Labyrinth Kingdom

Labyrinth Kingdom
Chapter 89. Pelayan Baru


__ADS_3

"Kakak, aku berhasil! eksperimen yang ku jalankan sukses besar dipercobaan pertama. " ucap Alice dengan senang.


Dia membusungkan dadanya sambil menatap kakaknya dengan sombong.


"Ini catatan lengkap data-data yang sudah ku kumpulkan sebelumnya. " ucap Alice menyerahkan dokumen yang ada di tangannya ke Aaron.


Aaron mengambil dokumen itu dan membacanya sekilas, dia cukup terkejut dengan hasil yang didapatkan adiknya.


"13 orang? Ini jauh lebih banyak dari yang saya kira. " gumam Aaron.


"He hehh... Bagaimana? aku hebat, bukan! " ucap Alice dengan bangga.


"Ya, kamu adik ku yang paling luar biasa, dimana orang-orang ini sekarang? " tanya Aaron.


"Aku memerintahkan mereka untuk pergi beristirahat, mungkin butuh beberapa waktu agar mereka dapat menyesuaikan diri dengan tubuh baru mereka. " jawab Alice.


"Spriggan dan Hobgoblin... Mereka mungkin akan berguna saat pasukan kota Bacau datang menyerang. " gumam Aaron.


Mengabaikan kakaknya yang menggumam sendirian, Alice memperhatikan sekitarnya dan menyadari kalau bagian dalam ruangan itu telah rusak.


"Are re~ apa yang kalian berdua telah lakukan ditempat ini? Kenapa sofanya sampai hancur berantakan seperti ini? " ucap Alice sambil menatap Jeanne dan kakaknya dengan curiga.


"Ti, tidak ada, kami hanya mengobrol. " jawab Jeanne dengan panik.


Alice menatap Jeanne yang bertingkah aneh di depannya.


"Hmm... Nafasmu terdengar terengah-engah dan pakaianmu terlihat agak berantakan. Sangat mencurigakan! " ucap Alice sambil tersenyum nakal.


"I, ini tidak seperti yang kamu pikirkan, kami tidak melakukan hal itu. " ucap Jeanne sambil merapikan pakaiannya yang terlihat agak kusut.


"Ehhh, Apa yang kamu maksud dengan 'Itu'? Alice hanyalah gadis berumur 12 tahun, Alice tidak tahu apa yang kak Jeanne bicarakan. Tolong jelaskan dengan singkat agar Alice mengerti. " kata Alice sambil bertingkah seperti anak kecil.


"I, itu.... Melakukan hal-hal mesum. " bisik Jeanne dengan suara kecil.


Wajahnya terlihat memerah saat ini.


"Apa..? Melakukan hal-hal mesum. " ucap Alice dengan nada yang agak keras.


"Sssssttt...! Jangan katakan itu dengan suara keras. " ucap Jeanne dengan panik.


Dia berusaha menutup mulut Alice. Tetapi gagal, karena gadis itu berhasil menghindari Jeanne yang berusaha menangkapnya.


Selain itu, karena kakinya belum sepenuhnya pulih. Dia tidak kuat menopang tubuhnya saat berdiri dan terpaksa duduk di lantai.


"Aku tidak pernah berpikir kalau kalian berdua akan melakukan hal-hal seperti itu di dalam sini. Kenapa kamu bisa berpikiran sampai sejauh itu?


Atau jangan-jangan selama ini, kamu sedang memikirkan hal-hal mesum saat berduaan dengan kakak ku sebelumnya. " ucap Alice dengan senyum nakal di wajahnya.


"T, tidak... Bukan seperti itu, Aaron...! " ucap Jeanne sambil menatap Aaron.


Dia ingin, agar Aaron yang menjelaskan semuanya.


Melihat Jeanne yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca, terlihat ingin menangis.


Aaron menghela nafas dan menegur adiknya yang nakal.


"Sudah cukup! Jangan menjahilinya lagi. " ucap Aaron sambil memukul kepala adiknya dengan ringan.

__ADS_1


"Tehepero~ "


{ket: (๑≧౪≦) }


Aaron berjalan menghampiri Jeanne dan menggendongnya sekali lagi.


"Saya minta maaf karena perilaku buruk adik ku sebelumnya. " ucap Aaron dengan nada bersalah.


"Tidak apa-apa! T, tapi, aku bukan wanita mesum, Oke! " ucap Jeanne mengingatkan Aaron.


Dia tidak ingin kalau Aaron jadi salah paham padanya dan menganggapnya sebagai wanita yang buruk.


"Aku mengerti. " balas Aaron singkat.


Dia menggendong Jeanne kembali ke sofa dan mendudukannya disana.


"Tetapi, kenapa ruangan ini menjadi berantakan seperti ini? " tanya Alice dengan serius kali ini.


"Tidak ada yang istimewa, Saya hanya mengalami luapan emosi yang tidak bisa ku kendalikan sebelumnya. " ucap Aaron dengan nada datar.


Dia mengisi cangkir milik adiknya dan Jeanne dengan teh yang baru dia seduh.


Mendengar perkataan kakaknya, Alice menatap Aaron dengan serius sebelum menjawab.


"Aku mengerti! " jawab Alice dengan singkat.


Dia tidak akan bertanya lebih rinci tentang masalah itu karena mungkin akan menyakiti perasaan kakaknya.


"Ada hal yang ingin ku tanyakan, kak! " ucap Alice.


" ??? "


"Ya, apa ada yang salah dari itu? " jawab Aaron.


"Tidak ada, aku hanya berpikir bagaimana kalau kita juga mengambil alih hutan Lamas seutuhnya. Dengan begitu, kita akan berbatasan langsung dengan laut.


