Labyrinth Kingdom

Labyrinth Kingdom
Chapter 91. Kemarahan Dullahan


__ADS_3

Dullahan yang berhasil di panggil oleh Aaron, mengamati area sekitarnya dengan seksama.


Tempat itu benar-benar asing untuknya.


"Tempat apa ini? Kenapa aku ada disini? " ucap pria itu dengan suara seraknya.


Dia benar-benar terlihat bingung saat ini.


"Apa aku tersesat lagi? " gumam Dullahan.


Disaat pria itu masih bingung dengan situasinya saat ini, seorang pria tiba-tiba berbicara padanya.


"Selamat datang di Kerajaan ku, perkenalkan nama saya adalah Aaron. Penguasa dari labirin ini. " Aaron memperkenalkan dirinya.


Mendengar suara orang asing yang berbicara padanya, pria itu berbalik kesumber suara dan melihat Aaron yang berdiri tidak jauh darinya.


"Labirin? Apa kau master dari Dungeon ini? " tanya Dullahan


Dia turun dari kudanya dan berjalan mendekati Aaron.


Tinggi pria itu kira-kira hampir mencapai 3 meter, dia lebih tinggi dari Galenus.


Pria itu memancarkan aura yang sangat kuat disekitarnya saat berjalan, dia mencoba untuk mengintimidasi Aaron.


Tetapi, Aaron tidak bergeming sedikitpun.


"Ya! Saya salah satu penguasa labirin ini. " jawab Aaron dengan nada datar.


Pria itu memposisikan kepalanya sejajar dengan Aaron lalu berbicara.


"Dimana ini? Apa kita masih berada di Zeldus? " tanya Dullahan.


"Saya tidak tahu Zeldus yang kamu maksud. Tetapi, kita berada di planet Altis saat ini. " jawab Aaron.


"Altis? Itu sangat jauh dari tempat ku sebelumnya. aku dalam masalah... " gumam Dullahan.


Pria itu terlihat sedang menggumamkan sesutu, tetapi Aaron mengabaikannya dan balik bertanya.


"Apa kamu bisa memperkenalkan dirimu sekarang? " tanya Aaron.


"Sebelum itu, bisakah kau mengembalikan ku ke tempat sebelumnya? Aku memiliki urusan penting disana. " Dullahan itu bertanya balik.


"Sayangnya saya tidak bisa melakukan itu, gerbang yang ku buka sebelumnya hanya untuk satu arah. " Jawab Aaron menggelengkan kepalanya.


"Apa maksudmu? " ucap Dullahan dengan nada sedikit kesal.


"Seperti yang saya katakan sebelumnya, kamu tidak bisa kembali. Selain itu, kamu sudah menjawab panggilan ku sebelumnya.


Itu berarti, kamu adalah pelayan ku sekarang. " ucap Aaron dengan tatapan dingin.


"Pelayan kau bilang? Aku, sang ksatria terhebat menjadi pelayan makhluk rendahan sepertimu, jangan bermimpi berengsek! " teriak Dullahan itu dengan marah.


Dia langsung menyerang Aaron tanpa peringatan sedikitpun.


Kapak besar yang ada di tangan kirinya diayunkan dengan kuat ke arah Aaron, dia berniat membunuhnya dalam sekali serang.


Melihat serangan yang datang ke arahnya, Aaron hanya diam di tempat dan tidak terlihat takut sedikit pun.


Dia sudah memprediksi sejak awal kalau hal seperti ini pasti akan terjadi.


'Booommm! '


Suara dentuman keras terdengar, bahkan lantai yang ada disekitar Aaron mulai retak karena efek dari benturan itu.


"Jadi, serangan biasa tidak akan mempan padamu rupanya. Menarik! " ucap Dullahan.


Dia melihat Kalau Aaron berhasil menahan serangannya dengan mudah.

__ADS_1


Saat ini, di samping Aaron muncul sebuah perisai berbentuk gerbang yang menghalangi kapak besar dari Dullahan.


Perisai itu adalah salah satu skill pertahanan terkuat miliknya, [Darvaza] atau kau dapat menyebutnya sebagai gerbang neraka.


"Kalau begitu, bagaimana dengan yang satu ini. Hellhest... " teriak Dullahan.


Dia melompat menjauh dari Aaron dan memerintahkan kudanya.


'HIHIIIIN... '


Kuda yang sebelumnya Dullahan itu tunggangi tiba-tiba meringkik dan perlahan-lahan berubah menjadi bayangan lalu menghilang.


"..... "


Aaron cukup terkejut melihat hal ini.


Disaat dia sedang mencari jejak keberadaan kuda itu.


Tiba-tiba dari dalam bayangannya, kuda hitam yang sebelumnya menghilang melompat keluar dari sana.


Hellhest menendang dengan cepat ke arah Aaron menggunakan kaki belakangnya yang kuat.


Refleks, Aaron langsung memindahkan perisai [Darvaza] miliknya untuk menahan tendangan kuda itu.


Tetapi....


'Creck... Creck.... Creck.... '


Perisai yang awalnya dia banggakan karena pertahanannya yang sangat kuat, perlahan-lahan mulai retak dan hancur berkeping-keping.


Perisai itu tidak bisa menahan tendangan kuat dari kuda hitam milik Dullahan.


