
Setelah menyelesaikan laporan mereka, ketiganya berjalan menuju Sanatorium yang berada dibagian barat labirin.
Tetapi, disaat ketiganya sedang berjalan disekitar area tempat tinggal para masusia, Amara tiba-tiba berhenti dan menatap salah satu bangunan besar yang ada dikejauhan.
"Kita akan berpisah disini, aku akan pergi mengecek kondisi Conley terlebih dahulu "
Dia merasa khawatir dengan kondisi pasangannya saat ini.
Raluk yang mendengar perkataannya, menatap Bodil yang berdiri disampingnya.
"Lalu, bagaimana denganmu? " tanya Raluk.
"Hmmm... ? Aku akan pergi ke sanatorium terlebih dahulu, aku khawatir kalau wanita-wanita itu akan merasa cemas dan ketakutan jika tidak ada manusia lain didekat mereka"
"Kamu mungkin benar, kalau begitu ayo cepat pergi! "
"Ahhh..., Sebelum itu. Sampaikan salam ku pada Conley? Ku harap dia mulai baikan sekarang. " kata Bodil pada Amara.
"Aku juga... " ucap Raluk.
"Baiklah! " jawab Amara.
Setelah mendengar jawaban Amara, keduanya berjalan dengan cepat menuju Sanatorium yang ada di sudut area hunian manusia.
Keduanya khawatir kalau wanita-wanita itu akan melakukan hal-hal yang bisa membahayakan diri mereka sendiri.
Melihat keduanya mulai menghilang dari pandangannya, Amara berjalan menuju kamar Conley yang berada di dalam bangunan besar itu.
Priest itu sebelumnya terkena kutukan dari sihir terlarang yang Alice gunakan.
Kutukan itu membuat jiwanya tercemar dan terjadi gangguan kepribadian ringan yang membuatnya sesekali berperilaku aneh.
Selain itu, beberapa pecahan ingatan orang lain juga mulai tercampur dengan ingatannya yang membuatnya bingung dengan jati dirinya sendiri.
Itu adalah sihir mengerikan yang membuat orang lain dapat mengalami penyiksaan kejam yang dilakukan para bandit pada korbannya secara langsung.
Meskipun sejak awal dia tidak pernah menganggap dirinya sebagai orang yang baik, tetapi kejahatan yang dilakukan bandit-bandit itu telah mengubah cara penilaiannya pada manusia.
Sebagai sesama manusia, dia menjadi sangat bingung saat ini.
'Ras seperti apa manusia itu sebenarnya? Kenapa manusia bisa berbuat sejahat itu? Apa sejak awal manusia bukanlah ras yang baik? Apa manusia adalah ras yang diciptakan oleh iblis? '
Pertanyaan-pertanyaan ini terus menghantuinya selama berhari-hari dan sebagai seorang manusia, dia benar-benar tidak dapat menjawabnya.
Sebenarnya, kondisi Conley saat ini masih belum stabil.
Dia tidak menyadari kalau dirinya telah mendapatkan bekas luka emosional cukup parah yang membuat kepribadiannya sedikit berubah.
Ini adalah efek samping dari kutukan itu, Conley menjadi sering mengkhayalkan hal-hal yang aneh.
Bahkan sampai sekarang pun, dia masih belum bisa menghapus wajah wanita yang menangis di dalam benaknya, mereka terus memohon bantuan dan meminta agar anak perempuan mereka diselamatkan.
Wanita-wanita itu tidak peduli dengan diri mereka sendiri.
Meskipun tubuh mereka telah sepenuhnya rusak setelah di siksa, di perk*sa, dan dilecehkan, mereka tetap mengkhawatirkan kondisi orang lain.
Conley merasa sedih setiap kali melihat pemandangan ini, dan juga merasa sangat marah kepada anggota kelompok bandit [Rotten Fangs] yang telah melakukan semua hal jahat ini.
