
Sementara itu di dalam [Throne room]
Suara jeritan orang yang tersiksa menggema di dalam ruangan itu.
Suara itu terdengar seperti campuran dari suara tangisan, rengekan minta ampun dan teriakan rasa sakit, Semuanya bercampur manjadi satu.
Jika ada orang awam yang mendengarnya, mereka pasti akan berfikir kalau monster yang menakutkan telah keluar dari neraka.
"Hahahaha, ada apa? Bukankah tadi kau bertingkah sangat sombong. Kenapa kau diam saja sekarang?"
Alice sedang menggoda pria yang ada didepannya. tidak, dia benar-benar menyiksanya saat ini.
Alice mendekatkan telinganya ke mulut pria itu tetapi yang dia dengar hanya teriakan dan tangisan.
Pria itu adalah salah satu dari anggota kelompok bandit yang menyerang labirin. dia sudah disiksa selama beberapa jam oleh alice, tubuh dan jiwanya benar-benar berantakan saat ini.
"Halo, apa kau bisa mendengar ku tuan bandit yang jahat? Aku masih membutuhkanmu untuk menjawab beberapa pertanyaan ku, jadi kau masih belum boleh mati saat ini.
Tapi jika kau bisa menjawab pertanyaan ku dengan benar, aku mungkin bisa membebaskanmu dari penderitaan yang kau rasakan."
Mendengar perkataan Alice, pria itu mencoba menahan rasa sakit yang membuatnya gila dan berusaha untuk berbicara.
"A...Ku a..ka.n"
Mungkin karena telah terlalu banyak disiksa, pria itu hanya bisa mengeluarkan kata-kata pendek yang terdengar tidak jelas dari mulutnya. Suaranya sangat serak dan menyedihkan, seperti orang yang berusaha untuk mengucapkan kata-kata terakhirnya sebelum mati.
Alice yang mendengar jawabannya tersenyum lebar.
"bagus, aku akan memberimu satu kesempatan. Tergantung dari jawabanmu, aku mungkin akan melepaskanmu. Katakan padaku dimana markas kalian?"
"gu.. nun..g to.. r.. li"
"hahh...!!! Apa kau bilang? Aku tidak mendengarmu dengan baik, suaramu terlalu kecil, bisa kau ulangi lagi!? "
"gun..ung tor..li"
Mendengar perkataan Alice sebelumnya, kali ini pria itu meneriakkan jawabannya sekuat tenaga. dia menggunakan seluruh kekuatannya yang tersisa untuk menjawab pertanyaannya dan berharap kalau Alice akan melepaskannya kali ini.
tetapi harapannya menjadi sirna saat dia berbalik. Pria itu melihat kalau Alice saat ini sedang fokus memandangi kristal yang ada didepannya dan terlihat mengabaikannya.
Merasakan tatapan dari pria itu, Alice berbalik memandangi pria itu dan tersenyum.
"ahh... Maafkan aku, perhatian ku teralihkan tadi. Jadi apa jawabanmu? "
Seolah-olah tidak terjadi sesuatu sebelumnya, Alice kembali bertanya kepada pria itu sambil tersenyum ceria diwajahnya yang imut.
__ADS_1
Mendengar jawabannya, pria itu merasa ada yang hancur dihatinya. harapannya sirna seketika, Jangankan berbicara, bahkan untuk mengangkat kapalanya pun sudah tidak bisa.
energinya sudah terkuras habis, dia hanya bisa terbaring ditanah sambil merasakan rasa sakit dari penyiksaan yang dia terima. Tubuhnya sedikit demi sedikit digerogoti oleh segerombolan tikus hitam. Mereka dengan senang hati memakan daging dan tulangnya serta meminum darahnya.
Melihat pria itu tidak meresponnya sama sekali, Alice melambaikan tangan didepan wajah pria itu.
"hey... Tuan bandit, kenapa kau kembali diam? Ini kesempatan tarakhirmu lohh... Kau yakin ingin melewatkannya!?"
Pria itu hanya diam ditanah, jika bukan karena suara nafas lemahnya masih terdengar, orang-orang mungkin akan mengira kalau dia sudah mati.
"huhh... sangat disayangkan. Karena kamu tidak bisa menjawab pertanyaan ku, penyiksaanmu akan terus berlanjut, Sama seperti teman-temanmu yang ada disana"
Sebenarnya bukan hanya dia yang sedang disiksa di ruangan itu, tetapi teman-temannya yang lain juga mengalami nasib yang sama sepertinya. Tubuh mereka juga sedang digerogoti oleh segerombolan tikus, sesekali terdengar suara rintihan kesakitan dari mereka.
Total ada 7 bandit yang sedang terbaring dilantai menjadi makanan para tikus.
Alice yang menjadi dalang dari semua ini tersenyum lebar. Mungkin karena umurnya yang masih muda, bukannya memberikan kesan menakutkan, senyumnya malah meningkatkan kesan imut yang dia miliki.
“Maa, meskipun aku sudah mengetahui lokasi markasmu setelah membaca ingatanmu secara langsung dan tidak perlu bertanya padamu.
Tapi sejujurnya, aku ingin mendengarnya langsung dari mulutmu ~. Bukankah kamu juga berpikir begitu, Conley? ”
“…. I, iya"
Alice terdengar sangat senang saat ini, dia memandangi kelompok bandit yang tubuhnya perlahan-lahan habis dimakan oleh tikus. Tikus-tikus ini bukanlah mahluk nyata tetapi efek dari sihir terlarang yang disebut [Black Plague].
Disaat kau membunuh tikus-tikus ini, jumlah mereka akan terus bertambah semakin banyak. kau juga tidak bisa menghindari tikus-tikus ini, selama mereka telah mencicipi daging atau darahmu, tikus ini dapat melacakmu dimanapun kau berada.