'Argh..... ! '


Aaron terkena tendangan kuda itu dengan telak dan terlempar jauh ke samping.


Dia menabrak dinding dengan keras dan terkubur di dalam puing-puing.


Melihat kakaknya yang dikalahkan, Alice bergerak maju dengan tatapan dingin di matanya.


"Bukankah kau terlalu sombong saat ini, mengacau di rumah orang lain... "


"Alice! Mundurlah, lindungi Jeanne. " ucap Aaron memotong perkataan adiknya.


Dia berjalan keluar dengan santai dari puing-puing dinding tanpa luka sedikitpun.


"T, tapi... "


"Dia mangsa ku! " ucap Aaron dengan senyum ganas di wajahnya.


Alice yang melihat ekspresi bahagia kakaknya setelah sekian lama terpaksa mengalah.


"Sigh~ baiklah! Kak Jeanne, ayo pergi ke tempat yang lebih aman untuk menonton pertunjukan. " ucap Alice menuntun Jeanne menjauh dari area pertarungan.


"Apa kamu yakin tidak ingin membantunya? " Tanya Jeanne dengan khawatir sambil memandang Aaron.


"Kamu tidak perlu khawatir, kakak tidak akan kalah. Selain itu, apa kamu sudah lupa julukan yang kakak ku miliki di masa lalu. " ucap Alice sambil tersenyum.


"Jenius nomor satu di Benua Repel. " gumam Jeanne.


"Benar! He he hehhh... " ucap Alice.


Aaron berjalan menghampiri Dullahan sambil membersihkan sisa-sisa debu yang menempel di jubahnya.


"Maaf telah membuatmu menunggu, sudah lama sejak terakhir kali saya bertarung dengan serius. Jadi, tubuh ku agak kaku saat ini. " ucap Aaron sambil tersenyum.


"Tidak masalah! Lagipula aku bukan tipe orang yang suka membully orang lemah. " ucap Dullahan dengan nada mengejek.

__ADS_1


"Saya mungkin jauh lebih lemah dibandingkan orang-orang itu. Tetapi, saya jauh lebih kuat darimu. " Aaron membalas ejekan Dullahan.


"Bocah sialan! Sepertinya kau tidak paham dengan yang namanya perbedaan kekuatan dan pengalaman. " ucap Dullahan dengan nada dingin.


[Hades River: Cocytus]


Kapak besar yang awalnya berwarna hitam tiba-tiba berubah menjadi biru es.


Dullahan itu mengayunkan kapak biru miliknya ke arah Aaron dengan sekuat tenaga.


[Glesyer]


Gletser es yang sangat besar tiba-tiba muncul dari tanah mengikuti arah ayunan kapak milik Dullahan.


Serangan itu sangat kuat dan suhu di dalam [Throne Room] tiba-tiba menurun drastis, Aaron yang menjadi target serangan itu membeku seketika.


"Itulah yang akan terjadi jika kau terlalu menyombongkan dirimu sialan. " Dullahan mengejek Aaron yang menjadi patung es di dalam Gletser.


Tetapi...


'Crek... Crek... Crek... '


Bongkahan es yang membekukan Aaron tiba-tiba retak dan hancur.


"Apa... " Dullahan cukup terkejut melihat ini.


Kekuatan es yang dia miliki bukanlah es biasa, ada sedikit Authority di dalam serangan itu.


Orang biasa tidak akan bisa selamat dari serangannya.


Dari dalam Gletser, Dullahan dapat melihat seorang wanita sedang memeluk Aaron dari belakang.


Wanita itu terlihat sedang melindunginya dari serangan elemen es.


—Extreme Magic: Ice Age (Esmeralda)


Wanita yang memeluk Aaron tiba-tiba membuka mulutnya lebar-lebar.


Gaya hisap yang sangat kuat muncul dan menyedot semua Gletser yang ada disekitarnya ke dalam mulut Esmeralda.


Setelah itu, Esmeralda menghembuskan badai es yang sangat kuat ke arah Dullahan.


"Spirit Frost! Sialan... [Pridwen] " teriak Dullahan.


Dia melompat naik ke atas kudanya dan mengaktifkan skill pertahanan terkuatnya, perisai sang pahlawan [Pridwen].


Dullahan menahan badai Es yang sangat kuat itu menggunakan perisai. Tetapi, itu tidak cukup.


Dia merasa kalau ribuan jarum sedang menusuk tubuhnya saat ini.


'VRINSKKK... ' suara kuda yang meringkik kesakitan.


"Ini tidak akan berhasil. " gumam Dullahan.


[Hades River: Acheron]


Dia mengangkat kapaknya tinggi-tinggi dan mengayunnya dengan kuat.


Kapak yang awalnya berwarna biru, berubah menjadi merah api.


[Phoebus Tempest].


Gelombang udara panas berbenturan langsung dengan badai Es yang dingin.


Mungkin karena kedua serangan elemen itu sama-sama kuat, hal ini membuat keduanya saling membatalkan dan menghilang begitu saja.


Suasana di dalam [Throne Room] tiba-tiba menjadi sunyi, Aaron dan Dullahan saling menatap satu sama lain.

__ADS_1


Keduanya tidak ingin melewatkan gerakan sekecil apapun dari pihak musuh.


__ADS_2