
Karena Dustin yang memimpin Jeanne dan Ingrid menyusuri labirin, para Imp dan pasukan serangga yang berpapasan dengan mereka tidak menunjukkan minat atau agresi sedikitpun pada mereka.
Tidak hanya itu, jebakan yang sebelumnya Alice pasang disekeliling labirin juga tidak Aktif saat mereka melewatinya.
Ketika mereka maju lebih jauh ke pusat Labirin Bawah Tanah.
Raluk dan bawahannya, yang sudah menerima perintah dari Aaron, pergi untuk mengawal mereka sebagai penjaga tambahan.
Awalnya Jeanne cukup terkejut melihat kelompok goblin yang terlihat seperti prajurit veteran ini.
Cara mereka bergerak benar-benar berbeda dengan goblin normal, mereka terlihat sangat disiplin.
Tetapi, setelah mengingat kembali kalau tempat yang dia datangi sekarang adalah rumah dari Aaron, dia berpikir dalam hati.
'Ini hal yang normal jika itu menyangkut Aaron, melatih goblin yang bodoh menjadi prajurit elit bukanlah hal yang sulit untuknya. ' ucap Jeanne dalam hati.
Sebagai teman masa kecilnya, dia sangat menghormati Aaron dan mengidolakannya sejak dulu.
Jeanne menyentuh 'Red Rose' yang ada di dadanya untuk mengenang momen-momen yang menyenangkan saat itu.
Disaat Dustin dan kelompoknya berjalan melewati sebuah bangunan megah berwarna putih, dia tiba-tiba berhenti dan bertanya pada Raluk.
"Apa itu? Sebelumnya aku belum pernah melihat bangunan itu berdiri disana. " tanya Dustin dengan penasaran.
"Itu hal yang wajar jika Sir Dustin tidak mengetahuinya, Tuan Alice baru membangunnya beberapa hari yang lalu. Kalau aku tidak salah ingat, seharusnya bangunan itu disebut Sanatorium. " jawab Raluk dengan hormat.
"Sanatorium? Ahhh, apa wanita-wanita itu dirawat disana? " tanya Dustin.
"Ehhh, bagaimana Sir Dustin bisa mengetahuinya? " Raluk bertanya balik.
"Tidak perlu terkejut, aku mendengar beberapa rumor yang beredar diantara prajurit yang ku bunuh sebelumnya. Setelah mengumpulkan beberapa informasi, aku dapat menebak kalau kalianlah yang telah melakukan penyerangan dimarkas para Bandit. " jawab Dustin.
"Ehhhh! Ka, kalian yang menyerang bandit-bandit yang bersarang digunung Torli. " teriak Ingrid.
Dia cukup terkejut mendengar informasi ini, tidak pernah terpikir sekalipun dibenaknya, kalau kelompok goblin yang sebelumnya dia kejar adalah dalang dari pembantaian para bandit kejam yang ada di gunung Torli.
"Bukankah kalian cukup hebat. " puji Jeanne.
Dia juga sempat mendengar rumor ini saat masih berbunyi di kota Ra'Vella.
'Seperti yang diharapkan dari Aaron. Bahkan goblin yang merupakan ras terendah dapat dia sulap menjadi petarung yang kuat. ' Jeanne memuji Aaron.
Mendengar pujian dari Jeanne, Raluk terlihat sedit malu.
"Ini tidak sehebat yang putri Jeanne kira. kelompok ku tidak bekerja sendiri saat itu, ada banyak pihak yang terlibat dalam penyerangan itu. Pengawal Anda mungkin mengenal mereka. " ucap Raluk memandang Ingrid yang berdiri disamping Jeanne.
"Apa maksudmu? " tanya Ingrid terlihat bingung.
"Mantan teman partymu ikut terlibat dalam penyerangan itu. " ucap Raluk.
"Ja, jangan bilang, orang yang kamu maksud adalah Amara dan Bodil? " tanya Ingrid.
"Ya, mereka berdua yang membunuh pemimpin para bandit. " jawab Raluk.
"Ehhhh, mustahil! Kami baru berpisah selama beberapa minggu, bagaimana bisa keduanya menjadi sekuat itu, sampai-sampai dapat mengalahkan pemimpin bandit yang memiliki kekuatan tempur setara dengan Jendral kota. " teriak Ingrid.