Kutukan itu benar-benar telah memberi luka serius pada tubuh dan jiwa Conley.
Tetapi untungnya, dia segera mendapatkan perawatan dari Aaron dan ditambah dengan dirinya yang sejak awal adalah seorang pengguna [Eloh], membuat proses pemulihannya menjadi lebih cepat.
Jika orang biasa yang terkena kutukan Alice, efek teringan yang akan ditimbulkan adalah kegilaan.
Sedangkan yang terberat adalah jiwa mereka akan terus tersiksa, bahkan setelah ajal menjemputnya.
Selain itu, kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi adalah korban akan berubah menjadi mahluk mengerikan yang disebut Nightmare.
Nightmare adalah mahluk jahat yang suka memakan [Life Core] orang lain untuk memperkuat dirinya sendiri.
Mereka terlahir dari [Life Core] yang tercemar dan merupakan salah satu penghuni Underworld / Netherworld yang paling berbahaya.
Karena tugas Messenger of Death adalah mengumpulkan [Life Core] dari orang yang telah mati, itulah kenapa mereka akan memburu para Nightmare yang berhasil menyusup ke dunia mahluk hidup.
Karena hal inilah, kedua ras sering bertarung setiap kali bertemu.
"Conley, apa kau masih bangun? " ucap Amara
__ADS_1
Dia memanggil Conley yang sedang berbaring di tempat tidurnya dengan suara rendah.
"Ya... " jawab Conley dengan lemah.
Kondisi tubuh Conley sudah jauh lebih baik dari sebelumnya, ini semua juga berkat Amara yang mengabdikan dirinya untuk merawatnya agar dapat pulih secepat mungkin dari bekas luka emosional yang dia derita.
meskipun dia masih belum bisa banyak bergerak. Setidaknya, sebagian besar luka-lukanya telah pulih ke titik di mana dia sudah bisa berbicara dengan baik saat ini.
Tetapi...
"A, apa yang terjadi padamu? Kenapa kau sangat pucat? Apa kau baik-baik saja? " ucap Amara dengan nada terkejut.
Dia sedang menatap pria pucat yang terbaring lemah dihadapnnya dengan tatapan khawatir.
Saat ini, Conley sedang telanjang bulat dan bahkan tidak mengenakan pakaian dalam di bawah selimutnya.
Tetapi, ini bukan karena Conley orang yang mesum, melainkan sebagian besar orang yang hidup di dunia ini juga melakukan hal yang dia lakukan.
Ada beberapa alasan yang membuat mereka melakukan hal ini, Seperti mereka tidak punya cukup uang untuk membeli banyak pakaian ganti atau ada juga alasan sentimental seperti mereka merasa lebih nyaman tidur dengan telanjang.
Itu sebabnya, dia tidak merasa malu bahkan jika ada wanita yang menjenguknya.
{ket: Tch... Tch... Tch... benar-benar gaya hidup yang liar. }
"Bagaiman dengan misinya? " tanya Conley.
Bukannya menjawab pertanyaan Amara, dia malah balik bertanya.
“Kami telah membunuh semua bandit yang ditargetkan. ” jawab Amara dengan tenang.
".…, Baguslah! ” ucap Conley dengan lemah.
Senyum bahagia seketika mekar di wajah pucatnya saat mendengar perkataan Amara.
“Selain itu, semua wanita yang ditangkap oleh bandit juga berhasil dibawa dengan selamat ke labirin.
Ini benar-benar sebuah keajaiban, Sejujurnya aku tidak menyangka kalau mereka semua bisa bertahan dengan kondisi tubuh yang terluka parah seperti itu. " Amara melanjutkan.
“Benarkah, syukurlah! ” Conley merasa lega setelah mendengar perkataannya itu.
Meskipun Amara menganggap apa yang terjadi pada para wanita adalah sebuah keajaiban, sebenarnya ada penjelasan masuk akal dibalik semua itu.
