata. Besok, jam satu, Bang Yudha baru datang ke sekolah. Ingin sekali Ari menelpon Tata dan menyuruhnya supaya Tata besok tidak masuk sekolah saja. Tapi pada akhirnya Ari sadar, dia terlalu berlebihan mengkhawatirkan Tata. Tata pernah bilang ke Ari sebelumnya bahwa dia juga bisa jaga diri. Ari juga ingat kata-kata Pak Hudi, kalau Tata bisa jadi punya kemampuan melebihi dirinya. Ari pun berusaha untuk tidak terlalu mengkhawatirkan Tata. Dan Sebelum tidur, Ari masih memikirkan rencana besok. Akankah dia siap bertemu dengan hantu bayangan? Kalau sudah begini, ingin sekali Ari bertemu dengan Belinda. Tapi pada akhirnya, kantuk membuat dirinya tertidur.
Pagi-pagi, Ari sudah datang ke sekolah. Daun kelor masih tersimpan dalam ranselnya. Baru masuk gerbang sekolah, perasaan Ari sudah tidak enak. Sudah dua kali Ari melihat sosok yang aneh-aneh di depan gerbang tadi. Dari kejauhan saja, Ari bisa melihat bayangan-bayangan yang melintas di lorong kelas. Ari yakin, pihak sekolah tidak melakukan apa-apa dan hanya membiarkannya saja. Kalau sudah begitu, Ari hanya terpikirkan sosok Pak Suman. Saat Ari baru berjalan di halaman, terlihat Pak Min tergopoh setengah berlari mendatanginya.
“Ari!” Pak Min memanggil Ari.
“Ari, tadi malam saya lihat lagi,” kata Pak Min sembari mengatur nafasnya,” Kayak ada kebakaran, tapi tadi malam saya lihat di dalam lab kimia. Saya cepet-cepet buka labnya, tapi waktu saya masuk ke dalam, nggak ada apa-apa.”
“O, gitu Pak Min,” kata Ari.
Lalu dari jauh Ari melihat Pak Suman baru keluar dari mobilnya dan berjalan menuju ruang guru. Ari pun cepat-cepat berpamitan ke Pak Min. Dia harus cari akal, bagaimana caranya nanti jam istirahat kedua bisa masuk ke ruang kepala sekolah. Hari ini, Ari merasa murid yang datang ke sekolah tidak sebanyak seperti biasanya. Di kelas Ari, hanya beberapa murid yang masuk, termasuk Kocik. Itupun mereka sudah siap melompat pagar lagi apabila terjadi sesuatu di sekolah mereka. Dan tersebar berita, Jodi sang bintang basket, akan pindah sekolah. Ari pun sudah bertemu Toha, Wira dan Nara. Jam istirahat pertama, mereka sepakat berkumpul di mobil Nara untuk membicarakan rencana mereka nanti di jam istirahat kedua. Setelah bel masuk, banyak jam pelajaran yang kosong, karena guru-guru juga banyak yang tidak masuk. Beberapa kali Ari, Toha, Wira dan Nara melihat sosok-sosok yang melintas di depan kelas mereka. Tetapi mereka berusaha untuk bersikap tenang agar teman-teman sekelas lainnya tidak panik. Ari sudah bilang ke Kocik, maksimal sampai istirahat kedua, mereka harus keluar dari sekolah, meski harus lompat pagar seperti kemarin.
Bel istirahat pertama berdering. Ari, Toha, Wira dan Nara, serentak keluar kelas. Tapi baru keluar pintu, terlihat Astri berlari di lorong menuju kelas Ari. Melihat Astri, Toha pun menyusulnya.
“Ada apa Tri?” tanya Toha.
“Mana Ari, Ha?” tanya Astri dengan nafas terengah.
“Ada apa Tri?” tanya Ari.
“Ri, Tata Ri…” suara Astri gemetar.
“Tata kenapa?” tanya Ari cemas.
__ADS_1
“Tenang Tri… Kamu harus tenang dulu,” kata Toha.
“Iya… tadi Pak Suman datang ke kelas,” suara Astri sudah agak tenang,” Dia datang ke bangku kita, terus tanya-tanya tentang projek karya ilmiah selanjutnya. Terus Tata jelasin projeknya ke Pak Suman. Terus Pak Suman minta ditunjukin prakteknya di lab…”
“Lab mana?” tanya Ari tak sabar.
“Lab kimia,” jawab Astri.
Ari langsung ingat cerita Pak Min tadi pagi. Bagaimana Ari tidak memperhatikan apa yang dikatakan Pak Min. Lalu kata-kata Belinda langsung terlintas di otak Ari, tentang hantu mata satu bergigi panjang yang suka bermain api. Darah Ari serasa berdesir. Spontan dia langsung berlari ke laboratorium kimia. Toha, Wira dan Nara pun menyusul Ari. Sesampai di laboratorium kimia, terlihat dari jendela, lampu ruangan menyala semua. Pertanda ada orang di dalam sana. Tapi ketika Ari hendak masuk, ternyata pintu laboratorium terkunci. Lalu samar Ari mendengar teriakan anak perempuan dari dalam. Ari tahu betul itu suara Tata.
