LEGENDA SANG DEWA PERANG

LEGENDA SANG DEWA PERANG
Ch.80_Berjalan dibawah hujan


__ADS_3

Tapi sebelum itu dia harus melakukan sesuatu untuk membalas budi kepada harumi karena telah merawatnya.


Sahran membereskan mayat yang ada didalam kamar itu, membersihkan darah dan potongan tubuh sebelum harumi kembali kekamarnya, lalu memberikan 100 botol ramuan anggrek suci agar dia naik tingkat lebih cepat beserta beberapa ramuan pembeku darah agar dia gunakan dalam keadaan terluka.


Sahran menuliskan rasa terima kasihnya didalam sepucuk kertas, dia berjanji ketika Harumi keluar dari tempat ini dia akan mengunjunginya ke daratan utara dan dia juga meminta maaf karena dia pergi tanpa pamit.


Pipi harumi memerah ketika membaca surat itu, dia memandang keluar jendela dengan senyum terpancar diwajahnya.


Selama 5 hari adalah saat dimana dia merasa bahagia, dia tidak pernah berbicara kepada seseorang bahkan perempuan dengan rentan waktu yang lama, dan dalam 5 hari dia hanya mengobrol dengan Sahran tanpa peduli apa yang terjadi.


Dia merasa sangat nyaman ketika berada di samping sahran, walaupun hanya sesaat, tapi dengan hanya memikirkannya saja dia kembali merasakan kehangatan itu.


Dan yang membuatnya sangat senang yaitu Sahran berjanji akan mengunjunginya ketika keluar dari reruntuhan kuno, jadi sekarang dia bertekad agar secepatnya mencapai immortal tingkat oren.


***


Sahran akhirnya bisa keluar dari reruntuhan kuno, dia teleport tepat ke tengah kota, tapi kota itu benar-benar sangat sepi.


Dia hanya melihat beberapa unggas yang berkeliaran, tanpa ada tanda-tanda manusia hidup didalam kota itu, bahkan dia sampai mengira jika sekarang dia sedang berada didalam kota mati.


Untungnya disana ada pemandian air panas yang terbuka untuk umun, jadi selama 4 bulan akhirnya dia bisa mandi.


"Sial, selama 4 bulan akhirnya aku bisa mandi dengan tenang" Gerutu Sahran.


Sahran berendam di kolam air panas sembari merenung "Aneh, aku tidak bisa mengingat apapun, yang aku ingat hanya aku dan Ryukei terluka dan dirawat oleh sepasang suami istri, lalu tiba-tiba aku ada disini. haih semakin aku fikirkan kepalaku semakin pusing" Ucapnya, memijat kepala karna pusing.


1 Jam berlalu, Sahran mencari toko pakaian, dia memilih pakaian yang warnanya tidak terlalu mencolok, akhirnya dia menemukan baju berwarna merah maroon dengan warna abu-abu dibeberapa bagian, dia tidak mendapatkannya secara gratis, di kerah baju yang dia kenakan terdapat harga <26 koin emas> Tapi Sahran tidak memiliki jenis uang yang digunakan di kota ini, jadi dia hanya memberikan pedang sebagai barter untuk baju ini, setidaknya dia tidak dianggap pencuri.


Setelah dia berkeliling mencari makanan, dia pergi kedalam hutan.


Tidak lama sahran mendengar ada keributan besar ditengah hutan, rupanya ada seekor beruang cakar baja dan harimau mata api yang sedang bertarung. dibelakngnya ada seekor anak harimau mata api yang masih kecil, sudah dipastikan bahwa beruang cakar baja yang mencari masalah.


Si beruang sepertinya memasuki teritorial harimau mata api, juga karna terlalu dekat dengan sarang akhirnya induk harimau menjadi sensitif dan agresif jika ada yang mendekat.


Sudah bisa dipastikan siapa yang akan menang, beruang cakar baja sudah mencapai tingkat perak sementara harimau api hanya tingkat perunggu menengah. beruang cakar baja mempunyai pertahanan yang kuat dan harimau mata api hanya unggul dalam hal kecepatan.

__ADS_1


Keduanya mempunyai kemampuan yang bisa diunggulkan, tetapi sebagai naluri ibu harimau mata api kali ini harus melindungi anaknya jadi dia tidak bisa melarikan diri.


Akhirnya, setelah pertarungan yang sengit induk harimau mata api mati dengan luka yang sangat parah, sementara si beruang masih bisa berdiri tetapi lukanya juga sangat parah yang akhirnya dia juga tersungkur dan mati.


Setelah memastikan beruang sudah mati, Sahran keluar dari persembunyian dan berjalan menuju mayat binatang-binatang buas itu untuk mengambil beberapa bagian yang bisa dimanfaatkan.


Dia mengambil kulit dan cakar serta inti jiwa dari beruang cakar baja, sementara harimau mata api hanya diambil kulit dan inti jiwanya saja, hampir tidak ada yang bisa diambil dari harimau mata api karna tubuhnya yang rusak dan sebagian sangat parah.


Meoww!!! >°<


"Eh!! Aku lupa, masih ada anak harimau mata api disini, biasanya ini bisa dijadikan makanan bernutrisi atau dijual sebagai hewan peliharaan dan harganya sangat mahal, tapi lebih baik aku mengembalikan dia kehabitatnya di alam, namun dia masih kecil dan belum bisa berburu, induknya sudah mati dan tidak ada lagi yang menyusui, hmmm aku fikirin aja deh nanti kalau udah sampai dikota" Ucapnya, mengambil anak harimau mata api, karna benda bernyawa tidak bisa dimasukan kedalam cincin ruang hampa dia meletakannya dipundak.


