
Pulang kuliah hari ini, aku masih harus belatih dengan Shangyan, jadi tidak bisa pulang bareng FanFan
"FanFan, kau duluan saja yah, aku masih ada janji"
"kau ada janji dengan siapa??" tanya FanFan
"Dengan Shangyan, aku pergi yah bye bye...."
Aku pergi meninggalkan FanFan, dan bergegas menuju ruang latihan.
*/
*Ruang Latihan Musik 🎶*
"Eh Jing, kau juga ada disini ya??"
"Memangnya kenapa, kau takut aku mengganggu kegiatan mu dan Shangyan ya?" canda Jing
Shangyan tertawa mendengar kata-kata Jing, sementara aku merasa malu. Aku rasa Jing membuat suasana jadi canggung.
"Baiklah, aku pergi yah Crystal, aku tidak mau mengganggu kalian bye bye.."
"kau jangan pergi yah? tinggal disini saja temani aku" pintaku pada Jing
Akhirnya Jing meninggalkan aku dan Shangyan berdua, gara-gara ucapan Jing tadi membuat situasi sekarang jadi canggung.
"Eh Crystal, ayo berlatih" ujar Shangyan
Aku dan Shangyan berlatih piano sampai malam, jujur kalau boleh di kata Shangyan adalah orang yang sabar, dia adalah guru yang baik dalam mengajarkan Piano. Bermain piano bukanlah hal mudah, butuh latihan yang tekun dan disiplin yang ketat, dan hasilnya bisa aku lihat dari diri Shangyan.
"Eh Shangyan boleh aku bertanya?"
"Silahkan, apa yang ingin kau tau?"
"Hmm, kenapa kau tidak buka les piano saja? Kau terlihat cukup bagus untuk menjadi tutor piano" ujarku
"Terimakasih atas pujianmu Crystal, tapi aku memang sudah punya kelas piano. Aku mengajar anak-anak Sekolah Dasar. Kalau kau mau tau, besok ikut saja, apa kau ada waktu ?"
Karena hari yang semakin malam, aku akhirnya pulang dan betapa kagetnya aku melihat FanFan berdiri di depan ruang musik. Raut wajahnya kusut seperti pakaian yang tidak disetrika.
"Kenapa kau berdiri disitu, kau seperti hantu saja?" ujarku
FanFan sepertinya sedang menungguku, dia berjalan tanpa menjawab pertanyaanku
"Kau dari mana saja?" ketusnya
"Aku berlatih bermain piano dengan Shangyan? aku kan sudah bilang tadi" kataku
" Ah sudahlah, bibi menyuruhku menjemputmu. Dia khawatir, ayo pulang" ajak FanFan
Akhirnya kami pun pulang. Seoanjang jalan pulang FanFan diam seribu bahasa. FanFan yang biasanya cerewet jadi diam. Apa dia marah padaku? memangnya apa salahku?.
"Eii, FanFan jangan cepat-cepat mengayuh sepedanya. Tunggu aku..."
"Ayo cepat,ini sudah malam" timpal FanFan
Akhirnya kami pun sampai dirumah. Setelah menjemput dan mengantarku pulang kerumah FanFan pun pulang kerumahnya
"FanFan, makasih sudah menjemputku. Wan ān (selamat malam) " teriakku
Tanpa menjawabku dia pergi menunutun sepedanya memasuki halaman depan rumahnya. Dia bahkan tidak menoleh padaku.
*/
Seperti biasa, ibuku mulai mengomel saat melihatku pulang terlambat tanpa kabar.
"Kau seharusnya menelpon mama atau papa kalau kau akan pulang terlambat, apa gunanya ponsel yang kau pegang?" omel ibuku
"Makanlah, kau pasti lapar kan?" Ujar ayahku
__ADS_1
Aku mengambil makanan di meja makan dan membawanya ke ruang keluarga untuk bergabung dengan ayah dan ibuku yang sedang menonton Happy Camp (variety show Cina).
