
Setelah ketiganya selesai membahas rencana yang akan mereka lakukan selanjutnya.
Alice berdiri dari Black Throne miliknya.
"Karena semua hal penting telah dibahas, aku akan pergi sekarang. Raluk dan yang lainnya mungkin sudah menunggu ku dibagian timur labirin saat ini. " ucap Alice.
"Baiklah! Tetapi, jangan terlalu berlebihan saat melakukan eksperimen pada mereka. " Aaron memperingatkan.
"Tidak perlu khawatir kak! Aku tahu apa yang harus ku lakukan. Heheehehhhh. " ucap Alice dengan tawa menakutkannya.
Melihat senyum jahat adiknya, Aaron menghela nafas dalam hati.
'Sigh~ Itulah yang membuat ku khawatir. ' keluh Aaron dalam hati.
"Kalau begitu, aku akan pergi sekarang kak. Sampai bertemu lagi nanti, Putri Jeanne. " ucap Alice dengan senyum misterius di wajahnya.
Disaat Alice sedang mengaktifkan mantra Teleportasinya, Dustin tiba-tiba maju dan berbicara.
"Tunggu sebentar Tuan Alice! " ucap Dustin.
"Hmm? Ada apa? " ucap Alice memiringkan kepalanya.
"Apa aku boleh ikut melihat-lihat eksperimen yang akan anda lakukan? " tanya Dustin.
"Tentu saja boleh, lagipula itu bukanlah eksperimen rahasia. " jawab Alice.
"Kalau begitu, Apakah anda bisa membawa Ingrid bersamamu, putri Alice? Sepertinya, dia memiliki beberapa hal yang ingin dibicarakan dengan temannya. " Jeanne meminta.
"Ehhh... Putri! Sejak kapan aku ing... " ucap Ingrid dengan ekspresi bingung.
Tetapi, kata-katanya berhenti di tengah jalan, setelah dia mendapatkan tatapan dingin dari Jeanne.
"Diam! Dan turuti perintah ku. " bisik Jeanne pada Ingrid.
Alice yang mendengar permintaan dari Jeanne memandangnya dengan serius beberapa saat.
Setelah keheningan singkat, Alice tiba-tiba tersenyum ceria dan menyetujui permintaan milik Jeanne.
"Satu atau lebih penonton tambahan tidak akan mempengaruhi hasil dari eksperimen. kalau begitu, kau juga ikut dengan ku. [Floating]. " ucap Alice menunjuk ke arah Ingrid.
Dia mengaktifkan salah satu skillnya dan membuat Ingrid yang berdiri dikejauhan tiba-tiba mengambang di udara.
"Tu, tunggu dulu! Apa ini? " teriak Ingrid dengan panik.
"Tidak perlu takut, nikmati saja sensasinya. Hehehehhehhh.... " ucap Alice sambil tertawa.
Dia melempar Ingrid masuk ke dalam portal teleportasi.
'AAAaaaaaahhhhhhh.... '
Setelah suara teriakan Ingrid menghilang, Alice mulai melangkah masuk ke dalam portal diikuti oleh Dustin di belakangnya.
Beberapa saat kemudian, portal teleportasi yang Alice pasang mulai menghilang dan suasan di dalam [Throne Room] menjadi sunyi kembali.
Sekarang, yang tersisa di dalam ruangan itu hanya Aaron dan Jeanne.
Aaron mengambil inisiatif untuk berbicara lebih dahulu karena dia tidak suka dengan suasana canggung yang ada saat ini.
Dia berdiri dari White Throne miliknya dan berjalan menuju Jeanne.
"Karena yang lainnya telah pergi, haruskah kita berbicara sebagai seorang teman sekarang? Seperti dulu. " tanya Aaron dengan nada datar.
Meskipun nada bicaranya terdengar acuh tak acuh. Tetapi, Jeanne dapat merasakan keramahan dari kata-katanya.
__ADS_1
Jeanne yang mendengar pertanyaan dari Aaron bukannya menjawab, malahan berlari dengan cepat ke arahnya.
" !!! "
Dia memeluk Aaron dengan erat seperti bayi yang tidak ingin lepas dari ibunya.
