
Masalah perjodohan bukanlah hal yang Jeanne pusingi saat ini.
Tetapi, masalah terbesar yang sedang dia pikirkan adalah tarif pajak yang diminta kedua kerajaan atas rakyatnya.
Jumlah yang mereka minta terlalu besar dan tidak masuk akal.
Meskipun saat ini, sulit untuk mengatakan apakah nominal pajak yang diterapkan Kerajaan Liberas tidak akan memberatkan rakyatnya.
Tetapi, setidaknya itu masih dalam jangkauan yang bisa diterima oleh orang-orang.
Setiap warga kerajaan Liberas masih bisa menikmati hidup mereka dengan tenang, meskipun dalam keterbatasan finansial.
Mereka setidaknya masih bisa mengisi perutnya sampai kenyang dan tidak akan mati karena kelaparan.
Namun, nasib buruk akan menimpa rakyatnya, jika mereka menerapkan tarif pajak yang diminta oleh kedua kerajaan.
Tidak ada keraguan bahwa hal itu akan menyebabkan bencana kelaparan massal.
Selain itu, para warga mungkin akan mulai menyalahkan pemerintahan dan akan terjadi kekacauan besar diseluruh kerajaan Liberas, karena masalah kelaparan.
Tidak hanya sampai disitu, jika Kerajaan Liberas mengajukan keberangkatan atas masalah ini.
Kemungkinan besar, kedua kerajaan akan menganggap penolakan mereka sebagai tindakan pemberontakan dan akan menekan mereka menggunakan kekuatan militer.
Hasil terburuk yang akan terjadi pada kerajaan Liberas jika kasus ini sampai terjadi adalah sebagian besar rakyatnya serta bangsawan, mungkin akan berakhir sebagai budak.
Sudah banyak kerajaan kecil yang mengalami nasib menyedihkan ini.
Itu adalah fakta yang terkenal.
Mungkin karena ekspansi yang dilakukan kerjaan Macbia dan Kerajaan Slovia terlalu cepat dan terburu-buru, mereka kekurangan banyak budak prajurit yang dapat digunakan sebagai tentara sekali pakai dimedan perang.
Jadi, kemungkinan diperbudak oleh kedua kerajaan sangat tinggi, jika mereka berani menolak persyaratan yang telah dicantumkan dalam perjanjian.
Setelah membaca isi surat itu berkali-kali, Jeanne dapat menyimpulkan kalau alasan dibalik tarif pajak tidak masuk akal yang kedua kerajaan minta, kemungkinan besar untuk menghasut kerajaan Liberas melakukan perlawanan alih-alih hanya menyerap mereka.
Sejak awal, keduanya bertujuan untuk mengubah warga kerajaan Liberas menjadi budak.
Meskipun kerjaan Macbia dan Slovia kuat, bukan berarti mereka bisa dengan sesuka hati mengubah warga dari kerajaan lain sebagai budak.
Ada hukum ketat yang mengatur masalah ini dan semua kerajaan harus mematuhinya.
Aturan ini dibuat oleh kerajaan sihir yang sejak awal menentang sistem perbudakan.
Sampai sekarang, setiap kerajaan masih mematuhi aturan ini atau setidaknya belum ada kerajaan yang secara terang-terangan melanggarnya.
"apakah sudah tidak ada pilihan lain...?" gumam Jeanne
Jeanne merasa bingung untuk memilih apakah harus menerima atau menolak permintaan mereka.
karena setiap pilihan yang diberikan mengarahkannya ke akhir yang buruk, tidak ada happy ending dimasing-masing pilihan.
Sebelumnya, ada beberapa negara kecil seperti: Republik Nordus, Kerajaan Monterno, Kerajaan Krosov, kerajaan Demi-Human Marurus dan City-state ages, yang bersekutu bersama untuk menolak proposal yang Kerajaan Macbia tawarkan dan menantangnya untuk bertempur.
Isi perjanjian yang kerajaan Macbia tawarkan hampir sama seperti yang mereka tawarkan saat ini kepada kerajaan Liberas.
Negara-negara kecil itu tentu saja tidak menerimanya, mereka memutuskan untuk membentuk aliansi dan mencoba untuk melawan.
Kerajaan Macbia yang melihat penolakan mereka menjadi sangat marah dan mulai memobilisasi pasukannya keperbatasan setiap negara untuk melakukan penyerangan.
Disepanjang musim semi tahun itu, terjadi perang besar diantara kedua belah pihak yang dikenal sebagai 'Bloody Spring War'.