"Pa Ma, Dery gē kemana? kenapa sunyi?" tanyaku
"Kakakmu sudah kembali ke Beijing tadi siang bersama YangYang, katanya mereka ada urusan mendadak" ujar ayahku
"Dery gē benar-benar jahat, kenapa dia tidak pamit padaku? FanFan juga kenapa tidak bilang?" ketusku
Ibu yang mendengar omelanku kemudian memukul kepalaku..
"Kakakmu sudah kirim pesan lewat WeChat, bagaimana mungkin kau bisa tau? ponselmu saja tidak aktif" omel ibuku lagi
♡♡♡♡♡
Keesokan Harinya.
Seperti biasa, saat pagi hari FanFan datang menjemputku. Mungkin marahnya sudah reda. Dengan memakai setelan training dia menungguku dengan wajah yang masih ditekuk.
"Pagi..." kataku
"Pagi" jawabnya
Dari jawabannya itu sepertinya dia masih marah. Memang apa yang sudah aku lakukan padanya. Dia bahkan tidak mau menyampaikan keluh kesahnya padaku. Aku dan FanFan pergi ke kampus tanpa ada percakapan sedikit pun. Rasanya aneh sekali.
*/
*Di Lab*
Ponselku berdering saat aku sedang mengerjakan laporan penelitian di Lab, aku melihat layar ponselku dan ternyata itu telpon dari Shangyan
"Halo? eh Shangyan, kenapa kau menelponku ?" tanyaku
"iya jadi kok, sebentar lagi aku keluar" kataku
Aku hampir lupa, hari ini aku berencana pergi dengan Shangyan ke tempatnya mengajar piano.
"FanFan, kau yang kumpul laporan penelitian junior yah ?soalnya aku mau pergi, tolong ya?"pintaku
"Eh kau sibuk apa? lagian kau kan akan pergi menemui Profesor Jiang, sekalian aja yah? yah?" pintaku lagi
"Aku batal menemuinya" balasnya lagi
"Dasar, kau betul-betul ya? sebenarnya kau kenapa sih? dari kemarin kau bersikap dingin padaku, memang apa salahku?hah? Kau benar-benar sulit dihadapi" ketusku
Aku benar-benar marah pada FanFan, aku tidak tau kenapa dia bersikap begitu padaku. Dia juga tidak mau mengatakannya. Setelah bertengkar dengan FanFan di lab, aku pun pergi ke ruangan Profesor Jiang ntuk mengumpulkan laporan. Setelah itu, aku pergi dengan Shangyan.
*/
*Tempat Kursus Piano 🎹*
"Wah, ada banyak sekali anak-anak, mereka lucu sekali" ujarku
Ternyata Shangyan mengajar anak-anak kecil, kelasnya tidak terlalu besar tapi ramai. Biasanya hanya orang sabar yang mau mengajar anak-anak, dan biasanya itu perempuan.
Sepertinya Shangyan adalah laki-laki penyabar, tidak seperti FanFan yang suka ngambek tidak jelas. Ketika bermain dengan salah satu anak, anak itu bertanya padaku..
(Jìejìe \= panggilan untuk kakak perempuan, gēge\= panggilan untuk kakak laki-laki)
"Jìejie, apakah kau pacar Shangyan gēge?" Tanya bocah kecil bernama Shen Yue
"ah aku bukan pacarnya" jawabku
*/
Aku memutuskan pergi keluar untuk membelikan anak-anak es krim. Belajar seharian pasti membuat mereka lelah.
Tanpa sengaja aku melihat FanFan. Tinggi badannya yang seperti lampu jalan membuatku lekas mengenalinya
"FanFan?"
__ADS_1
FanFan terlihat kebingungan saat aku panggil. Aku pun menghampirinya
"Eh, apa yang kau lakukan di sini? Bukankah kau bilang kau sibuk atau jangan-jangan kau mengikutiku ya?"
