Labyrinth Kingdom

Labyrinth Kingdom
Chapter 73. Pembasmian Para Assassin


__ADS_3

Disudut istana yang gelap.


Sementara itu disaat yang bersamaan, sekelompok orang yang berpakaian serba hitam sedang mengawasi gerak-gerik Aaron dan Jeanne dari kejauhan.


Berbeda dengan kelompok wanita yang sebelumnya mengawasi Aaron diluar istana, kelompok ini keseluruhannya terdiri dari pria.


Mereka memancarkan aura membunuh yang kuat disekeliling mereka, kemungkinan besar orang-orang ini adalah pembunuh bayaran yang disewa oleh seseorang.


"Boss! Boss! Pangeran Aaron telah pergi, ini kesempatan kita untuk menjalankan misi. " salah satu anggota pembunuh melapor.


Dia berbicara kepada pria yang ukuran tubuhnya lebih besar dari anggota lainnya, Pria itu juga menggunakan pakaian serba hitam yang menutupi seluruh tubuhnya.


"Bagaimana dengan rute pelarian kita? " tanya Boss Assassin.


"Aku sudah mengirim beberapa orang untuk berjaga ditempat itu, kita bisa mundur kapan saja tanpa ketahuan. " lapor pria sebelumnya.


"Lalu, bagaimana dengan kondisi disekitar target? " tanya boss Assassin sekali lagi.


"Tidak perlu khawatir boss, kami sudah menyesuikan waktunya. saat ini adalah waktu para penjaga untuk berganti shift, dalam beberapa menit kedepan tidak akan ada penjaga yang berpatroli disekitar tempat ini. " jawab pria itu.


"Bagus! Kalau begitu bersiaplah. Setelah menangkap gadis itu, kita akan segera pergi. Tidak ada gunanya membuat kegaduhan ditempat ini. " Ucap boss Assassin.


Misi yang mereka terima kali ini adalah untuk menangkap putri ke-3 dari kerajaan Liberas Jeanne, belum diketahui apa motif dibalik hal itu.


Tetapi... sepertinya, itu bukan hal yang baik.


Disaat semua anggota Assassin mulai bersiap, tiba-tiba dari belakang mereka suara seseorang yang bertanya terdengar.


"Ano, Siapa yang ingin kalian tangkap? " tanya Aaron dengan ramah.


Mendengar pertanyaan tiba-tiba ini, semua anggota Assassin spontan berbalik kebelakang dan beberapa dari mereka bahkan melompat kearah Aaron.


"Sigh~ benar-benar kelompok yang tidak ramah. " ucap Aaron dengan nada dingin.


Aaron menghindari serangan cepat dari dua Assassin yang ada di depannya.


Disaat yang bersamaan, dia juga melakukan serangan balasan yang cepat kearah ke duanya.


'Smash! Smash! '


Crack... Crack..., suara tulang rusuk yang patah dapat terdengar jelas setelah Aaron memukul dada kedua Assassin itu dengan kuat.


'Ughhh...! '


Kedua Assassin itu terlempar jauh kebelakang setelah terkena pukulan telak Dari Aaron.


Kemungkinan besar kedua orang itu telah mati, karena Aaron tidak menahan pukulannya sedikitpun.


Serangan Aaron tidak berhenti sampai disitu saja.


Dia mengambil kedua belati yang terjatuh dari tangan Assassin sebelumnya dan menebas keempat Assassin yang berdiri dibelakang keduanya.


'Slash! Slash! Slash! Slash! '


Tidak ada tanda-tanda perlawanan sedikit pun, tebasan belati yang Aaron lakukan terlalu cepat.


Sampai-sampai, keempat Assassin yang menyombongkan diri mereka dengan kecepatan yang mereka miliki tidak dapat melihat arah serangan Aaron.


Setelah berhasil mendaratkan Serangannya, Aaron berjalan dengan santai melewati keempat Assassin itu dan menatap boss para Assassin yang berdiri di depannya.


Beberapa detik setelah itu, keempat Assassin yang hanya berdiri diam di belakang Aaron tiba-tiba terjatuh, ambruk ke tanah.


Di leher setiap Assassin terdapat luka sayatan belati yang sangat dalam, darah bercucuran keluar dari sana.


