
Waktu perlahan-lahan berlalu.
Sudah lebih dari 10 menit keduanya saling menatap dan belum ada tanda-tanda satupun dari mereka yang ingin menyerang.
'Anak ini cukup hebat, melihat dari perawakannya dia harusnya baru berusia 20 tahunan.
Dengan kemampuan tempur yang sehebat itu di usianya yang masih sangat muda, apa dia calon pahlawan di planet ini? ' ucap Dullahan dalam hati.
Dia mengamati Aaron yang berdiri di kejauhan dengan seksama.
Tidak ada sedikitpun rasa takut yang ditampilkan pria itu saat bertarung melawannya sebelumnya.
'Semangat masa muda! ini mengingatkan ku pada masa lalu, disaat aku masih memperebutkan gelar pahlawan dengan yang lainnya.
Itu saat-saat yang paling menyenangkan. ' ucap Dullahan dalam hati.
Disaat dia selesai mengenang masa lalunya ketika masih hidup, Dullahan mulai berbicara.
"Kau cukup hebat nak! Tetapi maaf, aku yang akan memenangkan pertarungan ini. Akan ku perlihatkan padamu kekuatan dari pahlawan yang sebenarnya. HELLHEIS.... " teriak Dullahan.
'HIHIIIIN... '
Kuda yang dia tunggangi mulai meringkik dan perlahan-lahan tubuhnya diselimuti kabut hitam pekat.
"Trik seperti itu tidak akan mempan padaku untuk yang kedua kalinya, {Esmeralda, Stalaktit...} " teriak Aaron.
Dia berniat menggagalkan skill dari kuda hitam itu.
Puluhan Stalaktit es tiba-tiba muncul di atas kepala Dullahan dan meluncur dengan cepat kearahnya.
Stalaktit-Stalaktit itu berhasil menembus tubuh Dullahan dan kudanya, hanya saja kedua orang itu tidak terlihat terluka sedikitpun.
Malahan, tubuh mereka berubah menjadi bayangan hitam dan menghilang.
"Seranganmu terlalu lambat Nak, HA HA HA... " ejek Dullahan sebelum benar-benar menghilang.
"Sial! [Anomaly Tracking] " umpat Aaron.
Dia mengamati daerah sekitarnya mencoba melacak keberadaan kuda itu, tetapi gagal.
'Apa yang terjadi? Kenapa skill ku tidak bisa mendeteksi keberadaan mereka? ' ucap Aaron terlihat bingung.
Ini pertama kalinya ada orang yang berhasil lolos dari kemampuan pelacaknya.
Dia cukup terkejut akan hal itu.
Karena tidak punya pilihan lain, terpaksa Aaron meningkatkan kewaspadaannya menggunakan [Super Sense] setelah gagal melacak keberadaan kedua makhluk itu berkali-kali.
Aaron memperkuat kelima indra miliknya ke level tertinggi, guna untuk merespon serangan tiba-tiba yang akan dilancarkan Dullahan sewaktu-waktu.
Tidak lama waktu berselang, suara desiran ombak tiba-tiba terdengar.
Dari belakang Aaron, sebuah ombak es yang sangat besar datang menggulung ke arahnya dengan cepat.
"Esmeralda... " teriak Aaron.
Wanita itu membuka mulutnya lebar-lebar dan mulai menghisap ombak es yang datang dengan cepat seperti sebelumnya.
Tetapi...
'Aaaaarghhhh...! '
Esmeralda tiba-tiba berteriak kesakitan, tubuhnya perlahan-lahan mulai terbakar.
Melihat hal ini, Aaron langsung menyadari penyebabnya.
"Berhasil menyembunyikan elemen api di dalam es tanpa terdeteksi. Seperti yang diharapkan dari mantan pahlawan, kau benar-benar luar biasa.
Esmeralda, mundurlah! " ucap Aaron.
Esmeralda perlahan-lahan menghilang setelah Aaron membatalkan Spirit Magic miliknya.
"Apa yang terjadi? Kenapa kau mengusir Baby Sittermu? Jangan bilang kau sudah menyerah hanya karena serangan lemah itu. " ejek Dullahan.
Aaron dapat mendengar ejekan dari makhluk itu dengan jelas, tetapi dia tidak tahu dimana sumber suara itu berasal.
