Love Me Now

Love Me Now
Pre-Wedding


__ADS_3

💮Sebelum baca, jangan lupa Like dan vote dulu yah, XieXie💮


*/


Hari kemarin telah berlalu, hari ini adalah hari dimana aku dan FanFan mempersiapkan pernikahan kami, pesta pernikahan lebih tepatnya. Pernikahan kami sudah terdaftar secara hukum, tapi pemberkatan dan acara pernikahan kami belum pernah dilaksanakan.


Perihal pasien, aku sudah melonggarkan jadwalku khusus pekan ini dan pekan depan. Aku dan FanFan membagi waktu antara saat bekerja dan saat mengurus urusan pribadi. Sepulang dari rumah sakit kami pergi ke sebuah butik yang memang khusus menjual pakaian pernikahan. Mulai dari tuxedo yang mewah hingga wedding dress yang sangat cantik dan elagan.


Mataku berbinar-binar saat melihat semua gaun putih yang tergantung didepanku ini. Aku masih ingat dulu, ketika kami masih di Beijing FanFan pernah membawaku ke sebuah mall. Di mall itu FanFan berkata 'Aku mau kau memakai itu, dan kita akan berjalan berdiri di altar bersama'.


Ingatanku seputar FanFan masihlah sangat kuat, momen manis kebersamaan kami sangatlah pekat di kepalaku. Sementara momen buruk dan menyedihkan gampang sekali sirna.


"Nona, kau menginginkan gaun seperti apa?" Tanya pelayan butik itu.


Aku terdiam, aku bingung harus memilih wedding dress yang mana. Di mataku semuanya cantik dan mewah, tapi di badanku mereka belum tentu bagus dan cocok. Apalagi dengan tinggiku yang sangat merugikan ini, jadi aku menyuruh FanFan memilihkannya untukku.


"Hmm kalau begitu, ini dan ini." katanya dengan santai.


Aku terperanga,"Eh, kenapa kau memilih 2?"


FanFan,"kalau aku hanya memilih 1, aku tidak akan bisa tau perbedaannya. Aku tidak akan tau yang mana terbaik untukmu dan mana yang tidak."


Benar juga FanFan ini, sungguh cerdas. Jadi ku putuskan untuk mencoba kedua gaun pengantin ini. Gaun pertama adalah gaun yang cukup mewah, belahan dadanya cukup lebar sampai-sampai tulang leherku terekspos. Aku sungguh terlihat kurus saat memakainya.


"Kau terlihat cantik nona, keluarlah. Biarkan calon suamimu melihatnya." kata pelayan butik itu.


Tirai terbuka, FanFan sudah menungguku dengan setelan jas putih yang sudah menempel di tubuhnya. Alih-alih memperhatikan reaksi FanFan, aku malah memperhatikan wajahnya. Kenapa dia sangat tampan? Suamiku benar-benar tampan.



Keteledoranku sungguh membuatku malu. Dengan mata yang masih terkagum-kagum saat memandangi FanFan, aku tidak sadar kalau ada tangga kecil didepanku. Dengan sembrono aku menginjak gaun panjang itu hingga tak sengaja membuat tubuh mungilku ini ambruk.


Nice Catch, FanFan dengan sigap meraihku seperti sedang menangkap mangga yang terjatuh dari pohon. Beruntung pinggangku diraihnya kalau tidak, rencana pernikahan ini akan batal total.


"Kau mau masuk rumah sakit yah?" FanFan sedikit jengkel.


FanFan kemudian membantu berdiri. Sementara aku masih menyeringai padanya.


FanFan berbangga diri,"Hah? Apa kau tidak puas melihatku semalaman sampai-sampai kau harus terpesona saat melihatku memakai setelan ini?"


Aku,"…."


Pelayan toko,"hihihi."


Dasar narsis, untung FanFan memang tampan. Kalau tidak, aku pasti sudah menedangnya sampai lumpuh.


"Bagaimana?" kataku seraya berpose didepan FanFan.


FanFan menggeleng-gelengkan kepalanya,"Kau terlihat tua, bagian dadanya terlalu terbuka, ganti!!"



