Labyrinth Kingdom

Labyrinth Kingdom
Chapter 71. Gadis Penyendiri 4


__ADS_3

Di koridor istana.


"Bagaimana? Apa kamu sudah merasa baikan? " Tanya Aaron.


"Ahhh, terima kasih atas bantuanmu, Aku sudah merasa lebih baik sekarang. " jawab Arya.


Saat ini, Aaron dan teman-temannya sedang berjalan di koridor istana untuk kembali ke kamar mereka masing-masing.


Banyak hal telah terjadi di balai pelelangan yang membuat mereka merasa lelah dan ingin beristirahat secepat mungkin.


Hal ini, terutama untuk Arya yang sudah mengalami hari yang berat.


"A, ano~ Arya, aku minta maaf atas kejadian sebelumnya, sepertinya aku telah bertindak terlalu berlebihan. " ucap Roro dengan wajah bersalah.


Dia merasa kasihan pada Arya setelah melihat tubuhnya yang dipenuhi luka.


'Wanita gila ini, apa dia baru menyadarinya sekarang? kemana saja kau sejak tadi? ' Arya mencibir dalam hati.


"Tidak apa-apa, aku juga salah sebelumnya. Aku juga minta maaf karena telah mengataimu dengan kata-kata yang kasar. " ucap Arya sambil menundukkan kepalanya.


Melihat Arya yang meminta maaf kepadanya dengan tulus, Roro merasa semakin bersalah.


"Arya, ini salah ku. Aku minta maaf! aku berjanji tidak akan melakukannya lagi. " ucap Roro sambil memeluk Arya.


Matanya berkaca-kaca terlihat ingin menangis.


'Tentu saja ini semua salahmu wanita gila. Emangnya kamu pikir enak dipukuli, aku bukan boneka dummies yang bisa kamu pukul sesuka hatimu. ' Cibir Arya dalam hati.


"Tidak apa-apa, tidak perlu minta maaf. Kondisi tubuhku juga sudah jauh lebih baik sekarang, kamu tidak perlu memikirkan masalah sebelumnya. " ucap Arya sambil mengelus kepala Roro untuk menenangkannya.


"Aku minta maaf Arya. hiks. hiks.. hiks... " kata Roro sambil menangis.


Dia memeluk Arya lebih erat dan menyandarkan tubuhnya padanya.


"Sudah! Jangan menangis lagi, tenanglah. Aku baik-baik saja kok. " ucap Arya berusaha menghibur Roro.


'Sial, gadis gila ini benar-benar ahli dalam menyiksa seseorang, dia tahu kalau aku sedang terluka. Tetapi, dia malah menyandarkan tubuhnya pada ku. Apa dia masih belum puas setelah menyiksa ku seharian? Aaron, Timoty sahabat baik ku, cepat bantu aku. " ucap Arya dalam hati.


Dia mengedipkan matanya beberapa kali untuk meminta bantuan pada kedua temannya. Tetapi, Arya dan Timoty yang melihat itu hanya tersenyum bahagia.


'Kenapa kalian malah tersenyum seperti orang bodoh? Cepat bantu aku. '


Dia mengedipkan matanya beberapa kali pada keduanya sekali lagi untuk meminta pertolongan.


Melihat wajah tersiksa sahabatnya, mau tidak mau Aaron bergerak maju.

__ADS_1


"Sigh~ Roro, berhentilah menangis. Kamu seorang putri dari sebuah kerajaan, jangan memperlihatkan sisi burukmu itu di depan umum. " ucap Aaron memperingatkan Roro.


"Benar, itu tidak baik untuk citramu di depan umum. Selain itu, apa yang dibutuhkan Arya saat ini adalah istirahat yang cukup. Jadi, sebaiknya kamu mengantarnya ke kamarnya sekarang. " ucap Timoty.


Mendengar perkataan keduanya, Roro tiba-tiba berhenti menangis.


"Ahhh... kalian benar, Sebagai seorang putri aku harus bertindak seelegan mungkin di tempat umum. Baiklah kalau begitu, Ayo pergi Arya! Aku akan mengantarmu ke kamarmu" ucap Roro dengan lembut.


Dia menarik kerah baju milik Arya dan menyeretnya pergi.


"Tunggu sebentar, masih ada yang ingin ku kata, Ukh... nafas ku! Tung... gu! " Arya kesulitan berbicara karena lehernya tercekik.


"A, aku ikut, tunggu aku kak Roro! " ucap Alice sambil mengejar Roro.


Timoty yang melihat mereka pergi menjauh, berjalan dengan cepat untuk mengejar ketiganya.


Sementara itu, Aaron mengikuti mereka dari belakang dengan santai.