Tetapi, tidak ada setetes pun darah yang menempel pada belati yang Aaron gunakan, itu tetap bersih seperti sebelumnya.


Aaron menatap boss Assassin dengan tatapan yang dingin.


"Pangeran Aaron! Kita tidak memiliki dendam sebelumnya, kami datang ketempat ini hanya untuk menjalankan misi. Karena kamu telah menemukan kami dan beberapa anggota ku telah mati, misi yang kami jalani saat ini dapat dianggap gagal. Maka dari itu, kami akan mundur sekarang. " ucap Boss Assassin dengan suara serak.


Dia memerintahkan semua anak buahnya untuk mundur secepat mungkin.


Tetapi...


"Siapa yang mengizinkanmu untuk pergi? Kalian bahkan belum menjawab pertanyaan ku yang sebelumnya. Kenapa harus terburu-buru? Kita dapat berbicara dengan santai sekarang. " ucap Aaron dengan suara dingin.


Mendengar perkataannya, Boss Assassin menatap balik kearah Aaron dengan dingin.


"Pangeran Aaron! aku menghormatimu sebagai pewaris tahta kerajaan sihir, Kami tidak ingin berurusan denganmu. Tetapi, jika kau terus mendesak kami, jangan salahkan aku jika berbuat kasar padamu. " ancam Boss Assassin.


"Lalu, apa yang akan kamu lakukan jika aku bersikeras menghalangi kalian untuk pergi? " ucap Aaron dengan senyum sinis.


'Grr... Grr... ' Boss Assassin menggertakkan giginya setelah mendengar perkataan provokasi dari Aaron.


"Bocah...! Jangan menyombongkan dirimu, kami mundur bukan berarti takut padamu. Kau hanyalah anak kecil yang belum tahu luasnya dunia ini, jangan coba-coba untuk menguji kesabaran ku atau kau akan menanggung akibatnya. " Ucap Boss Assassin dengan nada mengancam.


{ket: Jangan panggil aku anak kecil paman. }


"Hahahahh hahahhh hahahahh. " Aaron hanya tertawa terbahak-bahak setelah mendengar ancaman dari Boss Assassin.


"Apa ada yang lucu dari perkataan ku? " ucap Boss Assassin dengan dingin.


"Ahhh, saya minta maaf sebelumnya. Saya tidak bisa menahan diri ku, tidak ada yang lucu dari ancamanmu. Shikashi, Daijoubu deshou, datte kimi yowai mo. " ucap Aaron dengan nada mengejek.

__ADS_1


{ket: Gojo~kyun. Hahaahahhh}


"Kau yang memilihnya berengsek, BUNUH DIA!!! " teriak Boss Assassin dengan marah.


Setelah mendengar perintah dari boss mereka, para Assassin yang tersisa langsung menyerang Aaron tanpa rasa takut sedikit pun.


Aaron yang melihat hal ini hanya tersenyum sinis di wajahnya.


Dia memainkan belati yang ada di tangannya beberapa saat dengan lincah, sebelum berlari kearah gerombolan Assassin yang berniat membunuhnya.


"Aku akan mengakhiri ini dengan cepat dan Hari ini, akan menjadi hari pemakaman kalian. " ucap Aaron dengan nada dingin.


Dia mengayunkan belati yang ada ditangannya dengan cepat kearah Assassin yang ada di depannya dan membelahnya menjadi dua bagian.


Setelah melakukan pembunuhan pertamanya, dia melompat masuk ketengah-tengah kumpulan musuh dan mengaktifkan salah satu skillnya.


"[Three Thousand Lightning Slash] "


Setelah mengaktifkan skill itu, ribuan tebasan petir tiba-tiba menyerang ke segala arah.


Sebagai besar Assassin yang ada disekitar Aaron meninggal karena tidak siap dan sisanya mengalami cidera serius karena gagal menghindari serangan cepat dan mematikan miliknya.


"Uhuk... Uhuk... "


"Ouch! Tolong... "


"Ukh...! "


"Aaaaaah! Tangan ku. "


"Aku tidak, uhuk... ingin mati. "


Suara rintihan rasa sakit dari Assassin yang berhasil bertahan, terdengar di medan pertarungan.


Hanya dalam satu serangan, kelompok Assassin itu telah hancur berantakan.


