Labyrinth Kingdom

Labyrinth Kingdom
Chapter 81. Veteran Perang


__ADS_3

Beberapa menit sebelumnya.


Dustin berjalan menuju Sanatorium yang ada di hadapannya.


Dia mengamati area disekitar bangunan itu dan menemukan beberapa goblin yang sedang bersantai di taman.


Beberapa Pixie juga terlihat terbang kesana kemari, merawat bunga-bunga yang ada di taman itu.


"Energi positif di tempat ini sangat padat, rasanya sangat menjijikkan. " gumam Dustin dengan tidak senang.


Dia mengabaikan para Goblin dan Pixie yang sedang sibuk berkerja dan terus berjalan menuju pintu masuk bangunan itu.


Disaat Dustin membuka pintu, dia disambut dengan pemandangan yang tidak biasa.


Lampu gantung yang terbuat dari kristal menghiasi langit-langit bangunan, lantainya terbuat dari marmer putih yang membuat bagian dalam ruangan itu semakin indah.


Tetapi, bukan itu yang menarik perhatian Dustin, melaikan simbol-simbol yang terukir di dinding bagunan itu.


"Medivel Rune! Pantas saja energi positif di tempat ini sangat padat. " ucap Dustin.


Medivel Rune berfungsi untuk menyerap segala jenis energi positif yang ada disekitarnya guna untuk mempercepat proses penyembuhan orang-orang yang terluka.


Rune ini biasanya digunakan saat membangun fasilitas penyembuhan di lokasi perang yang sedang berlangsung.


Disaat Dustin sedang mengamati bagian dalam bagunan itu, suara seseorang yang berbicara terdengar.


"Aku tidak menyangka kalau tamu tak terduga akan datang mengunjungi tempat ku, lama tidak bertemu Judgment Knight. " sapa Galenus dengan ramah.


Dustin berbalik ke arah sumber suara itu. Tetapi, bukannya membalas sapaan dari Galenus, dia malahan melakukan serangan tiba-tiba.


[Twin Slash]


Dua bilah cahaya bergerak cepat ke arah Galenus dan memotong tubuhnya menjadi tiga bagian.


Tetapi... Meskipun tubuhnya telah terpotong, kepala Galenus yang tergeletak di lantai terus berbicara.


"Sigh~ Masih kasar seperti biasa. " ucap Galenus sambil menghela nafas.


Setelah dia mengucapkan kata-kata singkat itu, tubuh Galenus yang terpotong perlahan-lahan hancur berubah menjadi butiran debu dan menghilang.


Namun, sesaat kemudian, Galenus yang baru tiba-tiba muncul di samping Dustin sambil menyandarkan sikunya di bahu ksatria itu.


"Tidak bisakah kamu bersikap lebih ramah kepada sesama veteran dari 'Red Star War', kau benar-benar membuat pria tua ini sedih. " ucap Galenus dengan nada sedih.


" !!! "


Dustin sangat terkejut karena tidak menyadari kehadiran Galenus yang tiba-tiba muncul disampingnya.


Dia mengaktifkan salah satu skillnya untuk menjaga jarak dari pria itu.


[Gale Movement]

__ADS_1


Seketika tubuh Dustin berubah menjadi angin dan bergerak menjauh dari Galenus.


"Kenapa kau bertingkah seheboh itu? Jangan bilang kau tidak menyadari kehadiran ku sebelumnya, Apa insting berburumu mulai tumpul sekarang? " tanya Galenus dengan santai.


"Tutup mulutmu berengsek! Jika saja dulu kau melakukan pekerjaanmu dengan baik, mungkin saja, Rila masih hidup sampai sekarang. Aku tidak akan pernah memaafkanmu, sialan! " teriak Dustin dengan marah.


"Rila? ..., Ahhh, Apa yang kau maksud gadis dari ras Avalon itu? Avatar dari Artefak milikmu. Tunggu dulu, bukankah aku sudah menjelaskan padamu alasan kematiannya di masa lalu. " ucap Galenus sambil merefresh kembali ingatan lama miliknya.


"Diam! Ini semua adalah salahmu, berengsek! " bentak Dustin.


Karena tidak ingin mendengar perkataan Galenus lagi, Dustin mengaktifkan Artefaknya untuk menggunakan serangan terkuatnya.


[Collar: Annihilation Mode]


Satu per satu rantai yang tergantung di pinggangnya mulai menghilang.


Melihat hal ini, Galenus tahu apa yang ingin dilakukan Dustin. Dia menghela nafas lalu berbicara.


"Huft... Sepertinya kata-kata ku tidak akan masuk ketelingamu sedikit pun. Selain itu, hal yang merepotkan akan terjadi jika kamu menggunakan skill itu di dalam sini. Maka dari itu, silahkan keluar! " ucap Galenus sambil mengaktifkan skillnya juga.


Dia mengambil salah satu Scalpel yang ada dibalik jubah dokternya dan mengiris ruang yang ada di dapannya.


[Dissect Dimensions: Typhon Rage]


Seketika, muncul tanda garis merah dari udara kosong dan bekas irisan tipis itu semakin melebar, seperti dibuka secara paksa.


Dari dalam irisan ruang itu, muncul angin tornado kencang yang menghempaskan Dustin keluar dari Sanatorium secara paksa.