Dengan mata yang hampir melotot aku kembali masuk ke kamar ganti. Mengganti gaun yang aku pakai dengan gaun yang baru. Hingga akhirnya tirai kembali terbuka. Dan sekali lagi, FanFan juga mengganti setelannya.


"Eh, kau juga berganti tuxedo? Menurutku tadi sudah bagus." kataku.


"Semuanya harus sesuai." jawabnya.


FanFan ternyata sangat pandai dalam memadukan setelan. Dia akan berganti setelan saat melihat setelan yang ia kenakan tadi tidak cocok dengan gaun pengantinku.


Dan akhirnya inilah satu-satunya gaun yang tersisa. Gaun yang cukup sederhana, namun elegan. Dengan sikap acuh tak acuh aku mencoba gaun ini. Tirai kembali terbuka.


Aku,"Bagaimana?"


Ini adalah gaun terakhir dan dia masih menggeleng-gelengkan kepalanya? Tunggu saja sampai kami berada di apartemen, aku akan menendangnya seperti biasa.


"Apa lagi yang kurang? Kali ini apa?" kataku.


FanFan berdiri, dia terlihat sempurna dengan setelan tuxedo berwarna hitam itu,"Ini yang kurang."


FanFan mengeluarkan bucket bunga dari belakang badannya, di atas bucket itu ada sebuah kotak kecil dan berwarna putih. Saat kotak kecil berwarna putih itu terbuka, maka cahaya bling-bling terpancar. Itu adalah sebuah kalung yang cantik. Kalung berbentuk bunga yang berada diatas bucket bunga berwarna pink itu sungguh indah.

__ADS_1



"Ini…" aku sedikit tergagap.


"Berbaliklah." kata FanFan.


FanFan benar-benar penuh kejutan. Apa dia sekarang telah menjelma sebagai doraemon? Entah kapan dia menyiapkan semua ini, tapi ini benar-benar tidak terduga. FanFan selalu muncul dengan banyak kejutan yang tak pernah terpikirkan olehku.


"Kau selalu berhasil membuat orang salah sangka?" Kataku.


FanFan membalikkan badanku dan melihat kalung yang ia pakaikan untkku itu.


"Kenapa?" Tanya FanFan.


"Aku tidak pernah bisa untuk menebak isi pikiranmu, sementara kau selalu bisa tau apa yang sedang aku pikirkan." kataku.


Momen romantis apa ini? Pelayan toko tampak merasa seperti obat nyamuk yang menggangu kami. Dengan suara 'ehm' yang keluar dari mulut pelayan toko itu maka momen romantis ini resmi berakhir.


"Kalau begitu kami akan mengambil gaun yang ini saja. Oh tuxedo ini jangan lupa juga." kata FanFan sembari memberikan kartu kreditnya.


*/


Satu masalah sudah selesai, perihal gedung kami tidak terlalu memusingkannya, ibuku dan ibu FanFan adalah orang yang menangani masalah gedung dan makanan. Kami percaya pada kemampuan dua wanita paruh baya yang enerjik itu.


Dan inilah tantanganku yang sebenarnya, foto pre-wedding. Walau FanFan sudah setuju, tapi nampaknya akan ada sedikit masalah.


Saat di studio foto, kondisi masih baik-baik saja. FanFan menurut pada kata-kata fotografer, tapi itu hanya bertahan selama beberapa menit saja. Wajah FanFan mulai suram ketika fotografer itu menyuruhnya ini dan itu.



Berbagai instruksi yang keluar dari mulut sang fotografer itu mampu membuat seorang wakil direktur sekelas FanFan ini emosi. Instruksi seperti 'mempelai pria, kau harus lebih tersenyum', 'mempelai pria, kau harus lebih dekat pada mempelai wanita', atau instruksi seperti 'Mempelai pria senyummu kurang tulus', semua instruksi itu membuat kepala FanFan mendidih. Inilah sebabnya dia suka membeli kamera, dia lebih suka menjadikan benda mati sebagai objek, karena pikirnya manusia adalah objek yang terlalu berisik.


