
Ketika mereka sedang asik berbicara, mereka telah sampai ketujuan. salah satu goblin yang menjaga tempat itu mendekati Raluk.
"selamat datang kepala suku"
"kerja bagus, bagaimana dengan kondisi orang-orang yang ada di dalam?"
"itu... Etto... "
"hmm... ada apa? Kenapa kau diam saja?"
".... Etto... Di dalam... E... "
Raluk memperhatikan perilaku aneh anak buahnya, dia terlihat ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak bisa. Sesekali dia juga akan melirik ke arah Amara.
Raluk yang mulai menyadari situasinya, menyeret goblin itu menjauh dari kelompok dan berbicara empat mata dengannya dikejauhan.
"..... ?"
" ? "
"......"
Amara dan yang lainnya terlihat bingung karena hal itu, tapi karena sepertinya Raluk sedang mendiskusikan sesuatu yang penting, mereka hanya perlu menunggu informasi dari Raluk.
Amara mulai mengamati daerah disekitarnya. selain bangunan itu, bangunan lainnya telah dihancurkan. Dia juga dapat melihat goblin yang sedang mengangkut mayat para bandit, mereka mungkin akan menjadikannya sebagai cadangan makanan.
Awalnya dia merasa tidak enak karena hal ini, tetapi setelah beberap waktu berlalu. Dia mulai mengabaikannya, selama mereka menggunakan mayat musuh sebagai makan, dia tidak terlalu peduli.
Tentu saja mayat-mayat itu harus dari pria, Amara akan menentangnya jika itu dari mayat anak-anak dan gadis yang tidak bersalah.
Disaat dia sedang mengamati daerah sekitar, dikejauhan dia dapat melihat kumpulan awan debu yang bergerak menuju ke arahnya.
'apa itu? '
Amara terus mengamati awan debu itu, setelah beberapa saat dia bisa melihat siapa yang menciptakan benda itu.
Bodil sedang berlari kencang kearahnya, dia menghancurkan apa pun yang menghalangi jalannya.
"maaf membuatmu menunggu, Apa aku melewatkan sesuatu? " kata Bodil sambil tersenyum cerah
"bukan kau yang sedang ku tunggu dan kita baru saja ingin mengerjakan misi terakhir, kau datang di waktu yang tepat"
"ohh, Bodil kau sudah datang" kata Raluk
"Ya, lalu, apa lagi yang kita tunggu? Ayo selesaikan misi ini dengan cepat, lalu pulang"
"Ahhh... Sebelum itu, aku sarankan kali berdua tidak perlu ikut. Situasinya terlalu kacau di dalam, jadi biarkan kami yang mengurusnya"
__ADS_1
"Ehh... Apa maksudmu? Ini hanya misi penyelamatan sederhana, kita hanya perlu mengangkut gadis-gadis itu keluar bukan? apa yang sulit dari itu?"
"kau tidak perlu khawatir, kami bukan wanita lemah. Lagipula, otot-otot Bodil akan menangis jika kau mengatainya lemah. Lihat, itu mulai mengkerut di beberapa tempat"
"huhh... Apa maksudmu? Otot-otot ku tetap kencang seperti biasa, mustahil itu akan mengkerut. Mungkin... "
"lihat, kau sendiri mengakuinya"
"sejak kapan aku melakukannya"
"Barusan."
"Aku tidak.... "
"hahh... Berhenti berdebat, jika kalian memang tetap ingin masuk, aku akan mengingatkan kalian. Apa yang ada didalam sana, mungkin lebih buruk dari apa yang kalian fikirkan. Jadi persiapkan diri kalian.
Kalian, Bimbing kami kedalam. "kata Raluk
"Yes sir... "
"Yess sir... "
Dituntun oleh anak buahnya, Raluk dan yang lainnya mulai memasuki bangunan itu. Tidak ada apa-apa di dalam ruangan itu, itu hanya ruang kosong yang mungkin digunakan sebagai gudang untuk menyimpan hasil jarahan.
Goblin yang bertugas sebagai penuntun, terus bergerak kedepan dan membuka salah satu papan kayu yang berada disudut ruangan. Dibalik papan kayu itu, terdapat sebuah pintu rahasia yang menuju ke bawah.
Udara dilorong itu juga sangat pengap, kau akan kesulitan bernapas dibawah sini. Ini sangat berbeda dengan di labirin, meskipun mereka sudah memiliki pengalaman tinggal dibawah tanah, mereka tetap merasa kesulitan.
Setelah turun kira-kira sekitar 20m ke bawah, mereka mulai melihat cahaya diujung lorong.
Ketika mereka tiba di ujung lorong, mereka menemukan ruang bawah tanah yang luasnya hanya sebesar kamar penginapan termurah dikota Bacau. Ruangan itu sangat kecil dan sempit, lima orang sudah cukup untuk memenuhi ruangan itu.
