
Sementara itu di medan perang yang lain.
"kabur... Selamatkan diri kalian"
"lari ke jalan rahasia, kita bisa keluar dari sana!"
"Percuma saja! Para goblin sudah menutup tempat itu. ”
"Kalau begitu, kita tidak punya pilihan lain selain melompati dinding!"
Saat ini situasi para bandit sangat kacau, keberanian dan kegilaan yang sebelumnya mereka miliki telah menghilang. Mungkin karena Zarkhan telah mati, jadi efek skillnya ikut menghilang.
Para bandit yang tersisa berusaha mencari jalan keluar untuk kabur, mereka mencoba melarikan diri dengan cara melompati tembok.
Tetapi, yang menyambut mereka disana adalah lusinan anak panah yang menembus tubuh mereka, mengubahnya menjadi sarang lebah.
Seluruh markas bandit telah dikuasai oleh goblin saat ini, mereka menyusuri lorong-lorong dan tempat tersembunyi lainnya untuk mencari para bandit yang sedang bersembunyi dan membunuhnya.
Hanya ada suara teriakan dan tangisan yang terdengar disetiap sudut markas bandit.
Sementra itu, disudut medan perang yang jauh dari kekacauan. Ada sekelompok goblin yang sedang mengawasi daerah sekitar.
Mereka sedang menjaga seorang goblin yang dipenuhi luka. Goblin itu adalah Raluk, jendral yang memimpin pasukan goblin saat ini.
Dia sudah mengalami banyak pertarungan, tubuhnya dipengaruhi dengan luka tebasan dan tusukan. Tapi untungnya tidak ada satu pun dari serangan yang dia terima mengenai organ vitalnya.
Selain itu, kau juga dapat melihat Gula yang sedang sibuk menaburkan 'Healing Dust' dipermukaan lukanya. Jadi satu per satu, luka yang dia terima mulai sembuh.
Saat ini, dia duduk disebuah reruntuhan bangunan dan sedang mendengarkan laporan dari ajudannya.
"...... Begitulah situasi medan perang saat ini"
"hmmm... Baiklah, kau bisa kembali ke posmu"
"Yes sir...!"
__ADS_1
"kau terlihat sangat berantakan saat ini, apa kau butuh bantuan?"
Raluk berbalik ke arah sumber suara yang telah familiar dia dengar. Suara itu berasal dari Amara, dia sedang memandangi Raluk yang sedang mendapatkan perawatan.
"hmmm? Dimana Bodil? "
"dia memiliki urusan lain yang harus diurus, dia akan menyusul nanti. Lalu, bagaimana? Apa kau butuh bantuan?"
Raluk memandang seluruh medan perang, tanah dipenuhi dengan mayat musuh, darah menggenang dibeberapa tempat dan reruntuhan bangunan tersebar dimana-mana. Sesekali terdengar suara teriakan menyakitkan dari bandit, ini menandakan kalau perang akan segera berakhir.
"tidak, perang akan segera selesai, biarkan para goblin mengurus bandit-bandit yang tersisa. Ini juga berguna sebagai pengalaman tempur untuk mereka. Yang harus kita lakukan sekarang adalah menjalankan misi terakhir yang diberikan oleh tuan Alice"
Setelah merasa kalau sebagian besar lukanya telah sembuh, Raluk berdiri dan berjalan menuju bangunan yang masih berdiri kokoh dikejauhan.
Itu pemandangan yang sangat aneh karena, bangunan lain yang berada disekitarnya telah dihancurkan rata dengan tanah.
Itu terlihat sepeti oasis ditengah gurun, sangat mencolok.
Amara dan goblin lainnya mengikuti Raluk, dia melihat sekelilingnya dan mulai berkata.
"apa kau tidak merasa kalau misi ini aneh, melihat dari perilaku Alice sebelumnya... " kata Amara
Sebelum Amara sempat menyelesaikan perkataannya, Raluk langsung mengoreksi kata-katanya. Dia merasa kalau perkataan Amara tidak sopan, karena tidak memberikan gelar kehormatan saat menyebut nama tuannya.
Keduanya salin bertatapan untuk beberapa saat sebelum Amara menghela nafas.
"baiklah... Ini salah ku, aku minta maaf. Bisakah aku melanjutkan perkataanku sekarang? "
"silahkan... " kata Raluk sambil terus berjalan di ikuti dengan goblin lainnya.
