
Bukan hanya Raluk, tetapi semua goblin yang awalnya merasa lega setelah menemukan tempat persembunyian yang aman, kembali merasa takut dan panik.
Mereka melihat seorang pria dan wanita muncul dari kegelapan.
Pria itu mengenakan jubah besar yang sering dikenakan oleh para penyihir, warnanya putih dan di sulam dengan benang emas di sekalilingnya.
Sedangkan gadis itu, dia mengenakan gaun yang berwarna hitam. Gaunnya disulam dengan benang perak yang membentuk motif bunga.
Pakaian yang dikenakan keduanya sangat indah, seperti telah dibuat oleh penjahit kelas satu dunia.
keduanya adalah manusia atau setidaknya mereka terlihat seperti itu.
Tetapi para goblin secara naluriah tahu, keduanya bukanlah manusia. Mereka (sesuatu yang lain) dalam bentuk manusia.
Manusia tidak akan memancarkan aura menakutkan seperti mereka.
Kemampuan [Persepsi] yang Raluk miliki dapat mendeteksi ke anehan ini secara langsung.
"K, kita …"
Raluk hendak mengatakan sesuatu, tetapi ia tidak dapat berbicara sepatah kata pun karena aura yang dipancarkan keduanya sangat mengintimidasi.
Pria itu menatap Raluk dan kelompoknya seolah-olah sedang mengevaluasi mereka, dan gadis itu hanya tersenyum ketika dia mulai berbicara.
“Aku ingin tahu, apa yang ingin kau katakan? Apa lidahmu tidak bisa kau gerakan? ~ tuan Goblin...”
"Di...dikejar, kami berlari …"
Sambil terbatah-batah, dia mencoba untuk menjelaskan situasi mereka saat ini, tetapi kata-kata yang dia ucapkan tidak terdengar dengan jelas.
Melihat kondisi mereka yang berantakan, pria itu mulai membuka mulutnya.
"Aku mengerti. ”
Dia berbicara dengan suara yang serak.
Nada bicaranya tidak terdengar sedang marah atau pun jengkel, tetapi itu juga tidak terdengar ramah.
Manusia dan Goblin adalah musuh, ini adalah hal yang pasti.
Sebelumnya para tetua sempat mengatakan kalau dimasa kerajaan sihir masih berkuasa, mereka setidaknya mampu mempertahankan hubungan baik dengan manusia.
Tetapi semasa hidup Raluk, mereka dan manusia sudah saling bersitegang dan saling menyerang satu sama lain.
Jadi dia tidak terlalu mempercayai perkataan tetuanya dan menganggapnya sebagai dongeng semata.
“Ba... bantu kami. ”
Dia memohon untuk hidupnya dengan suara gemetar.
Dia ingin setidaknya satu laki-laki dan satu perempuan selamat.
Dengan begitu, suku mereka mungkin bisa dipulihkan.
"Ku mohon…"
Raluk berlutut dan menundukkan kepalanya seperti sedang berdoa.
Goblin lainnya dan para betina serta anak-anak juga melakukan hal yang sama seperti Raluk, bersujud memohon pertolongan.
Namun, gadis itu berbicara seolah-olah sedang mengejek mereka.
"Hihihihhih... Apakah kalian para Goblin benar-benar pantas untuk mendapatkan bantuan kami? Aku tidak melihat keuntungan dari menyelamatkan kalian, apa kalian memiliki harta yang dapat kalian berikan sebagai bayaran? "
"I... itu …"
Jujur saja, tidak ada.
Yang mereka miliki sekarang hanyalah peralatan rusak dan sedikit makanan.
Tentu saja, tidak ada gunanya membunuh mereka juga.
Tetapi karena reruntuhan ini adalah wilayah kekuasaan keduanya, tidak ada alasan untuk tidak membunuh mereka sebagai penyusup.
"Alice. ”
"Ada apa, kakakku yang terkasih?"
"Hentikan . ”
Dengan kata-kata singkat dan jelas, pria itu memperingatkan gadis yang bernama Alice.
__ADS_1
Ekspresi wajah pria itu tidak berubah sedikit pun, tidak ada yang tau apa yang sedang dia fikirkan.