“Tata!” teriak Ari memanggil Tata.
Ari pun berusaha mendobrak pintu.
“Ada apa Ri?” tanya Toha yang baru sampai di situ.
“Tata ada di dalam,” pekik Ari.
Toha dan Wira langsung membantu Ari mendobrak pintu. Tapi pintu itu terlalu kuat buat mereka bertiga.
“Ra! Bisa minta tolong ke Pak Min?” pinta Wira ke Nara yang baru sampai di situ.
Nara mengangguk dan langsung beranjak untuk mencari Pak Min. Tapi Ari merasa tidak mungkin untuk menunggu Pak Min. Tata ada di dalam sana. Dalam bayangan Ari, hantu mata satu bergigi panjang ada di sana. Ari melihat di atas jendela ada lubang ventilasi. Ari minta tolong Toha dan Wira menopangnya untuk bisa menjangkau lubang ventilasi. Setelah ditopang Toha dan Wira, Ari bisa masuk dengan susah payah lewat lubang ventilasi yang sempit. Hingga Ari jatuh terjerembab di lantai laboratorium. Ari merasa tidak punya waktu. Dengan meringis menahan sakit, Ari berusaha bangkit dan melangkah cepat ke dalam. Sekali lagi Ari mendengar teriakan Tata. Kali ini lebih jelas. Arahnya dari ruang penyimpanan preparat.
“Tata!” Ari memanggil Tata.
“Ari!” jeritan Tata terdengar dari ruang preparat.
Ari berlari ke sana. Saat masuk ruang preparat, Ari melihat Tata sudah berdiri di pojok ruangan. Wajah Tata panik. Tata tidak bisa bergerak kemana-mana, karena di sekeliling Tata, ada api menyala-nyala. Dan di pojok yang lain, Ari melihat satu sosok. Kini Ari benar-benar melihat sosok itu. Sosok yang diceritakan Belinda. Matanya satu. Giginya panjang. Ari melihat taring tajam, panjang melengkung, keluar dari mulut yang berdarah-darah. Sosok itu sedang memaju-majukan hidungnya mencari-cari sesuatu. Ari tahu, dia sedang mencari Tata. Dan Tata masih memakai
kalungnya. Seperti yang Belinda bilang, hantu itu hanya bisa mencium bau Tata. Ari melihat Tata yang kebingungan. Ari yakin, dengan kalung yang masih dipakainya, Tata tidak bisa melihat hantu itu. Tapi di sekeliling Tata banyak
nyala api yang melayang-layang, hingga Tata tidak bisa bergerak ke mana-mana. Di tangan hantu itu ada api yang menyala. Sembari mengendus-endus, hantu itu mulai mendekati Tata. Tata terlihat semakin panik, karena ada nyala api lagi yang mendekat ke arahnya. Tata menatap Ari meminta perlindungan. Ari pun mengasih kode ke Tata untuk tetap diam di tempatnya dan jangan bersuara. Sementara api di sekitar Tata mulai membesar.
“Wooooiii!” Ari berteriak keras-keras dari tempatnya berdiri.
Hantu itu pun baru menyadari kalau ada orang lain di situ. Mata satunya melotot menatap Ari yang berdiri tidak jauh darinya. Hantu itu terlihat kaget, karena ada manusia yang bisa melihat dirinya. Matanya yang melotot mulai dipenuhi warna merah darah. Nyala api di tangannya mulai membesar.
“Orang yang membunuh saudaraku harus mati,” suara hantu itu terdengar serak.
“Aku yang membunuh saudaramu,” kata Ari spontan.
__ADS_1
Hantu itu makin melotot, matanya satunya seakan mau copot menatap ke Ari. Lalu dia tertawa dengan suara yang memekak. Tawa menyayat itu keluar dari mulut menganga yang mencuatkan taring panjangnya. Hantu itu merasa telah menemukan buruannya. Tangannya membuat gerakan ke atas hingga api di tangannya semakin menjilat-jilat sampai ke langit-langit. Ini yang Ari pikirkan semalaman. Tapi bukan hantu bayangan yang ada di depannya, sekarang dia berhadapan dengan hantu yang mungkin lebih jahat dan lebih buas. Ini adalah hantu yang mengincar Tata. Lalu Ari melihat Tata. Kepanikan ada di wajah Tata. Posisinya kini sudah terpojok diantara nyala api. Tata terlihat sudah tak berdaya. Lalu Ari teringat janjinya pada ibunya untuk melindungi Tata. Hingga pernah dia merasa tidak akan bisa memenuhi janji itu. Tapi ini adalah momen dimana dia harus melupakan segala keraguannya. Sudah tidak ada pilihan lain lagi. Keselamatan Tata sekarang di atas segalanya.
Ini adalah detik-detik dia harus menjadi lebih jahat dan lebih buas dari hantu yang sedang tertawa-tawa di depannya. Tata pernah melakukannya tanpa sengaja saat insiden di laboratorium komputer. Tapi sekarang, dia harus dengan sengaja melakukannya. Belinda ada di otaknya sekarang. Belinda bilang kakeknya mendatanginya malam itu. Sosok orang tua itu mengatakan sesuatu kepadanya. Dan kata-kata itu, Ari tak pernah lupa.