Mengabaikan ejekan pria itu, Aaron mengaktifkan mantra {Translocate}.
Di tangan kanan Aaron, muncul sebuah pedang berwarna perak yang dipenuhi dengan tulisan kuno dipermukaannya.
Pedang itu memancarkan aura kuat disekitarnya.
"Tidak perlu khawatir, aku tidak akan menyerah begitu saja. Lagipula, pertarungan baru dimulai sekarang. " ucap Aaron dengan tatapan dingin dimatanya.
Mendengar nada provokasi dari kata-kata Aaron, Dullahan sekali lagi mengaktifkan skillnya.
__ADS_1
"Kalau begitu, bagaimana kau akan menahan serangan ku ini tanpa pengasuhmu. [Algidus Waves] " teriak Dullahan.
Gelombang es kedua datang menggulung ke arah Aaron dengan cepat.
Ombak itu jauh lebih besar dari yang sebelumnya.
Meskipun Aaron dapat merasakan kekuatan penghancur yang sangat kuat dari serangan itu.
Aaron tetap terlihat tenang, dia dengan santai mengayunkan pedang perak miliknya ke arah ombak es itu.
[Ryle's Sword Style: Cleave The Ocean]
Meskipun tebasannya terlihat sederhana, energi yang terkandung di dalamnya sangat menakutkan.
Hanya dengan satu tebasan, Aaron berhasil membelah ombak es itu dengan mudah.
Tidak hanya sampai disitu, dia juga berhasil memotong skill [Black Curtain] yang digunakan Dullahan untuk bersembunyi.
"Disana kamu rupanya! Jika kamu seorang ksatria, saya menantangmu berduel secara langsung. " ucap Aaron.
Dia meluncur ke arah Dullahan dengan cepat untuk mencegahnya mengaktifkan skill penyembunyian itu lagi.
Melihat penyamarannya telah terbongkar, Dullahan tidak marah sedikitpun, malahan dia tertawa dengan bahagia.
"Kamu benar, menyerang secara diam-diam bukanlah cara seorang ksatria bertarung. Maka dari itu, aku terima tantanganmu bertarung secara langsung. Hellheis... " ucap Dullahan dengan semangat.
Kuda hitam itu, berlari dengan cepat ke arah Aaron tanpa rasa takut sedikitpun.
Melihat kuda yang berlari ke arahnya, Aaron melompat tinggi ke atas dan menebas Dullahan dengan kuat.
Sementara itu, Dullahan yang duduk di atas kudanya menyambut serangan yang datang dengan mengayunkan kapak birunya sekuat tenaga.
'Tinggg... '
Pedang dan kapak saling berbenturan.
Energi yang dihasilkan oleh benturan itu sangat kuat, bahkan lantai disekitar pertarungan mulai hancur berantakan.
Melihat serangan pembukaannya berhasil ditahan, Aaron melompat mundur untuk mengaktifkan skillnya yang lain.
Tetapi, Dullahan tentu saja tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
'HIHIIIIN... '
Dia menendang Aaron dengan kuat seperti sebelumnya.
Tetapi...
[Lightning Step]
Kali ini Aaron tidak berniat untuk menahan tendangan itu dan lebih memilih menghindarinya.
'Bliittzzz... '
Dia berhasil menghindari tendangan cepat kuda itu dan muncul agak jauh darinya. Tetapi....
"Sepertinya kau sudah menyadari rahasia yang dimiliki Hellheis. " ucap Dullahan dengan santai.
Spontan Aaron langsung mencoba menjauh dari tempat itu, setelah mendengar suara Dullahan yang muncul di belakangnya secara tiba-tiba.
"Itu langkah yang bijak! Tetapi, gerakanmu terlalu mudah ditebak. " ucap Dullahan sambil mengayunkan kapaknya dengan kuat.
Serangan itu datang terlalu cepat, Aaron tidak sempat mengambil langkah pencegahan sebelum terkena tebasan kapak milik pria itu.
Dullahan berhasil membelah tubuh Aaron dengan mudah tanpa hambatan sedikitpun yang membuat kapaknya menabrak lantai dengan keras.
'Boooomm...!!! '
"Dummy! " gumam Dullahan.
Tubuh Aaron yang sebelumnya dia potong, tiba-tiba berubah menjadi patung batu yang menyerupai dirinya.
