
Hari demi hari berlalu dengan cepat, tidak terasa mereka telah menghabiskan waktu bersama lebih dari 2 bulan di kerajaan Aria.
Pertemuan besar yang diadakan 2 bulan lalu juga hampir selesai sekarang.
Mungkin karena insiden penculikan yang terjadi bulan lalu, negara yang mendukung agenda kerajaan Aria semakin berkurang.
Mekipun hasil akhir dari pertemuan besar ini sudah dapat ditebak sejak awal. Tetapi, kerajaan Aria masih terus berusaha meyakinkan negara lain untuk membantu mereka.
Tetapi sayangnya, dukungan yang mereka dapatkan bukannya bertambah malahan semakin berkurang.
Kasus penculikan itu mengambil perang penting dalam hal ini. Selain itu, para korban yang tersisa juga masih belum ditemukan sampai sekarang.
Hal inilah yang membuat banyak negara menganggap kerajaan Aria tidak serius dalam menanggapi kasus penting ini dan kecewa dengan kinerja yang mereka miliki.
Sementara para petinggi negara telah memasuki babak terahir pembahasan topik perdamaian benua yang mereka diskusikan dalam pertemuan besar.
Para bangsawan muda juga telah menikmati waktu yang mereka habiskan bersama selama lebih dari dua bulan ini.
Mereka berhasil membentuk koneksi satu sama lain dan menambah jumlah teman yang mereka miliki.
Seperti hari-hari biasa lainnya, Aaron sebagian besar menghabiskan waktunya bermain dengan teman-temannya di markas rahasia mereka.
Sesekali dia akan menghadiri pertemuan yang diadakan bangsawan muda lainnya di aula terbuka.
Tetapi... Sejujurnya, dia tidak terlalu suka datang ketempat itu karena, para gadis-gadis pasti akan mengerumuninya seperti semut yang menemukan makanan.
Terutama beberapa hari belakangan ini, mungkin karena pertemuan besar akan segera berakhir, para gadis mulai makin agresif mengejarnya.
Butuh banyak usaha untuk lolos dari pengejaran mereka dan disaat-saat seperti inilah kehadiran Arya sangat membantu.
Aaron saat ini sedang berada di markas rahasia, bersama dengan teman-temannya.
'Ting! Ting! '
'Ting! Ting! '
Suara benturan pedang dapat terdengar jelas dalam gua itu.
Saat ini, dia sedang mengawasi Arya dan Timoty yang sedang berlatih tempur.
Kemampuan berpedang keduanya sudah sangat baik, meskipun Timoty masih memiliki lebih banyak keunggulan dalam berpedang dibandingkan dengan Arya.
'Seperti yang diharapkan dari master pedang termuda di benua ini. tidak ada gerakan sia-sia yang dia lakukan, semuanya mengalir dengan lancar seperti air sungai yang mengalir tanpa hambatan. ' ucap Aaron dalam hati.
Dia memuji kemampuan berpedang yang Timoty miliki.
'Mungkin skill berpedangnya saat ini sudah setara atau bahkan melampaui ku sekarang. ' ucap Aaron dengan kagum.
Dia tahu seberapa besar perjuangan Timoty dalam melatih kemampuan berpedangnya sampai ketitik ini.
__ADS_1
Itulah kenapa Aaron sangat menghargainya sebagai teman.
'Arya masih memiliki beberapa kesalahan dalam gerakannya, beberapa kali dia melakukan gerakan-gerakan yang tidak perlu. Ini hal yang wajar sih! Sejak awal, Arya bukanlah pengguna pedang melainkan pengguna tombak.
Jika dia menggunakan tombaknya saat berlatih tanding, mungkin pertarungan kali ini akan menjadi lebih intens dari yang sekarang. " ucap Aaron.
Dia memperhatikan gaya bertarung Arya yang aneh, anak itu mencampur gaya bertarung swordsman dengan gaya bertarung spearman menjadi satu.
Hal inilah yang membuat gerakannya penuh dengan celah dan sesekali terjadi kesalahan dalam pengambilan keputusan.
'Ting...!'
Setelah serangannya berhasil ditangkis. Arya terus melancarkan serangannya, dia mengayunkan pedangnya kesamping dengan cepat.
Tetapi, Timoty sudah memprediksi hal itu. Dia memutar tubuhnya untuk menghindari serangan Arya dengan jarak yang tipis, lalu melakukan serangan balasan.
Dia menusukkan pedangnya kearah pundak Arya dengan cepat.
Melihat serangan yang datang kearahnya, Arya dengan cepat menarik pedangnya kembali untuk menahan serangan Timoty.
Tetapi, itulah tujuan Timoty sejak awal. Serangan menusuk yang dia lakukan sebelumnya hanyalah tipuan, serangan sesungguhnya datang setelah itu.
Ditengah jalan, gerakan menusuk Timoty berubah menjadi gerakan tebasan dari bawah keatas yang menganai pedang Arya dengan kuat.
Karena serangan itu, pedang Arya terlempar jauh dan Timoty memanfaatkan kesempatan ini untuk mengakhiri pertarungan.
Dia mengarahkan ujung pedangnya ke leher Arya sebagai penutupan.
