Love Me Now

Love Me Now
Sweet Pain 🩹


__ADS_3

Keesokan harinya...


"Ah…"


"Oh..bunyi apa itu?"


Aku mendengar bunyi seperti orang terjatuh. Aku teringat FanFan tidur di kamarku,jangan-jangan aku menendangnya. Aku membuka mataku dan melihat FanFan sudah ada di bawah dengan wajahnya yang masih bengkak karena baru bangun tidur.



"Lu Han kau baik-baik saja?"


"Apa kau yakin tanganmu sakit? kau bahkan menendangku dan lihatlah bantal pembatas itu, aku bahkan tidak melewatinya. Tapi kau malah menendangku. Apa kau pegulat wanita?" FanFan terlihat kesal karena ku tendang.



"Aku bahkan tidak perlu takut, karena kau lebih agresif dariku" ledek FanFan .


"...."


FanFan pun bangun dan keluar dari kamarku.


*/


FanFan pergi keluar apartemen untuk membeli susu kedelai dan cakhwe kesukaanku. Sementara aku pergi ke kamar Dery gē untuk melihat apa dia sudah pulang atau belum, ternyata dia benar-benar bermalam di rumah sakit.


Selang beberapa saat FanFan kembali setelah membeli sarapan. Hari ini dia berbeda sekali, dia bahkan membantuku mengerjakan pekerjaan rumah. Dia bersih-bersih apartemen sampai mencuci pakaian kotor.


"Pakaian di mesin cuci sudah kau lihat?" tanyaku.


"Oh..aku lihat dulu" FanFan bergegas melihat cucian ke kamar mandi dengan mulutnya yang masih penuh dengan makanan.


Setelah selesai, aku bersiap-siap pergi ke rumah sakit. Sebenarnya dokter Yu Tang sudah menyuruhku istirahat, tapi aku tidak mau. Aku hanya akan merasa bosan di rumah. Tentu saja FanFan juga mengomeliku karena aku akan pergi ke rumah sakit, tapi akhirnya dia mengizinkanku.


"Aku akan mengganti perbanmu saat pulang nanti, jangan terlalu banyak bergerak, jangan lakukan apa-apa,blablabla…" kata FanFan.


"…"


Aku yakin matahari akan segera terbenam mendengar celotehan FanFan ini. Dia tidak berhenti bicara, dia melarangku ini dan itu.


*/


*Beijing United Family Hospital*


"bukankah aku menyuruhmu istirahat di rumah?" Ujar dokter Yu Tang.


"Aku baik-baik saja dokter" balasku .


Hexin jiejie dengan tergesa-gesa datang menghampiriku, dia sangat khawatir padaku. Dia bahkan berlari-lari saat akan menemuiku. Senang rasanya memiliki orang yang perhatian, dia sudah seperti kakak perempuanku saja.


"Kau baik-baik saja. Coba ku lihat lenganmu?" ujarnya dengan nafas yang masih ngos-ngosan.


"Aku baik-baik saja"


Hexin jiejie bertanya padaku kenapa aku menyelamatkan dokter Zhang yang sudah jahat padaku. Aku menjelaskan alasanku kenapa aku menyelamatkan dokter Zhang. Aku hanya mengikuti kata hatiku, entah kenapa saat itu hatiku tergerak dan kakiku melangkah maju untuk menggantikan posisinya.


Aku menolong seseorang yang bahkan jahat padaku. Aku memikirkan kedepannya, bagaimana jika suatu saat ada pasien yang ternyata dia musuhku, aku tidak mungkin mengabaikannya. Seorang pasien bisa memilih dokter mereka, tapi dokter tidak bisa memilih pasien.


"Kau memang gadis baik. Kalau begitu nanti malam kau mau tidak apartemenku? aku akan memasakkan sesuatu untukmu" tanya Hexin Jiejie.


Sayang sekali aku harus menolak undangan kakak ipar FanFan itu karena aku sudah ada janji dengan FanFan malam ini.


*/

__ADS_1


Aku pergi ke kantin untuk membeli minuman, di depan mesin minuman aku melihat dokter Zhang sedang membeli minuman juga.


"Halo dokter Zhang?" sapaku.


"Kau mau membeli minuman apa?" tanya dokter Zhang.


"Aku mau jus jeruk" balasku.


Dokter Zhang memasukkan koinnya ke dalam mesin, dan membelikanku jus jeruk, sejak kejadian kemarin sikapnya benar-benar berubah padaku. Dia tetap dingin, tapi setidaknya dia tidak memperlakukanku seenaknya lagi. Aku rasa dia hanya ingin basa basi padaku karena merasa tidak enak atas kejadian kemarin.