"aku merasa kalau misi ini sangat aneh, sebelumnya kau juga menyaksikan perilaku tuan Alice di ruang tahta bukan! Dengan sikap kejamnya itu, aku tidak mengira kalau kita akan diberi misi untuk menyelamatkan orang lain"
"itu bukan sesuatu yang aneh, sejak awal tuan Alice bukanlah orang yang jahat. Selain itu, misi yang kita jalankan kali ini adalah permintaan dari Conley" kata Raluk
"Conley?" Tanya Amara.
__ADS_1
"Setelah dia disembuhkan oleh tuan Aaron, Conley meminta untuk menyerang markas bandit untuk menyelamatkan gadis-gadis yang ditahan ditempat ini.“ kata Raluk
Amara yang tiba-tiba mengetahui kebenaran yang sesungguhnya, tersenyum masam. Jika kau mempertimbangkan sifat yang dimiliki oleh Conley, dia mungkin akan melakukan hal itu.
“Tuan Alice yang mendengar permintaan Conlay saat itu, langsung memberikan perintah untuk melakukan penyerangan. Karena sejak awal Tuan Aaron juga ingin menyerang markas bandit, permintaan Conley dikabulkan. " jelas Raluk
"ehhh... Tuan Alice mendengarkan permintaan Conley? Apa kau yakin? "
"Ya, 100%. aku juga berada disana saat itu"
"ini benar-benar aneh. jika itu tuan Aaron, aku mungkin bisa percaya, tapi jika itu tuan Alice....!, Apa dia merasa bersalah karena insiden sihir terlarang sebelumnya?" tanya Amara dengan ekspresi bingung.
Di dunia ini, kekuatan adalah segalanya, yang kuat akan memakan yang lemah dan yang lemah hanya bisa pasrah menerima nasibnya.
Hal yang normal jika kau melihat orang kuat menindas yang lemah atau bahkan membunuhnya secara terang-terangan. tidak ada yang akan menyalahkannya, karena itu dianggap normal di dunia ini.
Meskipun disetiap negara ada hukum yang telah diterapkan, ini hanya berlaku bagi orang-orang yang lemah. Sedangkan bagi orang-orang yang kuat atau memiliki jabatan tinggi, hukum ini tidak berlaku pada mereka.
Setiap orang kuat atau yang memiliki jabatan tinggi memiliki ego yang sangat besar, sebuah pantangan bagi mereka untuk meminta maaf kepada orang yang jauh lebih lemah dari diri mereka sendiri.
Bahkan ada beberapa orang yang lebih memilih mati daripada harus mengucapkan satu permintaan maaf yang tulus kepada orang yang lebih lemah. Bagi mereka, permintaan maaf itu adalah suatu penghinaan terbesar dan noda yang tidak dapat dihapus dalam hidup mereka.
Jadi, Amara merasa aneh saat ini, karena Alice yang memiliki kedudukan lebih tinggi dan kekuatan yang lebih besar merasa bersalah kepada Conley yang posisinya jauh lebih rendah darinya.
"...., entah, Aku tidak tahu" kata Raluk setelah dia memikirkannya beberapa saat
"untuk tuan Alice yang hanya bergerak sesuai dengan suasana hatinya dan Tuan Aaron yang begerak sesuai dengan logika. Tidak ada yang bisa menebak, apa yang sedang mereka fikirkan.
Jika kita berada dalam kondisi yang normal, mustahil bagi tuan Alice untuk menerima permintaan dari Conley. Tetapi, lihat apa yang sedang terjadi sekarang, Tuan Alice mengambil langkah yang berbeda dari yang seharusnya. Ini menandakan kalau tidak ada yang mutlak di dunia ini dan segala hal memiliki pengecualian. Mungkin dugaanmu memang benar, tuan Alice merasa bersalah karena kejadian itu. "
"ehhh..., aku tidak menyangka kalau kau akan memikirkan hal-hal seperti itu"
"benarkah, Hahhahh... Aku biasanya menghabiskan waktu kosong ku di perpustakaan membaca buku.
Terkadang bersama dengan tuan Aaron dan terkadang bersama Conley, aku mendapatkan banyak ilmu disana.
__ADS_1
Aku tau aku tidak pintar tetapi bukan berarti aku bodoh.
Selain itu, sebagai pemimpin para goblin, aku pandai mempelajari suasana hati orang-orang pada khususnya. “kata Raluk sambil nyengir.