Labyrinth Kingdom

Labyrinth Kingdom
Chapter 69. Anak Singa Yang Nakal.


__ADS_3

Di balai lelang.


Pelelangan masih terus berlanjut, total ada 50 item yang akan dilelang kali ini.


Saat ini, penawaran untuk barang ke-11 sedang berlangsung.


"270 dukat... " teriak salah satu peserta.


Barang yang dia tawar adalah sebuah Potion tingkat tinggi. Bagi seorang petualang, itu adalah item penyelamat yang sangat penting.


"270 sekali..., 270 dua kali, 270 tiga kali. Selamat bagi tuan petualang disana, anda berhasil mendapatkan nyawa tambahan. " teriak Jacobin dengan semangat.


Petualang yang berhasil memenangkan penawaran itu terlihat sangat senang dan terbatuk beberapa kali.


Sepertinya dia sedang terluka saat ini dan Potion itu kemungkinan besar satu-satunya harapan yang dia miliki untuk sembuh.


"Oke, barang selanjutnya yang akan kami lelang adalah perhiasan indah ini, kami menamainya Red Rose. " ucap Jacobin.


Di atas panggung, seorang wanita cantik sedang membawa perhiasan indah ditangannya.


Perhiasan itu adalah sebuah Ruby berwarna merah yang telah diukir berbentuk bunga mawar, ukurannya sebesar telapak tangan anak-anak dan memancarkan aura merah disekelilingnya.


"Kami menemukannya benda ini disalah satu reruntuhan kuno yang anggota perusahaan kami jelajahi.


Para ahli barang antik yang kami miliki sudah meneliti perhiasan ini dengan seksama dan gagal menemukan rahasia yang terkandung di dalamnya.


Tetapi sebagai perhiasan, ini sangat indah dan langkah karena cara untuk membuatnya sudah punah.


Tidak ada batas minimum harga penawaran untuk barang ini, jika ada yang tertarik silahkan ajukan penawaran anda. " lanjut Jacobin.


Sejujurnya, dia juga tidak terlalu berharap banyak kalau perhiasan itu akan laku dengan harga yang tinggi.


Meskipun itu terlihat sangat indah, perhiasan tetaplah perhiasan.


Di dunia yang kejam ini, barang-barang yang dapat menyelamatkan nyawa jauh lebih penting dari apa pun.


"10 dukat... " ucap salah satu wanita yang mengikuti lelang.


"20....


"50....


"100....


"150 dukat... " wanita lain menaikkan harga penawarannya.


Saat ini, hanya para wanita yang dengan semangat bersaing memperebutkan perhiasan itu.


"Tch... Tch... Tch, aku benar-benar bingung dengan pola pikir para wanita. Kanapa mereka harus menawar dengan harga tinggi hanya untuk perhiasan yang tidak berguna? " ucap Arya sambil menggelengkan kepalanya.


"Kami para wanita harus berpenampilan cantik setiap saat. Jadi, perhiasan adalah salah satu komponen penting yang dibutuhkan. Sejujurnya, jika kamu gagal mendapatkan mutiara laut biru itu untukku. Aku mungkin akan menyuruhmu membeli Red Rose itu... " jawab Roro dengan tatapan sinis.


"Benarkah? Tapi, menurut ku kamu tetap terlihat cantik meskipun tidak menggunakan perhiasan. " ucap Arya sambil memakan kue yang ada ditangannya.


Roro yang mendengar perkataan Arya menjadi malu-malu dan wajahnya menjadi memerah.


"Kenapa wajahmu memerah? Apa kamu sedang sakit? " ucap Arya terlihat khawatir.


Dia berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mendekati Roro untuk mengecek kondisinya. Tetapi, Roro malah memukul wajahnya.


"Jauhkan wajah bodohmu itu dari hadapan ku. " ucap Roro.


Dia mencoba bersikap setenang mungkin untuk menutupi rasa malunya.


"Ukh..., Apa yang kau lakukan gadis gila? Itu sangat menyakitkan. " ucap Arya dengan nada agak kesal sambil memegang wajahnya yang sakit.


"Berisik! kamu duduk saja di kursimu dengan tenang. " ucap Roro sambil memandang ketempat lain.

__ADS_1


Mendengar perkataan Roro, Arya kembali ketempat duduknya sambil mengumpat.


