
Di dalam [Throne Room]
Saat ini Jeanne sedang berada disalah satu ruangan yang terhubung langsung ke [Throne Room].
Tempat itu adalah kamar pribadi milik Aaron.
Jeanne memperlihatkan bagian dalam ruangan itu dengan seksama dan menemukan kalau, kamar itu jauh lebih mewah dari kamar milik ayahnya yang ada di Istana Liberas.
Ada banyak lukisan dan barang-barang kuno lainnya yang menghiasi tempat itu.
Bahkan sofa yang dia duduki sekarang sepertinya terbuat dari kulit domba Albion yang sangat langka dan mahal.
"Silahkan diminum, itu teh yang terbuat dari bungan Lincoln. " ucap Aaron.
Jeanne menerima cangkir teh yang diberikan oleh Aaron dan mulai mencium Aroma bunga yang menenangkan.
"Rasanya sangat enak. Tapi, aku belum pernah mendengar tentang bunga Lincoln ini sebelumnya. " ucap Jeanne sambil meminum tehnya.
Aaron mengisi kembali gelas Jeanne yang telah kosong.
"Itu sejenis bunga mawar yang dikembangkan oleh kerajaan sihir di masa lalu. Saya tidak tahu apakah bunga itu masih ada atau sudah punah.
Tetapi, itu memiliki khasiat untuk memperkuat jiwa dan menjernihkan pikiran. " jelas Aaron.
"Ehhh, sehebat itu... " ucap Jeanne terlihat terkejut.
'Pantas saja saya tiba-tiba dapat mengingat kembali ingatan lama yang sudah ku lupakan sebelumnya. Jadi, itu efek dari teh ini rupanya. ' ucap Jeanne dalam hati.
"Ya, saya juga suka meminumnya di waktu luang ku. " kata Aaron sambil meneguk teh yang ada di cangkirnya.
Waktu perlahan-lahan berlalu, keheningan memenuhi ruangan itu dan Aaron sangat menyukai suasana tenangan ini.
"A~no, Aaron... " panggil Jeanne memecah keheningan.
"Hmm? Ada apa? " tanya Aaron
"Apa kamu sudah tahu tentang... Tidak, lupakan. " ucap Jeanne terlihat ragu.
"....."
Aaron memandang Jeanne yang bertingkah aneh untuk sesaat. Lalu, mengabaikannya.
"Ini mengingatkan ku pada satu hal, apa kamu masih berhubungan dengan yang lainnya? Sudah lama saya tidak mendengar kabar tentang mereka. " tanya Aaron dengan nada datar.
"I, itu... Mereka... " ucap Jeanne tergagap
Dia terlihat kesulitan untuk menjawab pertanyaan dari Aaron.
"Apa yang terjadi...? " tanya Aaron sambil menatap Jeanne dengan serius.
Jeanne terdiam beberapa saat sebelum memberanikan diri untuk menjawab.
"Arya dan Roro baik-baik saja saat ini. Tetapi, Timoty sudah meninggal. " ucap Jeanne terlihat sulit mengatakan kata-kata itu.
"Apa.... " ucap Aaron terlihat tidak percaya.
Aura hitam pekat tiba-tiba merembes keluar dari dalam tubuh Aaron dan lantai disekitarnya mulai retak karena tidak bisa menahan tekanan kuat yang dia keluarkan.
Jeanne yang berada di dekatnya saat ini, merasakan secara langsung aura kematian yang Aaron pancarkan.
Dadanya mulai terasa sakit, dia merasa sesak nafas saat ini.
"Ugh... A... aron! "
__ADS_1
Aaron kembali tersadar dan aura kematian yang dia pancarkan tiba-tiba menghilang setelah dia mendengar suara Jeanne yang sedang kesakitan.
'Uhuk! Uhuk! Uhuk! '
Jeanne terbatuk beberapa kali, dia mencoba menstabilkan nafasnya saat ini.
"Maafkan saya, saya tidak bisa menahan lonjakan emosi yang tiba-tiba terjadi sebelumnya. Saya benar-benar minta maaf Jeanne! " ucap Aaron dengan rasa bersalah.
Dia berjalan ke arah Jeanne dan mencoba untuk membantunya.
"Uhuk! T, tidak apa-apa, aku hanya merasa sedikit lelah. " ucap Jeanne.
