
💮Sebelum baca, jangan lupa Like dan vote dulu yah, XieXie💮
*/
FanFan pulang setelah mengantarku dan Xiao Bai ke rumah. Dia tidak kembali ke rumah orang tuanya, dia pulang ke apartemennya. Katanya sudah terlalu malam untuk bertemu ayah dan ibunya, padahal jam masih menunjukkan pukul setengah 10. Dia kan bukan tamu, untuk apa merasa sungkan dirumahnya sendiri. Aku yakin dia hanya tidak ingin mendengar ocehan ibunya.
Dengan Xiao Bai yang terus menguap aku berjalan ke arah rumah.
"Aku pulang…" kataku
Aku masuk ke rumah setelah menekan password pintu. Tapi rumah sepi, aku yakin ayah dan ibuku pasti sudah tidur. Aku naik ke lantai 2 dan melihat ibuku yang duduk di sebuah sofa dekat jendela. Aku pikir dia sudah tidur, tapi nyatanya belum.
"Eh Xiao Bai, kau cepat masuk ke kamarmu. Cuci kaki dan wajahmu lalu tidur, Nainai mau bicara pada bibimu" Ibuku tampak serius
(Nainai : Nenek)
Xiao Bai menurut dan masuk ke kamarnya, sementara aku menaruh koper bawaanku didepan pintu kamarku dan kemudian berjalan mendekat ke arah Nyonya Wong itu.
"Ma, aku kira mama sudah tidur" kataku.
Nyonya Wong itu berdiri dan menatapku dengan tatapan penuh harap. Sepertinya dia menyimpan ledakan emosi yang siap ia lampiaskan padaku.
"FanFan mengantarmu? Kalian balikan kan? Mama sudah mendengar dari kakak iparmu, katanya kau bermalam di rumahnya ya? Apa yang sudah terjadi di antara kalian? Ayo katakan? Sebelumnya kalian bahkan bersikap acuh tak acuh, tidak saling menegur dan terlihat seperti musuh. Katakan pada mama" Tanya ibuku sambil menarik-narik tanganku.
Bagaimana aku bisa menjawab semua pertanyaannya itu kalau dia tidak berhenti bicara. Dan juga, sejak kapan Li Yu menjadi agen gosip ibuku. Mata ibuku yang biasanya sudah terlelap di jam segini, menjadi terbuka lebar seperti mata kaonashi.
(Kaonashi : roh di film Spirited Away yang kabarnya adalah sebuah metafora yang mewakili hasrat atau nafsu yang ada pada dalam diri manusia)
Aku mulai menguap karena kelelahan, "Ma, sekarang kan sudah malam. Aku mau istirahat, besok saja yah?"
Ibuku berdiri dan menarik bajuku, "Eh..setidaknya jawablah salah satu pertanyaan mama. Kalian balikan?"
Aku memutar bola mataku dan mengangguk mengiyakan pertanyaannya itu. Dia penepuk bokongku sambil berkata "kau memang anak pintar, tidurlah putriku"
Akhirnya aku bisa lepas dari interogasi mematikan nyonya Wong itu. Aku bahkan sudah tidak kuat menahan kantuk dan parahnya besok aku ada jadwal operasi.
*/
Pagi harinya aku bangun, tidak ada alarm ponsel yang berbunyi. Alarm alami dari teriakan ibuku adalah senjata paling ampuh untuk membuka mataku lebar-lebar. Setelah mandi dan bersiap-siap, aku keluar kamar dengan tergesa-gesa, melahap roti sambil memakai sepatu lalu bergegas keluar rumah.
"Kau dokter dan sikapmu seperti ini? Apakah seorang dokter menyuruh pasiennya untuk makan sambil berlari, duduklah! Xiao Bai melihatmu" omel ibuku
Dengan gelas susu yang masih dipegangnya itu Xiao Bai melirikku dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia pasti berpikir bahwa aku adalah ibu baptis yang luar biasa, luar biasa buruknya.
Aku menoleh pada Xiao Bai," Eh jangan meniru bibimu ini yah. Kau jangan nakal"
Bocah itu bersikap acuh tak acuh padaku, dia merajuk karena aku mencubit pipi gemuknya itu.
"Ma, pa, aku pergi. Bye bye" teriakanku menghentikan omelan pagi ibuku
Menyelam sambil minum air, menangkap 2 burung hanya dengan satu batu. Kedua pepatah itu sangat cocok untukku, karena terburu-terburu aku aku terpaksa melakukan olahraga yang sangat aku benci. Rutunitas pagiku adalah berolahraga alias berlari menuju halte bus di dekat rumahku. Tidak jauh, tapi cukup untuk membuatku sedikit berkeringat dan ngos-ngosan.