Itu adalah informasi yang paling mengejutkan yang telah dia dengar hari ini.
Ingrid menjadi anggota dari [Sword Valkyrie] selama tiga tahun lebih dan dia sangat memahami betul kemampuan tempur yang dimiliki masing-masing anggotanya.
Mendengar Amara dan Bodil yang berhasil mengalahkan pemimpin badit, menurutnya itu hanyalah khayalan semata.
"Seperti itulah kenyataannya. " ucap Raluk.
Tetapi... Terkadang, kenyataan dapat bergerak jauh lebih aneh daripada khayalan.
__ADS_1
"Sir Dustin, apa kita akan melanjutkan perjalanannya sekarang? " tanya Raluk untuk mengingatkan Dustin kalau master labirin sedang menunggu kedatangan mereka.
Mendengar pertanyaan Raluk, Dustin memandang Jeanne yang terlihat sedikit lelah.
"Putri Jeanne, apa kamu merasa lapar? " tanya Dustin tiba-tiba.
"Hmm, Ini memang sudah lewat dari jadwal makan siang ku, aku merasa sedikit lapar. " jawab Jeanne.
"Bagus! Raluk, bawa keduanya ke dapur kerajaan untuk makan. " ucap Dustin.
"T, tapi... "
"Ini perintah dari tuan! Kalian berdua juga dapat memanfaatkan waktu itu untuk beristirahat sejenak, sebelum menemui master labirin. " ucap Dustin memotong perkataan Raluk.
"Baiklah, aku mengarti. Putri Jeanne dan pengawalnya akan mengikutiku ke dapur kerajaan. Lalu, bagaimana dengan anda, Sir Dustin? " tanya Raluk.
"Kalian pergilah tanpa ku, ada beberapa hal yang ingin ku pastikan terlebih dahulu, aku akan menyusul nanti. " jawab Dustin.
"..., Baik! Putri Jeanne, silahkan ikuti aku. " ucap Raluk sambil menuntun keduanya menuju dapur kerajaan.
Dustin memandang kelompok Raluk yang berjalan menjauh sesaat, sebelum dia berjalan menuju Sanatorium.
******************
Di dapur kerajaan.
Setelah kelompok Raluk tiba di dapur kerajaan untuk beristirahat.
Mereka tanpa sengaja bertemu dengan Amara, Bodil dan Conley, yang sudah pulih dari luka hatinya disana.
Amara dan Bodil sangat terkejut ketika mereka melihat Ingrid yang berada di dalam labirin sekali lagi.
Sementara itu, yang membuat Conley terkejut adalah wanita yang berdiri di samping Ingrid sambil tersenyum ramah memandang yang lainnya.
'Kenapa wanita ini ada disini? ' tanya Conley dalam hati.
"Kenapa kau ada disini? " tanya Amara.
"Bukankah kau telah pergi bersama dengan Britt dan yang lainnya, Apa yang terjadi? " tanya Bodil.
"Sebelum aku menjawab pertanyaan kalian berdua, aku ingin meminta maaf terlebih dahulu karena telah menipu kalian. Sebenarnya, aku bukanlah seorang petualang, aku berbohong saat itu.
Aku adalah pengawal pribadi putri Jeanne yang sedang menjalankan misi rahasia. " ucap ingrid merasa bersalah.
"Ehhh, Pengawal putri, maksudmu... " ucap Amara sambil memandang wanita yang berdiri di samping Ingrid.
"Ya, beliau adalah putri ketiga dari kerajaan Liberas, Jeanne D'Hedwig. " ucap Ingrid memperkenalkan sang putri.
"Senang bertemu dengan kalian. " ucap Jeanne dengan ramah.
"Maaf atas ketidaksopanan kami sebelumnya, aku juga merasa terhormat bisa bertemu dengan tuan putri di tempat ini. " ucap Conley sambil merapikan pakaiannya.
Dia menundukkan kepalanya ke arah Jeanne untuk menunjukkan rasa hormatnya kepada keluarga kerajaan.
Amaran dan bodil juga mengikuti gerakan Conley setelah mengetahui kalau mereka sedang berhadapan dengan sang putri saat ini.
"Tidak perlu bersikap terlalu formal padaku. Kalian teman ingrid bukan, itu artinya kalian juga teman ku. Jadi, santai saja. " ucap Jeanne sambil tersenyum.