'BOOOOM'


Di luar Sanatorium tempat Dustin mendarat, Kepulan awan debu membumbung tinggi ke langit-langit labirin.


Tidak ada yang tahu bagaimana nasib Dustin saat ini karena terhalang awan debu itu.


Galenus berjalan keluar dari Sanatorium dengan santai untuk mengecek kondisi dari Dustin.


"Sigh~ Sepertinya kematian Rila benar-benar membuatmu menjadi sangat lemah, kau bahkan tidak bisa menggunakan setengah dari kekuatanmu. " ucap Galenus setelah mengamati kinerja buruk dari Dustin.


Jika itu Dustin yang dulu saat masih aktif dalam 'Red Star War', maka serangan yang dia lancarkan sebelumnya tidak akan mungkin bisa menghempaskannya.


'Tap... Tap... Tap... Tap... Tap... Tap... Tap... Tap... Tap... Tap... Tap... Tap... Tap... Tap... Tap... Tap...'


Disaat Galenus sedang menunggu awan debu itu menghilang, suara langkah kaki seseorang yang berlari terdengar mendekat.


Dia menatap ke arah sumber suara itu dan melihat kalau Raluk dan kelompoknya telah tiba, diikuti oleh Conley, Amara dan Bodil.


"Sebaiknya kalian tidak terlalu dekat! jika tidak kalian mungkin akan mati, carilah tempat bersembunyi yang aman. " ucap Galenus menasehati Raluk dan yang lainnya.


"Apa yang sedang terjadi disini? " tanya Raluk setelah melihat kekacauan yang terjadi di tempat itu.


"Tidak ada yang perlu kalian khawatirkan, kami hanya saling menyapa sebagai teman lama. Haahahahhh " jawab Galenus sambil tertawa.

__ADS_1


"Tutup mulutmu Dokter sialan! Aku tidak ingat kalau kita pernah menjadi teman sebelumnya. " teriak Dustin sambil menyingkirkan awan debu yang ada disekitarnya.


Setelah awan debu itu menghilang, orang-orang akhirnya dapat melihat kondisi dari Dustin.


Skill [Ark Protector] yang berhasil dia aktifkan disaat-saat terakhir untuk melindunginya hancur berantakan.


Full Body Armor yang dia gunakan juga telah rusak parah, terutama dibagian Helmnya, beberapa pecahan terlepas dari sana.


Raluk dan orang lain yang berada di tempat itu sangat terkejut melihat kondisi buruk dari Dustin saat ini.


Terutama para mantan petualang yang sebelumnya pernah melawan Dustin, mereka sangat memahami betul seberapa kuat ksatria itu.


Mereka tidak pernah membayangkan kalau monster yang mereka anggap mustahil untuk dikalahkan akan terluka separah ini.


"Collar: Annihilation... Uhuk! Uhuk! Uhuk! "


Dustin terus menerus terbatuk saat ingin mengaktifkan skillnya. Selain itu, cairan hitam pekat mulai keluar dari celah-celah armornya yang rusak.


"Jangan memaksakan dirimu. Sejak awal, kau seharusnya sudah tahu alasan dari kematian Rila untuk siapa. Jangan menyalahkan orang lain karena kelemahanmu sendiri. " ucap Galenus.


"Diam! Diam! Diam! Ini semua adalah salahmu, aku tidak akan... "


{Cukup sampai disana, berhenti bertarung. Jika kalian membuat ke kacauan lebih dari ini, saya tidak punya pilihan lain selain melempar kalian ke Abyss. } ucap Aaron dengan suara dingin.


Mendengar perintah dari tuannya melalui [Soul link], Dustin tiba-tiba berhenti ditengah-tengah pembicaraannya.


{Jangan lupakan tugasmu Dustin! } ucap Aaron mengingatkan Dustin.


Dustin memandang kelompok Raluk yang berdiri dikejauhan dan melihat kalau Jeanne juga berdiri disana.


{Baik! Aku mengerti master. } jawab Dustin.


Setelah merasa kalau [Soul link] telah terputus, dia memandang Galenus sekali lagi.


"Jangan pikir ini akan berakhir sampai disini saja, aku akan membalasmu nanti. " ucap Dustin sebelum berjalan pergi menuju kelompok Raluk.


"Kalau begitu, ayo pergi putri Jeanne, Tuan telah menunggu kedatangan anda. " ucap Dustin pada sang putri.


Kebetulan Full Body Armor yang dia gunakan sedang memperbaiki dirinya sendiri saat ini.


Jeanne mengangguk sedikit dan membiarkannya membimbingnya ke [Throne Room]. Pengawal pribadinya, Ingrid, mantan petualang dan Raluk serta kelompoknya juga mengikuti keduanya.


Melihat Dustin yang berjalan pergi, Galenus hanya bisa menghela nafas sambil menggelengkan kepalanya.


Dia memandang kerusakan yang tercipta akibat pertarungan itu dan memerintahkan para goblin yang masih tinggal di Sanatorium.


"Kalian semua, tutup kembali lubang itu dan perbaiki bagian yang rusak. Kalian seharian ini hanya bermalas-malasan di taman, segera kerjakan yang ku perintahkan. " perintah Galenus pada para goblin.


"Siap Dok! " jawab para goblin serentak.


Galenus kembali ke dalam Sanatorium setelah mendengar jawaban para Goblin.

__ADS_1


__ADS_2