Sahran bangkit, saat dia mau melanjutkan perjalanan dia melihat tanaman merambat yang sangat familiar disarang harimau api "Wah!! bukannya ini tanaman mujarab tingkat tiga Rumput bunga salju, walaupun masih muda dan belum berbunga tetapi ini masih obat mujarab tingkat tiga yang sangat langka" Ucapnya, sahran mengambil semua rumput itu dan menyisakan sejengkal untuk dibiarkan tumbuh dan berkembang dikemudian hari.


Dia tetap mempertahankan prinsip yang dia dapat dari ayahnya. Kita boleh mengambil dari alam tetapi kita tak boleh merusaknya karna dampaknya akan dirasakan oleh anak cucumu nanti.


Pepatah itulah yang menjadi landasan sahran memlihara alam, Walaupun rumput bunga salju sangat langka dan mahal tetapi jika tanaman itu diambil semua tanpa sisa bukannya itu akan punah.


Sahran melanjutkan perjalanannya, tetapi karna langit sudah mulai gelap dia memutuskan untuk beristirahat dan melanjutkannya besok.


Malam harinya sahran jalani dengan sangat baik, menyalakan api unggun, mendirikan tenda, memasak, dan memberi makan anak harimau mata api. Tanpa ada hambatan dan hal yang tak terduga, suasana sunyi dan tenang sangat terasa nyaman membuat tidur nyenyak semalaman.


Butir-butir air hujan mulai turun dengan derasnya dan baju sahran mulai basah, pagi itu dia mulai kedinginan sedangkan kota masih saja tidak nampak, tidak ada tempat berteduh selain pohon-pohon besar yang setiap dahannya tidak cukup digunakan untuk tempat menghangatkan diri.


Akhirnya hujanpun reda tapi langit masih gelap, Hujan akan masih berlanjut sewaktu-waktu jadi sahran memutuskan untuk mencari tempat berteduh untuk sementara waktu.


Waktu menunjukan sudah tengah hari tapi matahari masih saja tidak terlihat tertutup awan tebal, hujan kembali turun yang membuat sahran kembali mengigil "Sssshhhh!!! Seberapa jauh lagi sih, mereka bilang kota dekat dari sini tapi..."


Sebelum menyelesaikan kalimatnya, sahran melihat sebuah penginapan dipinggiran tebing. Akhirnya sahran bisa beristirahat dan menghangatkan diri.


Sahran mendekati penginapan lalu melihat ada dua orang didepan pintu "Berhenti, kami tidak menerima pengemis disini." Kedua orang itu menghentikan sahran hanya karna penampilannya yang kurang enak dilihat, baju yang compang-camping dan tidak terkihat mempunyai sepeserpun uang.


Tidak berbasa basi sahran melemparkan beberapa koin perak kepada kedua penjaga itu, mereka terlihat terkejut karna entah darimana asalnya koin sebanyak itu muncul dalam sekejap mata.


"Biarkan aku masuk" Ucap sahran menatap kesal.

__ADS_1


"Si–silahkan tuan, maafkan kami, kami hanya bertugas..."


"Baiklah baiklah! aku mengerti" Ucap sahran memotong.


Saat melangkah masuk, didalam penginapan ternyata cukup ramai oleh pedagang dan beberapa pengelana yang juga sedang berteduh.


Kehadiran sahran begitu menarik perhatian yang membuat beberapa orang mulai membicarakannya.


"Kenapa ada pengemis disini?"


"Apakah petugas itu buta, jelas-jelas itu pengemis kenapa mereka bisa masuk"


"Mungkin dia mempunyai sesuatu"


Suasana mulai riuh, seorang pria besar yang merasa terganggu dengan kehadiran sahran mulai mendekat dan menatap kesal "Keluar! kalau kau masih ingin hidup" Ucapnya, menusukan jari telunjuk ke dada sahran.


"Sayang! jangan kasar begitu dia mungkin lapar dan meminta-minta disini. Anak muda ambil uang ini dan beli beberapa makanan lalu pergi dari sini" Ucap seorang wanita, memberikan 25 koin perunggu kepada sahran.


"Aku tidak menginginkan uang, aku ingin berteduh disini dan kau juga tidak ada hak untuk mengusirku" Ucap sahran dengan lugas.


"Apa pedulimu bocah! apa kau sudah bosan hidup" bentak pria besar itu sembari menjambak sahran.


Karna merasa kesal, tanpa basa-basi sahran mengeluarkan pedang dan memotong tangan pria besar itu dalam sekejap mata.


"A–Apa yang terjadi, Ta–Tanganku arggghh!!"


Semua orang yang melihat kejadian itu hampir tidak bisa berkata-kata, Mereka hampir tidak mengetahui apa yang terjadi karna itu sangat tiba-tiba dan cepat, Mereka juga sangat tidak percaya apa yang barusaja terjadi karna sahran tiba-tiba mengeluarkan sebuah pedang yang cukup besar dan panjang, jelas-jelas sebelumnya dia tidak terlihat membawa sesuatu.


"Ka–kau, apa kau tau siapa aku? aku adalah murid dari master Du gu shang, dia pasti akan membunuhmu, tunggu saja" Pria besar itu berlari dan keluar dari penginapan bersama wanita tadi.


Suasana didalam penginapan menjadi sunyi dan canggung, mereka menatap sahran dengan takut.


...****************...


[Jadwal rilis dipindah dari jam 01.00 malam menjadi jam 12.00 siang]

__ADS_1


Jangan lupa dukung author dengan cara like dan vote agar author semangat nulisnya


Sampai jumpa di chapter berikutnya...


__ADS_2