
Ryukei dibawa kesebuah bak yang berisi berbagai tanaman obat seperti daun pasir merah dan Akar sari putih untuk memperbaiki sel dan menetralisir racun didalam tubuh.
Selain itu, Sahran juga menambahkan ramuan pembeku darah agar luka luar bisa pulih dengan cepat.
Ryukei sudah merasa lebih baik, dan disaat yang sama Dirinya bertanya "Master, sebenarnya kenapa kita lari sejauh ini? saat itu kau bilang kalau Zhilong adalah serigala berbulu domba yang mencoba memanfaatkanmu? sebenarnya dia siapa"
Sahran menggelengkan kepalanya pelan "Aku juga tidak tahu dia siapa? Aku hanya mengira kalau dia bukan orang biasa, Sudah 7 tahun lamanya kita bersama, ternyata orang yang paling ku anggap sebagai keluarga, Dia bermuka dua"
Ryukei menghela nafas dan menundukan kepalanya karna dia juga merasakan hal yang sama, Zhilong adalah orang baik, tapi apa boleh buat kalau sebenarnya dia tidak seperti yang mereka fikirkan.
"Hidup telah mengajariku bahwa kita tidak dapat mengendalikan kesetiaan seseorang. Tidak peduli seberapa baik kita kepada mereka, bukan berarti mereka akan memperlakukan kita demikian. Tidak peduli seberapa besar artinya bagi kita, bukan berarti mereka akan menghargai kita seperti kita menghargai mereka. Kadang-kadang orang yang paling kita cintai, berubah menjadi orang yang paling tidak bisa kita percayai." Ucap Sahran.
Sahran mengepalkan tangannya dengan keras "Aku adalah Sahran, Tidak ada kata menyerah didalam kamusku, menyerah hanya untuk seorang pecundang, sementara aku bukanlah seorang pecundang, Ryukei... berjanjilah satu hal padaku, sekarang apakah kau mau menjadi saudaraku..." Ucap sahran sembari menjulurkan tangannya.
Ryukei meraih tangan Sahran dan tos untuk pertamakalinya "Baiklah... aku lebih muda darimu, aku akan memanggilmu kakak" Ucap Ryukei.
Sahran mengusap hidungnya "Hahaha... sebagai kakak, aku akan menjaga adiku sebaik mungkin"
"Kakak...!!!" Ryukei tersenyum tipis dengan mata yang berkaca-kaca karna sedari kecil dia tidak punya keluarga, mempunyai kakak baginya hanyalah mimpi, tapi sekarang mimpi itu jadi kenyataan.
"Ini untukmu..." Sahran memberikan sebuah buku bertuliskan 'Jurus tingkat perak---gelora api tanpa bentuk' kepada Ryukei.
Ryukei bukan hanya terkejut, bahkan jantungnya juga berdetak kencang "Ju...jurus tingkat perak, kakak ini terlalu berharga, kau memberikannya begitu saja?"
"Hehe... ini adalah hadiah persaudaraan kita, Kau adiku, walaupun aku memberikan seluruh dunia padamu, itu bukan masalah... Sekarang kau pulihkan lukamu dulu,... Setelah itu aku akan membawamu ke suatu tempat yang sangat jauh..." Ucap sahran.
Ryukei menyentuh dagunya "Tempat apa itu??" Tanya Ryukei.
"Ish...Kenapa kau cerewet sekali, pulihkan lukamu dulu, kau akan tahu nanti?!" ucap sahran.
__ADS_1
"Ayah...ibu... Sekarang aku mempunyai seorang adik, Sekarang aku tidak akan kesepian lagi" Ucap sahran didalam hati.
***
"Sial, Dia sudah pergi jauh, aku sudah mencarinya sejauh 1000 KM, tapi aku tetap tidak bisa menemukannya, Tapi aku tidak percaya kau bisa lari dariku, petarung kecil..." Ucap Zhilong.
Zhilong mencari sahran di kota dan dihutan, tapi dia tetap tidak bisa merasakan kehadirannya, Walaupun begitu, Zhilong berfikir bahwa Sahran akan kembali ke tempat dia berasal "Sekte Phionix es, Ya... dia pasti akan kembali kesana. Hehe... Bocah, Sepertinya hari kematiannmu sudah dekat, Tubuh dewa suci... Aku datang!!!"
***
"Ibu... Kenapa aku tidak boleh belajar beladiri?" Seorang anak kecil berusia 4 tahun bertanya kepada ibunya.