Boss Assassin yang juga menjadi target serangan Aaron berhasil selamat di detik-detik terakhir setelah mengaktifkan skill penyelamatan dirinya.


Tetapi, dia tidak sepenuhnya berhasil menghindari serangan Aaron karena dibeberapa bagian tubuhnya terdapat bekas luka tebasan yang terbakar.


"Luar biasa, kamu berhasil selamat rupanya. kalau begitu, bagaimana dengan yang satu ini. " kata Aaron sambil menyiapkan serangan selanjutnya.


Dia membuang belati yang ada ditangannya dan mulai mengaktifkan salah satu sihir terkuatnya.


— Spirit Magic, Spirit Frost (Esmeralda).


Tiba-tiba, sesosok wanita berwarna putih muncul dibelakang Aaron.


"(Esmeralda) gunakan Frostbite pada mereka. " perintah Aaron sambil menunjuk kearah Assassin yang tersisa dan bossnya.


(Esmeralda) mematuhi perintah Aaron dan menutup matanya.


Seketika dari langit kepingan-kepingan salju berwarna putih mulai berjatuhan mengenai tubuh para Assassin.


"Akh... Tolong Aku! "


"Itu bukan salju, Ouch! Berhenti menggigit ku. "


"Selamatkan Aku! "


"Aaaaaah! Aku tidak ingin mati. "


"Menjauh dariku mahluk sialan. "


Benar yang dikatakan para Assassin, benda putih yang mengenai tubuh mereka bukanlah kepingan salju.


Melainkan monster kecil berwarna putih dengan gigi-gigi yang sangat tajam.


Mereka terus memakan tubuh para Assassin perlahan-lahan, seperti es yang mencair setelah terkena panas.


Melihat anak buahnya yang berakhir tragis setelah terkena mahluk kepingan salju itu, Boss para Assassin langsung mengaktifkan skill penyelamat dirinya sekali lagi.


[Black Mist Form].


Dalam wujud ini, serangan fisik dan elemen apa pun tidak akan bisa melukainya.


Kali ini, Boss para Assassin berhasil mengaktifkan skillnya tepat waktu.


"Begitu rupanya, Kamu memiliki skill yang cukup menarik disana. Tetapi, itu tidak akan membuatmu lolos dari kematian.


Karena sebelumnya kamu telah menargetkan salah satu teman ku, aku tidak bisa membiarkanmu pergi begitu saja. " ucap Aaron dengan nada dingin.


Aaron mengaktifkan beberapa skill dan sihir miliknya untuk menyerang Boss Assassin.


[Meteor Punch], [Dragon Claw], [KingKong Blow].


— Attack, Light Needle.


— Attack, Spear of Darkness.


— Attack, Frozen Breath (Esmeralda).


Tetapi, tidak ada satu pun skill dan sihir yang dia gunakan berhasil melukai Boss bandit itu.

__ADS_1


"Haahahahhh, percuma saja. Dalam wujud ini, serang fisik maupun elemen tidak akan bisa melukai ku. Menyerahlah! " ucap Boss Assassin sambil mengejek Aaron yang terus berusaha menyerangnya.


"Benarkah, terima kasih atas informasinya. Karena serang fisik maupun elemen tidak berguna. Lalu, bagaimana dengan serangan ku yang satu ini. " ucap Aaron.


Dia menarik nafasnya dalam-dalam sebelum mengaktifkan skillnya.


[Cry of the Banshee]


Teriakan keras keluar dari mulut Aaron, skill ini khusus menyerang jiwa seseorang.


Siapa pun yang mendengar teriakannya, jiwa mereka akan terkorosi dan terluka parah.


'Ugh... Uhuk, Uhuk, Uhuk... '


Benar saja, Boss Assassin yang mendengar teriakan Aaron mulai merasa kesakitan dan batuk berdarah beberapa kali.


[Black Mist Form] miliknya juga perlahan-lahan mulai memudar dan dia kembali kewujud manusianya.


'Uhuk, Uhuk, Uhuk... '


Boss para Assassin tergeletak di tanah tak berdaya, dia terlihat sekarat saat ini.


"Sigh~ cukup melelahkan melawan kalian, ayo kita akhiri semuanya sekarang. " ucap Aaron terlihat kelelahan.


