
'WarZone' adalah sebuah board game yang berfungsi untuk melatih kemampuan seseorang dalam berpikir jauh ke depan.
Pada awalnya game ini diciptakan untuk melatih para Jendral untuk membuat strategi sebaik mungkin guna memenangkan sebuah perang.
Pada dasarnya, game ini merupakan simulasi dari sebuah perang, strategi yang kau gunakan dalam game ini dapat kau terapkan di medan perang yang sesungguhnya.
Bahkan banyak strategi-strategi brilian yang digunakan para Jendral elit di medan perang, tercipta dari game ini.
'WarZone' memiliki 7 jenis bidak yaitu: Jendral, Priest, Wizard, Archer, Heavy Infantry, Cavalry dan Light Infantry.
Setiap bidak memiliki kemampuan bertarung mereka masing-masing, contohnya seperti:
1 Cavalry setara dengan 5 Light Infantry, 1 Heavy Infantry setara dengan 3 Light Infantry, 1 Archer setara dengan 2 Light Infantry, 1 Wizard setara dengan 10 Light Infantry, dan 1 Jendral setara dengan 20 Light Infantry.
Sedangkan untuk Priest/Priestess, mereka adalah bidak khusus yang digunakan untuk menyembah pasukan yang terluka bukan untuk bertarung.
Jadi, biasanya para pemain akan melindungi Priest/Priestess sebaik mungkin agar tidak mati di awal game.
'WarZone' memiliki total 123 bidak, yaitu: 1 Jendral, 2 Priest, 6 Wizard, 12 Archer, 32 Heavy Infantry, 24 Cavalry dan 46 Light Infantry.
Sebenarnya, tidak ada aturan khusus dalam game ini. Kau bebas mengatur pasukanmu sesuai dengan strategi dan ide yang kamu miliki.
Untuk memenangkan 'WarZone', kamu hanya perlu membuat lawanmu menyerah atau membunuh Jendral lawan.
Tidak sedikit bangsawan muda yang ikut memainkan game ini untuk melatih skill dan kemampuan mereka berpikir.
Bahkan dibeberapa negara setiap tahun akan diadakan lomba untuk 'WarZone' dan biasanya pemenang dari lomba itu akan mendapatkan banyak hadiah atau bahkan akan diangkat sebagai Jendral secara langsung.
Cara memainkan game ini sangat mudah, setiap pemain akan diberi waktu selama 1 menit untuk mengatur pasukannya diawal game.
Lawan tidak akan bisa melihat formasi pasukan yang kamu antur, sebelum waktu 1 menit itu berakhir.
Hal ini terjadi karena 'WarZone' memiliki fitur untuk menghalangi pandangan pemain lawan untuk mengintip strategi yang akan kamu gunakan.
Pada dasarnya, 'WarZone' tidak hanya melatih kemampuan berpikir cepat seseorang.
Tetapi, itu juga akan melatih kemampuanmu untuk memprediksi strategi yang akan digunakan lawan untuk mengalahkan mu.
Setelah waktu 1 menit yang diberikan berakhir, maka fitur lain dari 'WarZone' akan aktif.
Itu akan menampilkan simulasi perang nyata menggunakan strategi yang telah kamu atur sebelumnya.
Setiap pertarungan akan berlangsung selama 5 menit.
Setelah itu, setiap bidak yang masih bertahan setelah pertarungan akan dikirim kembali ke base dan kamu akan diberi waktu 1 menit untuk mengatur strategi baru dengan sisa-sisa pasukan yang kamu miliki.
Hal ini akan terus berulang sampai lawanmu memutuskan untuk menyerah atau kamu berhasil membunuh Jendral musuh.
Selain itu, kamu juga dapat memilih lokasi dari simulasi pertempuran yang kamu inginkan.
Mulai dari hutan, gurun, pegunungan, rawa, kota dan dll.
Saat ini Aaron dan Jeanne sedang memainkan game itu dengan gurun sebagai lokasi pertempurannya.
Jeanne terlihat sangat serius mengamati simulasi medan pertempuran, sedangkan Aaron, dia terlihat santai seperti biasa.
Ini adalah pertandingan ketiga mereka dan Aaron berhasil memenangkan 2 game sebelumnya dengan mudah.
__ADS_1
"Bagaimana? Apa kamu mau menyerah sekarang? " tanya Aaron setelah durasi simulasi pertempuran berakhir.