Dia mencoba untuk berdiri beberapa kali, tetapi gagal, kakinya terasa mati rasa. Itu mungkin efek samping dari Aura kematian yang sebelumnya dia rasakan.
Tetapi, itu hanya efek sementara.
"Apa kamu tidak bisa menggerakkan kakimu? Kalau begitu, biar ku bantu. " ucap Aaron sambil mengangkat Jeanne dan menggendongnya dengan Bridal Style.
'Bluuush~ '
{ket: (。 - ﹏ - 。 ✿)}
Aaron mendudukkan Jeanne di sofa yang belum rusak. Lalu, menatap wajahnya yang terlihat kemerahan.
"Apa kamu baik-baik saja? Wajahmu agak memerah, apa kamu sakit? " tanya Aaron dengan khawatir.
"T, tidak apa-apa, aku hanya merasa agak kepanasan saat ini. He he hehhh... " ucap Jeanne dengan panik sambil mengipasi wajahnya dengan tangan.
'Panas? Perasaan saya sudah mengatur suhu ruangan ini agar tetap sejuk sebelumnya. ' ucap Aaron dalam hati.
Dia mengabaikan perilaku aneh Jeanne dan fokus pada informasi penting yang ingin dia dengar darinya.
"Bisakah kamu menjelaskan pada ku apa yang sebenarnya sedang terjadi? " tanya Aaron dengan serius.
Jeanne menenangkan dirinya terlebih dahulu sebelum menjawab.
Saat itu, Deep Sea Kingdom Sirenia, juga diserang oleh Ocean Emperor.
Scyllenhy, memimpin para Sea Beast untuk melancarkan serangan tiba-tiba kepada kerajaan Sirenia yang membuat mereka dalam kondisi tidak siap tempur.
Dari info yang ku dapat, sepertinya kerajaan Sirenia telah hancur sepenuhnya dan sebagian besar penduduknya juga telah mati.
Satu-satunya keluarga kerajaan yang berhasil bertahan hidup dari bencana itu adalah Roro, itupun semuanya berkat pengorbanan yang dilakukan para pengawal pribadinya.
Sea Kingdom Nusantara, yang merupakan Kerajaan tetangga sekaligus sahabat dari Kerajaan Sirenia juga tidak tinggal diam saat itu.
Mereka langsung mengirim semua Sea Knight dan armada angkatan laut terkuat yang mereka miliki untuk menyerang ke sarang Scyllenhy sebagai bentuk balasan dendam setelah mereka mengetahui apa yang telah moster itu perbuat pada Kerajaan Sirenia.
Pertempuran antara Kerajaan Nusantara melawan Scyllenhy dikenal sebagai 'Ocean Conquest', perang itu berlangsung selama 4 tahun penuh dan berhasil dimenangkan oleh Kerajaan Nusantara.
Sejak saat itu, seluruh daerah kekusaan Scyllenhy menjadi milik mereka. Tetapi, meskipun kemenangan itu terasa manis, selalu ada bagian pahit disetiap peperangan.
Kerajaan Sirenia hancur, sebagian besar pasukan yang dimiliki kerajaan Nusantara juga gugur di medan perang.
Jadi, pada dasarnya kerugian yang mereka alami jauh lebih besar dibandingkan dengan keuntungan yang mereka dapatkan. " ucap Jeanne.
Dia menceritakan semua yang dia ketahui tentang apa yang terjadi pada teman-temannya.
Aaron yang sejak tadi mendengarkan penjelasan dari Jeanne hanya terdiam. Tetapi, beberapa pertanyaan yang selama ini mengganjal dipikirannya mulai terjawab.
'Jadi, itulah kenapa Kerajaan Sirenia dan Kerajaan Nusantara tidak mengirim bala bantuan saat Kerajaan sihir di serang.
Awalnya ku pikir mereka telah meninggalkan kami seperti negara-negara sahabat lainnya.
__ADS_1
Tetapi, sepertinya saya yang salah paham disini, semuanya jadi masuk akal sekarang. ' gumam Aaron dalam hati.
Dia merasa menyesal telah memiliki prasangka buruk tentang kedua kerajaan itu sebelumnya.
"Lalu, bagaimana dengan Timoty? Apa penyebab kematiannya? " tanya Aaron.
"Kejadiannya hampir sama seperti yang ku jelaskan pada kasus sebelumnya. Kerajaan Barbatos mengalami bencana monster wave yang paling besar dalam sejarah.