"Sial..! Sebelumnya, dia akan marah jika aku bersikap cuek. Sekalinya aku bersikap ramah, dia juga tetap marah. Apa sih yang ada dipikiran gadis gila ini? Aku benar-benar tidak mengerti pola pikirnya. " gumam Arya sambil bersantai di kursinya.


"500 dukat... " teriak wanita yang paling pertama menawar.


"Haah, 500 dukat..? Harganya bahkan sudah lebih mahal dari Potion sebelumnya, wanita-wanita itu benar-benar gila. Bukankah kamu juga berfikir seperti itu, Aaron? " ucap Arya sambil memandang sahabatnya.


Tetapi Aaron tidak menanggapi perkataan Arya, dia terlihat sedang memandangi perhiasan yang di lelang dengan serius.


Red Ruby itu tiba-tiba mengingatkannya pada seseorang.


"Hey, Aaron. Apa kamu mendengar perkataanku? Kenapa kamu diam saja? " tanya Arya dengan penasaran.


Disaat yang bersamaan, Jacobin yang berdiri diatas panggung mulai mengetuk palunya setelah melihat harga penawaran tidak meningkat lagi.


"500 sekali..., 500 dua kali... 500 tig... "


"1000 dukat... "


Perkataan Jacobin terpotong disaat-saat terakhir, setelah mendengar suara pria yang tiba-tiba menaikkan harga penawaran dua kali lipat.


"A, apa tuan yakin ingin menawar setinggi itu? Perusahaan kami dapat memberi anda perhiasan ini dengan cuma-cuma, jika anda benar-benar menginginkannya. " ucap Jacobin sedikit gugup.


Peserta lain yang melihat sikap Jacobin yang tiba-tiba berubah drastis menjadi sangat terkejut sekaligus penasaran dengan orang yang telah membuatnya tunduk.


"Tidak perlu! Ini adalah pelelangan. Orang yang menawar lebih tinggi yang akan menang, mulailah ketuk palunya! " ucap Aaron dengan tegas.


Jacobin melamun beberapa saat sebelum mulai mengetuk palunya.


"Ahhh, Maafkan ketidak sopanan ku, 1000 sekali... 1000 dua kali... 1000 tiga kali. Selamat bagi pangeran Aaron! kami akan segera mengirim barangnya ke tempat anda. " ucap Jacobin dengan nada hormat.


Mendengar perkataan Jacobin, peserta lain menjadi lebih terkejut.


"Apa? jadi, pangeran Aaron juga menghadiri pelelangan ini. " bisik seorang wanita.


"Sepertinya seperti itu, tidak mungkin Jacobin berbohong tentang hal penting ini. " jawab temannya.


Siapa yang tidak mengenal pangeran Aaron? Pewaris tahta dari kerajaan terkuat di benua ini.


Selain itu, bakatnya dalam menggunakan sihir dan ilmu berpedang adalah yang terhebat diantara generasi muda lainnya.


Dia mendapatkan julukan sebagai jenius nomor satu di benua Rapel.


"Hoho. Jadi, bocah itu juga datang rupanya! " ucap salah satu Dwarf sambil memainkan janggutnya yang lebat.


"Aaron Sigebert Windson von Elam! " gumam seorang gadis Elf sambil memandang kamar pribadi yang Aaron dan teman-temannya gunakan.


Disaat semua orang dengan antusias membahas tentang Aaron.


Tiba-tiba...


"Pangeran Aaron, Aku menantangmu untuk berduel. Apa kamu berani? " teriak seorang generasi muda dari ras Demi-Human.


Mendengar tantangan yang tiba-tiba ini, peserta lain menjadi semakin terkejut.


"Ehhh, Siapa anak nakal itu? " ucap salah seorang peserta.


"Entahlah. tapi, sepertinya dia dari ras manusia singa. " jawab seseorang yang duduk disampingnya.


"Mereka memang terkenal suka bertarung dan pemarah. " lanjut temannya.


Melihat kalau tantangan yang dia ajukan tidak mendapatkan respon dari Aaron, dia berkata dengan nada provokasi sekali lagi.


"Kenapa kamu diam saja? Apa kamu takut kalau gelarmu sebagai jenius nomor satu ku rebut? Jika memang seperti itu, maka.. Ugmm!"


Sebelum bocah singa itu sempat menyelesaikan perkataannya, seorang manusia singa yang tampak jauh lebih tua menutup mulut bocah nakal itu dengan cepat.