Tapi mulai pagi ini dan seterusnya aku mungkin tidak akan berolahraga lagi. Semenjak FanFan datang dan kami balikan, dia selalu berada di depan rumahku. Berdiri dengan kaki kirinya ditekuk dan kedua tangannya bersilangan. Dia datang untuk menjemputku
"Ayo" kata FanFan sambil membukakan pintu mobilnya.
"Xie Xie" kataku dengan mulut komat-kamit karena penuh dengan roti
FanFan masuk ke dalam mobilnya setelah membukakan pintu untukku. Dengan cermat dia memasangkan sabuk pengaman untukku.
"Lihatlah dirimu, kau bahkan tidak bisa merawat dirimu sendiri. Bagaimana caranya kau merawat pasien?" omelnya sambil menyeka selai yang ada di sudut bibirku dengan jemarinya
__ADS_1
"Hehehe, kau kan ada untuk mengurusku"kataku sambil tertawa geli
FanFan, "…."
Setelah sampai di tempat parkir rumah sakit, kami pun berpisah. Aku harus segera masuk ke dalam ruang operasi, di depan pintu ruang operasi sudah ada profesor Su yang siap mengomel. Matanya yang seperti elang memancarkan kilatan seolah telah siap melahapku, dia menyilangkan tangannya seperti seorang gangster yang akan merundungku.
"Rupanya dokter Wong kita sudah pulang dari Beijing. Ayo cepat masuk dan ingat selesai operasi, kau harus menceritakannya padaku" Profesor Su menarikku masuk ke dalam ruang ganti
*/
Waktuku berlalu cukup lama di ruang operasi. Hampir 4 sampai 5 jam aku habiskan bersama pasien. Cukup lama hingga aku lupa mengambil ponselku yang aku titipkan ke salah seorang perawat.
"Dokter, ponselmu terus saja berbunyi. Aku tidak berani mengangkatnya karena…" ujar perawat yang tiba-tiba datang menghampiriku itu
"Karena apa?" Profesor Su menyela
Perawat itu tergagap, matanya bergetar saat ia akan menjawab Profesor Su, "Itu karena Id pemanggil yang tertera di layar ponsel dokter Wong adalah FanFan. Aku takut FanFan yang dimaksud adalah wakil direktur yang baru"
Pupil mataku membesar, dengan tertawa canggung aku mengambil ponselku dan buru-buru melangkah pergi meninggalkan profesor Su yang masih saja menagih jawaban dariku.
"Eh, kau mau kemana?" Profesor Su menggodaku
Aku berjalan di koridor rumah sakit, tiba-tiba seseorang menarik tanganku. Aku yang kaget hampir saja memaki orang itu, tapi dengan sigapnya dia menutup mulutku dengan kedua tangannya.
"Shuutttt" katanya
Aku, "FanFan"
"Kenapa tidak menjawab telponku?" Dia mulai melepaskan tangannya dari mulutku
"Aku sedang ada operasi"kataku
"Paman dan bibi ada diruanganku sekarang, kau temuilah mereka. Katanya mereka akan melakukan pemeriksaan gula darah" kata FanFan
Di dalam ruangan wakil direktur yang mewah itu, duduk sepasang suami istri yang sudah berusia separuh abad, benar mereka adalah ayah dan ibu.
"Ma, pa, kalian benar-benar disini? Bagaimana dengan Xiao Bai? " Kataku
Ayahku,"Dia sedang bermain dengan salah seorang teman yang ada dirumah FanFan. Jangan khawatir, ibu FanFan sedang mengasuhnya"
FanFan segera beranjak dari ruangannya dan meninggalkan kami bertiga, "Paman, bibi, aku masih ada pekerjaan. Xiao Xi akan menemani kalian"
"Terimakasih yah, bekerja keraslah kami baik-baik saja" kata ibuku
FanFan mengangguk. Basa-basi sekali ibuku ini, tanpa disuruh pun FanFan pasti pergi. Dia cukup sibuk jikalau harus menemani ibuku berbicara sambil minum teh.
"Kalian kenapa kesini? Kenapa pula tidak bilang padaku?" Tanyaku
Ibuku memekik," Bukankah kau tadi terburu-buru? Sarapan saja tidak becus, bagaimana kami sempat memberitahumu? Kami kesini mau memeriksakan kadar gula papamu"
Aku sedikit kaget," Kadar gula papa tinggi lagi?"
Ayahku," tidak apa-apa, papa baik-baik saja"
Segera setelah itu aku pergi menemani ayah dan ibu melakukan pemeriksaan gula darah di IGD. Aku menunggu ayah dan ibu di nurse station sambil bermain ponsel.
Ibuku kembali memarahiku," Hmm..putriku seorang dokter bedah yang hebat. Tapi dia bahkan tidak memeriksa orang tuanya sendiri"
Aku,"….."