Tikus ini akan menghilang dengan sendirinya saat orang yang ditargetkan telah habis dimakan atau penyihir yang menggunakan sihir ini mati.
Awalnya orang-orang ini masih menunjukan perlawanan, mereka bahkan sempat melontarkan makian dan hinaan kepada Alice. Tetapi setelah waktu berlalu dan jumlah tikus bertambah semakin banyak, mereka kehilangan kemampuan untuk melawan dan hanya bisa pasrah terbaring ditanah sebagai makanan tikus
Tikus meminum darah yang keluar dari luka mereka dan menghindari memakan bagian vital untuk membuat orang-orang ini tetap hidup lebih lama dan merasakan rasa sakit yang sangat luar biasa.
Mereka terus makan tanpa henti bahkan setelah perut mereka membuncit. mereka tetap makan sampai mati dan tikus baru akan muncul menggantikan yang sebelumnya untuk makan. Siklus ini terus terulang sampai target tidak menyisahkan apa pun.
Conley yang menyaksikan ini tidak dapat membayangkan separah apa rasa sakit yang meraka rasakan saat ini. Dia berfikir kalau kematian adalah hadiah terbaik untuk mereka.
Sejujurnya dia sangat takut saat ini, punggungnya juga sudah basah oleh keringat dingin. Tetapi dia mencoba untuk tetap bersikap tenang diluar dan bersyukur didalam hatinya karena tidak mengalami nasib buruk seperti mereka.
Meskipun begitu, penyiksaan yang dilakukan Alice terlalu kejam dan menakutkan. Biasanya dia akan bertingkah imut dan sedikit nakal saat bersama dengan kakaknya. Tetapi disaat Aaron tidak ada, sikapnya akan berubah drastis.
Disaat Conley pertama kali memasuki ruang tahta, dia sudah menyadari sejak awal kalau orang yang paling menakutkan didalam labirin ini adalah gadis imut yang terlihat masih berumur sekitar 12 tahun yang sedang tersenyum bahagia dihadapannya.
orang-orang awam mungkin akan tertipu dengan penampilannya yang baik, tetapi mereka tidak tau kalau gadis yang berdiri didepannya adalah monster menakutkan yang keluar dari neraka.
__ADS_1
Aaron memiliki penampilan seperti pria yang masih berumur sekitar 17 atau 18 tahun, dia memiliki perawakan yang tegas dan berwibawa. selain itu aura mengintimidasi terus terpancar dari tubuhnya tanpa dia sadari. hal inilah yang membuat kesan menakutkan semakin kuat padanya
Tetapi meskipun begitu, Aaron memiliki kepribadian yang lebih baik dan berfikir rasional. Dia akan bersikap adil saat memberikan hadiah dan hukuman kepada anak buahnya.
Kedua saudara ini memiliki kekurangan dan kelebihan mereka masing-masing, tetapi disaat mereka bersama, keduanya akan saling menutupi kekurangan mereka.
Itulah pendapat pribadi Conley kepada keduanya, setelah dia bekerja dengan mereka.
"T, tidak, hanya saja, aku tidak terlalu suka menyiksa orang yang tersiksa sebelum kematian mereka"
Jawab Conley sambil menggenggam simbol suci yang sering dia bawa. Setiap kali dia ingin menjernihkan pikiran dan jiwanya dia pasti akan melakukan ini sambil berdoa didalam hatinya
Tidak ada yang ingin merasakan ketakutan dan perasaan putus asa yang saat ini para bandit rasakan.
Dia juga merasa kasihan kepada mereka,
Tetapi disaat yang bersamaan, dia juga berpikir bahwa rasa sakit yang mereka terima adalah hal yang masuk akal.
Alice tampaknya bisa menebak apa yang sedang dia pikirkan dan berkata dengan gembira.
"Mau bagaimana lagi. Mereka telah melecehkan banyak wanita dan anak-anak dibawah umur sejauh ini. dibandingkan dengan rasa sakit mereka alami saat ini…. . , Hukuman ditingkat ini bahkan tidak bisa dibandingkan dengan kejahatan yang telah mereka lakukan! ”
Dia melidahi wajah pria dihadapannya dan memandangnya dengan jijik. Dia mencongkel mata kiri pria itu dengan pisau yang dia ambil dari mereka sebelumnya. Pria itu mengeluarkan ******* lemah seperti lelaki tua yang sedang sekarat.
“T..olo…ng”
“…. Aku tahu… . Saya… . Salah …. ”
“…. Maafkan…. Saya… . ”
"… Saya m… . maaf…. ”
"Aha …. ahaha …. ha ha ha… . ”
Disaat Alice sedang asik mempermainkan tikus hitam dengan bola mata yang dia ambil dari pria sebelumnya. Suara lemah terdengar dari yang lainnya.
meskipun mereka juga mengalami penyiksaan yang sangat menyakitkan, tetapi nasib mereka masih jauh lebih baik daripada pria itu. karena mereka masih memiliki energi untuk berbicara dan memohon pengampunan.
Mereka memaksakan diri mereka untuk meminta pengampunan, Meskipun sulit untuk memahami apa yang mereka katakan.
"Ahahahaha, aku tidak bisa mendengar kalian. Disini terlalu gelap! "
Dia mengabaikan semua permintaan maaf mereka dengan sengaja, dengan mata merah rubinya, dia berbicara dengan gembira, dan menyiksa mereka secara bergantian. Dia terlihat seperti iblis yang sedang menghukum orang berdosa di neraka.
Jadi, semua ini dimulai sekitar beberapa jam yang lalu.
__ADS_1