
Pria itu dengan semangat membela dirinya dan dengan tegas berkata kalau mereka telah difitnah melakukan kejahatan yang tidak mereka lakukan.
Tentu saja sejak awal Alice tahu kalau pria ini adalah pembohong besar.
"Hah !?"
“Nnn? Ada apa? Apa aku mengatakan sesuatu yang salah? "
Alice menatap pria yang terlihat sedang marah dengan wajah bertanya-tanya.
Jika dia sedang berbicara dengan manusia normal, seharusnya tidak akan menjadi masalah bahkan jika mereka membunuh para goblin.
lagipula goblin adalah monster dan para petualang juga sering memburu mereka.
Tapi dia merasa marah saat ini, karena respon yang ditunjukan gadis kecil dihadapannya berbeda dari yang dia harapkan.
Bukannya mendukung mereka yang merupakan manusia, dia malah membela para goblin jelek.
Di sisi lain, Conley dapat memahami kemarahan pria ini sampai batas tertentu.
Menurut perspektif manusia di dunia ini. Adalah hal yang normal untuk membunuh para goblin tanpa mencoba untuk berkomunikasi dengan mereka terlebih dahulu.
Tetapi Aaron dan Alice berbeda, Keduanya tidak memandang fisik atau pun ras orang lain. selama mereka dapat diajak untuk berkomunikasi, Keduanya akan memperlakukan ras apa pun secara merata.
Jadi pada dasarnya orang-orang ini berbohong jika mereka mengatakan kalau mereka menolong para goblin karena merasa kasihan. Lagipula lebih mudah bagi mereka untuk mendapatkan informasi dengan cara mengancam dari pada bernegosiasi.
Mungkin karena penampilan Alice yang cantik dan imut, Orang-orang ini tidak merasa takut bahkan setelah mereka ketahuan berbohong.
Malahan pria itu mengubah sikapnya yang sebelumnya sopan menjadi lebih agresif.
"ketahuan kah... Mau bagaimana lagi, lagipula mereka hanya goblin. Mahluk yang paling rendah, tidak ada gunanya berdiskusi dengan mereka sejak awal.
Karena kau sudah tau kami berbohong, lalu, apa yang ingin kau lakukan pada kami? Mengurung kami?"
Mendengar perkataan pria itu, tentu saja Alice tidak peduli dengan mereka dan mengabaikannya. Dia sedang fokus pada masalah yang dia hadapi sekarang.
'huft... Gagal lagi, sepertinya aku harus menggunakan yang lainnya'
Melihat tuanya tidak merespon sama sekali, Conley, memandang Alice yang sedang duduk di atas tahta hitamnya. Tidak seperti penampilan ceria atau penampilan kejam yang biasa dia tampilkan, saat ini dia sedang terlihat kesusahan. Seolah-olah sedang memikirkan masalah yang sangat penting.
Conley ingin menanyakan apa yang sebenarnya sedang terjadi, tetapi sebelum dia sempat berbicara. Alice tiba-tiba mengangkat kepalanya dan menatap pria itu.
Tetapi kali ini warna mata Alice yang sebelumnya berwarna merah ruby cerah berubah menjadi merah darah yang suram. Dia membuka mulutnya dan mulai berbicara.
__ADS_1
“hmmm... Begitu rupanya, sepertinya kalian benar-benar manusia yang buruk"
"hahh... !? Apa maksudmu? "
Pria itu terlihat bingung, dia tidak mengerti apa yang sebenarnya Alice katakan.
"pembunuhan, perampokan, penjarahan, pemerkosaan dan masih banyak lagi lainnya. Sepertinya kalian benar-benar menikmati pekerjaan kalian sebagai bandit. ada sangat banyak kejahatan yang telah kalian lakukan, selain itu jiwa kalian juga memiliki warna yang sangat menjijikkan"
"Bandit? Apa maksudmu? Kami kelompok mercenaries, kau... "
"tidak perlu menyangkalnya lagi, dengan skill [memory collector], [soul color] dan [lie detector] yang ku miliki, tidak ada kebohongan yang bisa luput dari pengawasan ku"
Sebenarnya, sebelum Alice menggunakan ketiga skill itu. Awalnya dia berniat menggunakan skill yang lebih kuat yang disebut [Sinful Past] yang membuatnya bisa melihat secara langsung dosa yang telah dia lakukan dimasa lalu.
Tetapi skill itu ternyata gagal diaktifkan, bukannya dia tidak memiliki will power yang cukup untuk mengaktifkannya. Tetapi, itu karena organ magis {life core} miliknya telah rusak.
Ini bukan pertama kalinya dia mengalami hal ini. Sebelumnya dia juga sempat mengalaminya, malahan kakaknya sudah mengalami masalah ini berkali-kali.
Mengetahui kalau mustahil untuk membohongi gadis itu, dia berkata dengan dingin.