Jeanne menatap Aaron dengan kesal, dia enggan untuk mengakui kekalahannya.
"Tidak ada gunanya melanjutkan perlawananmu, dalam dua pertempuran selanjutnya Jendral milikmu pasti akan mati. Kata-kata ku ini bukan bualan semata, tetapi hasil dari analisis setelah melihat komposisi pasukanmu yang tersisa. " ucap Aaron dengan serius.
Jeanne tetap serius menyusun formasi menggunakan sisa-sisa pasukannya, dia mengabaikannya perkataan Aaron.
"Kamu tahu! Seorang Jendral yang bijak tahu kapan harus menyerah dan kapan harus berjuang? Di medan perang, keputusan para Jendral sangat memengaruhi keberlangsungan hidup para prajurit. Jika seorang Jendral salah membuat keputusan, maka para prajuritlah yang akan menderita. " kata Aaron menasehati Jeanne.
Mendengar perkataan Aaron, Jeanne tiba-tiba berhenti menggerakkan tangannya dan menghela nafas.
"Sigh~ kamu benar, Jendral yang hanya tahu cara mengorbankan pasukannya tidak pantas disebut sebagai Jendral. Aku mengakui kekalahan ku di game ini. " ucap Jeanne dengan lesu.
Awalnya, Jeanne berpikir kalau dia dapat memenangkan pertempuran dengan mudah melawan Aaron.
Lagipula, Dia memiliki kepercayaan diri yang besar pada 'WarZone'.
Meskipun dia masih muda, dia dianggap sebagai master di negaranya dan baginya untuk dikalahkan dengan mudah, tidak dapat membantu jika dia merasa frustrasi.
"Jangan terlihat kecewa seperti itu, anggap kekalahanmu kali ini sebagai pembelajaran.
Bahkan jika kamu telah kalah berkali-kali sekalipun, selama kamu tidak meninggalkan permainan dan terus mengasah kemampuanmu, kamu pasti memiliki kesempatan untuk menang. " kata Aaron sambil menyemangati Jeanne.
"Kamu benar! Kalau begitu, ayo kita mulai sekali lagi, Aku tidak akan merasa puas sebelum mengalahkanmu hari ini. " ucap Jeanne dengan tegas.
"Tidak masalah, aku akan menerima tantanganmu dengan senang hati. " jawab Aaron sambil tersenyum.
Sejujurnya, dia cukup terkejut melihat Jeanne yang suka memainkan game ini.
Pada dasarnya 'WarZone' adalah permainan yang suka dimainkan oleh para pria, sangat jarang melihat wanita yang bisa memainkan game ini.
Hal inilah yang membuat sebagian besar wanita menganggapnya membosankan dan memusingkan.
Jadi, melihat Jeanne yang memainkan game itu dengan senang hati, membuat Aaron merasakan hal yang baru darinya.
Waktu perlahan-lahan berlalu dengan cepat, langit yang awalnya cerah berubah menjadi senja.
Bintang induk yang sebelumnya masih berdiri tegak dilangit menyinari dunia perlahan-lahan mulai turun.
Saat ini, keduanya berada dipertempuran terakhir dari game ke-10 yang mereka mainkan.
Lokasi yang keduanya pilih dalam pertempuran ini adalah sabana.
Saat ini, pasukan Light Infantry milik Jeanne yang mempertahankan garis pertahanan didorong mundur secara paksa oleh serangan menjepit yang dilakukan pasukan Cavalry milik Aaron.
Sebelumnya dia telah terkecoh oleh strategi yang digunakan Aaron.
Hal ini membuatnya kehilangan hampir semua pasukan Heavy Infantry miliknya dan setengah dari pasukan Cavalrynya juga telah gugur akibat serangan tiba-tiba yang dilakukan para Wizard dan pasukan Archer milik Aaron.
Karena kehilangan banyak pasukan secara tiba-tiba membuat garis pertahanan miliknya menjadi melemah dan dapat dihancurkan dengan mudah.
Pasukan Cavalry milik Aaron berhasil menerobos masuk ke pangkalan musuh diikuti oleh para Heavy Infantry yang melindungi sisi kiri dan kanan pasukan.
Prajurit Light Infantry yang tersisa, para Archer serta Wizard juga mulai mengepung pangkalan militer milik Jeanne dan menyerang secara serentak.
