Love Me Now

Love Me Now
Pregnant?


__ADS_3

💮Sebelum baca, jangan lupa Like dan vote dulu yah, XieXie💮


*/


Kami benar-benar sibuk sepulang dari New Zealand, bulan madu bodoh yang kami rencanakan itu gagal total. Penyebabnya beragam, mulai dari cuaca yang menyedihkan sampai fobia FanFan yang semakin mengerikan. Kami hanya menghabiskan sebagian waktu kami di hotel.


Dari pagi hingga malam FanFan selalu berada di rumah sakit. Kami bekerja dirumah sakit yang sama, tapi aku tidak pernah melihatnya. Setiap kali aku bertanya pada temannya maka hanya ada satu jawaban pasti yang keluar dari mulut teman FanFan itu 'Profesor Liu sedang ada operasi jantung'.


Akhir-akhir ini kami juga jarang pulang bersama, entah itu aku yang duluan ataukah FanFan yang duluan. Tapi ketika salah satu dari kami sudah sampai dirumah, maka salah satu dari kami juga sudah tidur. Xiao Bai juga merasa terabaikan, sepulang sekolah dia akan pulang ke rumah orangtuaku lalu kembali ke apartemenku malamnya.


Tanpa sengaja aku berpapasan dengan FanFan, dia berjalan sambil menelpon. Baju scrub hijaunya masih berbau disentifektan, dia pasti baru keluar dari ruang operasi. Aku segera menegurnya, "Eh, Profesor Liu, sudah lama sekali aku tidak melihatmu"



FanFan segera mematikan telponnya dan berjalan mendekat ke arahku, dia menepuk-nepuk pundaknya sampai terdengar bunyi gedebuk,"Oh, aku lelah sekali. Hari ini kita pulang bersama yah. Aku akan menunggumu di tempat parkir."


"Oh." kataku.


Aku langsung setuju dengannya, kebetulan hari ini aku sudah free dan tidak ada tugas lagi. Jadi kami bisa pulang bersama.


Di basemen aku sudah menunggu FanFan, aku berdiri diantara mobil-mobil yang terparkir sambil bermain ponsel. Seseorang melintas didepanku, dia kembali mundur dan melirikku.


Gong Jun kembali menyapa, "Dokter, kau mau pulang?"



Aku dengan acuh tak acuh menjawab,"Apa aku terlihat akan pergi ke ruang operasi?"


Gong Jun menyeringai bahagia mendengar jawaban jutekku itu, tapi dia masih belum berlalu. Gong Jun masih diam, sekilas aku melihat dia tersenyum sambil menyilangkan kedua tangannya.


Aku,"Xiao Pengyou, aku sedang menunggu suamiku. Kau pulang saja sana, jangan berbuat gara-gara."


(Xiao Pengyou : Teman kecil)



Gong Jun,"Cari gara-gara apa? Disini redup dan tidak aman, biarkan aku menemani dokter sampai Profesor Liu datang."


Suara datang dari belakang kami dan menjawab ucapan Gong Jun, "Aku sudah datang, kau bisa pulang."


Nada bicara FanFan tidaklah hangat dan seramah itu, dengan wajah yang hampir muram FanFan segera mengusir Gong Jun dengan cara yang halus.


Gong Ju tersenyum,"Ah, Wakil Direktur, Profesor Liu FanFan, kau tidak seharusnya membiarkan istri cantikmu ini berdiri sendirian disini. Banyak hewan buas disini."


Ucapan macam apa yang keluar dari bocah ingusan ini? Telinga FanFan hampir mengeluarkan asap karena ucapan bocah tengik ini, tapi aku dengan sigap merangkul lengannya dan menariknya ke dalam mobil.


Di dalam mobil ada hawa yang mencekam, sepertinya roh FanFan akan segera meninggalkan tubuhnya. Matanya melotot seperti akan keluar, dan sekarang suami tampanku ini mirip dengan iblis yang menakutkan.


"Jangan marah, dia hanya bercanda. Gong Jun masih anak-anak." kataku dengan nada lembut.


FanFan menjawab ucapanku dengan nada sinis,"Dia memang anak-anak. Dia calon rubah kecil yang licik."


Aku kembali diam dan memilih tidak menjawabnya lagi. Sampai akhirnya kami sampai dirumah orangtuaku. Dengan emosi yang mulai mereda FanFan berjalan ke arah rumahku.