"Apakah kamu memiliki masalah dengan itu !?"
"setiap orang memiliki cara pandang mereka masing-masing dalam menilai kebaikan dan keburukan. Aku tidak peduli itu"
Pria itu cukup terkejut mendengar jawaban Alice, dia melihat kalau gadis kecil itu benar-benar tidak peduli, bahkan setelah mengetahui kebenaran yang sebenarnya.
"sama seperti yang goblin lakukan sebelumnya. Kami juga datang kesini untuk berkolaborasi. ”
Berbeda dengan cara yang Gula gunakan saat memohon padanya untuk meminta pertolongan.
Pria itu bahkan tidak menunjukkan rasa hormat sedikit pun padanya, malahan dia bersikap arogan dan sombong dihadapannya.
"Kolaborasi?"
"kami telah mengawasi pintu masuk labirin ini sejak lama. Selain petualang, kami juga melihat beberapa goblin yang mencoba untuk masuk kedalamnya. Disaat kami menginterogasi goblin-goblin itu, kami mendapatkan informasi bahwa labirin bawah tanah ini sedang merekrut pasukan.
Jadi, apakah kamu berniat untuk mempekerjakan kami? "
Setelah mengatakan itu, pria itu menepuk pedang dan kapak yang tergantung di pinggangnya.
"Hu ~ n"
“seperti yang kalau lihat, kami jauh lebih berguna daripada goblin di sana. ”
__ADS_1
Sepertinya ada banyak goblin yang mencoba untuk memasuki labirin ini, tetapi sebagian besar dari mereka sepertinya mati ditangan penyerang labirin dan bandit-bandit ini.
"begitu rupannya. Jadi, kalian membunuh para goblin yang datang ke sini dan mengambil informasi yang mereka miliki. dan berpikir kalau kalian akan lebih berguna dari mereka. ”
"tentu saja, kami sudah memiliki banyak pengalaman bertarung sebelumnya "
semuanya menjadi jelas sekarang, hanya para goblin yang merupakan satu-satunya sumber informasi dari kelompok bandit ini. Mustahil bagi mereka untuk mendapatkan mendapatkan informasi dari ksatria Dastin. Jika tidak, mereka pasti sudah mati sajak lama.
Meskipun mereka berhasil mendapatkan informasi tentang perekrutan pasukan. Tapi mereka tidak diundang seperti para goblin, pada dasarnya mereka hanyalah penyusup yang memasuki labirin lewat pintu belakang.
“…. lalu, bagaimana dengan itu? ”
"N?"
"Apakah kamu ingin bergandengan tangan dengan kami atau tidak!"
Mungkin merasa kesal karena Alice tidak menanggapi pertanyaannya, Bandit itu berteriak dengan nada yang mengancam. Adapun anggota bandit yang lainnya, mereka mulai bergerak perlahan-lahan mendekat kearahnya
"Apa yang akan kamu lakukan?"
"Cepat beri kami jawabanmu"
"tidak perlu takut, kami adalah pria yang baik"
"kau sangat cantik gadis kecil, apa kau ingin pergi bermain-main dengan paman"
Melihat pemandangan ini, Alice menjawab sambil menghela nafas, Mencoba untuk menenangkan dirinya.
“Aku akan melepaskanmu kali ini. Jadi cepatlah menghilang dari pandanganku. Kalian kumpulan sampah tidak berguna”
"Apa?"
“Aku tidak bisa mengizinkan sekelompok sampah seperti kalian menjadi anggota pasukan kakak ku. Jadi kembalilah ke tempatmu berasal dan jangan biarkan aku melihatmu lagi. ”
Sebuah jawaban dingin bergema di [Throne Room]
Conley merasakan suhu diruangan itu tiba-tiba menjadi dingin, tubuhnya bergetar tanpa sebab dan keringat dingin mulai menetes di dahinya. Ini mungkin yang disebut insting bertahan hidup, saat ini tubuhnya tanpa sadar memberinya peringatan kalau dia sedang berada dalam situasi yang bahaya saat ini.
Suara Alice terdengar sangat dingin saat itu dan ada amarah didalam kata-katanya. Sepertinya dia benar-benar marah sekarang.
Tentu saja pria itu juga merasakan perubahan suasana ini, tetapi dia dapat pulih dengan cepat dan mengambil senjata yang ada dipunggungnya. Anggota lainnya juga mengikuti tindakan ketua mereka dan mulai menganyungkan senjatanya.
Gula yang berada di dekat kelompok manusia itu dengan cepat melarikan diri mencari tempat perlindungan.
__ADS_1
Conley yang menyaksikan tindakan kelompok itu mulai mengambil posisi bertarung dan membaca mantra untuk melindungi dirinya sendiri.
Sejujurnya yang membuatnya takut bukanlah bandit-bandit itu, melainkan Alice yang terlihat sangat marah saat ini.