"Terima kasih atas pengalaman yang telah diberikan! jika kamu menggunakan tombakmu sebelumnya, aku mungkin tidak akan bisa mengalahkanmu dengan mudah. " ucap Timoty.
Dia menundukkan kepalanya sedikit sebagai rasa hormat untuk lawannya.
"Huft... Jangan berkata seperti itu, menang adalah menang dan kalah adalah kalah. Aku juga menggunakan pedang sebelumnya untuk melatih skill berpedang ku yang mulai berkarat." ucap Arya sambil mengelap keringatnya.
Dia merasa sangat kelelahan setelah bertarung melawan Timoty selama sejam lebih.
"Otsukaresama! Kalian berdua telah menunjukkan pertarungan menarik sebelumnya. Ambil ini dan segarkan diri kalian. " kata Aaron berjalan mendekati keduanya.
Dia memberikan Potion berwarna hijau kepada keduanya, fungsi Potion itu berbeda dari Potion merah yang digunakan untuk penyembuhan.
Potion itu disebut Energy Booster. sesuai dengan namanya, Potion itu berfungsi untuk mengembalikan energi yang hilang dengan cepat.
Keduanya langsung meminum Potion itu tanpa pikir panjang.
Dalam waktu singkat, ekspresi mereka yang awalnya terlihat kelelahan, menghilang dalam sekejap dan menjadi energik kembali.
"Terima kasih. " ucap Arya sambil meregangkan tumbuhnya.
"Terima kasih untuk Potionnya, itu sangat membantu. " ucap Timoty.
__ADS_1
"Tidak perlu sungkan, sejak awal kalian memang membutuhkan benda itu. " ucap Aaron sambil tersenyum.
Setelah keduanya merasa sehat kembali, mereka berjalan menuju tempat para gadis-gadis ngerumpi.
Disaat ketiganya mendekat, mereka melihat kalau para gadis sedang memainkan 'WarZone' saat ini.
Kebetulan, selain memancing, berlatih tempur dan mengobrol.
Aaron dan teman-temannya juga sering memainkan 'WarZone' bersama, untuk mengusir kebosanan.
Terutama saat Jeanne baru bergabung kedalam kelompok, yang lainnya mencoba menantang dia bertanding dan hasilnya cukup memuaskan.
Dari sepuluh pertandingan, Roro menang 6 kali, Timoty 8 kali, Alice 4 kali dan Arya tidak pernah menang melawan Jeanne sekalipun.
Padahal dia yang paling bersemangat menantang Jeanne diawal.
Saat ini, Alice yang terlihat sedang menantang Jeanne bertanding.
Aaron mengamati situasi medan perang keduanya dan menilai kalau Alice telah mengalami kerugian yang cukup besar.
Ketika dia menyadari kalau kakak laki-lakinya sedang memandangi sosoknya yang hampir kalah, ada air mata di mata Alice.
Dia mencoba menahan dirinya untuk tidak menangis.
Menyadari situasi Alice yang menyedihkan, Aaron berkata kepada adik perempuannya.
"Tidak apa-apa, Alice. Hei, lihat itu… Pikirkan. Bahkan dalam situasi seburuk apa pun, kamu tidak boleh berhenti berpikir. Selama kamu tidak meninggalkan permainan, kemungkinan untuk menang masih ada. ” ucap Aaron menasehati Adiknya.
Mendengarkan perkataan kakaknya, Alice menyeka air matanya dan menatap Board gamenya kembali.
Dia menyusun kembali pasukannya yang tersisa dan mengaturnya sesuai dengan strategi yang akan dia gunakan.
Dan kemudian, setelah beberapa menit berlangsung dalam simulasi pertempuran. Alice mengeluarkan suara kecil, 'di sana', dan mulai menggerakkan kartu truf terakhirnya.
Itu adalah pasukan kecil yang terdiri dari gabungan Light Infantry dan Heavy Infantry yang diabaikan Jeanne sebelumnya.
Karena kesalahan kecil itu, kemenangan serta kekalahan dibalikkan sekaligus. Alur peperangan berubah drastis disaat-saat terakhir.
Setelah itu, Jeanne dikalahkan hanya dalam beberapa langkah dan pipinya memerah karena kesal.
Dia menggembungkan pipinya dan memandang Aaron dengan penuh kebencian. Tatapi, Aaron hanya membalasnya dengan senyuman ceria.
“Luar biasa! skillmu mengalami peningkatan yang sangat signifikan saat ini, kamu bahkan dapat memojokkan Alice di stage ke-3 dengan mudah. " ucap Aaron memuji Jeanne.
"Jika kamu tidak datang mengganggu, aku pasti sudah menang. " ucap Jeanne sedikit kesal.
“Hahahahh, maaf, maaf. Kamu pasti mengira kalau saya tidak akan ikut campur, kan? Tetapi sayangnya, sebagai kakak yang baik, saya tidak mungkin membiarkan adikku yang manis bersedih. bisakah kamu memaafkan ku karena hal itu? ” ucap Aaron sambil mengelus kepala adiknya.
Jeanne terlihat berpikir beberapa saat sebelum menjawab.
__ADS_1
"..., Baiklah! Tapi, sebagai gantinya, kamu yang bertanding melawanku sekarang. Bagaimana? " tantang Jeanne.
“Dengan senang hati, tuan putri ku yang imut. " ucap Aaron sambil tersenyum.