Dia menggunakan [Eloh] untuk meningkatkan kemungkinan para wanita bertahan hidup, seburuk apa pun kondisi mereka.
Itulah kenapa saat ini Conley terlihat sangat pucat, dia telah menggunakan terlalu banyak energi.
'Seharusnya wanita-wanita itu bisa beristirahat dengan tenang sekarang, meskipun beberapa dari mereka ingin membunuh para bandit dengan tangannya sendiri untuk menyelamatkan putrinya. Seharusnya mereka telah puas dengan hal ini. Aku berharap bisa tidur dengan nyenyak kali ini! ' kata Conley dalam hati.
“Setelah luka para gadis dan wanita-wanita itu disembuhkan, saya berencana memindahkan mereka keluar dari labirin secepat mungkin. “ Saran Conley.
“Itu ide yang bagus. " Amara mengangguk.
Meskipun para goblin telah menyelamatkan mereka, perasaan bermusuhan yang dimiliki para wanita terhadap goblin telah mendarah daging sejak lama, hal itu tidak bisa diubah dalam sekejab.
Sebelum berubah menjadi pertengkaran antara kedua belah pihak, akan jauh lebih baik jika mengirim mereka ke luar dari labirin.
Karena nasib buruk yang akan menimpa mereka jauh lebih mengerikan jika mereka membuat master labirin marah.
"Namun, jika kita mengirim mereka dengan tangan kosong itu akan… "
"Untuk berjaga-jaga, sebaiknya kita beri mereka uang. ” ucap Conley
"Harta karun labirin? " tanya Amara.
“Tentu saja tidak, kita akan menggunakan harta milik petualang yang telah mati dilabirin ini, master labirin tidak membutuhkan barang-barang tidak berguna itu. ” jawab Conley.
"Begitukah… Lalu, ke mana mereka harus melarikan diri? " tanya Amara.
Aaron dan Alice sejak awal telah mengatakan kalau mereka akan membalas dendam pada negara aliansi yang telah menghancurkan kerajaan mereka.
Jadi, jika wanita-wanita itu kebetulan melarikan ke negara yang telah ditargetkan, mereka pasti akan dibunuh oleh pasukan Aaron cepat atau lambat.
Jika hal itu sampai terjadi maka, semua usaha yang telah dia lakukan akan menjadi sia-sia dan tidak berarti.
“Kamu tidak perlu mengkhawatirkan hal itu. ” ucap Conley
".....? "
__ADS_1
“Sebelumnya, aku telah mendapatkan informasi tentang tempat-tempat yang akan diserang oleh master labirin. Kita akan memindahkan wanita-wanita itu ke tempat yang jauh dari zona perang. Aku yakin rencana ini akan berhasil.” kata Conley dengan yakin
"Tapi, apa kamu sudah mendapat izin? "
Amara terlihat bingung saat ini, Dia tidak bisa menganggap tindakan yang akan Conley lakukan adalah hal yang benar.
Bukankah masalah seperti ini seharusnya didiskusikan dengan Aaron dan Alice terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan sendiri.
Jika kebetulan master labirin malah menolak untuk melepaskan mereka, tidak ada gunanya mereka membahas masalah ini.
'Kenapa Conley begitu yakin kalau rencananya akan berhasil? ' kata Amara dalam hati.
Dia tidak tahu mengapa Conley berpikir seperti ini.
"Izin...? " ucap Conley terlihat bingung.
"…., Maaf sebelumnya, tapi aku ingin menanyakan sesuatu! " gumam Amara setelah melihat reaksi aneh Conley.
"Eh? A, apa itu? ” Tanya Conley.
"Apakah pembebasan wanita-wanita itu juga termasuk dalam kompensasi yang diberikan untukmu setelah terkena kutukan tuan Alice? " Tanya Lorna.
"……" Priest itu tetap diam.