"Mana mungkin? Untuk apa aku mengikutimu? aku..aku..aku hanya kebetulan lewat dan membeli minuman ini." ujar FanFan
"Hah? kau memangnya mau kemana? bukankah jalan pulang akan sangat jauh kalau lewat sini?" tanyaku
"Hah?? itu terserah aku dong mau lewat mana.Lagian aku suka kalau jauh" ujarnya
"Hah? kau bercanda ya? aa sudahlah aku masuk dulu.."
"Eh boleh nggak aku ikut?" Tanya FanFan
Aku kebingungan mengahadapi FanFan, tapi akhirnya aku memperbolehkan dia ikut denganku. Lagian aku pikir, ini adalah awal kami baikan. Lagian di dalam agak canggung kalau hanya ada aku dan Shangyan, kalau ada FanFan kan nggak. Aku pun mengiyakan permintaannya dan menyuruhnya masuk.
*/
Aku kembali dan membagikan es krim yang aku beli pada anak-anak
“FanFan kau jangan diam saja, sini bantu aku" ujarku
Shangyan tiba-tiba datang dan bergabung dengan kami
“Eh, bukankah kau FanFan? kita bertemu lagi..” Sapa Shangyan
“Ah iya…” jawab FanFan
Hari pun mulai senja, aku dan FanFan pun berpamitan kepada Shangyan untuk pulang. Setelah berpamitan, aku pun menuntun sepedaku dan berjalan bersama FanFan.
*/
Aku melihat FanFan, dan merasakan dia masih marah. Sedari tadi aku melihatnya cemberut. Bagaimana aku bisa tau masalahnya jika tidak bertanya, jadi ku putuskan untuk bertanya padanya.
“Eh tunggu aku” ujarku
“Eh kau kenapa sih? dari tadi marah padaku? eh nggak, kau dari tadi malam bersikap dingin padaku memang aku salah apa?” lugasku pada FanFan
“Kau pikir saja sendiri" jawabnya
Sikap FanFan yang seperti ini aku tidak suka,dia benar-benar kekanak-kanakan
“Eh, kau pikir aku cenayang (paranormal), aku tidak bisa tau apa yang kau pikirkan kalau kau tak memberitahuku, kau benar-benar yah"
Aku tidak bisa menahan emosi, dan berteriak pada FanFan.Lalu dia melepaskan sepeda yang di tuntunnya, dan berjalan ke arahku..
“Aku tidak tau, aku hanya kesal melihatmu bersama Shangyan, aku tidak suka kau bersamanya. Kau sahabatku kenapa kau bermain dengannya?" ujar FanFan sambil menatapku
“Hah ?ee..kau kan bukan anak kecil lagi, lagian aku kan hanya latihan piano bersamanya. Kau benar-benar kekanak-kanakan" ujarku
“Mulai sekarang kalau mau pergi bilang. Jangan buat aku menunggumu, kau mengerti?" jawab FanFan
“Apa maksudmu sih? memang kau ayahku..” ujarku
“Kau masih tidak mengerti yah? dasar gadis bodoh" ujar FanFan sambil mengelus kepalaku
Aku tidak mengerti dengan sikap FanFan ini. Dia berbelit-belit terus dari tadi. Seketika sesuatu terpikir di benakku.
“Apa dia cemburu pada Shangyan?" ujarku dalam hati
"Eh ayo kita pulang, apa kau mau berdiri disana semalaman? ” ajak FanFan
Kami pun pulang, berjalan menuntun sepeda di bawah langit Senja Sungai HuangPu. Sementara aku masih bertanya-tanya apa maksud ucapan FanFan tadi.
♡♡♡♡♡
Jangan lupa LIKE dan RATE star 5 yah ⭐⭐⭐⭐⭐
Saran juga yah 😉😂
__ADS_1
XÌEXÌE 😍
Mohon Dukungannya...