__ADS_1


'Ugmmm...! '


"Aku minta maaf atas kekacauan yang telah dilakukan anak ini, aku juga minta maaf pada pangeran Aaron atas ketidak sopanannya. Aku harap pangeran Aaron tidak menaruh dendam padanya, dia hanya anak nakal yang tidak tau apa-apa.


Karena salah satu anggota kami telah membuat kegaduhan ditempat ini, kami akan pergi sekarang. " ucap pria tua itu dengan suara serak.


'Ugmmm...! Ugmm...! Ugm...! '


Ditemani oleh para demi-human lainnya, pria tua itu meninggalkan balai pelelangan dengan cepat sambil menyeret bocah singa yang terus menggeliat mencoba untuk lepas dari cengkramannya.


Untuk sesaat balai pelelangan menjadi sunyi setelah kelompok Demi-Human itu pergi.


****************


Sementara itu di dalam ruang pribadi Aaron dan teman-temannya.


"Bocah nakal itu, haruskah aku turun kebawah dan menendang bokongnya? " ucap Arya dengan kesal.


"Sudahlah, abaikan saja dia. Selain itu, aku juga mengenal anak itu, dia adik dari Barbary. " ucap Aaron mencoba untuk menenangkan teman-temannya.


"Ahhh, dia adik Barbary rupanya. Apa dia ingin membalas dendam atas kekalahan kakaknya terakhir kali? " tanya Arya.


"Mungkin saja, lagipula anak itu sepertinya sangat menghormati kakaknya. " ucap Aaron.


"Hmm, Begitu rupanya! " ucap Arya dengan tenang setelah mendengar penjelasan dari Aaron.


Setelah melihat suasana ruang pribadinya menjadi tenang kembali, Aaron merasa lega.


Tetapi, dia tiba-tiba mengingat sesuatu yang penting.


"Ahhh, aku akan mengatakan ini terlebih dahulu sebelum aku lupa. Timoty, jangan melakukan hal-hal yang tidak perlu. " ucap Aaron sambil memandang kearah Timoty dengan serius.


Arya dan Roro juga seketika memandang Timoty dengan serius setelah mendengar perkataan Aaron.


Mereka bertiga memandang Timoty yang sejak tadi hanya diam sambil memandang bocah singa yang diseret keluar dengan tatapan yang menakutkan.


Mendengar peringatan dari Aaron, Timoty memandang ketiga temannya dengan tatapan kosong seperti mahluk yang tidak memiliki jiwa.


Untuk beberapa saat, mereka berempat saling bertatapan.


Bahkan Arya mulai memposisikan tangan kanannya digagang pedang yang tergantung dipinggangnya sebagai peringatan lanjutan jika Timoty tidak menggubris peringatan dari Aaron.


Ketiganya sejak awal tahu tentang kepribadian lain yang Timoty miliki.


Jadi, untuk mencegah masalah besar terjadi. Aaron, Arya dan Roro selalu memberikan peringatan untuk menyadarkannya kembali.


Setelah beberapa waktu berlalu, tatapan kosong Timoty kembali menunjukkan tanda-tanda kehidupan dan dia tersenyum pada ketiganya sebagai tanggapan.


Melihat hal ini, Roro dan Arya menjadi lega dan Aaron terlihat senang.


'Baguslah, setidaknya aku tidak perlu menyiksamu untuk menyeretmu kembali ke dunia nyata' gumam Aaron dalam hati.


Setelah insiden kecil itu berlalu, mereka kembali melanjutkan menikmati pelelangan.


Timoty berhasil mendapatkan belati kuno yang dia inginkan.


Sedangkan untuk Arya, awalnya dia hanya berniat untuk membeli telur Sea Beast dipelelangan.


Tetapi, dia tiba-tiba berubah pikiran setelah melihat tombak Trident yang juga dilelang ditempat itu.


Tanpa berpikir panjang, dia langsung menawar item itu dan dia mengeluarkan banyak uang untuk mendapatkannya.


Tetapi, dia tetap terlihat bahagia, meskipun dompetnya sudah kering tidak berisi.


Alice juga kebetulan menemukan barang yang dia inginkan.


Dia membeli bibit dari bunga Rainbow Lily untuk memperindah taman yang dia buat.

__ADS_1


Setelah semua orang membayar dan mendapatkan barang yang telah mereka beli dari petugas pelelangan.


Kelompok kecil Aaron berjalan meninggalkan balai pelelangan.


__ADS_2