Akhirnya waktu jeda tiba, sekarang aku baru paham begitu sulitnya untuk menjadi seorang publik figur atau seorang model. Mereka harus tetap tersenyum seperti avatar yang selalu dikendalikan, tak peduli apakah mereka letih atau sedang sakit.


Saat jeda, penata rias sedang meriasku dan merapikan beberapa riasan yang sedikit memudar karena keringat. Di sisi lain FanFan menolak untuk memperbaiki riasannya, tidak banyak yang berubah darinya, dia masih tampan seperti biasanya.


FanFan duduk dengan ekspresi suram dipojok studio, dia duduk didepan pendingin ruangan. Mungkin dia sedang berusaha mendinginkan kepalanya, mencoba untuk meredam kemarahannya karena merasa jengkel pada sang juru foto.


FanFan mengancam "Kau harus membayarnya nanti. Dia mengatakan senyumku kurang tulus, apa aku harus tersenyum sampai mulutku ini robek?"


Dengan sedikit kesabaran, maka foto pre-wedding kami pun selesai. Cukup bagus, tidak, tidak, ini bahkan sangat bagus. FanFan terlihat sangat tampan. Di hasil jepretan fotografer cerewet itu FanFan terlihat bak seorang pangeran dari negeri dongeng.




Lalu bagaimana dengan aku? Tentu saja aku juga terlihat cantik, cukup cantik sampai FanFan tidak berhenti melirikku.


Pengambilan gambar untuk foto pre-wedding ini benar-benar memakan waktu yang cukup lama. Cukup lama, hingga rasanya aku bisa menyelesaikan sebuah operasi ringan. Tapi apa boleh buat, ini adalah momen sekali seumur hidup.


FanFan yang sedari tadi suram tiba-tiba berubah. Wajahnya kembali merona dan bersinar seolah-olah dia telah keluar dari neraka yang menyeramkan.


Aku bergelantungan dilengannya,"Apa kau lelah?"


FanFan acuh tak acuh,"Nah, sekarang kau tau kan kenapa aku tidak mau menjadi seorang model atau selebgram? Mereka sangat cerewet, aku bahkan lebih memilih berada didalam ruang operasi selama 10 jam untuk mengganti jantung pasien."


Aku,"……"


Terserah saja, aku hanya akan mendengar ocehan FanFan itu dan membiarkan setiap hanzi yang keluar dari mulutnya itu masuk melalui telinga kananku dan keluar melalui telinga kiriku.


Dalam perjalanan kembali ke apartemen, aku nyaris pingsan karena terlalu lelah. Aku merendahkan sandaran mobil dan membiarkan tubuhku terbaring. Bahkan sabuk pengamanku disiapkan oleh FanFan.


"Aku masih punya satu tugas lagi." kataku dengan mata yang hampir terpejam.


"Apa lagi?" Kata FanFan.


"Aku harus memilih foto-foto itu, tapi itu akan sangat sulit. Aku rasa aku akan membutuhkan waktu selama beberapa hari untuk memilihnya."


FanFan,"……"


Mungkin FanFan sudah capek mendengar kekonyolan mempelai wanitanya ini. Dia hanya menghela nafas panjang dan berusaha menarik sebanyak mungkin oksigen agar otaknya bisa berpikir lebih jernih lagi.

__ADS_1


Tentu saja memilih foto pre-wedding adalah hal yang sulit. Aku berencana untuk memilih foto terbaik dan menempelkannya di dinding apartemen kami. Satu di ruang tamu dan satu lainnya di kamar kami. Bukankah akan terlihat bagus?


"Kau masih akan kembali ke rumah sakit atau mau langsung pulang saja?" Tanya FanFan.


Aku menjawab sambil menguap,"Ke rumah sakit, aku masih harus memantau pasien. Lagi pula hari ini ada pengumuman tentang konsulen coass."


(Konsulen ; dokter yang bertanggungjawab untuk membimbing mahasiswa magang/coass)


FanFan,"Bukankah kau seorang fellow? Kenapa bukan residen? Sudah sewajarnya mereka belajar."


Aku,"aku tidak tau, residen di departemen bedah umum sangatlah sedikit. Lagi pula aku masih harus membantu residen. Eh mumpung bicara soal ini aku mau mengusulkan sesuatu padamu selaku wakil direktur."