"Kata-katamu yang sebelumnya juga berlaku untukmu, gerakanmu terlalu mudah ditebak! " ucap Aaron menebas Dullahan dari titik butanya.
Dia tiba-tiba muncul dibelakang Dullahan dan menyerang dengan cepat seperti yang pria itu lakukan sebelumnya.
"Benarkah! " jawab Dullahan dengan santai.
'HIHIIIIN... '
"....."
Hellheis tiba-tiba muncul dari dalam bayangan Dullahan dan mencoba menginjak Aaron kali ini.
[Phantom Step]
__ADS_1
Terpaksa Aaron harus membatalkan serangannya dan menghindari serangan kuda hitam itu.
'Booommmm... '
Kaki depan Hellheis menghancurkan lantai tempat Aaron berdiri sebelumnya.
Aaron mundur beberapa langkah kebelakang untuk menyesuaikan dirinya.
"Kamu memiliki kuda yang baik disana. " puji Aaron.
"Tentu saja! Dia sudah menemani ku sejak awal petualanganku, dia partner yang paling hebat. " ucap Dullahan.
Dia mengelus-elus kudanya dengan penuh kasih sayang.
Aaron terlihat sedang memikirkan sesuatu saat ini.
'Kuda itu harus disingkirkan terlebih dahulu. Jika tidak, sangat sulit untuk mengalahkan makhluk menyebalkan itu. ' gumam Aaron dalam hati.
Disaat Aaron sedang menyusun rancananya, suara teriakan Dullahan tiba-tiba mengganggu konsentrasinya.
"Jangan melamun disaat pertempuran sedang berlangsung bodoh! " teriak Dullahan dengan kesal.
[Krakatoa]
Dia mengangkat kapak merahnya tinggi-tinggi ke langit dan mengayunkannya dengan kekuatan penuh ke lantai.
'BOOOOMMMMM....!!! '
Seluruh labirin tiba-tiba bergetar hebat.
Jangankan para penghuni labirin, bahkan para petualang yang berada di luar labirin sekalipun dapat merasakan getaran kuat itu.
"Ehhhh, Apa yang terjadi? "
"Apa boss monster muncul? "
"Semuanya berlindung, labirin akan runtuh."
"Lari...! "
"Selamatkan diri kalian... "
"Tuan! Apa kau tertarik membeli aksesori. "
"Ini bukan waktunya untuk berjualan bodoh! Cepat kabur... "
"Apa ada yang ingin membeli aksesori, semuanya lagi diskon setengah harga. "
"Jangan menghalangi jalan, orang gila... "
Kepanikan terjadi dimana-mana.
Para petualang terlihat lari berhamburan keluar dari labirin karena takut terkubur hidup-hidup di dalam sana.
Getaran itu berlangsung selama beberapa detik sebelum mereda.
******************
Sementara itu [Throne Room] yang menjadi pusat gempa sudah rusak parah.
Ruangan yang awalnya indah berubah menjadi reruntuhan.
Lantai di dalam [Throne Room] dipenuhi retakan yang menyemburkan magma cair yang sangat panas keseluruh ruangan.
Situasinya benar-benar kacau saat ini.
Tetapi, Aaron dan Dullahan tidak peduli dengan hal itu dan tetap melanjutkan pertarungan mereka.
Alice yang sejak tadi menyaksikan kerusakan yang terjadi pada labirin, berusaha untuk menahan amarahnya.
'Tenang Alice! Semuanya masih bisa diperbaiki, ini tidak sulit untukmu. ' gumam Alice berusaha untuk tenang.
Jika bukan karena kakaknya terlihat sedang bersenang-senang saat ini, dia mungkin sudah mengamuk dan mengutuk orang-orang sebagai pelampiasan amarah.
Sementara itu, Jeanne yang duduk di samping Alice, hanya terdiam menyaksikan pertarungan keduanya.
Dia belum pernah melihat pertarungan yang seluar biasa ini.
Meskipun begitu, dia tetap mengkhawatirkan keselamatan Aaron saat ini.
"Alice, apa kamu yakin tidak ingin membantunya? " tanya Jeanne.
"Tidak perlu. " jawab Alice singkat.
Dia hanya memandangi kakaknya yang bertarung dikejauhan dengan tatapan iri.
__ADS_1