"Ka, kalau putri Jeanne berkata seperti itu! maka, kami akan dengan senang hati menerimanya. " ucap Conley dengan rasa hormat.
Di dapur istana, makanan dan minuman telah disiapkan untuk Jeanne.
Minuman itu tidak diragukan lagi adalah Wine terbaik, dan beberapa Fruit Wine kelas tinggi.
Bahkan untuk Jeanne yang berasal dari keluarga kerajaan, dia belum pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya.
__ADS_1
Sampai-sampai dia secara tidak sadar menghela nafas setelah meminumnya. Itu adalah Wine yang baik bahkan bagi mereka yang berasal dari keluarga kerajaan.
Di sisi lain, dia memiliki pendapat berbeda terhadap makanan yang disediakan.
Semua peralatan makan terbuat dari perak, jadi tidak ada keluhan yang dibuat di sana.
Tapi, roti lembut dan halus dengan selai buah serta sup daging sapi yang dimasak dengan beberapa bumbu tambahan yang memperkuat rasa dagingnya, itu adalah hidangan yang mewah.
Tetapi, hanya untuk rakyat biasa.
Untuk Jeanne yang belum pernah memakan hal-hal seperti itu, dia cukup senang karena terasa segar baginya.
Tapi, itu akan dipertanyakan apakah itu makanan yang cocok untuk bangsawan atau tidak.
Ada alasan dibalik menu ini.
Pertama-tama, tentang Wine dan Fruit Wine, itu adalah koleksi pribadi milik Aaron dan Alice, minuman itu warisan dari Magic Kingdom.
Sebenarnya, keduanya tidak memiliki minat terhadap alkohol. Tetapi, mereka tetap menyimpannya sebagai kenang-kenangan.
Di sisi lain, makanan dibuat oleh Amara.
Karena Aaron dan Alice tidak memiliki keahlian memasak, mereka tidak dapat membuat makanan yang layak.
Para goblin yang bisa memakan apa pun juga tidak mungkin bisa membuat makanan yang enak.
Sedangkan untuk Conley dan Bodil yang merupakan mantan petualang, satu-satunya hidangan yang mereka tahu adalah menaburkan garam dan lada pada daging yang mereka panggang.
Para wanita yang sebelumnya ditawan oleh para bandit belum pulih sepenuhnya, jadi tidak mungkin menyuruh mereka.
Karena itu, hanya Amara yang terpilih untuk memasak setelah dilakukan proses eliminasi.
Sejujurnya, skill memasak yang Amara miliki juga biasa-biasa saja.
Tetapi, sebagai hasil dari menggunakan bahan-bahan berkualitas terbaik, ia berhasil membuat hidangan dengan nuansa mewah untuk disajikan.
Meskipun sejak awal, Jeanne tidak datang ke labirin ini untuk makan.
Tetapi, mereka masih perlu menunjukkan sedikit keramahan kepada keluarga kerajaan, atau begitulah menurut pendapat kedua master labirin.
Jeanne sangat menikmati makanan dan minuman yang disajikan untuknya.
Tetapi....
'BOOOOOM! '
Suara ledakan keras tiba-tiba terdengar dari arah Sanatorium.
"Apa yang terjadi? " tanya Bodil.
"Aku juga tidak tahu! Tapi, sepertinya ledakan itu berasal dari Sanatorium. " ucap Conley.
"Gawat! Para wanita masih ada disana. " ucap Amara.
"Sir Dustin.... " ucap Raluk.
Ditemani oleh anak buahnya, dia berlari ke arah Sanatorium dengan cepat. Amara, Conley dan Bodil juga mengikuti para Goblin dari belakang.
Sementara itu, sang putri yang masih duduk di dapur istana dengan tenang.
"Tuan putri, apa yang akan kita lakukan selanjutnya? " tanya Ingrid.
Sang putri menghabiskan Wine yang ada di gelasnya perlahan-lahan sebelum berkata.
"Aku cukup penasaran dengan apa yang terjadi disana, kita akan mengikuti yang lainnya. " ucap Jeanne berdiri dari kursinya.
__ADS_1
Dia berjalan menuju Sanatorium dengan santai, ditemani oleh Ingrid.