Mendengar kata-kata kakakya, Alice memiringkan kepalanya dengan cara yang imut. Dia memberikan senyum yang indah dan dengan elegan menundukkan kepalanya.
“Baiklah, Aaron-oniisama. ”
"Goblin …, begitulah adanya. Katakan namamu. ”
“A, ak, aku dipanggil Raluk. ”
“Aku ingin tau lebih detail, Bantuan seperti apa yang kau butuhkan? "
"Eh?"
"Hm?"
"Oh?"
Mendengar perkataan Aaron, spontan Raluk mengangkat kepalanya dan menatap mereka berdua.
Di depannya berdiri seorang pria dengan ekspresi datar, Aaron, dan gadis yang sedang menatap Aaron dengan wajah terkejut, Alice.
Percakapan sedang tidak nyambung.
Untuk memperjelas maksud dari perkataannya, Alice bertanya pada kakaknya.
"Nii-sama, bukankah kita datang kesini untuk membunuh para goblin yang masuk tanpa izin di labirin bawah tanah kita?"
“Tidak, saya tidak berencana melakukan hal itu. ”
"Ehhh...? Apakah begitu?"
“Ya, kita akhirnya mendapatkan pengunjung pertama labirin bawah tanah kita setelah sekian lama. Jadi, saya pikir setidaknya kita harus menunjukkan wajah kita sebagai pemilik tempat ini. ”
"B, begitu rupanya!"
Aaron memandangi adiknya yang terlihat sedang ragu-ragu dan berkata.
"Sepertinya ada miskomunikasi diantara kita. ”
“Sepertinya begitu. ”
Ada beberapa hal yang masih dia khawatirkan, tetapi keduanya saat ini sepertinya tidak berencana untuk membunuh mereka secara langsung.
Aaron mengalihkan pandangannya kembali ke Raluk dan sedikit menundukkan kepalanya.
"Ya, permintaan maaf ku. Kami tidak bermaksud untuk menyakitimu. ”
“aku juga minta maaf, Tetapi jika kalian terbawa suasana dan merusak labirin, aku akan membunuhmu bahkan jika kakak mencoba menghentikanku. ”
Aaron berbicara dengan lembut dan bermartabat seperti seorang bangsawan. Sedangkan Alice berbicara santai dan blak-blakan seperti rakyat biasa.
Keduanya berbicara dengan gaya mereka masing-masing karena menyesuaikan dengan sifat dan karakter yang mereka miliki.
"Kalau begitu, mari kita kembali ke topik pembahasan sebelumnya, Raluk...! ”
"I, iya!"
"karena kamu tidak melakukan perusakan pada labirin, saya akan memaafkanmu karena telah menerobos masuk. Tetapi saya ingin Anda segera meninggalkan tempat ini ”
"K, ku mohon, apa pun selain itu!"
“Hm…, sepertinya kalian memiliki situasi yang sulit diluar sana. ”
"Ya, sebenarnya …"
Raluk mulai memberi tahu mereka tentang apa yang sebenarnya telah terjadi hari ini.
Tentang serangan tiba-tiba yang dilakukan manusia, kehancuran desa mereka, pembantaian yang terjadi di desa mereka, Bagaimana perjuangan mereka saat mencoba melarikan diri dari para pengejar.
Sampai titik dimana mereka mulai merasa putus asa dan secara tidak sengaja menemukan gua yang menjadi pintu masuk labirin bawah tanah.
Untuk mendapatkan simpati keduanya, Raluk juga mendramatiskan detail-detail kecil dalam kisah tragis yang telah mereka alami.
Tetapi disepanjang Raluk bercerita, Aaron hanya menatapnya dengan mata dingin tanpa ekspresi, sedangkan Alice hanya tersenyum jahat mendengarkan kisahnya.
Setelah Raluk selesai menceritakan kisah sedihnya, Aaron berkata.
"Saya mengerti situasi mu sekarang. Lalu, apa yang ingin kamu lakukan? ”
"S, setidaknya kami ingin tinggal disini untuk beberapa waktu sampai situasi di permukaan aman, sebelum pergi mencari tempat tinggal baru…"
__ADS_1
"Apakah itu yang benar-benar kamu inginkan?" kata Alice dengan senyum sinis
"Alice, jangan terlalu menggoda mereka. ”
“Tapi kakak, ini kesempatan mereka untuk meminta bantuan dari kita, bukan...?