Dan hasil dari perang itu adalah kekalahan telak untuk aliansi negara kecil, kekuatan tempur yang mereka miliki tidak bisa mengimbangi kekuatan militer milik kerajaan Macbia.
__ADS_1
Saat itu, kerajaan Macbia mengirim Ksatria Wyvern dan Divisi Besi Hitam yang merupakan pasukan terkuatnya untuk membumi hanguskan Kerajaan Marurus, City-state ages dan Kerajaan Krosov yang berbatasan langsung denganya.
Menganeksasi mereka dan mengubah negara-negara kecil itu menjadi puing-puing reruntuhan.
Sedangkan negara lain yang masih tersisa dari aliansi negara kecil, memutuskan untuk meyerah setelah melihat teman-teman mereka dihancurkan tanpa perlawanan.
Warga dan bangsawan disetiap negara yang ditaklukkan diperbudak.
Ada yang dipaksa bekerja ditambang, ada yang dijadikan sebagai tentara sekali pakai dan sebagian besar wanita bangsawan dijual sebagai budak s*x.
Nasib tragis ini juga menimpa negara-negara kecil yang berani menentang kerajaan Slovia.
Hanya kerajaan Korion dan kerajaan Ephes yang saat ini belum berani keduanya serang.
Sebenarnya, jauh sebelum kedua kerajaan berniat untuk mengambil alih kerajaan Liberas, Jeanne sudah meminta ayahnya untuk menjalin hubungan kerja sama dengan kerajaan Ephes.
Meskipun rencana kerja sama yang dia ajukan saat itu memang tidak menguntungkan untuk kerajaan, tetapi niatan dia sebenarnya adalah untuk mendapatkan perlindungan dari kerajaan Ephes, bukan untuk mencari keuntungan.
Selama kerja sama antara kedua negara terbentuk, setidaknya kerajaan Macbia dan Slovia tidak akan menyerang secara sembarangan.
Tetapi sangat disayangkan, kata-katanya tidak digubris sedikitpun oleh pejabat pemerintahan.
Malahan dia mendapatkan kecaman dari para pejabat dan rencana yang dia buat dinilai akan mengakibatkan kerugian besar bagi kerajaan dan akan menimbulkan krisis ekonomi.
Ini bukan pertama kalinya dia mendapatkan penolakan keras dari para bangsawan.
Dia juga tau alasan dibalik penolakan mereka.
Ini bukan tentang benar atau salah, tetapi hal ini disebabkan oleh masalah Gender.
Sebagian besar negara di benua ini tidak mengizinkan perempuan untuk berpartisipasi dalam politik.
Itulah sebabnya setelah kejadian itu, dia hanya bisa memberikan nasihat kasual kepada ayahnya, sang raja.
Sayangnya, ayahnya juga mengabaikan semua sarannya dan menegurnya, tetapi dia tidak menyerah begitu saja.
Tetapi, seperti inilah akhirnya, dia disingkan dikota kecil dipinggiran kerajaan karena dianggap terlalu banyak mengacau masalah politik.
"Percuma saja.... " Dia memarahi dirinya sendiri dengan lemah.
Dia sudah memikirkan solusi untuk keluar dari masalah ini selama berhari-hari tertapi masih belum menemukan jawabannya.
Disaat dia mulai merasa putus asa, tiba-tiba dia teringat perkataan temannya dimasa lalu.
“Tenang, aku harus tenang. Meskipun situasi saat ini adalah yang terburuk, aku seharusnya tidak berhenti berpikir, Pasti ada jalan keluar dari masalah ini.” kata Jeanne sambil menyemangati dirinya sendiri.
Di masa lalu, dia pernah bertemu dengan pangeran muda dari Kerajaan Sihir disalah satu acara yang diselenggarakan oleh kerajaan Sihir.
Dia bahkan sempat menghabiskan banyak waktu bersamanya dan masih mengingat dengan jelas kata-kata yang sering dia ucapkan saat itu.
[ 'Bahkan jika kamu hampir kalah sekalipun, selama kamu tidak meninggalkan permainan, kamu masih memiliki kemungkinan untuk menang. Jangan menyerah, setiap masalah memiliki jalan keluarnya masing-masing.' ]
Kata-kata ini telah menjadi sumber motivasinya selama ini.
"Macbia dan Slovia … aku membutuhkan sesuatu yang dapat menarik perhatian kedua kerajaan ini …" Dia bergumam.
“Putri, Lady Ingrid telah kembali. " Seorang pelayan mengumumkan.
Disaat Jeanne sedang memikirkan rencana yang harus dia lakukan selanjutnya, Dia tiba-tiba mendengar suara teriakan pelayan dari luar kamarnya.