“Bukankah Tuan Alice tampaknya merasa sangat bersalah padamu, dia bahkan ingin memenuhi keinginanmu sebanyak mungkin, sampai pada titik dimana itu menjadi tidak menguntungkan baginya. ” ucap Amara dengan curiga.
Mendengarkan kata-kata ini, Conley tiba-tiba tersadar dengan kebenaran yang ada di depannya, dia merasakan dadanya menjadi panas.
Sejujurnya, sebagian besar manusia yang dia kenal selama ini adalah manusia yang tidak bertanggung jawab atas ucapan dan tindakan mereka terhadap orang lain, selama itu tidak akan menguntungkan diri mereka sendiri.
Mau bagaimana lagi, mereka hanyalah manusia biasa, pasti akan membuat kesalahan.
Tetapi, sebagian besar orang tidak menyadari kesalahan yang mereka buat dan menjadi masa bodo dengan hal itu.
Mereka sejak awal tidak memiliki niatan untuk mencoba memperbaiki kesalahan mereka sedikitpun.
Karena, jika mereka melakukan hal seperti itu. maka, mereka akan kehilangan kehormatan dan dominasi mereka akan berkurang.
Tuan yang memerintah kota itu, para pemimpin kelompok petualang, para uskup sekte agama...
Sebagian besar dari mereka Masing-masing berusaha melarikan diri dari tanggung jawab mereka, dari kesalahan yang mereka buat.
Tentu saja, Conley juga termasuk di antara orang-orang itu.
Manusia menutup sebelah mata mereka terhadap kejahatan dan menjadi tidak bertanggung jawab.
Namun, ada beberapa orang, yang dengan mulia tidak melakukan itu meskipun mereka memiliki posisi yang tinggi.
Salah satunya adalah Aaron dan Alice.
Keduanya akan menepati janji yang mereka buat, kata-kata mereka dapat dipercaya. Keduanya tidak akan menindas anak buah mereka sewenang-wenang, selain itu, mereka juga tidak membeda-bedakan ras mahluk lain.
“Astaga, apa yang telah aku lakukan? Kenapa aku tidak menyadarinya sampai sekarang? ” Conley duduk perlahan sambil bergumam.
Memandang mata Amara yang berwarna cokelat muda, dia mencoba menyampaikan apa yang saat ini dia rasakan.
"Amara, dari lubuk hati aku yang terdalam, sepertinya aku ingin melayani kedua orang itu. Aku tidak tahu apakah itu karena aku telah tercemar oleh energi dalam labirin ini atau aku menjadi gila, tetapi aku benar-benar ingin melayani mereka. " ucap Conley sambil menghela nafas.
"Un. " Amara mengangguk.
“Sejujurnya aku tidak tau apakah pilihan ku ini benar atau salah, tetapi aku ingin berjalan di jalan ini bersamamu. Aku hanya akan mengatakan ini sekali saja, Tolong menikahlah denganku. " Conley mengumumkan.
"Un... Iya. Tapi, aku punya kondisi. " Amara menerima dengan tenang.
{ket: HoHoo... Tidak semudah itu ferguso.}
"Ehh... Syarat? " Tanya Conley.
“Kamu tidak boleh selingkuh, kamu tidak boleh bertindak kasar, berbohong pada pasangan sangat dilarang dan yang paling penting tolong peluk aku sekarang. "
Sambil terlihat malu-malu, Amara mengatakannya dengan jelas dan berani.
Setelah mendengarkan kata-katanya, Conley langsung mencium bibirnya sebagai jawaban, dan menariknya ke tempat tidur apa adanya.
"Kya.... "
Dalam sekejap, mimpi buruk para bandit yang telah menghantuinya selama berhari-hari mulai meninggalkan pikiran perlahan-lahan.
__ADS_1
Saat Amara mulai memeluknya lebih erat, mimpi buruk itu menghilang seolah-olah itu hanyalah ilusi.