Dia berjalan menyusuri koridor sambil menikmati pemandangan dari taman bunga mawar yang indah.


Tetapi, langkahnya tiba-tiba berhenti sekali lagi.


"Ohhh, gadis itu masih bermain sendirian disana. Apa sebaikanya aku pergi menyapanya kali ini? " Gumam Aaron.


*********************


Dia berjalan menyusuri jalan setapak yang ada di tengah-tengah taman bunga menuju gazebo, tempat gadis itu berada.


Jarak antara koridor dan gazebo tidak terlalu jauh. Tetapi, entah kenapa waktu terasa berjalan lebih lambat yang membuat perjalanan terasa jauh.


Angin sepoi-sepoi yang membawa aroma bunga menggelitik hidungnya dan mengubah moodnya menjadi bahagia.


Dia perlahan-lahan berjalan mendekati gadis itu. Setelah beberapa saat...


"H, hey! Apa yang sedang kamu lakukan sendirian disini? " tanya Aaron dengan ramah.


Dia menunggu beberapa saat. Tetapi, gadis itu tidak merespon perkataannya. Dia tetap menatap Board game yang ada di depannya dengan serius.


"Ehem, maaf atas ketidak sopanan ku sebelumnya. Pertama-tama, perkenalkan nama ku... "


"Aku sudah tau, Aaron Sigebert Windson von Elam. Pangeran pertama dari kerajaan Sihir, kamu sangat terkenal. Siapa yang tidak mengenalmu ditempat ini? " ucap gadis itu memotong perkataan Aaron.


Mendengar perkataan gadis itu, Aaron hanya bisa tertawa canggung.


"Hahahh hahh. K, kamu mungkin benar. Apa kamu keberatan jika saya menanyakan namamu? " tanya Aaron mencoba untuk akrab.

__ADS_1


Gadis itu menatap Aaron beberapa saat, sebelum menjawab.


"Jeanne. Jeanne D'Hedwig, putri ketiga dari kerajaan Liberas. " ucap Jeanne dengan nada datar.


"Kerajaan Liberas? Ahhh, kerajaan yang berada dibagian utara benua. Jadi, kamu berasal dari tempat sejuk itu rupanya. " ucap Aaron.


Dia duduk disisi yang berlawanan dari Jeanne saat ini.


"Ya, sebuah negara kecil yang sangat sedikit orang yang tahu. " kata Jeanne dengan datar.


"Begitukah! Lalu, kenapa kamu bermain sendirian disini? Apa kamu tidak berniat untuk membangun koneksi dengan bangsawan muda lainnya? " tanya Aaron terlihat penasaran.


"Aku dikucilkan oleh mereka, tidak ada yang ingin berteman dengan ku. Sejujurnya, aku juga tidak terlalu peduli dengan yang namanya koneksi tidak berguna itu. " jawab Jeanne dengan tegas.


"Ahhh, maaf jika pertanyaan ku telah menyinggung perasaanmu, saya tidak bermaksud seperti itu. " ucap Aaron terlihat bersalah.


"Tidak masalah, aku sudah terbiasa dengan hal itu. " kata Jeanne dengan nada datar.


Mungkin karena pertanyaan sebelumnya, Aaron merasa kalau suasananya menjadi lebih canggung sekarang.


Dia bingung harus memulai percakapan dari mana.


Waktu perlahan-lahan berlalu dalam kesunyian.


"Hey! Apa kamu suka memainkan 'WarZone'? " tanya Jeanne tiba-tiba.


Dia mengambil inisiatif untuk memulai percakapan kali ini.


"Ya, saya sering memainkannya dengan teman-teman ku. " jawab Aaron.


"Kalau begitu, Apa kamu bisa menemani ku bermain? " tanya Jeanne.


Dia menatap Aaron dengan mata merah membara miliknya.


"T, tidak masalah. Tetapi, saya sangat kuat kamu tahu. Sejujurnya, aku belum pernah kalah sekali pun dalam permainan ini. Apa kamu yakin ingin melawan ku? " jawab Aaron.


"Kebetulan sekali, aku juga belum pernah kalah sekali pun. " ucap Jeanne dengan percaya diri.


'Itu karena kamu selalu bermain sendirian' ucap Aaron dalam hati.


"Jika kamu tetap memaksa, baiklah! ayo kita mulai gamenya! " ucap Aaron sambil mengatur posisi pasukannya.


"Ku harap, kamu tidak mengecewakan ku. " Ucap Jeanne dengan nada datar.


Dia juga mulai mengatur posisi pasukannya sebaik mungkin agar dapat memenangkan pertarungan.

__ADS_1


__ADS_2