Labyrinth Kingdom

Labyrinth Kingdom
Chapter 70. Putri Rhinel


__ADS_3

Di jalan menuju istana.


Aaron dan kelompoknya berjalan di jalan khusus yang telah disediakan oleh pihak kerajaan Aria untuk kenyamanan para bangsawan yang menghadiri pertemuan besar.


Banyak toko-toko perhiasan dan pakaian mewah yang berjejer disepanjang jalan.


Sebagian besar orang yang melewati jalan ini adalah bangsawan muda dari kerajaan lain yang ingin berbelanja suvenir untuk dibawah pulang.


"Kenapa kamu mau membeli perhiasan itu dengan harga mahal sebelumnya? Padahal kerajaan sihir tidak kekurangan perhiasan seperti itu. Apa kamu menemukan rahasia dibaliknya? " tanya Arya pada Aaron dengan penasaran.


"Tidak ada alasan khusus, saya hanya merasa tertarik dengan benda itu. " jawab Aaron dengan samar.


"Hmm, ini sangat aneh! Kamu biasanya tidak akan peduli dengan yang namanya perhiasan. Kenapa kamu tiba-tiba merasa tertarik dengan benda itu? Apa kamu sedang menyembunyikan sesuatu dari kami? " ucap Timoty sambil memandang Aaron dengan senyum mencurigakan di wajahnya.


"Ya benar, sejak kemarin kamu juga terlihat sering melamun. Apa yang terjadi? Apa ada sesuatu yang mengganggumu? " ucap Roro dengan khawatir.


"Tidak, tidak ada. Saya baik-baik saja. Tetapi, kata-katamu membuatku mengingat sesuatu yang penting. " kata Aaron pada Roro.


Dia menatap Arya yang sedang tersenyum bahagia sambil memandangi barang-barang yang dia dapatkan dari pelelangan.


"Ada apa? Kenapa kamu menatap ku seperti itu? " ucap Arya setelah merasakan tatapan Aaron ke padanya.


"Hey, bukankah saya yang memenangkan kontes memancing sebelumnya. Berikan telur itu pada ku. " ucap Aaron sambil mengulurkan tangannya.


"Haah, Menang? Bukankah pertandingan sebelumnya berakhir dengan seri. Berhentilah berkhayal! " bantah Arya dengan tegas.


"Tidak ada yang namanya seri dalam pertaruhan, meskipun jumlah ikan yang kita berdua tangkap memang sama. Tetapi, ikan terakhir yang saya tangkap jauh lebih besar dari ikan milikmu.


Jadi, secara teknis saya yang memenangkan pertaruhan itu, cepat berikan telurnya padaku. " ucap Aaron.


"Tidak, aku tidak mau! Aku sudah memutuskan untuk membesarkan si kecil ini, aku bahkan sudah menyiapkan nama untuknya. " ucap Arya.


Dia memeluk telurnya erat-erat seperti seorang ibu yang tidak ingin anaknya direbut secara paksa.


"Jangan membuat ku terlihat seperti orang jahat disini, kamu sendiri yang pertama kali mengajukan pertaruhan. Pria sejati harus mengakui kekalahannya dengan rasa bangga. Jadi, berhentilah bersikap lebay dan serahkan telur itu. " ucap Aaron.


"Tidak! ku mohon, apa pun selain yang satu ini? Aaron bukankah kita teman baik, aku bisa memberimu yang lainnya. " Kata Arya sambil memohon.


"Sayangnya itu tidak bisa Arya, kontrak darah yang sebelumnya kamu buat tidak boleh dilanggar. Kamu harus mengikhlaskan telur itu. " kata Timoty sambil menepuk pundak Arya.


"Kamu sudah dengar itu, bukannya aku tidak ingin mengabulkan permintaanmu. Tapi, aku juga terikat oleh perjanjian sobat.

__ADS_1


Jadi, lepaskan tanganmu dari telur ku sekarang. " ucap Aaron sambil merebut telur milik Arya.


"Tidak, Gura.., bayi kecil ku. " teriak Arya terlihat sedih.


"Hoho! Jadi, kamu menamainya Gura. Kalau begitu, saya akan memanggilmu Lil'Gura mulai sekarang. Hahahahhah... " ucap Aaron sambil tertawa bahagia.


Sementara itu, Arya terlihat sangat menyedihkan.


"Hidoi yo! Kamu sangat Kejam Aaron! bisa-bisanya kamu memisahkan kami berdua, padahal aku sudah menganggap Gura sebagai anak ku sendiri. Hiks... Hiks... Hiks... " ucap Arya dengan nada sedih.


"Oke! Oke! Berhentilah bersikap lebay. Sebagai gantinya, aku akan memberimu telur kadal yang sebelumnya ku dapatkan di dalam gua rahasia itu. " ucap Roro sambil memandang Arya dengan tatapan yang Jijik.


"Telur kadal? Ahh, Maksudmu telur Axolotl itu?" Ucap Arya.


"Ya mahluk itu, apa pun namanya. Jadi, berhentilah bersikap menjijikkan sekarang. " ucap Roro dengan nada sarkas.


"Siapa yang kamu sebut menjijikan? Wanita gila. " jawab Arya secara spontan.


"W, wanita gila katamu? Arya, sepertinya sudah lama aku tidak memberimu sentuhan kasih sayang, bukan? Kalau begitu, Rasakan ini! " kata Roro sambil memukuli Arya.