"Apa yang sedang kamu laku... "
Karena terkejut, Aaron spontan mencoba melepaskan diri dari pelukan Jeanne. Tetapi, dia tiba-tiba berhenti setelah mendengar suara tangisan miliknya.
"Aaron, syukurlah... Hiks... Hiks... Hiks... Kamu masih hidup... Hiks... Hiks... Ku pikir kita tidak akan bisa bertemu lagi. Hiks... " Jeanne menangis tersedu-sedu.
Dia tidak bisa menahan rasa sedihnya saat ini.
"Setelah perpisahan kita waktu itu. setiap hari, aku selalu menantikan pertemuan kita selanjutnya. Aku berharap kalau hari itu akan segera tiba.
Tetapi, semua harapan ku tiba-tiba hancur seketika setelah mendengar penyerangan besar-besaran yang dilakukan oleh aliansi kerajaan pada Magic Kingdom.
Rumor tentang kematianmu juga beredar dimana-mana, itu membuatku sangat sedih. " Jeanne mengungkapkan semua isi hatinya yang telah lama dia pendam.
Selama ini, dia berusaha untuk melupakan rumor itu dengan cara menyibukkan dirinya. Tetapi, itu tidak berhasil, dia tetap merasa sedih setiap kali mengingat tentang Aaron.
"Tetapi, syukurlah rumor itu ternyata hanya kebohongan dan hari yang selama ini ku nantikan akhirnya tiba. Aku bisa bertemu denganmu sekali lagi, Aaron. " ucap Jeanne sambil tersenyum bahagia dengan air mata yang mengalir di pipinya.
Dia menyentuh pipi Aaron dengan kedua tangannya untuk memastikan kalau dia sedang tidak berhalusinasi.
Tidak ada kehangatan seperti dulu, sentuhan itu terasa dingin.
Tetapi, Jeanne tidak peduli dengan hal itu.
Selama pria yang dia cintai tetap hidup, itu sudah cukup untuknya.
Ekspresi yang dimiliki Aaron tetap datar seperti biasa, bahkan setelah melihat kesedihan yang Jeanne miliki.
Aaron menghapus Air mata yang ada di pipi Jeanne dan berkata.
"Ini Saya, mau itu dulu ataupun sekarang, saya tetaplah saya. " ucap Aaron.
"Ya, Aaron tetaplah Aaron, Apapun kondisimu saat ini. " balas Jeanne dengan senyum bahagia.
Dia memeluk Aaron lebih erat dan tidak ingin melepaskannya lagi.
****************
Sementara itu dibagian timur labirin.
Sebuah portal biru tiba-tiba muncul dihadapan para mantan petualang dan kelompok Goblin yang dipimpin oleh Raluk.
"Semuanya mundur dan tetap tertib, sebentar lagi Tuan Alice akan datang. " teriak Raluk.
Dia memerintahkan para Goblin yang dia bawa agar tetap tenang dan tidak membuat kerusuhan.
Para mantan petualang juga menantikan kedatangan Alice.
Disaat orang-orang itu sedang memperhatikan portal dengan seksama dan menunggu dengan sabar.
Tiba-tiba suara teriakan terdengar dari dalam portal dan seorang ksatria wanita dengan Full Body Armor melompat keluar dari sana.
'Bruukk... ' Ingrid mendarat di tanah dengan wajah terlebih dahulu.
Setelah itu, dia merasa sangat mual. Dia melepaskan helmnya dengan cepat.
'Ugh... Hoek! Hoek...! '
__ADS_1
Ingrid muntah beberapa kali dan merasa kalau pandangannya berputar-putar saat ini.
"Ehhh, Ingrid. " ucap Amara berlari ke arahnya.
Para mantan petualang berlari ke arah Ingrid untuk menolongnya.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Bodil sambil membantunya untuk berdiri.
"T, tidak apa-apa, aku hanya merasa sedikit pusing. Hoek...! " ucap Ingrid.
Dia tidak bisa menahan rasa mualnya.
Beberapa saat setelah kemunculan Ingrid, Alice berjalan keluar dari dalam portal diikuti oleh Dustin.