Dengan akting sempurna, FanFan menyembunyikan kecemburuannya itu dengan poker facenya yang nyaris sempurna.


Ibuku segera menjilat FanFan, dia menarik FanFan masuk ke dalam rumah dan membiarkanku yang masih berdiri, "Anakku kalian sudah datang. Ayo masuk, mama sudah masak untuk kalian."

__ADS_1


Kejadian seperti ini sering terjadi, tapi dalam mode yang berkebalikan. Saat kami ke rumah orangtua FanFan, maka orangtua FanFan lah yang akan menyanjungku seperti seorang putri, tapi kali ini perhatian itu menjadi milik FanFan.


Xiao Bai sudah meraung-raung karena kelaparan, dia sudah terlihat mengambil makanan. Tapi ibuku dengan gesitnya menghentikan sumpit Xiao Bao, "Xiao Bai, kau harus tau tata krama saat di meja makan. Orangtua harus makan terlebih dahulu, baru anak-anak."


Apa yang Xiao Bai rasakan itu juga pernah aku dan Dery ge rasakan. Aku dan ayah Xiao Bai itu selalu diceramahi sebelum kami sempat melahap sesuatu saat berada di meja makan.


Dalam sekejap mangkuk FanFan yang tadinya hanya berisi nasi sekarang telah berubah menjadi menara yang tinggi. Mangkuk nasi berwarna putih yang berada didepan itu kini penuh dengan irisan daging ayam, daging bebek dan daging ikan. Itu bukan karena FanFan yang tamak atau sedang kelaparan, tapi itu adalah pelayanan khusus Nyonya Wong untuk anak menantunya yang sangat ia puja.


Tidak sampai disitu, dengan teganya ibuku mengambil paha ayam yang baru saja akan aku lahap dan menaruhnya di atas menara makanan FanFan.


Aku mendengus,"Ma…"


Ibuku menatapku dengan tatapan ibu tiri, "Suamimu adalah raja, kau harus melayaninya terlebih dahulu. Jangan makan kalau dia belum makan."


Aku,".…"


FanFan tersenyum puas saat mendengar ucapan ibuku itu, ayahku terkekeh tanpa suara, sementara Xiao Bai sibuk dengan makanannya.



Tapi sesuatu tiba-tiba terjadi padaku, ibuku membawa buah mangga ke ruang tengah untuk diberikan pada FanFan dan arahku yang sedang mengobrol. Mangga sendiri adalah buah yang paling aku sukai, tapi entah kenapa setelah satu gigitan aku langsung muntah-muntah.


Aku langsung berlari menuju wastafel yang ada di dapur dan memuntahkan semua makanan yang sudah aku makan tadi. Ada berbagai macam reaksi dari orang-orang, FanFan tampak cemas, Xiao Bai diam, ayahku panik, sementara ibuku gembira. Reaksi yang tidak biasa ditunjukkan oleh ibuku.


FanFan hampir menangis "Kau tidak apa-apa? Apa yang sudah kau makan seharian ini?"


Aku mengelap mulutku dengan tissue dan meminum air yang dibawakan oleh FanFan,"Aku tidak tau, kau tau sendiri kalau aku tidak alergi mangga. Tapi entah kenapa aku merasa mual ketika memakannya."


Ibuku tampak santai, dia nyaris tertawa, "Apa kalian benar-benar dokter? Sekalipun kalian bukan seorang dokter kandungan, kalian pasti tau apa yang sedang terjadi."


Dokter kandungan? Apa aku hamil? Tapi ini baru beberapa hari setelah kami kembali dari bulan madu. Aku dan FanFan saling menatap, tentu saja kami mengharapkan sesuatu yang tersirat dalam ucapan ibuku itu, tapi apakah mungkin?


"Ma.." kataku.


Ibuku sedikit antusias, "Ini milik Saozhi mu, mama ingat sebelum dia hamil Xiao Nai, dia membeli beberapa alat ini."


Dengan perasaan berdebar aku menguji ucapan ibuku sendiri. Perasaanku bercampur aduk, ini sama ketika aku akan melihat pengumuman kelolosan lomba. Ada rasa senang yang tak bisa tergambarkan, ada juga rasa takut jika hasilnya nanti negatif.