Profesor Su yang kebetulan datang menyelamatku, dia langsung menyapa ayah dan ibuku. Mengambil alih glukometer dari tangan perawat.
__ADS_1
(Glukometer: alat ukur kadar gula darah)
Profesor Su sedikit bersemangat," Paman, bibi, sudah lama sekali kita tidak bertemu"
Ibuku melirikku, "Kau jarang main ke rumah, gadis tengik itu pasti melarangmu kan?"
Profesor Su menggeleng-gelengkan kepalanya,"Tidak, dia benar-benar baik padaku. Hanya saja belakangan ini Crystal…"
Ibuku menyahut, "belakangan ini dia kenapa?"
Aku juga menoleh ke arah mereka, mendengarkan dengan seksama kata-kata yang akan Profesor ucapkan pada ibuku.
Profesor Su mengeluarkan jarum lancet dan menusukkannya ke jari telunjuk ibuku," Dia sepertinya aneh sekali, sejak bertemu dengan wakil direktur yang baru, dia menjadi agak aneh"
Aku," Eh, aku tidak…."
Ibuku langsung menyela dengan semangat membara," Tentu saja, FanFan adalah mantan pacarnya. Tentu saja itu membuatnya bersikap aneh"
Bola mata profesor Su melotot seolah-olah akan keluar. Dia berbalik dan memelotototiku, nampaknya dia sedang menahan dirinya untuk mengumpat padaku.
Ibuku melanjutkan," Tapi mulai hari ini dokter Wong kita ini akan selalu ceria dan tidak akan bersikap aneh lagi. Kau tau kenapa?"
Profesor Su menggeleng-gelengkan kepalanya,"kenapa memangnya bibi?"
Belum sempat ibuku menjawab pertanyaan Profesor Su itu, tiba-tiba terdengar sebuah pengumuman. Pengumuman besar yang bisa terdengar di seluruh penjuru rumah sakit.
"Halo semuanya, saya wakil direktur rumah sakit, dokter Liu FanFan. Maaf sudah mengganggu waktu kalian semua, saya ingin meminta pengertian dari para pasien dan staff rumah sakit Shanghai ini. Hari ini saya ingin melamar orang yang saya cintai dan saya ingin semua orang mendengarnya. Dokter Crystal Wong, apakah kau mau menikah denganku?"
Mataku terbelalak mendengar suara FanFan menggema dari balik pengeras suara rumah sakit. Apa telingaku tidak salah dengar, dia melamarku lagi? Dan sekarang dia mengumumkannya pada dunia?
Tanpa berbasa-basi lagi aku dengan sigap langsung berlari dari IGD meninggalkan orangtuaku dan Profesor Su, aku berlari bergegas mencari FanFan.
"Ada-ada saja" bisikku
Dokter senior, residen, dan para perawat yang mengenalku terus melihatku sambil tertawa geli. Aku berlari menuju lobi pusat informasi berada.
"Dimana dia? Eh, maksudku wakil direktur.." dengan nafas yang terngah-engah aku bertanya pada petugas lobi
"Itu.." jawab petugas lobi sambil menunjuk kebelakangku
Aku berbalik dan melihat FanFan dengan bucket bunga mawar raksasa ditangannya. Bucket bunga yang sangat besar sampai-sampai menutupi wajah tampan Liu FanFan. Dan tak lama kemudian ayah dan ibuku menyusul bersama Profesor Su.
FanFan dengan bersusah payah, "Aku ingin semua orang tau kalau kau adalah milikku. Aku tidak mau ada rahasia lagi. Aku mau dunia tau kalau kau adalah milikku yang berharga, menikahlah denganku Xiao Xi"
FanFan mengejutkanku untuk kedua kalinya, kemarin di Beijing dia sudah melamarku dan sekarang dia melakukannya lagi di depan orangtuaku.
"Pa, ma…?" Aku menoleh ke ayah dan ibuku seolah-olah meminta restu mereka.
Ayah dan ibuku mengangguk melihat tatapanku yang memelas seraya meminta restunya. Dengan perasaan yang masih campur aduk aku mengambil bucket bunga besar yang FanFan sodorkan padaku itu sambil berkata, "Aku mau menikah denganmu"
Para staff rumah sakit dan orang-orang yang melihat kejadian itu bertepuk tangan sambil tertawa. Aku tau ini adalah cara yang tidak biasa dalam melamar, mungkin sebagian perempuan akan merasa geli dan malu. Tapi nyatanya aku tidak merasa begitu, aku hanya bisa melihat ketulusan dimata FanFan.
♡♡♡♡♡
Jangan lupa LIKE 👍 Dan kasih star 5 yah ⭐⭐⭐⭐⭐
Saran dan Kritik juga 😉
XÌEXÌE 😍 谢谢
Mohon Dukungannya.
SEHAT SELALU READERS 🐰🦁🥰
__ADS_1