Selama ini mereka telah menjalani hidup mereka dengan sulit, sekarang akhirnya kesempatan untuk hidup lebih baik telah muncul.
Terlalu menyedihkan jika mereka melewatkannya begitu saja”
Meskipun nada bicaranya terdengar seperti sedang bersimpati dan kasihan dengan nasib tragis yang telah di alami para goblin.
Tetapi sebenarnya, Alice sedang berbicara seolah-olah dia adalah kucing yang sedang mempermainkan seekor tikus.
"Hei, hei, ~ Raluk! Beri tahu kami apa yang sebenarnya kamu inginkan? ”
"I, itu seperti yang aku katakan tadi …"
"Benarkah... ! Benarkah... ! Kau yakin ~. Kamu telah kehilangan segalanya begitu tiba-tiba, berada dalam pelarian yang putus asa dan menyedihkan. Lihat anggota kelompokmu yang tersisa, apakah mereka terlihat baik-baik saja dengan keputusanmu itu?.
Jujurlah pada dirimu sendiri Raluk ~,
Apakah kau tidak pernah berfikir untuk melakukan balas dendam? ” kata Alice sambil tersenyum jahat
Saat ini, dia terlihat seperti iblis yang sedang membisikkan kata-kata manis untuk menyesatkan orang-orang ke jalan yang salah.
Dia menatap Raluk dengan mata merahnya yang bersinar indah seperti ruby, sambil memainkan rambut hitamnya yang panjang.
“… Beri tahu kami, apa keinginanmu yang sebenarnya? ”
Mendengar pertanyaan gadis itu sekali lagi, mungkin karena dia telah terhasut dengan kata-kata Alice sebelumnya.
Raluk mulai mengutarakan keinginan yang telah dia pendam jauh di dalam hatinya.
"Tidak bisa dimaafkan, aku tidak akan memaafkan mereka!"
"aku ingin mengambil kembali tanah kami yang dirampas!"
"aku ingin berduka atas kematian teman-teman kami yang telah gugur!"
"aku ingin kekuatan untuk melindungi ras ku"
"aku ingin membalas dendam!"
"Balas dendam!"
Raluk mengatakan semua keinginan yang telah dia pendam dihatianya. kesedihan, kemarahan, penyesalan dan keputusasaan bercampur menjadi satu di setiap kata yang dia ucapkan.
Goblin lain yang mendengarkan perkataaan Raluk juga tidak bisa menahannya lagi dan mulai meneriakan keinginan mereka.
'Mereka tidak ingin dihancurkan seperti serangga.
Mereka ingin hidup dengan tenang.
Mereka tidak ingin desanya dihancurkan.
Mereka menginginkan kekuatan untuk memulai kembali! '
Alice mengangguk dengan puas setelah mendengar teriakan antusias mereka.
Kemudian, dia tersenyum cerah dan membungkuk pada kakaknya.
“Nii-sama, apa jawabanmu atas permintaan mereka padamu? ”
"…..."
Setelah mempertimbangkannya beberapa saat, Aaron menoleh ke Raluk dan goblin lainnya.
"Saya akan menerimamu sebagai pengikut kami. Anda akan melakukan apa yang kami perintahkan, Anda akan bekerja untuk kami dan Anda akan berjuang untuk kami.
Sebagai imbalannya, kami akan berjanji untuk melindungi sukumu, Kami juga akan membantu Anda membalas dendam terhadap mereka yang telah menghancurkan desamu dan kami akan memberimu kekuatan yang kalian inginkan. ”
Mendengar jawaban Aaron, Raluk terlihat sangat senang, dia bahkan bingung mau mengatakan apa saat ini.
Sejujurnya, Ini pertama kalinya dia melihat orang yang bersikap baik dan bahkan mau berbicara dengan mereka yang merupakan goblin.
"Ayo, apa lagi yang kamu tunggu, jika kamu setuju menjadi pengikut kakak, maka ambil tangannya. ” kata Alice
Aaron mengulurkan tangannya dan Alice mendesak Raluk yang terlihat sedang linglung.
Raluk yang kembali sadar dari lamunannya langsung mengambil tangan Aaron tanpa ragu sedikit pun.
__ADS_1