"Bagaimana?" Ibuku segera bertanya.


FanFan, ayah, dan Xiao Bai juga sedang menatapku penuh harap. Apalagi FanFan, di wajahnya jelas terlulis "Positifkan?". Tapi aku segera memberitahu mereka dengan menggeleng-gelengkan kepala.


"Negatif yah?" Ibuku sedikit kecewa.


Dengan jeda singkat ibu kembali melanjutkan,"Tidak apa-apa, kalian masih muda. Masih banyak kesempatan."


Ayahku,"Itu benar putriku."


FanFan bangkit dan meraih tanganku, menggenggamnya dengan erat. Bukan maksudnya untuk menghiburku, tapi malah mengomeliku, "Nyonya, berapa kali kau minum kopi hari ini?"


Aku berdecak,"Ah, itu benar."


FanFan,"Aku tadinya memang berharap, tapi setelah dipikir-pikir kemungkinannya kecil. Menurut medis…."


Aku segera memotongnya,"Iya,iya, aku tau ini masih terlalu awal. Aku salah karena meminum banyak kopi tadi dan membiarkan kalian semua menaruh harap."


Ayah,"….."

__ADS_1


Ibu,"….."


Xiao Bai, "….."


Aku ingat tadi pagi aku minum secangkir kopi, di rumah sakit aku juga meminum ice coffee pemberian Gong Jun, dan sore harinya aku minum ice americano bersama Profesor Su. Kadar kafein dan asam klorogenik yang masuk ke dalam lambungku merangsang naiknya asam lambung, dan ketika aku memakan mangga itu akan membuat ketiganya berkontraksi, akibatnya aku muntah-muntah.


FanFan segera melanjutkan omelannya,"Kau sedang minum kopi atau sedang minum obat? Kenapa sampai 3 kali?"


Aku,"Itu karena semuanya gratis."


Ibuku dan FanFan serentak berkata,"Dasar Ceroboh."


*/


Sepulang dari apartemen FanFan langsung merawatku, memberiku obat dan memastikan aku sudah tidak muntah lagi.


Aku meraih tangan FanFan, "Maafkan aku, aku menyesal…"


FanFan, "Jangan melakukan sesuatu yang akan kau sesali. Dasar gadis bodoh."


Pintu kamar berderit, secara perlahan-lahan pintu kamar kami terbuka. Seorang bocah kecil datang dan berdiri memandangi kami. Jam sudah menunjukkan pukul 10 tapi Xiao Bai masih berkeliaran denga piyamanya.


"Kau belum tidur?" Kataku.



Wajah Xiao Bai sepucat kertas, matanya hampir mengeluarkan air mata,"Aku takut bibi…"



Aku segera menghibur bocah 6 tahun itu, "Jangan takut, bibi tidak apa-apa. Lihatlah paman FanFan sudah merawat bibimu ini. Tenang, bibi tidak akan mati semudah itu."


Wajah Xiao Bai berubah, dia heran dengan apa yang aku katakan. Seketika dia menjawab,"Bibi, bukan itu. Aku bukannya takut kalau bibi akan mati karena muntah-muntah tadi. Itu karena tadi aku melihat seseorang memotong tubuh manusia di laptop paman FanFan."


Aku,"….."



FanFan terkekeh, tawanya semakin kencang, dia hampir gila karena tertawa,"Xiao Bai kau lucu sekali"


Karena tidak sengaja melihat video pembedahan saat operasi Xiao Bai menjadi takut untuk tidur sendirian. Alhasil dia tidur bersama kami, beruntung tempat tidur yang dibeli FanFan ini sangat besar. Dengan Xiao Bai di tengah, FanFan sepertinya tampak tak biasa.


"Kenapa?" Suaraku pelan.


"Hmm, tidak ada. Hanya saja biasanya pinggang yang aku peluk itu gemuk dan berisi. Tapi pinggang ini sangat kecil" FanFan berbisik.


Aku,"Tidur atau aku akan menyuruhmu tidur diluar."


FanFan,"….."


♡♡♡♡♡


Jangan lupa LIKE 👍 Dan VOTE yah


Saran dan Kritik juga 😉


XÌEXÌE 😍 谢谢

__ADS_1


Mohon Dukungannya.


SEHAT SELALU READERS 🐰🦁🥰


__ADS_2