Amara dan Bodil refleks menutup hidungnya karena bau yang mengerikan dari ruangan itu. Di sisi lain, Raluk dan goblin lainnya tidak keberatan dan terus berjalan kedepan.
Ketika kedua wanita itu melihat ke dalam penjara bawah tanah, mereka mengerutkan kening.
kira-kira ada sekitar 20 lebih wanita yang dikurung ditempat sempit itu, mereka berdesak-desakan satu sama lain. tubuh mereka dipenuhi dengan kotoran mereka sendiri, tetapi tidak ada yang peduli dengan hal itu.
Gadis-gadis yang berada di dalam ruang itu sudah setengah mati. Tidak, itu lebih akurat jika kau mengatakan bahwa mereka sedang sekarat. Di antara mereka ada juga anak-anak, kondisi mereka benar-benar memprihatinkan.
ke duanya menjadi geram melihat hal ini, cara kejam yang mereka lakukan saat membunuh para bandit beberapa waktu yang lalu, tidak sebanding dengan apa yang telah para bandit lakukan pada wanita ini.
Amara dan Bodil benar-benar sangat marah dan benci pada bandit itu, jika mereka dapat kembali ke masa lalu, Meraka pasti akan membunuh bandit-bandit itu lebih kejam lagi.
"Bawa mereka semua keluar. ” Raluk memerintahkan bawahannya.
Para goblin mulai mengeluarkan tandu yang mereka bawa dan menempatkan gadis-gadis itu diatasnya. Mereka mengangkut wanita itu keluar dari ruang bawah tanah satu per satu.
__ADS_1
Setelah mereka mengulangi proses ini beberapa kali, sekarang yang tersisa diruangan itu hanya Amara, Bodil dan Raluk.
Tapi…
"Anak-anak itu …," gumam Amara tanpa sadar.
'Apakah mereka dapat bertahan sampai ke labirin?'
Kondisi mereka sangat parah, anak-anak itu bahkan tidak bisa berbicara karena rasa sakit yang mereka derita.
'Apakah mereka dipukuli?'
Wajah mereka bengkak dan jelek. mata mereka dicungkil, dan mereka juga kehilangan sebagian besar giginya.
Bukan hanya anak-anak, semua wanita yang ada didalam ruangan ini, mengalami kekejaman itu.
Bahkan beberapa wanita kehilangan anggota tubuh mereka.
Hal ini dilakukan agar mereka tidak mengambil banyak tempat di ruangan sempit itu.
Kedua tangan dan kaki mereka dipotong dari akarnya. Jika mereka tidak menghentikan pendarahannya dengan benar, itu akan menjadi keajaiban jika mereka berhasil selamat.
“semua wanita telah berhasil diangkut keluar, kami telah menyelesaikan misi yang diberikan oleh tuan Alice. " Para goblin melaporkan hasil kerja mereka.
"kerja bagus... Bersiaplah untuk kembali ke labirin" jawab Raluk
"Yes sir... "
"……"
Mungkin karena masih terkejut dengan apa yang telah mereka lihat, Amara dan Bodil hanya bisa terdiam bahkan setelah mendengar laporan dari prajurit goblin.
mereka berjalan kembali ke permukaan tanpa sepatah kata pun.
Apa yang keduanya khawatirkan saat ini adalah apakah gadis-gadis ini dapat tetap bertahan hidup sampai ke labirin atau tidak.
Jika mereka mati di tengah perjalanan, maka mayat mereka mungkin akan digunakan untuk membuat Corpse golem atau menjadi bahan pengorbanan untuk memanggil monster.
Di sisi lain, mereka juga akan menjadi makanan bagi binatang buas jika mereka ditinggalkan di sini. Bagaimanapun, mereka tidak akan memiliki akhir yang baik.
“…. . Ah . "Salah satu gadis mengerang.
Setelah mendengar suara erangan kecil dari gadis itu, keduanya kembali tersadar dari lamunannya
"berjuanglah... Jika kamu bisa selamat sampai ke Labirin, kamu pasti dapat disembuhkan. ” Amara mencoba untuk menyemangati gadis yang sekarat itu.
"Benar... Jangankan menyembuhkan lukamu, aku yakin master Alice pasti dapat menyambung kembali tangan dan kakimu yang terpotong. Lagipula kami juga sudah membunuh semua bandit yang telah mengurung kalian dengan kejam, Tidak ada yang perlu kau takutkan mulai sekarang." kata Bodil dengan suara ceria, berusaha untuk meringankan penderitaan gadis itu
__ADS_1
Ketika Amara bertanya-tanya apakah gadis itu dapat mendengar perkataannya atau tidak. gadis itu perlahan-lahan mengangguk kecil, seolah-olah merespon perkataan keduanya.