"Dia menderita PTSD" ujar dokter Zhang.


(PTSD ; Post-traumatic stress disorder atau gangguan stres pascatrauma adalah gangguan mental yang muncul setelah seseorang mengalami atau menyaksikan peristiwa yang tidak menyenangkan.)


Dokter Zhang tiba-tiba menceritakan kejadian yang di alami oleh remaja yang kemarin nyaris mencelakainya itu. Seorang remaja yang depresi karena kecelakaan yang di alaminya dan masih meninggalkan trauma.


"Dia harus menjalani psikoterapi" timpal dokter Zhang.


FanFan datang menghampiri aku yang sedang mengobrol dengan dokter Zhang. Seketika itu dokter Zhang pergi meninggalkanku.


"Kau jadi dekat dengannya?" tanya FanFan dengan tatapan sinisnya.


"Kami hanya mengobrol soal pasien"


FanFan datang menghampiriku hanya karena ingin mengingatkanku soal janji kami nanti malam. Aku yang pelupa ini memang butuh FanFan sebagai alarm notifikasiku. FanFan juga bilang kalau dia akan memberikanku kejutan, aku jadi penasaran dengan kejutannya.


*/


Sejak menjalani stase minor, kami agak longgar. Di stase minor ini kami tidak sesibuk saat menjalani stase mayor. Apalagi stase bedah yang menguras tenaga dan pikiran itu.


Malam harinya, setelah selesai dengan pekerjaan rumah sakit, aku menunggu FanFan di lobi Rumah Sakit. Sesaat kemudian, aku melihat FanFan keluar dari lift dan dengan tergesa-gesa dia menghampiriku.


"Ayo" ajak FanFan.



"Ayo ikut saja"


FanFan membawaku ke sebuah cafe. Awalnya aku hanya mengira dia hanya ingin makan malam bersamaku, tapi sepertinya bukan itu maksudnya. Aku sekarang paham kenapa dia membawaku kesini. Di cafe itu aku melihat sosok perempuan yang sangat familiar, berambut panjang dan berdagu tajam. Dengan matanya yang membelalak dia melambaikan tangan padaku.


"Xiao Xi" teriak perempuan itu.


Dia Jing, teman SMA ku, sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya. Tidak aku sangka aku akan bertemu dengannya di Beijing. Jadi ini kejutan yang di maksud FanFan. Belum sempat aku duduk, Jing sudah bertanya-tanya padaku. Melihat gips yang terpasang di lenganku, membuatnya semakin kepo.



"Apa yang terjadi denganmu? Kau sampai terluka begini? apa kau langanmu patah? Kenapa bisa pakai gips begini? Apa kau memotong lenganmu sendiri? Aku tau seorang dokter itu pandai menggunakan pisau..tapi..kau" ujar Jing panjang lebar.


"Xiao Jing, berhentilah mengomel. Kau masih saja cerewet.." balasku.


Jing menceritakan bagaimana dia bisa ke Beijing dan bertemu FanFan. Kata Jing dia sengaja tidak memberitahuku karena ingin memberikan kejutan untukku. Dia datang ke Beijing untuk pertunjukan orchestra, dia bahkan memberikan aku dan FanFan tiket.


"Aku ke Beijing bersama Shangyan, katanya dia bertemu denganmu?" Ujar Jing .



FanFan terbelalak dan melihatku dengan tatapan sinis begitu mendengar ucapan Jing itu. Aku memang belum sempat menceritakan pada FanFan kalau aku bertemu Shangyan di Rumah Sakit .


"Ah, tempo hari dia ke rumah sakit dan katanya cidera. Sebihnya aku tidak tau, apa dia baik-baik saja?" tanyaku pada Jing.


"Dia sepertinya tidak baik-baik saja, dia terlalu keras berlatih hingga tangannya cidera" balas Jing.


"Aku mengenal seorang ahli ortopedi di Rumah Sakit, dia pergi ke Jepang tempo lalu, dan kemungkinan Shangyan tidak bertemu dengannya. Mungkin dia bisa membantu" ujar FanFan.

__ADS_1


Aku tidak menyangka dia akan membantu Shangyan, seingatku dulu dia pernah cemburu pada Shangyan. Dan gara-gara itu dia akhirnya mengakui cintanya padaku.