Wanita tersebut menjawab dengan penuh senyuman dan kehangatan "Nak... Untuk menjadi seorang lelaki yang tangguh, bukan hanya berdasarkan kekuatan semata, untuk menjadi lelaki yang tangguh, kekuatan sejati ada disini" Wanita itu menempelkan telapak tangannya ke dada anak kecil tersebut.
Tapi anak kecil itu tidak mengerti maksud dari perkataan ibunya "Kekuatan sejati ada di dada? Ibu, Dadamu sangat besar, kau pasti sangat kuat...??" Tanya anak kecil itu dengan polos.
Ibunya tersenyum lembut "Ah... Yang ibu maksud adalah untuk menjadi seorang lelaki yang tangguh, Hatimu harus kuat dan jangan sombong. jika tidak, nanti kau akan ceroboh dan melukai dirimu sendiri"
Ibunya menyentuh kepala anak kecil itu dengan senyuman hangat seorang ibu "Ya, Kau boleh belajar. Ayahmu yang akan mengajarimu"
"Hehe.. baiklah,..." Anak kecil yang polos itu tertawa kegirangan.
Setelah itu wanita tersebut mulai melayang dan lenyap bersama angin "Nak... Ibu akan pergi sebentar, Kau harus berjanji pada ibu untuk menjadi kuat suatu hari nanti..."
Anak kecil yang polos itu mulai meneteskan air mata hingga membanjiri pipinya "Hikz!! Ibu... Jangan pergi, Ibu... aku akan menjadi kuat, ibu jangan pergi....huhuhu, Ibu...!!! Ibu...!!!"
"Ibu....!!!"
Sahran terbangun dari tidurnya dengan mata yang berkaca-kaca "Ternyata hanya mimpi,... Entah kenapa Akhir-akhir ini aku sering bermimpi seperti itu"
__ADS_1
Sahran berdiri lalu pergi ke sungai yang tidak jauh dari rumah Yan Guo untuk menenangkan diri "Maafkan aku ibu, sudah lama sekali aku tidak mengunjungimu, Sahran rindu sekali padamu..."
Ingatan yang samar mulai membanjiri Fikiran Sahran, Dia berusaha mengingat wajah ibu dan ayahnya, Tapi sepertinya Sahran masih mampu mengingat dengan jelas wajah ibunya, bahkan aroma minyak wangi yang selalu ia pakai masih teringat jelas di fikiran sahran.
"Hah... Mungkin sudah waktunya bagiku untuk pulang"
Sahran merenung cukup lama hingga pajar tiba "Ternyata sudah pajar, Mumpung sekarang masih disini, aku akan berlatih sampai pagi tiba" Ucap sahran.
Sahran mulai berlatih beberapa gerakan ilmu pedang, walaupun dia sudah menguasai ilmu pedang hingga pencapaian ilmu pedang ke enam, Tapi dia masih melatih ilmu pedang dasar untuk terus membangun pondasi yang kuat.
Bukan hanya itu, Dia melatih pengendalian elemental agar lebih stabil, dan tidak lupa melatih jurus Petir bencana hingga pagi tiba.
"Kakak... Aku kira kau kemana, ternyata kamu sedang berlatih disini ya" Terlihat ryukei berlari ke arah sahran dari kejauhan.
"Oh... ternyata kamu ya, apakah kamu sudah merasa lebih baik?" Tanya sahran.
"Hehe...Iya kak, berkat ramuanmu yang sangat hebat, aku sudah lebih baik sekarang, Kapan kita akan pergi, Kak?"
Sahran tersenyum tipis "Rupanya kau sudah pulih,... Tapi sekarang belum saatnya untuk pergi, Ada sesuatu yang harus aku lakukan sekarang, besok barulah kita pergi..."
"Baiklah kak... Tapi apa yang mau kamu lakukan?" Tanya Ryukei.
Sahran berdiri dan memakai bajunya "Nanti kamu akan tahu, Dan juga aku membutuhkan bantuanmu" Ucap sahran
"Baiklah kak... Ayo kita pulang, Bibi Qian sudah memasak sarapan untuk kita"
"Baiklah ayo..." Sahran merangkul Ryukei.
Setelah beberapa hari persaudaraan terjalin di antara mereka, Ryukei tidak pendiam seperti sebelumnya, Kini hubungan mereka semakin dekat layaknya seorang saudara kandung.
__ADS_1
"Bibi Qian, Paman Yan, kami pulang..."