(Residen : Dokter spesialis,Fellow : Dokter sub-spesialis)


"Apa?" Katanya.


Aku kemudian langsung bangkit dari posisiku,"Bisakah kau mengatakan pada Direktur untuk merekrut beberapa residen?"


FanFan menghela nafas,"Nanti akan aku coba bicara pada orangtua itu."


Orangtua yang dimaksud FanFan disini adalah ayah Gong Jun, yang tidak lain adalah direktur Shanghai United Family Hospital.


Kami berpisah saat sudah sampai dirumah sakit. Aku pergi menuju ruangan staff. Di dalam ruangan staff sudah ada beberapa coass dan residen, profesor Su juga sudah berada disana .


Profesor Su menyilangkan kedua lengannya, lalu kemudian berbicara dengan nada meledek, "Wah, mempelai wanita kita sudah datang."


Aku,"…"


Memilih konsulen untuk coass adalah hal terakhir yang aku lakukan saat menjadi residen. Tapi tahun ini aku harus kembali terlibat. Profesor Su membagi semua dokter magang ini ke dalam beberapa kelompok. Satu kelompok terdiri atas dua orang. Entah sebuah keberkahan atau musibah, tapi bocah kaya raya itu kembali menjadi bagian dari kelompokku. Iya, itu adalah Gong Jun si anak direktur.



Gong Jun terus menyeringai padaku dan itu membuatku merasa jengkel padanya. Aku memang tidak pernah merasa dia serius padaku, hanya saja ejekan dan sikap Gong Jun yang kekanak-kanakan itu bisa membuat Liu FanFan naik darah.


"Gong Jun dan Re Yi, kalian harus patuh pada konsulen kalian." ujar Profesor Su.


Profesor Su menambahkan,"Terutama kau Gong Jun."


Gong Jun memang sedikit nyeleneh, beruntung gadis bernama Re Yi itu tampak normal. Dia pendiam dan hanya sedikit tersenyum padaku.


"Kalian bisa pulang. Eh, yang ada shift jaga malam harus tetap tinggal." kata Profesor Su.


Semua dokter muda serentak menjawab "Ya Profesor", aku segera berlalu untuk kembali ke apartemen. Tapi 2 bocah yang akan menjadi juniorku itu terus mengekor padaku.


"Apa? Ada apa?" Kataku.


Gong Jun sudah berada tepat dibelakangku dengan senyumnya yang lebar itu, sementara gadis normal bernama Re Yi itu masih berlari mengejar ketertinggalannya.


"Hmm itu.., apa ada tugas yang akan dokter berikan pada kami?" Re Yi berbicara dengan nafas yang masih terengah-engah.


Aku tersenyum pada gadis manis itu,"Ah tidak ada. Aku akan segera memberitahu kalian tentang tugas-tugas kalian kedepannya."


Re Yi mengangguk mendengar ucapanku itu. Sementara bocah jenius disamping Re Yi itu masih menyeringai. Aku kehabisan kata-kata pada bocah ini.


"Dan kau Gong Jun, apa yang kau inginkan? Apa ada sesuatu yang ingin kau tanyakan?" Kataku sambil memutar bola mataku.


Gong Jun masih tersenyum seperti orang gila,"Apa dokter mau aku antar? Aku membawa mobil."


Ingin sekali aku memukuli bocah ingusan ini. Untung dia adalah anak direktur, lagi pula aku tidak boleh memberi contoh yang buruk saat berada di Rumah Sakit. Dengan cerdasnya aku menjawab bocah tengik ini,"Hmm kalau begitu kau bisa mengantar Re Yi pulang. Sampai ketemu besok."


Aku berlalu meninggalkan dua bocah ingusan itu. Entah apa yang sedang mereka bicarakan, tapi aku yakin mereka sedang mengutukku.


♡♡♡♡♡


Jangan lupa LIKE 👍 Dan VOTE yah


Saran dan Kritik juga 😉


XÌEXÌE 😍 谢谢


Mohon Dukungannya.

__ADS_1


SEHAT SELALU READERS 🐰🦁🥰


__ADS_2