Jika terjadi sesuatu yang tidak terduga, kita memiliki rute pelarian yang aman disana. " ucap Alice mengajukan pendapatnya.


"Ehhh, kamu ingin menguasai hutan Lamas? Tapi, tempat itu sangat berbahaya, sudah banyak kerajaan yang mencoba untuk menaklukkannya tetapi berakhir dengan kegagalan. " ucap Jeanne.


"Jika yang lainnya gagal, bukan berarti kami juga akan gagal. Lagipula, tidak ada salahnya mencoba.


Bahkan jika dipercobaan pertama gagal, kita bisa mencoba lagi nanti. " ucap Alice dengan percaya diri.


Mendengar pendapat adiknya, Aaron terlihat sedang memikirkan sesuatu.


"...., Kamu mungkin benar, tidak ada salahnya membuat rute pelarian untuk berjaga-jaga. Lagipula, siapa yang tahu kegilaan apa yang akan terjadi di masa depan.


Tetapi, untuk menyukseskan rencana penaklukan itu, kita membutuhkan pasukan yang banyak dan petarung yang kuat. " gumam Aaron.


"Kakak benar, haruskah kita melakukan itu lagi? " tanya Alice dengan samar.


"Ehh, apa yang ingin kalian lakukan? Jangan main rahasia-rahasiaan dengan ku, aku juga ingin tahu. " ucap Jeanne karena penasaran.


"Tidak ada yang spesial, kami hanya ingin memanggil pelayan baru. " ucap Aaron dengan acuh tak acuh.


"Pelayan baru? Maksudmu mahluk seperti Dustin dan dokter yang sebelumnya ku lihat? " tanya Jeanne.

__ADS_1


"Ya, makhluk-makhluk itu! " jawab Alice dengan semangat.


"Dustin petarung yang kuat, sedangkan Galenus berfokus pada penyembuhan.


Kita tidak perlu memanggil mahluk seperti mereka lagi. " ucap Aaron.


"Lalu, makhluk seperti apa yang ingin kakak panggil kali ini? " tanya Alice dengan penasaran.


"Saya ingin makhluk yang memiliki kekuatan penghancur yang kuat dan dapat memerintah pasukan. " jawab Aaron.


"Kalau begitu, bagaimana dengan Thanatos? dia sangat kuat dan mampu menghancurkan apapun yang ada dihadapannya. " saran Alice.


"Thanatos? " Jeanne terlihat bingung dengan apa yang keduanya bahas.


"Dia memang cukup baik. Tetapi, kita tidak punya jantung naga yang dapat digunakan sebagai bahan pengorbanan untuk memanggilnya. " ucap Aaron.


"Jantung naga? " ucap Jeanne masih terlihat bingung


"Ahhh, benar juga. Kita butuh bahan pengorbanan untuk memanggilnya, terakhir kali kita menggunakan Liquid Philosopher's Stone sebagai bahan pengorbanan untuk memanggil Galenus. Apa tidak ada jantung naga yang tersimpan di gudang? " tanya Alice.


"Liquid Philosopher's Stone? Apa itu? " tanya Jeanne.


"Sayangnya tidak ada! Awalnya, aku berencana membuat 'Chimera' menggunakan jantung naga sebagai bahan intinya.


Tetapi, sepertinya kita lupa memasukkan benda itu ke dalam tas saat kabur dari istana. " jawab Aaron


"Chimera? Bisakah salah satu dari kalian menjelaskannya pada ku? " ucap Jeanne masih mencoba untuk ikut dalam pembicaraan.


"Kalau begitu, bagaimana dengan 'Dullahan'. Seharusnya kita punya banyak item terkutuk di dalam gudang yang bisa kita gunakan sebagai bahan pengorbanan untuk memanggilnya. " usul Jeanne sekali lagi.


"Sudahlah... Sebaiknya aku menikmati Tea time milik ku. " Jeanne menyerah setelah pertanyaannya terus menerus diabaikan oleh keduanya.


{ket: Saat kalian bergabung ke dalam sebuah grup, bergabunglah juga ke dalam Circlenya. Jika tidak, kalian akan bernasib seperti Jeanne. Dikacangin! o(TヘTo) }


"Dullahan? Kekuatan penghancurnya cukup kuat, dia juga bisa menjadi Jendral yang baik di medan perang. Hmm, sepertinya itu pilihan yang paling cocok untuk saat ini.


Baiklah! kita panggil mahluk itu kali ini. " ucap Aaron sambil menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu, Ayo pergi! " ajak Alice.


Aaron dan Alice berdiri dari Sofa lalu berjalan pergi.


"Hei, mau pergi kemana kalian, jangan tinggalkan aku sendirian disini. " panggil Jeanne saat dia sedang asik makan kue.


"Ahhh, benar juga, saya hampir lupa. " ucap Aaron berbalik ke arah Jeanne.


Karena kaki Jeanne belum sembuh, dia berniat untuk menggendongnya lagi.


Tetapi...


"Tunggu kak! Biar aku yang mengurusnya. [Floating] " ucap Jeanne.


Karena skill itu, Jeanne perlahan-lahan melayang ke arah keduanya.


"T, tunggu dulu! Aku tidak butuh bantuanmu, aku ingin Aaron yang membantu ku. Batalkan skillmu sekarang." tuntut Jeanne.


"Hehehhh... Sebelumnya kamu sudah memonopoli kakak ku, kamu harus puas dengan ini sekarang. " bisik Alice kepada Jeanne.

__ADS_1


"Cihh... Musuh dalam selimut. " gumam Jeanne.


Ketiganya meninggalkan kamar pribadi Aaron dan berjalan menuju [Throne Room].


__ADS_2