Setelah cukup lama mengobrol, Jing yang sibuk harus segera kembali ke Hotel. Dia pasti kelelahan mempersiapkan pertunjukannya, begitu pula aku dan FanFan yang bergegas pulang ke apartemen.


*/


*Apartemen*


"gē, kau sudah pulang? apa kau sudah makan?" Tanyaku pada kakakku yang sedang asyik bermain game.



"Oh aku sudah makan, bagaimana tanganmu?" tanya kakakku dengan raut muka yang sangat serius menatap layar komputer.


"Sudah tidak apa-apa"


"gē, kau sudah sampai level berapa?" tanya FanFan yang langsung menghampiri kakakku.


Tidak kakak, tidak pacar, mereka sama saja. Aku bisa melihat mereka punya banyak kesamaan. Alih-alih adik YangYang gēge, FanFan lebih cocok menjadi adik Dery gē. Mereka mirip seperti copy-paste saja, mereka sama-sama narsis, mereka juga menggilai game CTF. Mereka akan lupa waktu ketika sudah bermain game.


(Capture The Flag atau biasa disingkat CTF adalah sebuah permainan yang dimainkan oleh para pecinta teknologi infomasi. CTF merupakan sebuah kompetisi dibidang keamanan informasi)


Setelah berganti baju FanFan datang ke kamarku, dia membawa kotak putih berisi obat dan perban, tampaknya dia akan mengganti perbanku, padahal aku sangat malas sekali untuk melakukan apa-apa.


"Kau mau tanganmu ini infeksi? Lihatlah, kau harus membersihkan lukamu" ujar FanFan yang sedang membuka perban di tanganku dengan seribu omelannya.


Dia kembali mengomel setelah melihat tanganku yang bengkak, mungkin karena tadi di rumah sakit aku terlalu memaksakan untuk bekerja.


"Ini hanya bengkak biasa, nanti juga sembuh" kataku.


Omelan FanFan yang panjang kali lebar itu membuatku mengantuk. Dia kadang pendiam, tapi sekali mengomel dia bahkan lebih parah dari ibuku. Tangannya mengoleskan antiseptik sementara mulutnya terus mengoceh.


FanFan keluar setelah mengganti perbanku. Akhirnya aku bisa tidur tanpa harus mendengar dia mendongeng lagi. 5 menit kemudian dia kembali masuk ke kamarku dengan alat kemah yang ia gendong. Dia membawa matras lantai dan juga beberapa bantal dari kamarnya .


"Kau mau apa?" Tanyaku.


"Aku akan tidur di sini, dan ini.." FanFan meletakkan tanganku yang sakit di atas bantal yang ia bawa, agar tidak tambah bengkak.


Dia tidur dibawah dan menemaniku sepanjang malam. Dalam kegelapan, sinar lampu dari luar membuat siluet wajah FanFan terlihat seperti maha karya. Siluet hidungnya yang mancung dan bulu matanya yang lentik tampak sangat jelas. FanFan yang biasanya tidak bisa diam tampak tenang saat sudah tidur. Bahkan caranya tidur sangat anggun, tidak seperti aku yang tidur seperti kuda.


"Apa ini definisi Sleeping Beauty yang sebenarnya?" ujarku dalam hati.


"Tidurlah, apa kau akan membuatku merasa tidak nyaman sepanjang malam? Kau pasti sedang berpikir yang tidak-tidak" Ujar FanFan .


"…"


Ternyata dia belum tidur. Beruntung aku tidak memujinya tadi. Kalau tidak, dia pasti sudah beranjak dari matrasnya.


*/


Pukul 02.00 malam


Aku terbangun karena tanganku yang terasa nyeri dan keram. Aku berusaha mengambil obatku tanpa membangunkan FanFan. Aku bangun dari tempat tidur dan keluar mengambil air. Di dapur, di ruang keluarga, aku tidak bisa menemukan obatku.


"Pyarrr….."


Aku berusaha mencari obatku, saat mencari di laci meja dapur, aku tidak sengaja menjatuhkan gelas yang aku pegang karena tanganku yang keram. Suara gelas pecah itu membuat kakakku dan FanFan terbangun. Di tengah malam aku malah membuat dua pemuda yang biasanya susah di bangunkan itu menjadi begitu khawatir. Dengan mata yang terbelalak mereka dengan cekatan menolongku.


♡♡♡♡♡


Jangan lupa LIKE 👍 Dan kasih star 5 yah ⭐⭐⭐⭐⭐


Saran dan Kritik juga 😉

__ADS_1


XÌEXÌE 😍 谢谢


Mohon Dukungannya.


__ADS_2