"Ohh! Sepertinya kau mengalami guncangan dimensi, Apa ini pertama kalinya kau bepergian menggunakan Teleportasi? {Refresh} " ucap Alice setelah melihat kondisi Ingrid.
Dia mengaktifkan sihir miliknya untuk mengobati Ingrid yang mengalami Motion Sickness.
Sesaat setelah diobati oleh Alice, Ingrid tiba-tiba menjadi sehat kembali seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu sebelumnya.
"Apa kau sudah merasa baikan sekarang? " tanya Alice dengan senyum jahil di wajahnya.
"Y, ya. " jawab Ingrid dengan singkat.
Sejujurnya, dia tidak mau berurusan dengan gadis jahat ini.
"Baguslah! Kalau begitu, semua Goblin berdiri di hadapan ku dengan rapi. " perintah Alice.
Seketika, para Goblin mulai bergerak dengan cepat setelah mendapat perintah dari Alice. Raluk berdiri di depan barisan.
"Lapor! Aku sudah membawa 100 petarung terkuat yang ada di desa saat ini, sesuai dengan perintah anda, Tuan Alice. " Raluk melapor.
"Bagus! Alasan kenapa aku mengumpulkan kalian semua disini adalah untuk melakukan sebuah eksperimen. Aku tidak tahu seberapa besar kemungkinan eksperimen itu akan berhasil.
Tetapi, jika eksperimen ku ini terbukti sukses, kalian para goblin yang merupakan ras terlemah di dunia ini dapat memiliki kekuatan yang setara dengan ras-ras kuat lainnya. Aku dapat menjamin hal itu.
Tetapi, aku akan memperingatkan kalian terlebih dahulu, tidak ada yang namanya kuat secara instan di dunia ini. Beberapa dari kalian mungkin akan mati saat uji coba dilakukan.
Jadi, jika ada dari kalian yang merasa ragu saat ini, silahkan keluar dari barisan. Tidak perlu khawatir, aku tidak akan menghukum kalian. " Alice menjelaskan tentang tujuannya ditempat ini.
Setelah mendengar penjelasan dari Alice, beberapa goblin terlihat ragu-ragu. Tetapi, mereka memilih untuk tetap berada di dalam barisan.
Alice menunggu beberapa saat untuk melihat respon yang dimiliki Para Goblin. Tetapi, Raluk tiba-tiba berbicara.
"Maaf sebelumnya Tuan Alice, bukannya kami menyepelekan peringatan dari anda. Tetapi, kami adalah Ras yang lemah, setiap hari saudara-saudara kami mati di alam liar saat berburu makanan ataupun di bunuh oleh para petualang.
Kami lelah hidup sebagai mahluk lemah yang dipandang rendah oleh ras lain, jika kami diberi kesempatan.
Kami ingin keluar dari siklus lingkaran setan ini, kami ingin hidup dengan bebas Tuan Alice.
Jika nyawa kami dipertaruhkan untuk mendapatkan kekuatan. maka, kami akan dengan senang hati melakukannya. Kalian semua juga berpikir seperti ku, bukan! " teriak Raluk pada anak buahnya.
"YES! YES! YES! YES! YES! YES! YES! YES! YES! YES! YES! YES! YES! YES! YES! YES! YES! YES! YES! YES! YES! YES! YES! YES! YES! YES! YES! YES! YES! YES! YES! YES! YES! YES! YES! YES! YES! YES! YES! " teriak para goblin dengan semangat tinggi.
Keraguan yang mereka miliki sebelumnya menghilang seketika, setelah mendengar perkataan dari Raluk.
Melihat respon yang dimiliki para goblin membuat Alice sangat senang.
"Bagus sekali! Aku suka dengan semangat kalian. Aku berjanji sebagai master labirin, akan memberi kalian kekuatan yang melimpah.
Kalau kalian semua sudah siap, ikuti aku. Era baru tepat di depan kalian. " ucap Alice dengan semangat.
Dia menuntun para goblin ke sebuah ruangan besar yang sebelumnya telah dia buat.
__ADS_1