"Ahhh, tidak. Aku salah bicara sebelumnya, kamu adalah gadis yang paling manis dan tercantik di dunia ini, honey. Jadi, berhentilah memukul ku. Ukh... " ucap Arya sambil menahan rasa sakit dari pukulan Roro.


'Maaf Arya, saya terpaksa melakukan ini untuk mengalihkan topik pembicaraan sebelumnya. Karena kamu yang mulai membahas hal itu, maka kamu juga yang harus mengakhirinya.


saya harap kamu dapat memaafkan ku, teman ku yang menyedihkan. ' ucap Aaron dalam hati sambil menghargai pengorbanan yang telah temannya lakukan untuknya.


Sementara itu, disebuah gang sempit yang letaknya tidak jauh dari lokasi tempat Aaron dan temannya berada saat ini.


Sekelompok orang yang menutupi seluruh tubuhnya dengan jubah hitam sedang mengawasi gerak-gerik kelompok kecil itu.


Dari lekuk tubuh orang-orang itu, seharusnya mereka semua adalah wanita.


"Tuan putri, mau sampai kapan anda mengawasinya dari ke jauhan seperti ini? Jika anda memang ingin berbicara dengannya, kita hanya perlu menghampirinya secara langsung. " ucap salah seorang wanita yang ada di dalam kelompok orang-orang misterius itu.


"Tidak, aku terlalu malu berhadapan langsung dengannya. Selain itu, pakaian yang ku gunakan saat ini juga tidak terlalu bagus. " ucap sang putri sambil menggelengkan kepalanya.


"Tapi jika seperti ini terus, orang-orang akan menganggap kita mencurigakan dan petugas keamanan mungkin akan datang menangkap kita.


Selain itu, apa yang anda lakukan saat ini sama persis seperti yang dilakukan para Stalker. Ini adalah tindakan illegal Putri Rhinel. " ucap wanita sebelumnya sambil memperingatkan sang putri.


"Aku tau itu Eisakel, kamu tidak perlu menjelaskannya pada ku. Tetapi, apa salahnya jika aku hanya menatap wajahnya dari ke jauhan. Lagipula, itu juga tidak merugikan siapapun. " bantah Putri Rhinel.

__ADS_1


Mendengar perkataan sang Putri, Eisakel yang merupakan pengawal pribadinya hanya bisa menghela nafas dalam hati dan mengalah.


'Huft... Sepertinya putri Rhinel sudah tidak tertolong lagi, cinta sudah merusak pola pikirnya. Ini semua salah pangeran Aaron karena telah mencemari pikiran sang putri yang murni dan baik. ' kata Eisakel dalam hati sambil mengutuk Aaron.


Sebenarnya, sikap sang putri mulai berubah setelah pertemuan pertamanya dengan Aaron dua tahun yang lalu.


Sepertinya, sang putri mulai jatuh cinta sejak saat itu dan membuatnya menjadi budak cinta.


Pengawal lainnya juga hanya bisa menghela nafas, setelah melihat tingkah sang putri yang telah mereka lindungi sejak lama berubah drastis.


Setelah beberapa saat berlalu, seseorang yang mengenakan jubah hitam yang sama seperti yang digunakan kelompok sang putri membisikkan sesuatu ketelinga Eisakel.


"Maaf putri, sepertinya kereta kuda yang ditunggu telah datang. Kita harus pergi sekarang. "


"Begitukah? Huft... Ya sudahlah, ayo pergi. " ucap Putri Rhinel dengan enggan.


"Apa tuan putri yakin tidak ingin menyapanya sebelum pergi? " tanya Eisakel.


Putri Rhinel menatap Aaron yang berada dikejauhan beberapa saat sebelum menjawab.


"Tidak perlu, Aku akan bertemu dengannya tahun depan di hari ulang tahunku. " jawab Putri Rhinel sambil berjalan pergi.


Dituntun oleh Eisakel, sang putri berjalan menuju kereta kuda yang telah disiapkan sebelumnya.


'Aku tidak sabar menantikan pertemuan kita selanjutnya. My Aaron! ' ucap Rhinel dalam hati sambil tersenyum.


Sementara itu, Aaron yang sedang membantu Arya berjalan setelah dipukuli oleh Roro habis-habisan merasakan jantungnya berdetak lebih cepat tanpa sebab yang jelas.


'Perasaan aneh ini lagi, apa yang sebenarnya sedang terjadi padaku? ' gumam Aaron terlihat bingung.


Dia memandang sekelilingnya untuk mencari alasannya, tetapi gagal menemukannya.


"Wanita gila itu, dia benar-benar tidak menahan diri saat memukul ku. Sial, rasanya tubuh ku sakit semua. " ucap Arya sambil mengumpat.


"Diamlah! Apa kamu masih belum puas dipukuli olehnya? Atau jangan-jangan, kamu ini sebenarnya tipe M ? " tanya Timoty dengan nada mengejek.


"Siapa yang kamu sebut Masokis berengsek? Aku ini pria terhormat. Ukh... Punggung ku! Cepat bantu aku berjalan sobat. " ucap Arya kepada Timoty.


"Huft... Kamu ini benar-benar pria terhormat yang sangat menyusahkan. " ucap Timoty sambil menggelengkan kepalanya.


Kelompok kecil itu melanjutkan perjalanannya menuju istana kerajaan Aria dengan Arya sebagai beban tambahan yang menyusahkan.

__ADS_1


__ADS_2