Tidak butuh waktu lama untuk menghancurkan tempat itu dan kepala Jendral miliknya dipenggal.
__ADS_1
Hal ini menandakan kalau game telah berakhir dengan Aaron yang keluar sebagai pemenang.
Melihat hal ini, Jeanne menjadi kesal.
"Kenapa, kenapa jadi seperti ini? Padahal dipertempuran sebelumnya semuanya telah berjalan dengan baik dan aku hampir menang. Dimana letak kesalahan ku? " ucap Jeanne sambil memandang Aaron dengan mata merahnya.
"Saat kamu menganggap semuanya baik-baik saja, disitulah letak kesalahanmu. Aku sengaja mengorbangkan pasukan ku diawal permainan untuk menggiringmu masuk ke dalam jebakan yang talah ku buat. Kemenangan yang sebelumnya kamu lihat, itu hanyalah ilustrasi yang ku ciptakan. " Jelas Aaron.
"Jadi maksudmu, kamu mengorbangkan sebagaian besar Light Infantry dan Priest milikmu diawal game hanya untuk menciptakan ilusi kemanangan untuk ku. " ucap Jeanne terlihat terkejut.
"Kamu benar, semuanya untuk itu. " jawab Aaron sambil tersenyum.
"K, kamu gila! mana ada orang yang akan melakukan strategi berbahaya seperti itu? " ucap Jeanne tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Aku melakukannya, dan kamu sendiri telah merasakannya. Hahahahhahh... " ucap Aaron sambil tertawa.
Mendengar perkataan Aaron, Jeanne hanya bisa terdiam. Dia benar-benar tidak bisa menebak apa yang sedang dipikirkan oleh Aaron disepanjang permainan.
'Seperti yang diharapkan dari jenius nomor satu di benua ini, tidak hanya kemampuan sihir dan ilmu berpedang miliknya yang luar biasa. Cara dia berpikir juga berbeda dari kebanyakan orang normal.
Sigh~ jika saja aku memiliki setengah dari bakatnya, aku mungkin tidak akan berakhir dalam kondisi ini. ' ucap Jeanne dalam hati.
Ada sedikit rasa iri dalam hatinya.
"Ini menjadi kekalahan ku yang ke-10 secara berturut, meskipun terdengar menyedihkan, aku sangat senang karena kamu telah menemani ku bermain. Aku telah belajar banyak hal dari kekalahan ini, terima kasih. " ucap Jeanne dengan tulus.
"Begitukah! Syukurlah jika itu membantumu. Hari sudah mulai gelap, aku akan pergi sekarang. Kamu juga sebaiknya pulang sekarang, meskipun kita berada di dalam istana. Siapa yang tahu dimana kejahatan itu bersembunyi? " ucap Aaron sambil berdiri dan meregangkan tubuhnya.
Disaat dia berjalan beberapa langkah kedepan dia berbalik dan menatap Jeanne sekali lagi.
"Hey! Bukankah sebelumnya kamu mengatakan kalau kamu tidak memiliki teman? " tanya Aaron.
"Ya. " jawab Jeanne dengan singkat.
"Kalau begitu, apa boleh aku menjadi teman pertamamu? " tanya Aaron sambil mengulurkan tangannya.
"Ehhh...? "
Jeanne menatap tangan Aaron dengan ekspresi bingung, ini pertama kalinya seseorang mengajaknya untuk berteman.
Melihat ekspresi Jeanne yang bingung, Aaron mengambil inisiatif untuk menjabat tangannya secara langsung.
"Mulai sekarang kita adalah teman, kamu boleh memanggil ku Aaron seperti yang lainnya. " ucap Aaron sambil menjabat tangan Jeanne.
"T, teman? " gumam Jeanne.
"Ya, teman! Aku akan pergi sekarang, sampai bertemu lagi besok. " ucap Aaron sambil tersenyum.
Dia berjalan pergi meninggalkan Jeanne yang masih berdiri diam di gazebo.
"Teman? Teman pertama ku... " gumam Jeanne dengan nada bahagia.
Dia menatap kearah Aaron pergi, tetapi dia sudah tidak menemukan jejak keberadaannya.
Aaron sudah menghilang.
"Teman, hehehhh... Akhirnya aku punya teman." ucap Jeanne sambil tersenyum bahagia.
__ADS_1
Dia menatap bulan yang besinar dengan indah dilangit dan berdoa agar hari esok datang lebih cepat.