Bencana mematikan itu tidak hanya menghancurkan Kerajaan Barbatos. Tetapi, semua kerajaan yang berada di sekitar hutan Zaire ikut hancur berantakan.
Setidaknya, ada 16 kerajaan yang berubah menjadi reruntuhan dan beberapa kerajaan mengalami rusak parah akibat bencana itu. " jelas Jeanne.
"Mustahil! Tidak mungkin Monster Wave dapat menimbulkan kerusakan separah itu. " ucap Aaron.
"Dalam kondisi normal, mungkin mustahil untuk hal ini terjadi. Tetapi, lain halnya jika yang memimpin bencana Monster Wave itu adalah Naga Alam Zeralius. " ucap Jeanne.
"......"
"Aku juga tidak terlalu paham tentang apa yang terjadi saat itu. Tetapi... Yang jelas, Zeralius tiba-tiba mengamuk dan mulai menyerang kerajaan-kerajaan yang ada disekitar hutan.
Dia juga memerintahkan semua monster yang tinggal di dalam daerah kekuasaannya untuk ikut menyerang.
Hanya butuh waktu tiga tahun baginya untuk menghancurkan semua kerajaan yang ada disekitar hutan Zaire.
Tetapi, diantara semua kerajaan yang hancur, hanya warga dari kerajaan Barbatos yang paling banyak selamat.
Hal ini tak lepas dari pengorbanan yang telah dilakukan para prajurit terkuat dari kerajaan itu.
Dan Timoty adalah salah satu Jendral yang memimpin pasukan perlawanan yang bertugas mengalihkan perhatian Zeralius agar para warga dapat kabur dengan selamat.
Dari informasi yang ku dapat, tidak ada satupun orang yang selamat dari pasukan itu. Tetapi, efek dari pertarungan yang mereka lakukan membuat salah satu lengan Zeralius terputus.
Ada banyak saksi mata yang melihat kejadian itu. Jadi, ini adalah informasi valid. " jelas Jeanne.
"Apa tidak ada yang menemukan mayat Timoty? " tanya Aaron.
Sejujurnya, dia masih tidak percaya kalau sahabatnya sekaligus saingan terkuatnya mati begitu mudah.
"Huft~ aku tahu apa yang sedang kamu pikirkan. Tetapi sayangnya, kematian Timoty telah dikonfirmasi. Lokasi terakhir tempat mereka bertarung telah dihancurkan oleh Zeralius.
Mungkin karena kesal setelah kehilangan salah satu lengannya, Zeralius mengaktifkan skill rasial para naga [Dragon Breath] dan mereduksi semua pejuang yang bertarung melawannya menjadi debu. " ucap Jeanne dengan nada sedih.
"Begitu rupanya... " ucap Aaron dengan nada datar.
Meskipun nada bicaranya terdengar acuh tak acuh. Tetapi, Jeanne dapat meresakan kesedihan dari kata-katanya.
'Saya merasakan sebuah keanehan sedang terjadi disini, terlalu banyak kebetulan yang terjadi dalam waktu yang hampir bersamaan.
Penyerangan yang dilakukan aliansi kerajaan terhadap Kerajaan Sihir, penyerangan para Sea Beast yang dipimpin oleh Scyllenhy dan Zeralius yang tiba-tiba mengamuk.
Semuanya terasa sangat aneh untuk ku.
Sepertinya, ada seseorang yang sengaja menggerakkan serangkaian kejadian ini dari balik layar? ' ucap Aaron dalam hati.
Ada banyak pertanyaan dan spekulasi yang memenuhi pikiran Aaron saat ini.
Tetapi, itu membuatnya menjadi lebih bersemangat.
'Saya tidak tahu kamu siapa. Tetapi, karena kamu sudah mengarahkan cakarmu kepada orang-orang yang ku sayangi.
Jangan berharap kalau kamu dapat lolos dengan mudah dari ku. " gumam Aaron dalam hati.
Meskipun dia terlihat sedang tersenyum saat ini. Tetapi matanya, memancarkan niat membunuh yang sangat kuat.
__ADS_1
Sebuah portal biru tiba-tiba muncul di dalam kamar Aaron, disaat keduanya sedang asik mengobrol satu sama lain.
Alice berjalan keluar dari portal itu dengan senyum ceria di wajahnya.