"Ingrid? Biarkan dia masuk..." Jeanne memiringkan kepalanya ke satu sisi, tampak bingung.
'Kenapa dia kembali? Apa sesuatu yang penting telah terjadi? '
__ADS_1
Sebelumnya, dia juga sempat berencana untuk mengirim sekelompok ksatria yang andal untuk mengumpulkan informasi di seluruh kerajaan sambil menyamar sebagai petualang.
Tapi, ayahnya tidak menyetujui rencana ini, jadi dia hanya bisa melakukannya secara diam-diam.
Karena tidak memiliki banyak dana, terpaksa dia hanya bisa mengutus beberapa pengawal pribadinya untuk menjalankan rencananya ini.
Ingrid adalah salah satunya.
"Kalau aku tidak salah ingat, seharusnya dia sedang menjadi salah satu anggota dari sebuah Party petualang bernama [Sword Valkyrie] saat ini. tapi, kenapa dia kembali sekarang?. "
Ingrid bukanlah tipe orang yang lalai saat menjalankan tugasnya.
Karena dia kembali sebelum mendapatkan perintah, Seharusnya dia memiliki sesuatu yang penting untuk dilaporkan secara langsung.
Setelah beberapa saat menunggu, seorang ksatria wanita berjalan memasuki kamar sang putri.
"my Princess …" sapa ksatria itu sambil berlutut.
Jeanne terlihat senang melihat ksatria kepercayaannya telah kembali.
“Lama tidak bertemu Ingrid! Tapi, Apa yang terjadi padamu? Kamu terlihat sangat pucat! Apa kau baik-baik saja? ” Seru Jeanne dengan khawatir.
Ingrid Biasanya memiliki ekspresi yang serius dan tegas, dia terlihat selalu waspada setiap saat.
Tetapi entah kenapa ksatria wanita bermata biru ini yang biasanya tidak menunjukkan banyak emosi sekarang tampak pucat dan ketakutan.
"T, terima kasih telah mengkhawatirkan ku, tetapi aku baik-baik saja putri. daripada itu, aku memiliki sesuatu yang penting untuk dilaporkan …" kata Ingrid sambil memandangi mata tuan yang dia layani dengan sepenuh hatinya.
"...."
Dia menarik nafasnya dalam-dalam, berusahan untuk menenangkan dirinya, sebelum mulai berbicara dengan suara tegas seolah dia tidak takut dibunuh.
"Apa yang akan saya katakan sekarang adalah kebenaran. Meskipun terdengar tidak masuk akal, aku harap tuan putri dapat mempercayai ku. ”
“…. . Uu, aku mengerti. Katakan padaku . " Sang putri memerintahkan.
Setelah mendengar respon dari tuannya,
Ingrid mulai menceritakan segala pengalaman yang telah dia lalui padanya.
Tentang ksatria mengerikan yang telah [Sword Valkyrie ] lawan, dan Labirin Bawah Tanah yang penuh dengan harta.
Dia menceritakan segalanya, tanpa menyembunyikan apa pun.
Setelah mendengar seluruh cerita dari Ingrid, Jeanne terlihat terkejut saat mendengar nama dari penguasa yang mengatur labirin itu.
“Aaron ?! Alice !? Apakah kamu yakin dia memperkenalkan dirinya dengan nama itu !? ” Dia menuntut.
"Eh? Y-Ya! Saya yakin pria itu memperkenalkan dirinya dengan nama itu. “ Ingrid tergagap setelah melihat respon dari tuannya.
Putri Kerajaan Liberas bergumam sambil memegangi permata yang ada di dadanya.
"Kamu masih hidup …. ”
Setelah berpikir sebentar, Jeanne mengangkat kepalanya.
"Dengan asumsi bahwa mereka benar-benar masih hidup… Tidak, mengapa mereka ada di sana sejak awal?" Sang putri bergumam.
Saat ini, dia sedang berbicara pada dirinya sendiri dan mengabaikan ksatria wanita yang ada didepannya.
"Eh, Putri. . ? ” Ingrid bertanya dengan ragu-ragu setelah melihat tingkah aneh tuannya.
"Ingrid, Bagaimana cara untuk pergi ke Labirin Bawah Tanah itu? ” Jeanne bertanya.
__ADS_1
Ksatria wanita memiliki ekspresi yang tidak menyenangkan di wajahnya ketika mendengar kata-kata ini.
Dia baru saja lolos dari lubang maut itu, tetapi tuannya malah ingin mengirimnya kembali kesana.