Aaron memandang sekelilingnya dan berjalan menuju sisa-sisa Assassin yang berhasil bertahan hidup, dia membunuh mereka semua satu per satu secara langsung.


Disaat Aaron sedang melakukan pembersihan terakhir.


Tiba-tiba dari belakangnya...


"Kau lengah bocah, aku belum kalah. Rasakan ini dan matilah... "


'Jleb...! '


Perkataan Boss Assassin itu tiba-tiba berhenti setelah merasa kalau dadanya terasa sangat sakit.


Dia perlahan-lahan menundukkan kepalanya dan melihat ujung pedang yang mencuat keluar dari dadanya.


"Kau yang lengah, penjahat amatiran. " Timoty membisikkan kata-kata itu ke telinga Boss Assassin.


'Ugkhh... ' Boss Assassin sekali lagi jatuh berlutut ketanah.


Mengabaikan pria sekarat itu, Timoty bejalan mendekati Aaron dengan empat kepala Assassin ditanggannya.


Kepala-kepala itu milik Assassin yang bertugas untuk mengamankan rute pelarian.


"Yoo, Sepertinya kamu telah menyelesaikan semuanya sendirian disini. Huft... Meskipun kamu adalah jenius nomor satu, bukan berarti kamu bisa menantang kelompok Assassin seorang diri. Itu sangat berbahaya kau tahu! " ucap Timoty memandang Aaron yang terlihat kelelahan.


"Siapa bilang aku sendiri? Aku berani menantang mereka karena kamu juga ada disekitar sini. " ucap Aaron.


"Ohhh, Apa kau menyadari keberadaan ku? " tanya Timoty terlihat sedikit terkejut.


"Aku sudah menyadarinya sejak awal. " jawab Aaron.


"Hahaahhahhhh, sesuai yang diharapkan dari jenius nomor satu kita. " ucap Timoty sambil tertawa.


"Aku tidak ingin mendengar itu darimu, master pedang termuda di benua ini. " balas Aaron.


Mendengar perkataan Aaron, Timoty tiba-tiba terdiam.


"Ehem, kalau begitu yang tersisa sekarang hanya Boss para Assassin. " ucap Timoty mengalihkan topik pembicaraan.


Dia berbalik ke balakang dan menemukan kalau pria itu telah menghilang.


"Ehhh, Kemana dia pergi? " ucap Timoty terlihat bingung.


"Pria itu menggunakan [Blink] untuk kabur beberapa saat yang lalu. " ucap Aaron dengan santai.


"Haah! Kenapa kamu baru bilang sekarang? Ayo kejar dia. " kata Timoty.


"Tidak perlu, seseorang sudah mengurusnya. " jawab Aaron dengan samar.


**************


Sementara itu ditempat lain


"Ugh.... Bocah-bocah berengsek itu. lihat saja, aku pasti akan membalas kalian. Tunggu pembalasan kejam dari ku Aaron. " ucap Boss para Assassin dengan marah.


Saat ini, dia sedang berusaha meninggalkan istana setelah dikalahkan oleh Aaron dan Timoty, Dia berlari menyusuri koridor-koridor istana yang gelap.


Disaat dia sedang fokus mencari rute pelarian yang tepat, suara udara yang berderik tiba-tiba terdengar datang kearahnya dengan cepat.


'Wuush...! '


Sebuah tombak meluncur dengan cepat kearahnya. Tidak! Itu bukan tombak, melainkan trisula berwarna biru.


Boss para Assassin tidak memiliki kesempatan untuk menghindari serangan tiba-tiba itu karena kondisi tubuhnya yang sedang terluka parah saat ini.


Trisula itu tertancap tepat di dadanya dengan telak dan memakunya ke dinding, Dia menghembuskan nafas terakhirnya beberapa detik setelah itu.


"Sigh~ Aaron dan Timoty benar-benar kejam pada ku belakang ini, bisa-bisanya mereka pergi bersenang-senang tanpa mengajak ku. Argh...! Lihat saja, aku akan membalas kalian berdua nanti. " ucap Arya mencabut trisulanya yang tertancap di dinding.


Sambil membersihkan sisa-sisa darah yang menempel pada senjatanya, dia berjalan pergi meninggalkan mayat boss Assassin tergeletak begitu saja di lantai.

__ADS_1


__ADS_2